I Am: The Spy

I Am: The Spy
"I WANT TO QUIT",


__ADS_3

Mia lalu berpura-pura sakit sambil memegang pipinya dan memeluk tangan Haris. Iya, orang tua mereka juga sama kayak Risa. Mempunyai bisnis dan dekat.


"Kak Haris, pipi ku sakit banget... Dia tamparin aku", kata Mia.


"Jaga mulut kamu, itu baru aja sedikit", kata Risa kepada Mia. Mia hanya melihat Risa dengan tatapan tajam.


"Ris, kenapa kamu tampar dia?", tanya Haris.


"Dia berani hina Nana kak, pantas aja penampar ku melekat di muka dia. Dan dia juga menolak kepala Nana dengan jarinya. Aku nggak bisa diam kak dengan perbuatannya", jelas Risa.


Mia hanya diam dan masih memeluk tangan Haris. Tapi Haris melepaskan tangannya dari pelukan Mia dan berkata...


"Aku nggak suka perempuan yang suka membuli antara satu sama lain", dengan tatapan dingin yang diberikan pada Mia, Haris langsung duduk di tempatnya. Bu Karin lalu masuk untuk pelajaran seterusnya.


Sepulang sekolah, Nana hanya berehat di atas sofa sambil menonton tv. Dia tidak menukar baju atau apapun dan sudah dimarahi oleh kakaknya sebentar tadi.

__ADS_1


"Nana, nggak mau pergi ke Glassy Diamond? Ini waktu yang tepat", kata Bi Mawar dengan nada lembut.


Nana langsung berdiri dan masuk ke kamarnya tanpa berkata apapun. Bi Mawar hairan sama kelakuan aneh Nana sepulang sekolah. Padahal, ini hari pertama dia ke sekolah baru.


Nana menukar bajunya selesai mandi dan membawa barang yang diperlukan. Dia sangat kesal dengan semua yang terjadi. Amarahnya sudah naik mendadak dengan kelakuan Mia dan yang lain di sekolah. Dia turun ke bawah tanpa mengucapkan 'bye bye' sekali pun. Dia terus menuju ke pintu dan memakai sepatunya lalu pergi.


Setibanya di Glassy Diamond, kesalnya Nana dia tidak menyapa sesiapa pun yang menunduk hormat padanya. Tapi semua staff dan bodyguard di sana tau yang Nana sedang bad mood. Menekan tombol lif dan terus ke lantai 100.


Knock, Knock, Knock


Nana lalu masuk menampakkan dirinya di hadapan kakaknya yang lagi menyusun fail di setiap rak.


"Oh Nana, kenapa? Apa ada yang berlaku?", tanya Nina sambil bergerak ke kursinya untuk duduk. Nana menarik kursi yang berada di meja kakaknya itu lalu duduk.


"I want to quit", kata Nana dengan santai. Nina lalu terkejut.

__ADS_1


"Quit apa? Sekolah?", tanya Nina. Nana lalu mengangguk.


"Kenapa mau berhenti sekolah, kamu baru saja masuk. Ini hari pertama kamu di sekolah itu, apa yang telah berlaku...", Nina ingin penjelasan yang jelas dari adiknya ini. Nana lalu ceritakan semuanya pada Nina.


"Aku juga udah nggak mau lagi berada di company ini, aku tidak kisah dengan apapun", kata Nana.


Nina lalu berdiri dari kursinya dan memeluk adiknya. Nana membalas pelukan Nina dan berkata...


"Mereka menghina aku, kak. Aku nggak tahan lagi...", kata Nana.


Nina tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa membuat adiknya percaya diri dan tidak mendengarkan apa yang katakan.


"Ini bukan diri kamu, kakak tahu ini bukan kamu Nana. Kamu nggak selemah ini, kamu itu kuat. Semuanya latihan selama ini sia-sia kalo kamu terus begini...", ucao Nina.


Nana terus ingat tentang dirinya yang berada di arena latihan berlatih seorang diri diiringi oleh kakaknya dan akhirnya menempati posisi pertama. Dia tidak boleh mengalah dan membiarkan orang lain memijak kepalanya lagi. Dia sudah letih dengan semua omongan mereka yang entah apa-apa mengarut.

__ADS_1


__ADS_2