
"Kenapa aku harus memberikan mu ponsel ku? Ponsel mu ada kan, gunakan ponsel mu aja", jawab Mia.
"Dengar aku, apakah kamu pikir hanya Nana yang akan dimarahi oleh Pengarah Nina. Kita juga akan dimarahi oleh pengarah karna kita yang membuat kekacauan terlebih dahulu. Malah Haris, kamu dan aku juga akan dimarahi. Jadi sekarang, semuanya sudah tamat. Hanya Risa, Fira dan Jake yang selamat. Mereka lakukan tugas mereka dengan bener", kata Daniel yang membuat Mia sedikit takut.
Benar kata Daniel, mereka bertiga akan dimarahi juga lagi-lagi Daniel dan Mia. Mia dan Daniel yang mematikan CCTV, jadi mereka yang pertama akan diamarahi oleh Pengarah Nina atas kecuaian yang telah dilakukan.
Mia lalu terduduk di atas kursi di dalam ruangan itu memikirkan apa yang patut dilakukan. Sekarang Daniel sedang menelpon Haris ingin mengatakan apa yang berlaku.
Drrr.... Drrr....
"Daniel, Daniel. Nggak usah nelpon Haris pokoknya, kita bisa selesain masalah ini dengan cara yang baik...", kata Mia yang sekarang bertambah khawatir akan pikirannya yang bodoh tidak berfikir panjang sebelum lakukanya.
"Nasi udah jadi bubur. Jika aku tidak menelpon Haris, akan terjadi masalah besar nanti. Lagipun sekarang tidak ada bukti bahwa kita yang membuat kekacauan terlebih dahulu. Aku dan kamu aja yang tahu, tiada saksi yang lain", balas Daniel. Mia hanya bisa diam memakan semuanya.
"Ada apa Daniel? Sedikit aja lagi udah 98% nih", kata Haris.
__ADS_1
"Haris, keluar dari ruangan itu sekarang juga. Kami membuat masalah besar, kamu cuai laksanakan tugas. KELUAR SEKARANG!!!", arah Daniel.
Mereka menamatkan panggilan dan mujurlah udah selesai 100%. Mereka keluar dari ruangan dan terus berlari mencari jalan keluar. Yang lain juga sama setelah mendapat arahan dari Daniel.
"Apakah aku harus meletakkan bom disini?", tanya Daniel dengan nada dingin kepada Mia.
Mia hanya diam. Sekilas pandang Haris pada kaca televisyen, saking terkejutnya dia melihat semua CCTV sudah dibuka.
"Mia, kamu...", Daniel sudah tergagap.
Daniel lalu bergegas keluar bersama Mia. Risa yang berada di lantai bawah sudah lelah melayan William yang sedari tadi menyatakan setiap komponen yang ada pada cincin-cincin di situ.
Tiba-tiba terdengar tapak kaki yang menuju ke pintu keluar. Terlihat Haris, Nana, Fira, Jake, Daniel dan Mia bergegas keluar dari bangunan itu. Terkejut besar Risa melihat mereka. Tidak salah lagi, itu adalah ahli kumpulan mereka.
"Bentar ya...", kata William kepada Risa lalu mendekati mereka semua di dekat pintu keluar. Risa hanya senyum pada dia dan bersedia. Risa berkomunikasi dengan Glassy Diamond untuk menghantar bantuan dengan segera.
__ADS_1
PANGG!!
Pintu kaca besar itu tertutup dengan sendirinya dan terdengar bunyi tepukan tangan di belakang mereka.
"Kamu...", Haris tergagap melihat William yang mendekati mereka.
"Hebat sekali pelajar-pelajar top 9 Glassy Diamond. Kalian tidak pantas mengalahkan kami...", kata William dengan bangga.
Semua orang suruhan William disana mengacukan pistol pada mereka semua. Mereka lalu mengangkat tangan menyerah kalah dengan mereka. Tapi tidak untuk Daniel, dia langsung mengeluarkan pistolnya lalu menembak dua kali kaki William. Menyebabkan William Aditya menjerit meringis kesakitan. Kesemua pengunjung di sana berteriak mencari jalan keluar untuk melarikan diri.
Semua lalu berlawan antara satu sama lain. Risa yang melihat semua itu lalu keluar dari bangunan menggunakan pintu belakang. Terlihat Ellen yang berada di rooftop bangunan sebelah.
"Risa, alih perhatian mereka untuk keluar dari bangunan ini", arah Ellen kepada Risa dengan alat pendengaran telinga.
"Baiklah", balas Risa.
__ADS_1
Risa lalu bertindak mengambil alih perhatian mereka semua termasuk ahli kumpulannya.