
Akhirnya sepanjang perjalanan menuju caffe aku hanya terdiam tanpa suara, Osi yang sibuk tanya ini itu bak seorang wartawan.
"Kenapa diem aja Sa? " Ryan
"Gapapa kok, ga tau mau ngomong apaan" Aku
"Ngomongin masa depan" Osi
"Masa depanku ngurus toko sama cafe" Aku
"Kamu pekerja keras ya ternyata" Ryan
"Pekerja keras iya harus, aku ga mau dicap anak yang hanya memanfaatkan harta orang tua, apalagi orang tau kalau aku anak semata wayang. Jadi aku hanya membuktikan kepada diriku sendiri kalo aku bisa sukses tanpa bantuan dari orang tua" Aku
"Bagus itu, salut aku sama kamu. Benar-benar wanita idaman" Ryan
"Iya dong Nisa kan idaman kami Yan" Osi
Aku hanya tersenyum sambil menahan panas dipipiku yang pastinya udah merona seperti tomat busuk hahaha
30 menit perjalanan akhirnya sampai di caffe ku.
Malam minggu memang caffeku selalu rame, karena aku datang telat jadi fix pemilik caffe tidak kebagian tempat duduk. Dan aku tidak bisa bergabung dengan teman - teman lainnya.
"Selamat malam mbk bos, tumben kesini malem-malem" Tika
"Bukannya seneng bosnya dateng malah gitu Tik" Osi
"Kan saya heran mbk" Tika.
Sementara Ryan mengerutkan keningnya bingung karena aku di panggil mbk bos.
"Eh ada pak polisi ganteng juga" Tika
Ryan hanya tersenyum
"Trus saya mau duduk dimana Tik" Aku
__ADS_1
"Di rooftop aja gimana mbk bos" Tika
"Baik lah, ayok kita ke atas" Aku
Kamipun berjalan menuju rooftop. Dan duduk di bangku yang telah disediakan.
"Makan minumnya apa aja mbk bos" Tika
"Batu sama air comberan Tik, pake nanya lagi. Yang spesial disini Tik" Aku
"Heheh baik mbk bos, tunggu sebentar" Tika berjalan meninggalkan kami.
"Kocak juga si Tika ternyata" Osi
"Bukan kocak tapi sableng dia itu" Aku.
"Kamu pemilik cafee ini? " Ryan.
Aku hanya tersenyum, "Begitulah kira-kira, ehh kamu beneran polisi?" Aku
"Hansip mbk bukan polisi" Ryan
"Orang nanya serius pun" Aku
"Iya polisi, emang kenapa? " Ryan.
"Gapapa lah, cuma nanya aja" Aku
10 menit kemudian makanan telah diantar dan kami makan bersama, setelah makan kami bercerita ini itu tentang kami masing-masing sampai lupa akan dengan jam.
"Udah jam 00:12, pulang lah yok" Aku
"Astagfirullah iya, aku besok ada acara sosialisasi lalu lintas" Ryan
"Iya udah lah yok, kasian si Osi matanya udah engga kuat melek" Aku
Kamipun berjalan menuju parkiran, sepanjang perjalanan awalnya hanya diam dan hanya terdengar suara radio. Karena Osi si biang heboh memilih untuk tidur di bangku belakang.
__ADS_1
"Ekhem" Ryan.
Aku menoleh "Kenapa, kamu batuk? " Aku
"Engga aku gapapa" Ryan.
"Nah trus tadi kenapa bambang" Aku
"Ryan bukan bambang" Ryan.
"Eh pak pol ga bisa diajak bercanda" Aku
Ryan hanya tersenyum
"Kurang waras anda ya pak, senyum-senyum sendiri" Aku sambil megang jidat Ryan.
"Jangan gitu bikin aku ga fokus nyetir"
Kemudian aku fokus mengarahkan pandanganku ke depan
"Kamu kenapa sih Sa" Ryan.
"Fokus ke depan nengok jalanan, ntar ganggu kamu nyetir" Aku
Hening beberapa saat, dan aku kembali melirik Ryan dan nampaknya dia gelisah.
"Kamu mikirin apa sih, gelisah gitu" Aku
"Aku mau nanya, kamu beneran habis putus? " Ryan.
"Iya" Aku
"Ga galau? "
"Emang bocah apa pake galau, putus ya udah. gagal tunangan ya sudah tandanya itu bukan yang terbaik" Aku
"Terus kamu percaya engga sama cinta padangan pertama" Ryan
__ADS_1
"Percaya lah" Aku
Dan ternyata kami sudah hampir sampai rumah, sesampainya di depan gerbang terlihat anak kecil yang menanggis.