
Semoga semua ini hanya mimpi buruk dan aku akan segera terbangun.
---
Tangisku menggema dalam hati, meski tak bersuara. Hanya punggung yang terguncang kian hebat. Seiring luka yang menjalar dengan cepat, menyesaki dada. Kepada cahaya pagi yang jatuh ke bumi, aku mempertanyakan takdir yang tengah Tuhan limpahkan ke hidupku. Kenapa sedemikian tragis? Aku merasa tak pernah berbuat hal yang bisa merugikan orang lain. Kenapa malah diuji seperti ini? Aku tiba-tiba kepikiran Mak. Entah bagaimana jadinya bila ia tahu hal ini. Dengan kondisi yang memang sudah labil, aku takut ia lebih terpukul bila kuceritakan. Tapi cepat atau lambat, ia harus tahu. Aku tidak mungkin bertahan di sini. Lebih baik pulang ke rumah Mak daripada hidup bersama lelaki yang kini memperlakukanku seperti binatang. Persetan dengan rumah tangga yang sebenarnya baik-baik saja dua tahun ini. Lagi-lagi aku bingung sendiri. Entah apa yang menyebabkan Daeng Hasan berubah sedrastis itu. Aku sempat berpikir ia sudah gila. Semua ini pasti ada kaitannya dengan perempuan selingkuhannya itu. Jika sekarang ia memang lebih mencintai dan ingin hidup damai bersama perempuan jalang itu, kenapa tidak ceraikan saja aku? Bicarakan. Bagiku jauh lebih baik daripada ia harus seperti sekarang ini. Tak ubahnya orang gila.
Aku melirik Daeng Hasan yang tampak sangat pulas. Sepertinya pengaruh alkohol belum sepenuhnya hilang. Aku bangun dengan pelan, menggendong Tiara yang masih tidur. Hari ini juga aku harus kabur dari rumah ini. Aku tak sempat membawa apa-apa, tidak ada waktu untuk berkemas. Aku bahkan tak kepikiran untuk membawa uang sepeser pun. Aku hanya ingin menghilang dari rumah ini secepatnya.
Aku mengendap-endap keluar. Berusaha tak menimbulkan suara apa-apa hingga berhasil menggapai pegangan pintu yang ternyata terkunci. Sial.
"Mau ke mana?" Suara Daeng Hasan mengagetkanku.
Aku menoleh, mendapatinya berdiri tak jauh dariku. Kini malah melangkah lebih dekat. Matanya membara. Ia benar-benar bukan lelaki yang kukenal dulu, si pemilik senyum simpul yang mampu meluluhkan hatiku. Aku mendekap tubuh Tiara lebih erat. Aku ketakutan.
"Kenapaki berubah seperti ini?" Kuberanikan diri menatap matanya saat ia hanya berjarak dua langkah dariku.
Ia tidak menjawab, malah tersenyum aneh.
"Aku mau pulang ke rumah Mak."
__ADS_1
"Untuk apa? Kamu tidak boleh ke mana-mana. Kamu harus tetap tinggal di rumah ini, melayaniku, menunaikan kewajibanmu sebagai istri."
"Tapi kamu sudah gila. Mana ada suami yang tega menyerahkan tubuh istrinya untuk dinikmati lelaki lain?" Suaraku meninggi.
"Diam!" timpal Daeng Hasan dengan nada lebih tinggi.
Tiara kaget. Ia terbangun dan langsung menangis.
"Kamu pikir cari uang itu gampang? Kamu pikir aku tidak capek banting tulang setiap hari? Jadi apa salahnya sesekali kamu bantu aku cari uang."
"Tapi bukan berarti malah mabuk judi dan menjadikan istri sebagai barang taruhan, Daeng." Tangisku pecah, bersahutan dengan tangis Tiara. Aku membelai punggungnya. Anak itu tampak ketakutan mendengar suara kami.
"Judi bisa bikin kaya. Sekali menang, uangnya langsung banyak."
"Sudahlah! Percuma ngomong sama kamu. Ingat, kamu istriku, jadi harus patuh dengan apa pun yang kuperintahkan." Daeng Hasan kembali memperlihatkan senyum anehnya.
"Minggir, aku mau keluar!" Ia menarikku menjauh dari pintu. "Ingat, jangan coba-coba untuk kabur. Ke mana pun kamu pergi, aku pasti bisa membawamu kembali ke rumah ini," imbuhnya sambil membuka pintu. Kemudian benar-benar pergi setelah menutup dan mengunci kembali pintunya dari luar.
Aku terperangah, masih belum yakin setiap adegan tadi benar-benar terjadi di hidupku. Sedang tangis Tiara makin menjadi-jadi. Sepertinya anak ini turut merasakan suasana yang mendadak mencekam ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
__ADS_1
***
Aku berusaha menenangkan Tiara yang terus-terusan merengek minta keluar. Ia memang tidak pernah betah berdiam diri di dalam rumah. Ia ingin bermain di halaman, mengejar capung, atau melempari ayam tetangga. Itu kesenangannya. Ia tentu saja tidak akan mengerti dengan kondisi yang tengah melanda kami, bagaimana pun caraku menjelaskan. Aku meredam ego, melupakan sejenak masalah yang membuat keadaan berubah 180 derajat. Aku mengajaknya bermain, apa pun yang bisa membuatnya lupa pada keinginan keluar rumah. Pada akhirnya ia tidur setelah kuberi bubur dan sebotol susu. Aku sangat khawatir ia jatuh sakit setelah menangis cukup lama.
Setelah Tiara tidur, aku kembali berpikir keras, mencari cara untuk kabur dari rumah ini. Bukan hanya pintu, semua jendela pun terkunci. Dipasangi palang balok dari luar. Entah kapan Daeng Hasan melakukannya. Hal ini menegaskan bahwa ia memang sudah lama merancang kegilaan ini. bahkan mungkin sejak pertama kali ia memperlihatkan senyum simpul padaku. Tempat ini bukan lagi rumah, tapi tahanan.
Jika aku teriak, mungkin seseorang akan mendengar dan pada akhirnya bisa membantuku keluar dari tempat ini. Tapi, aku tidak ingin membangunkan Tiara. Ia pasti akan menangis lagi. Merengek minta keluar lagi.
Hingga lewat tengah hari Daeng Hasan belum juga kembali. Untuk menghilangkan rasa lapar, aku memasak seadanya. Apa pun yang tersedia di dapur. Aku sudah letih menangis. Rasa-rasanya air mataku sudah tertumpah habis.
Menjelang sore, ketika Tiara sudah terbangun, aku memutuskan untuk teriak minta pertolongan. Tapi yang datang membuka pintu kemudian malah Daeng Hasan. Teriakanku tentu saja membuatnya geram. Ia melototiku dengan kasar.
"Kamu berani menentangku?" Ia mencengkeram lenganku kuat-kuat. Tiara yang tak mengerti apa-apa hanya menatap bingung. Dan sepertinya ia ketakutan.
Aku tak berkata apa pun, juga tak menangis lagi. Hanya berusaha membalas tatapannya, seolah benar hendak melakukan perlawanan. Entah dengan cara apa.
"Kalau kamu berani kabur dari sini, aku pastikan hidupmu tidak akan tenang!" Tangan kirinya mencengkeram kedua rahangku.
Setelah puas mengancam, Daeng Hasan memintaku memasakkannya dua ekor ikan bandeng yang dibawanya pulang. Dari dulu ia memang penikmat ikan bertulang banyak itu. Mungkin ini satu-satunya hal yang belum berubah darinya. Sambil aku melaksanakan perintahnya, ia mengajak Tiara bermain di luar. Wajah anak itu langsung ceria. Sesaat, aku berpikir mimpi buruk ini telah berakhir. Aku baru saja terbangun dan Tuhan mengembalikan hidupku. Nyatanya tidak. Daeng Hasan hanya pulang untuk makan. Setelah kenyang, ia kembali pergi. Kali ini tanpa mengunci atau mengurungku di dalam rumah, tapi malah membawa Tiara. Setelah seharian terkurung di dalam rumah, tentu saja anak itu tidak menolak untuk diajak pergi. Hal itu jadi ancaman paling mengerikan buatku, jauh lebih mengekang daripada sekadar pintu dan jendela yang terkunci rapat. Kalau berani kabur, aku tidak akan bertemu putri kecilku lagi.
__ADS_1
***
[Bersambung]