I Am: The Spy

I Am: The Spy
FLASHBACK NANA2


__ADS_3

Cowok-cowok itu hanya ketawa tak henti atas kata-kata gadis itu.


"Apa kamu mau dibelasah lagi? Nggak serik ya kena seperti tadi?", tanya salah seorang cowok yang sudah hilang sabar.


"Henry, pukul ajalah.... Dia itu nggak ada nilai.... Sama aja kayak sampah", kata salah seorang dari mereka.


"Jangan samakan aku seperti kalian. Erti bahagia aja kalian tidak tahu, tapi kalian tetap membuli ku dan berkata aku ini tiada nilai. Kalian itu membuli ku kerana mahu perhatian, orang tua kalian tidak menyayangi kalian dengan benar. Pantas aja anaknya jadi kayak gini...", kata Nana.


Cowok yang bernama Henry itu langsung memberikan penampar di pipi Nana.


PLAKKK!


"Omongan kamu itu enak banget ya. Kamu itu sama aja kayak sampah, nggak ada nilai sama sekali...", kata Henry lalu ketawa.


"Jangan gitu dong Ri... Cewek ini bukannya aja tiada nilai, malah dia itu ditinggalin orang tuanya. Bener atau tidak kakaknya itu kakak kandung", kata sahabat baik Henry iaitu Jake.


Nana tidak mau membuat keributan lagi. Dia lalu menghindar dari mereka dan berjalan dengan pantas ke pintu gerbang sekolah lalu pulang.


Tiba sahaja dia di rumah, orang tuanya langsung menanyakan kenapa keadaan mukanya penuh dengan luka dan lebam di sekitar pergelangan tangan.

__ADS_1


"Nana, kenapa dengan muka kamu....", tanya mamanya Nana, Amy.


"Nggak apa-apa ma...", jawab Nana.


"Ini kamu bilang nggak apa-apa? Teruk ini, ayo ke klinik...", ucap papanya Nana, Azman dengan kerisauan di mukanya. Seberapa khawatirnya orang tua kepada anaknya yang dibuli di sekolah tanpa diketahui mereka.


Bahkan ketika Nana berumur 9 tahun, dia dibuli oleh kelompok cewek yang sama kayak kelompok cowok yang kesedihan itu.


Nana langsung tidak boleh keluar dari semua kesakitan itu karna dia tidak boleh berbuat apa-apa. Dia ke sekolah hanya untuk belajar, tapi malah digunaiin oleh orang-orang yang ada di dalam kesedihan.


Sehingga saat ini, dia hanya baik hati dan peramah kepada orang yang dipercayainya dan dekat dengannya. Orang luar tidak akan sama sekali dia ramah dan senyum panjang lebar. Baginya, dunia ini kejam dan tidak adil.


END FLASHBACK NANA


Nina hanya bisa menenangkan adiknya. Mereka masuk tidur di kamar masing-masing. Tanpa berfikir sesuatu negatif selepas ini.


...----------------...


Keesokan paginya, dengan wajah yang ceria Nana menolong Bi Mawar di dapur membuat sarapan.

__ADS_1


"Wahhhh.... Baunya enak banget. Ini nggak pernah bikin ya bi?", tanya Nina yang baru sahaja keluar dari kamarnya lalu ke dapur.


"Nggak pernah bikin menu ini. Semuanya kerana Nana.... Dia yang mahu bikin ini, namanya FRENCH TOAST with BLUEBERRY SAUCE", jawab Bi Mawar dengan senyumannya.


Nina langsung duduk di kursi dan menikmati sarapan itu bersama-sama.


"Mmmmhhhhh... Enak banget ini. Adik ku udah bisa masak, aku aja nggak bisa", kata Nina dengan wajah cemberut.


"Nina juga bisa masak, kamu kan bisa masak Western Food dan makanan cina", kata Bi Mawar.


Nina hanya mengangguk. Nana melihat kakaknya dengan gembira melihat kakaknya menikmati makanan yang dibikinnya.


Selesai sarapan, Bi Mawar mencuci piring yang sudah mereka gunakan. Sedangkan Nana dan Nina berada di pintu depan.


Nina sedang memakai sepatu high heels nya terus memakai coat yang berwarna kuning. Iya, Nina sudah bersedia hendak pergi ke Glassy Diamond.


"Hati-hati ya kak", kata Nana kepada kakaknya.


"Iya iya. Ini beneran nggak mau ikut?", tanya Nina.

__ADS_1


Nana hanya menggelengkan kepalanya tidak.


Nina langsung mencium pipi adiknya dan langsung pergi ke mobil. Nana pun melambai tangannya. Driver kakaknya langsung melajukan mobil ke Glassy Diamond.


__ADS_2