
Happy Reading
Setelah berganti baju Ryan kembali ke depan ruangan operasi bersama keluarganya.
2 jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi.
"Selamat anak bapak laki-laki"
"Istri saya bagaimana dok" Ryan.
"Istri bapak masih dalam keadaan kritis, setelah ini akan kami pindahkan ke ruang ICU" Dokter.
detik telah berlalu berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan dan dua bulan sudah Annisa koma dirumah sakit.
"Ryan, kamu sarapan dulu. Biar Rafa sama mama" Mama Puspa.
Rafa adalah nama anak Annisa dan Ryan. Rafa memiliki hidung seperti Ryan dan selebihnya mirip dengan Annisa, bisa dibilang Rafa adalah copyan Annisa versi laki-laki.
Setelah sarapan Ryan kembali ke ruangan ICU tapi sudah tidak ada orang.
"Loh Sus, pasien disini dipindah kemana ya? " Tanya Ryan.
"Sudah dipindahkan ke ruang rawat inap pak, karena pasien sudah siuman" Suster.
Ryan langsung menelfon mamanya dan berjalan menuju ruangan inap Annisa.
Ryan langsung masuk dan berjalan menuju brankar Annisa "Sayang, alhamdulillah kamu udah sadar" sambil mencium kening istrinya
"Iya mas, aku sudah sadar. Makasih ya mas kamu udah rawat anak kita dengan baik. Maaf kalau Annisa ngerepotin mas. Annisa titip Rafa sama Tesa sama mas, jaga mereka baik-baik ya mas" Annisa.
"Iya mas janji bakal rawat mereka dengan baik sampai kamu sembuh sayang" Ryan.
4 hari berlalu dan kondisi Annisa kembali memburuk, tubuh Annisa kejang dan Ryan langsung memanggil dokter.
"Maaf Pak buk, bisa keluar sebentar karena kami harus memeriksa kondisi mbk Annisa" Ucap dokter Rido.
"Iya silahkan Pak" Pak David.
__ADS_1
Merekapun berjalan keluar dan duduk di kursi depan ruangan Annisa di rawat.
Terdengar suara bunyi bacaan mesin jantung yang membuat kami semakin tegang dengan keadaan. Semua orang sibuk berdoa untuk Annisa. Sementara Tesa menangis karena takut mamanya kenapa-napa. Dan mama menggendong Rafa yang tertidur.
Aku mencoba tenang dan menghela nafas panjang.
15 menit kemudian dokter Rido keluar
"Bagaimana kondisi anak saya dok" Tanya pak David.
"Maaf Pak, mohon tenang. Kondisi pasien kembali kritis dan bahkan keadaannya jauh lebih buruk dari pada kemarin" Jelas dokter Rido.
"Dok selamatkan anak kami dok, kami mohon" Tante Puspa.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, bapak dan ibu bantu doa" Dokter Rido.
Dokter Rido pun kembali masuk kedalam ruangan.
Sementara aku menggendong Tesa dan menenangkan supaya tidak menangis.
Tesa pun menganggukkan kepalanya dan memelukku dengan erat sambil menyandarkan kepalanya dibahuku.
3 jam berlalu dokter Rido keluar dengan raut wajah yang tampak kecewa.
"Dok, bagaimana kondisi anak kami dok" Mamaku.
Dokter Rido menghela nafas panjang.
"Dok jawab kami, jangan membuat kami penasaran " Tante Puspa.
"Sebelumnya kami telah melakukan berbagai tindakan untuk menyelematkan pasien tapi Allah berkata lain. Anak bapak meninggal dunia. Saya sangat minta maaf kepada bapak. Tapi kami telah melakukan semaksimal mungkin" Jelas dokter
Kamipun langsung masuk kedalam ruangan. Semua orang menangisi kepergian Annisa. Hatiku rasanya sesak karena hatiku telah mati bersamanya. Aku tak pernah menyangka jika aku harus ditinggalkn oleh istiku, orang yang paling aku cintai di dunia ini. Aku duduk di kursi dekat brankar, mataku terus menatap Annisa berharap bakal ada keajaiban namun nyatanya tidak ada.
Aku pegang wajah dia, aku cium wajahnya berulang kali. Rasanya ini semua bagai mimpi.
Papa David mendekatiku, "Nak, jangan tangisi Annisa. Ikhlaskan kepergian dia nak, supaya Annisa bisa tenang. Om sebagai orang tua juga berat nak jika harus ditinggalkan anak om satu - satunya untuk selamanya. Tapi om berusaha merelakannya. Sekarang ayok kita urus administrasi dan kita bawa pulang jenazah Annisa supaya cepat dimakamkan"
__ADS_1
Aku pun berjalan mengikuti langkah papa mertuaku, setelah selesai mengurus administrasi. Jenazah Annisa langsung dimasukkan ambulan untuk dibawa kerumah duka.
Sampai dirumah jenazah langsung dimandikan, kemudian dikafani, setelah itu dibacakan yasin dan langsung disholatkan supaya segera cepat dikebumikan.
Sebelum dimakamkan untuk yang terahir kali aku melihat senyum mengembang dibibir wanita yang aku cintai ini, sungguh aku berjanji akan menyanyangi dan merawat kedua anakku dengan baik.
Setelah 7 hari meninggalnya Annisa aku selalu membawa Tesa ke tempat tugasku, entah itu di kantor atau razia bahkan patroli. Karena Tesa selalu ingin ikut bersamaku. Sementara Rafa jika aku bekerja dia bersama mamaku terkadang juga bersama mama Alm. Annisa
Aku juga tak ingin menikah walaupun mamaku dan orangtua Alm. Annisa menyuruhku menikah tetapi aku selalu menolaknya.
23 tahun berlalu, kini Tesa sudah menikah dan memiliki anak. Dia menikah dengan seorang polisi.
Sementara Rafa berumur 23 tahun dan sekarang dia sedang melakukan pendidikan di AKMIL.
Setiap hari libur aku selalu mengajak Tesa dan Rafa mengunjungi makam Alm. Annisa.
~Tamat~
Gimana gaes ceritanya, adakah kalian menangis atau malah bisa saja?
Silahkan komen dibawah ini hehehe
Author juga minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, dan author sangat berterimakasih kepada para pembaca setiaku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Author mau promo untuk novel selanjutnya berjudul "Perjuangan Cinta Lettu Dimas A. P Laksono"
Insyallah dalam novel tersebut author akan membuat episode yang panjang.
jadi tolong selalu support terus.
Dan novel ini juga masih seputar abdi negara, karena banyak yang meminta kepada author untuk menulis novel tentang abdi negara.
Ini cover novel yang akan rilis selanjutnya
__ADS_1