I Am: The Spy

I Am: The Spy
WILLIAM ADITYA


__ADS_3

"Aku nggak tidur lagi kak soalnya... masih belum ngantuk", jawab Nana. Nina hanya dari tadi mengelus lembut kepala adiknya.


"Kalo belum ngantuk, kamu pasti mikirin sesuatu kan. Beritahu kakak, kamu mikirin apa? Ada yang mengganggu kamu lagi?", tanya Nina.


Nana menggelengkan kepalanya. Dia ingin berterus terangan menanya soal pria mencurigakan itu, tapi takutnya Nina sentap selepas mendengar hal yang ingin dia bahas.


"Kakak", panggil Nana.


"Hmmm. Iya, ada apa?", jawab Nina.


"Aku mau nanya, apakah kamu tahu akan pria mencurigakan yang datang ke company hari ini?" tanya Nana dengan berhati-hati.


"Pria mencurigakan?", tanya Nina yang sekarang sudah bingung.


"Maafkan aku jika aku akan melukai hati kakak, tapi aku hanya mau tahu. Karna Fira bilang dia itu pernah ingin menghancurkan keluarga Glassy Diamond ketika Glassy Diamond sedang di dalam perancangan", kata Nana.


"Oh arnab licik itu? Nama dia William Aditya. Dia mempunyai seorang anak laki-laki dan juga seorang istri yang sangat cantik. Dia melakukan jenayah pada 2 tahun yang lalu...", jelas Nina.


Nana pun mengangguk memahami penjelasan yang diberikan oleh kakaknya tentang pria mencurigakan itu, William Aditya.

__ADS_1


"Tapi kenapa orang-orang gelar dia arnab licik? Kok aneh sih... Muka kayak dia dipanggilin arnab", kata Nana dengan nada sinis.


Nina ketawa kecil dengan kelakuan adiknya yang lucu.


"Orang-orang gelar dia begitu kerana dia itu licik, tapi bodoh😛 ", jawab Nina.


"Oh jadi dia tidaklah begitu licik ya?", tanya Nana lagi.


"Iya, kalo tidak pasti kakak sama kakak Khai bisa bodohkan dia", balas Nina.


Mereka berdua lalu ketawa terbahak-bahak dengan pernyataan Nina itu.


Malam berganti kepada pagi yang masih gelap. Nana dan Nina seperti biasa akan sarapan bersama Bi Mawar di dapur. Memecahkan suasana adalah satu kerjaan pagi mereka untuk tidak terasa terlalu tegang atau canggung ketika waktu makan pagi.


"William Aditya itu campuran darah orang Amerika dan Indonesia. Sama seperti anaknya karna istrinya saja ada darah campuran Amerika juga. Dia mempunyai beberapa cawangan company dia di kota ini. Company Cincin Berlian yang mahal, kita ada satu koleksi dari company mereka. Kedua yang paling mahal dihadiahkan sendiri oleh William Aditya ketika mereka melawat Glassy Diamond", cerita Nina kepada Nana.


"Bukankah dia pernah ingin memusnahkan proyek mendirikan Glassy Diamond? Kok kakak masih baik dengannya...", kata Nana dengan dingin lalu meletakkan garpu dan sudunya.


Nana berdiri menyiapkan dirinya lalu pergi. Nina menyusul Nana di belakang dengan cepat untuk tidak telat tiba di company kerana hari ini Nana ada misi pertama dia bersama tim.

__ADS_1


Setibanya mereka di company, Nana menyiapkan tugasan kerja sekolahnya duluan sebelum melakukan hal yang lain. Pagi yang masih gelap gelita, hanya lampu yang menjadi cahaya ketika itu.


Jam sudah menunjukkan ingin masuk jam 6, Nana mengemaskan mejanya yang serabut menjadi rapi. Lalu dia menggunakan lif untuk turun ke lantai bawah.


Setibanya di lobby, Nana melihat Haris dan dua orang tikusnya itu di pintu masuk utama.


"Hai kalian semua", sapa Nana.


Mereka juga menyapa Nana dengan perkataan yang sama.


"Halo selamat pagi", sapa Jake.


"Selamat lagi Nana", sapa Daniel.


"Nana", dingin membeku nadanya.


"Iya", sahut Nana.


"Pagi, harap hari mu senang", sapa Haris, dia langsung tidak melihat muka Nana.

__ADS_1


Nana hanya bisa memahami sikap dingin Haris yang seperti tidak suka bergaul denan orang baru.


__ADS_2