Ibu Bukan Pelacur

Ibu Bukan Pelacur
Pasang Surut Rasa


__ADS_3

Cepat atau lambat, keberhasilan akan menghampiri orang-orang yang bersungguh-sungguh.


---


Tiara mendadak lesu. Rasa capek sepulang kuliah dirasakannya mendadak berlipat ganda. Di kamar indekos, ia baru saja mengempaskan diri di kursi plastik di dekat pintu. Tafakur sambil menatap layar ponsel, membaca kembali email yang ia terima sejak di angkot tadi. Isinya penolakan dari redaksi salah satu penerbit tempatnya mengirim naskah novel sejak tujuh bulan yang lalu. Padahal, seminggu sebelumnya ia juga sudah menerima email serupa untuk naskah berbeda di penerbit yang lain. Tenang, masih ada satu naskah lagi, gumamnya dalam hati demi menyelamatkan semangat yang dirasakannya akan berguguran. Meski naskah itu sudah digantung lebih dari sepuluh bulan.


Kenyataan seperti ini terkadang membuat gadis lampai itu berniat mengubur impiannya untuk jadi penulis. Tapi, dari mana lagi ia mendapatkan penghasilan tambahan untuk biaya hidup kalau bukan dari menulis? Ia tidak punya passion lain. Gajinya sebagai pekerja paruh waktu di sebuah kafe kadang tidak cukup untuk sebulan. Beruntunglah, ada artikel, cerpen dan puisinya yang sering dimuat di koran dan majalah nasional. Dari sanalah ia meraup pundi-pundi tambahan. Meski ada juga beberapa media yang suka abai terhadap kewajiban setelah memuat karyanya.


Empat tahun sudah gadis berambut hitam panjang itu menetap di Makassar. Meninggalkan Bajoe—kampung halamannya—beserta sebuah kenyataan yang ingin ia lupakan. Awal menginjakkan kaki di Makassar ia menumpang di rumah Rani, sahabat yang dikenalnya lewat Facebook. Mereka pernah sama-sama memenangi sayembara cerpen yang diadakan oleh salah satu penerbit mayor. Melalui arahan Rani, ia kemudian bekerja di sebuah toko pakaian yang mengharuskannya berjaga dari pukul delapan pagi hingga pukul sepuluh malam. Libur yang hanya diberikan dua kali sebulan dengan gaji yang tak seberapa membuat pekerjaan itu terasa berat. Tapi, ia harus menjalaninya sukacita. Mencari pekerjaan hanya bermodalkan ijazah SMA tentu bukan hal mudah.


Daripada hanya berdiam diri ketika tidak ada pengunjung, Tiara makin giat menekuni hobi menulisnya. Dan selama setahun lebih bekerja di toko pakaian itu, ia berhasil merampungkan tiga naskah novel, puluhan cerpen, dan entah berapa banyak puisi. Awalnya ditulis tangan di atas lembaran-lembaran kertas, sebelum ia mampu membeli laptop bekas dari Rani. Begitu menerima gaji pertamanya, Tiara lekas mencari indekos yang dirasa cocok. Tak enak menumpang terus.


Tahun pertama jauh dari kampung halaman dilalui Tiara penuh tantangan. Berbagai upaya ia lakukan demi bertahan kala itu. Ia yakin, seiring berjalannya waktu keadaan akan membaik. Benar saja, berkat Rani lagi, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah kafe dengan jam kerja dan gaji yang jauh lebih bersahabat. Merasa punya waktu luang dan tabungan yang sudah cukup, ia memutuskan untuk kuliah, melanjutkan pendidikan yang sempat terhenti. Selain menjadi penulis, cita-citanya untuk menjadi seorang dokter masih tersimpan rapi di ruang harap. Meski pada kenyataan, kini ia hanya mampu kuliah di Universitas Hasanuddin, mengambil jurusan bahasa, bukan kedokteran yang tentu butuh biaya selangit. Setidaknya masih bisa kuliah. Ini jauh lebih baik. Karena itu, ia merasa perlu berterima kasih secara khusus kepada Rani. Gadis berhijab itu telah banyak membantunya. Sebagai seseorang yang berasal dari keluarga berada, Rani tak pernah bersikap sombong. Untuk ukuran penulis yang sudah memiliki tiga buku yang beredar di seluruh toko buku nasional, ia juga tak pelit ilmu kepada Tiara yang baru merintis. Tiara merasa beruntung bisa mengenal orang sebaik Rani.


Betapa pun sulitnya hari-hari yang dilalui Tiara, ada hal yang jauh lebih sulit. Mendamaikan hati pada takdir, pada sosok yang ia tinggalkan tanpa pernah mengiriminya kabar hingga saat ini. Meski kebencian yang bersarang di dadanya tak serimbun dulu, belum sekali pun terlintas di benaknya untuk kembali, atau sekadar mengetahui kabarnya. Sebisa mungkin ia tak memikirkan hal itu lagi, hal yang mampu mengacaukan harinya.


Tiara bangkit setelah mengembuskan napas berat dengan kasar. Jangan sampai ia jadi lemah karena penolakan ini. Ia harus ingat, sederet nama besar yang karyanya kini menyesaki rak koleksi bukunya, dulu juga berawal dari bukan siapa-siapa. Mereka juga pernah mengalami penolakan seperti yang ia rasakan sekarang. Termasuk Ustazah Qhumairah, sosok yang sangat diidolakannya. Sejak membaca buku pertamanya, ia langsung jatuh hati pada tulisan ustazah cantik itu. Tak jarang ia menjadikan karya-karya beliau sebagai referensi di setiap tulisannya.


Tiara mengambil handuk di dalam lemari, kemudian melangkah ke kamar mandi. Ia harus lekas siap-siap jika tidak ingin terlambat dan kena semprot. Sebelum pukul tiga ia sudah harus berada di tempat kerjanya, sebuah kafe yang berlokasi di Jalan Andi Mappanyukki.


***


Tiara tampak sibuk melayani pengunjung. Bakda magrib seperti sekarang ini memang lagi ramai-ramainya. Tiba-tiba Rani muncul dan menggaet tangannya, sedikit mengagetkan. Gadis berhijab abu-abu itu menariknya keluar dan mengajak duduk di teras kafe.


"Ran, aku masih kerja. Kalau ketahuan big boss bisa bahaya. Kamu tahu sendiri, kan, orangnya kayak apa." Tiara celingukan, memastikan dirinya aman dari pantauan Pak Hadi, sang pemilik kafe yang suka tiba-tiba muncul untuk memantau kinerja karyawannya.

__ADS_1


"Minta waktumu sebentar. Ini sangat penting dan kamu pasti suka." Rani tampak antusias dan geregetan. Entah kabar apa yang dibawanya.


"Ada apa, sih?" tanya Tiara sambil masih mengawasi keadaan sekitar.


Rani menyodorkan sebuah majalah, langsung membuka halaman yang memuat pengumuman pemenang lomba menulis cerpen religi bersama Ustazah Qhumairah yang diadakan dua bulan yang lalu.


"Oh. Jadi pengumumannya sudah keluar, ya! Dan kamu menang lagi? Sudah kuduga. Selamat, ya! Kamu benar-benar hebat," ucap Tiara seraya tersenyum lebar kepada Rani, tanda ucapan selamat kesekian untuk sahabatnya yang memang langganan juara berbagai event besar di dunia literasi itu.


Tiara meraih majalah tadi, memastikan nama-nama pemenang lainnya. Saat itulah, matanya mendadak membola. Demi memastikan sebuah nama yang baru saja dibacanya, ia menarik majalah itu lebih dekat ke wajahnya. Dan ternyata ia tidak salah lihat. Mutiara Cinta, namanya, malah berada di peringkat pertama, tepat di atas nama Rani.


"Sudah kubilang, kan? Kamu itu hebat. Soal naskah novelmu yang belum satu pun menemukan jodoh, itu hanya masalah waktu."


"Ran, ini beneran?" Tatapan Tiara masih terpaku pada halaman majalah tadi.


"Aku juara satu?"


"Aku sudah menduga ketika kamu memintaku membaca cerpen yang kamu kirim waktu itu. Cerpenmu berhasil memberikan pandangan baru terhadap pembaca. Jauh lebih baik dari cerpenku."


Tiara kesusahan berkata-kata kemudian, berusaha menghalau air mata bahagia yang mendesak tiba-tiba. Perlahan-lahan senyumnya mengembang sempurna. Wajahnya memancarkan aura bahagia yang tak terkira.


"Terima kasih, Ran. Kamu sudah banyak membantuku selama ini. Semua ini juga berkat kamu."


"Kok, aku? Ini berkat kegigihan kamu!"


"Pokoknya, terima kasih."

__ADS_1


"Iya, deh! Sama-sama. Siap-siap, ya! Bulan depan Ustazah Qhumairah akan datang ke Makassar untuk launching buku antologi cerpen para pemenang lomba ini. Dan sebagai juara satu, salah satu hadiahnya, kamu berkesempatan mengobrol empat mata dengan beliau. Kamu bisa bertanya apa pun. Terlebih soal dunia kepenulisan. Duh, aku jadi iri." Rani sengaja memasang tampang mupeng di akhir kalimatnya. Sebagai seseorang yang sudah lama mengenal Tiara, ia turut bahagia atas keberhasilannya kali ini. Ia paham betul hari-hari sulit yang telah dilalui gadis berkulit kuning langsat itu. Ia prihatin atas semua permasalahan yang harus ditanggungnya di usia yang terbilang masih sangat muda. Meski ia tak paham alasan Tiara kabur dari rumah. Tiara belum pernah berterus terang. Ia salut, sejauh ini sahabatnya itu berhasil dalam kemandiriannya.


Rona bahagia di wajah Tiara kian meletup-letup mengingat dirinya akan bertemu dan berbincang langsung dengan Ustazah Qhumairah—sang idola. Mimpinya terwujud. Begitu mendapat info lomba ini dari Rani dua bulan yang lalu, ia memang begitu antusias setelah tahu bahwa juara pertama berkesempatan untuk bertemu dan mengobrol langsung dengan ustazah cantik yang merangkap jadi penulis itu. Tentu saja ini kesempatan emas untuk meraup ilmu. Ia tidak akan melewatkannya. Meski ia tak berani berharap banyak. Mengingat lomba itu tingkat nasional dan begitu marak dibicarakan di media sosial. Tapi alhamdulillah, cerpen yang ia tulis dengan sungguh-sungguh berhasil mengantarkannya meraih posisi yang pasti diinginkan banyak orang di luar sana. Bahkan Mengalahkan Rani yang sudah berkali-kali memenangi lomba serupa. Sampai saat ini Tiara masih sulit untuk percaya. Terasa ajaib.


"Oh, ya, mumpung kamu di sini, aku traktir makan, ya," tawar Tiara dengan mata berbinar-binar.


"Lain kali aja. Kebetulan ada janji sama Mama. Biasa, minta diantar ke kondangan. Lagian kamu masih kerja. Masa aku makan sendiri?" Rani terkekeh pelan sambil beranjak dari kursinya.


"Ya udah. Sekali lagi, makasih, ya. Untuk semuanya." Ada makna mendalam di kalimat barusan.


Gadis berhijab itu mengangguk mantap seraya tersenyum. Kemudian melangkah pergi setelah pamit dan sekali lagi mengucapkan selamat atas keberhasilan Tiara.


Sepeninggal Rani, Tiara masih di tempat semula. Ia senyum-senyum sendiri menatap halaman majalah yang mengumumkan namanya sebagai juara satu setelah menyisihkan ribuan peserta.


"Malah senyum-senyum sendiri di sini. Pesanan numpuk, tuh, minta diantar ke meja pelanggan."


Setengah kaget, Tiara menoleh ke sumber suara. Ia mendapati wajah Rama dengan ekspresi yang selalu sama. Rekan kerjanya yang berposisi sebagai supervisor itu memang sedikit cerewet. Tapi Tiara paham, semua kecerewetannya itu beralasan. Ia hanya ingin teman-temannya tidak kena marah dari atasan.


"Siap, Tuan!" Selalu seperti itu Tiara menjawab dengan maksud untuk melucu setiap kali pemuda berkulit sawo matang itu mengingatkannya. Sigap, ia kembali ke dalam, melanjutkan pekerjaan yang memang sedang padat.


Rama terdiam menatap punggung Tiara semakin menjauh ke dalam. Bahkan, hanya dengan suara saja, mampu membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Selalu seperti itu setiap kali Tiara bicara padanya. Sejak hari pertama Tiara bekerja di kafe itu, ia mulai dihinggapi perasaan aneh. Getar-getar halus yang membuat tidurnya tidak nyenyak. Pada akhirnya ia sadar, ia telah jatuh cinta. Hanya saja ... setelah sejauh ini, selama lebih dua tahun, ia masih belum menemukan cara yang tepat untuk mengutarakan perasaannya. Posisinya sebagai atasan membuatnya kurang leluasa melakukan pedekate. Sedang di luar jam kerja Tiara tak pernah punya waktu untuk diajak keluar. Dan ia memang tidak pernah mencoba hal itu. Maka seperti inilah adanya. Ia terpaksa bermain dengan perasaan yang kadang menyesakkan di tengah tanggung jawabnya selaku supervisor.


***


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2