Ibu Bukan Pelacur

Ibu Bukan Pelacur
Melepas Kehilangan


__ADS_3

Assalamualaikum, pembaca yang budiman.


Mohon maaf sebelumnya, untuk part selanjutnya sampai tamat hanya bisa dibaca di aplikasi Komunitas Bisa Menulis.



Silakan cari akun saya di sana (Ansar_Siri).


Sampai jumpa.


Makasih atas dukungannya.


Salam santun 😊🙏

__ADS_1


Ansar Siri


***


Aku lega karena menemukan diriku yang baru. Ibu yang telah mengecewakan anaknya bukan lagi seorang biduan atau buruh cuci, tapi salah satu pemilik Warung Dua Janda yang lagi naik daun.


 


Watampone, tahun 2014


Aku yakin, suatu saat anakku akan kembali. Dan saat itu tiba, aku tidak ingin membuatnya kecewa untuk kedua kalinya. Karenanya aku harus lebih baik. Aku memutuskan untuk berhenti jadi biduan. Untuk menyambung hidup, aku jadi buruh cuci. Setiap pagi aku berjalan keliling kampung, mencari orang-orang yang ingin menitipkan pakaian kotor mereka untuk dicucikan dengan bayaran seadanya. Sore hari, aku kembali berkeliling kampung untuk mengantarkan pakaian yang sudah dicuci bersih dan kering sempurna. Begitu seterusnya. Malam hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan merenung, mengenang anakku. Hampir tak ada malam yang kulalui tanpa tangisan sebelum tidur. Dan setelah terlelap, aku selalu bertemu Tiara di alam mimpi.


Watampone, tahun 2015

__ADS_1


Hari ini kabar duka kembali menyergap. Andai saja takdir tak berkata lain, seharusnya besok lusa Siska akan melangsungkan akad nikah dengan seorang duda beranak satu yang dikenalnya sejak enam bulan terakhir. Lelaki itu berprofesi sebagai pedagang pakaian keliling, sering menyambangi kami saat lagi kumpul dengan tetangga di sore hari. Di sanalah perkenalan antara pedagang dan pembeli terjadi. Hingga suatu hari lelaki itu datang tanpa membawa barang dagangan. Maksudnya murni ingin bertamu, menjalin keakraban lebih jauh dengan Siska. Entah kelebihan apa yang dimiliki lelaki yang tak lagi muda itu, hingga Siska bersedia membuka pintu hati. Padahal selama ini ia selalu menjaga jarak dengan makhluk bernama lelaki. Masa lalu membuatnya trauma. Kurang lebih sama sepertiku.


Berkat mengenal lelaki yang akan menikahinya, Siska memutuskan untuk berhenti jadi biduan. Katanya ia ingin menikmati masa-masanya jadi istri. Aku sangat senang menyambut keputusannya. Calon suaminya memberinya modal untuk membangun sebuah warung makan di sekitar pasar. Sejak saat itu hari-harinya jadi ceria. Ia menebar senyum ke mana-mana.


Tapi nahas. Tadi pagi calon suaminya itu meninggal di tempat setelah motor yang ia kendarai setiap hari untuk mencari rezeki bertabrakan dengan truk di perempatan jalan menuju Pelabuhan Bajoe. Mendengar kabar itu Siska langsung pingsan. Kini, tak henti-hentinya ia meraung-raung, seolah hendak menyalahkan takdir yang begitu tega mempermainkannya. Sebagai seorang sahabat yang juga sedang rapuh, aku berusaha menguatkannya.


Bulan-bulan berlalu mengipaskan angin sendu. Masa-masa memulihkan diri bagi Siska telah berlalu. Senyumnya telah kembali, meski belum selebar dulu. Kini saatnya merintis warung makan yang dulu hendak ia kelola bersama almarhum calon suaminya. Sebagai gantinya, ia mengajakku bekerjasama. Dari awal ia tidak tega melihatku jadi buruh cuci. Tentu saja aku merasa senang dan sangat berterima kasih. Uang yang kusimpan dari dulu untuk biaya Tiara masuk ke universitas kuserahkan kepada Siska untuk tambahan modal. Tapi ia menolak, katanya nanti saja kalau memang uang yang ia punya tidak cukup.


Sebulan kemudian warung sederhana itu pun berdiri kokoh. Kami terpaku di depannya sambil berangkulan dengan mata berkaca-kaca—menatap penuh haru. Semoga ini benar-benar awal yang baru. Semoga warung ini akan menutup segala cerita suram yang cukup sudah melelahkan kami selama ini. Di atas pintu masuk terpasang papan yang bertuliskan Warung Dua Janda. Ya, itu nama yang kami sematkan untuk tempat yang kami harap bisa membawa berkah ini. Agak menggelitik memang. Kami sengaja. Tujuannya untuk memancing pelanggan berdatangan.


Alhamdulillah. Hanya dalam waktu tiga bulan nama Warung Dua Janda sudah tersiar ke mana-mana. Kelezatan makanan yang kami hidangkan jadi perbincangan. Utamanya di kalangan tukang ojek, tukang becak, tukang bendi, dan pemilik lapak di pasar yang memang kerap makan di warung kami. Siska mengaku telah kembali modal. Ini benar-benar berkah. Tuhan akhirnya menunjukkan kemurahan-Nya.


Setiap bagi hasil yang kuterima dari Siska kutabung dengan telaten. Uang ini untuk biaya kuliah Tiara bila ia kembali suatu hari nanti. Aku lega karena menemukan diriku yang baru. Ibu yang telah mengecewakan anaknya bukan lagi seorang biduan atau buruh cuci, tapi salah satu pemilik Warung Dua Janda yang lagi naik daun. Andai saja Tiara ada di sini, ia pasti ikut bahagia.

__ADS_1


***


[Bersambung]


__ADS_2