Ibu Bukan Pelacur

Ibu Bukan Pelacur
Bertemu Sang Idola


__ADS_3

Sungguh ... karena Ibu, aku bisa terus berkarya dan menebar ilmu yang insya Allah bermanfaat!


---


Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh Tiara sejak dirinya berhasil memenangkan lomba menulis cerpen remaja islami bersama Ustazah Qhumairah. Tadi siang, launching buku antologi cerpen mereka berlangsung dengan lancar dan sangat ramai. Para pencinta literasi seantero Makassar berbondong-bondong memenuhi pelataran Toko Buku Gramedia Mal Panakkukang—tempat berlangsungnya acara—demi melihat secara langsung penulis idola mereka. Mereka begitu antusias. Dengan sabar dan tertib, mereka rela mengantre panjang demi mendapatkan tanda tangan sekaligus berfoto bersama ustazah sekaligus penulis yang karya-karyanya memang sedang dielu-elukan akhir-akhir ini.


Dan sekarang, Tiara mendapatkan haknya sebagai pemenang lomba itu. Ia dan Ustazah Qhumairah tengah menikmati suasana makan malam di salah satu restoran terbaik di Makassar yang menyediakan fasilitas VIP dinning room. Tiara sempat gugup di awal-awal. Tapi, sikap ramah dan bersahabat yang ditunjukkan sang idola membuatnya lebih santai kemudian. Ia semakin kagum dengan sosok perempuan yang tengah bersamanya kini.


"Terima kasih, ya! Kamu sudah berpartisipasi di lomba saya dan memberikan cerita yang sangat menginspirasi. Tulisan seperti itulah yang dibutuhkan remaja masa kini. Di tengah tingkat pergaulan yang nyaris tanpa sekat."


"Seharusnya saya yang berterima kasih, Ustazah ...."


"Eits ... panggil Mbak saja, ya! Biar lebih akrab," potong Ustazah Qhumairah sambil tetap tersenyum.


"Baik, Mbak!" Tiara berusaha meredam sisa-sisa kecanggungannya. Ia harus bisa memanfaatkan momen berharga ini. "Terima kasih telah memilih cerpen saya sebagai pemenang. Saya benar-benar tidak menyangka. Mengingat sejumlah nama-nama beken yang turut berpartisipasi di lomba ini."


"Saya yakin, suatu saat nanti, karya-karya besarmu akan mewarnai dunia literasi. Bahkan tidak menutup kemungkinan kamu akan melampaui pencapaian saya."


"Aamiin. Semoga saja. Meski kedengarannya sedikit berlebihan." Tawa kecil meluncur dari bibir tipis Tiara.


"Kamu hanya perlu sabar, terus berusaha, dan jangan mudah menyerah."


"Insya Allah." Tiara benar-benar mendapatkan suntikan semangat.


"Ya udah. Makan dulu. Tidak baik menganggurkan makanan." Untuk kesekian kalinya, ustazah bermata teduh itu tersenyum ramah.

__ADS_1


Tiara benar-benar bahagia malam ini. Seraya menikmati makanannya, seutas doa mengalun lirih dalam hati. Semoga ia bisa mengikuti jejak kesuksesan sang idola.


"Oh ya, katamu akan menunjukkan sampel naskah?" Ustazah Qhumairah memulai obrolan setelah mereka selesai makan.


Beberapa hari yang lalu mereka memang sempat berkomunikasi via email. Tiara bertanya perihal boleh atau tidak ia membawa sampel naskah untuk di-review di pertemuan ini. Betapa gembiranya gadis berhidung mancung itu ketika sang idola mengiyakannya tanpa syarat. Dengan sedikit gugup, Tiara mengeluarkan sampel naskah dari tas selempangnya, kemudian menyodorkan kepada Ustazah Qhumairah. Tentu saja ia sudah memastikan tidak ada salah ketik di sampel itu sebelum di-print out dan dijilid rapi. Ustazah Qhumairah meraih dan lekas membacanya. Tiara menunggu dengan sabar, sedikit deg-degan.


"Naskahmu bagus. Rapi. Seperti di cerpen itu, saya suka cara kamu menyampaikan cerita. Idenya juga cukup unik. Belum banyak cerita yang seperti ini. Dan yang paling penting, kamu berhasil membuat saya berbaur dengan tokoh-tokohnya. Untuk yang satu ini, tidak semua penulis mampu melakukannya," terang Ustazah Qhumairah setelah selesai membaca sampel naskah sepanjang sepuluh halaman itu.


"Tapi, Mbak, naskah itu baru ditolak kemarin." Ucapan Tiara seolah meragukan.


"Ada banyak alasan penerbit menolak sebuah naskah, tidak melulu karena jelek. Ditolaknya juga baru sekali, kan? Itu belum apa-apa. Kamu pikir, naskah saya tidak pernah ditolak? Saya sudah merasakan puluhan penolakan sebelum tiba di posisi ini."


Tiara mencermati omongan perempuan di depannya dengan sungguh-sungguh. Sepertinya ia memang perlu menguatkan akar sabar dan ketekunan dalam dirinya demi mewujudkan impian menjadi seorang penulis terkenal.


"Kamu pernah meminta restu kepada ibumu? Meminta beliau mendoakan langkahmu dalam meraih cita-cita?"


Tiara terkesiap. Pertanyaan barusan tiba-tiba menghadirkan wajah seseorang yang lama mengabur dalam benaknya.


"Apakah harus seperti itu?" tanyanya kemudian. Pelan.


Ustazah Qhumairah mengangguk tegas. "Ingat, ridho Allah adalah ridho Ibu!"


Tiara sama sekali tidak meragukan kalimat itu. Tapi jika Ustazah Qhumairah mengenal ibunya ... apakah masih akan berkata seperti itu?


Seketika rindu dan muak berlaga bersama, menciptakan ayunan bening di tepian mata Tiara. Ia lari dari kenyataan, pergi meninggalkan Ibu sejak empat tahun silam. Bertahun-tahun ia memasang tameng, menepis semua yang mereka katakan tentang Ibu—yang menurutnya mustahil. Hingga suatu hari, tentang semua hal yang berusaha tidak dipercayainya dengan segala upaya, malah dibenarkan oleh yang bersangkutan. Anggukan pelan yang disusul cucuran air mata kala itu seolah menyudahi segalanya. Bukan hanya tameng dalam diri Tiara yang runtuh, harga diri dan cita-cita pun turut melebur. Tiba-tiba gelap seketika. Dan tanpa diundang, bibit kebencian mulai tumbuh. Lantas, masih adakah ridho dari ibu yang seorang pelacur?

__ADS_1


Meninggalkan Ibu adalah jalan terbaik saat itu. Setidaknya menurut Tiara pribadi. Ia takut gagal bertahan dalam situasi yang membuatnya menarik diri dari pergaulan. Kabur lebih baik daripada bunuh diri.


"Siapa pun ia, seburuk apa pun kehidupannya, Ibu tetap perempuan yang telah melahirkanmu. Jangan lupakan rahim di tubuhnya yang kamu jadikan sebagai rumah pertama. Dalam pelukan keajaiban, berselimut ketulusan. Dari setetes air hina, hingga punyai rupa yang elok. Satu hal yang pasti, beliau akan melakukan apa pun demi kebaikanmu. Sekalipun dengan cara yang salah," tanggap Ustazah Qhumairah setelah Tiara berterus terang, menceritakan semua hal yang belum pernah ia ungkap ke orang lain. Termasuk Rani, sahabatnya.


Obrolan hangat itu mendadak dibanjiri air mata. Ustazah Qhumairah juga tak mampu menahan tangis sepanjang Tiara bercerita dengan nada pilu. Luka di hati Tiara, kekecewaan terhadap seorang ibu, seolah-olah ia rasakan juga.


Di momen berharga ini, Tiara tidak hanya mendapatkan pencerahan untuk perjuangannya di dunia literasi, tapi juga untuk hati. Bahkan, ia berkesempatan mengenal sisi lain kehidupan ustazah bertubuh lampai itu—yang mungkin belum diketahui banyak orang. Ternyata ia hidup tanpa sosok Ibu selama ini. Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya. Jangankan merasakan kasih sayang, mengenal wajahnya saja tidak sempat. Mendengar pengakuan itu, tiba-tiba Tiara teringat sebuah kalimat yang selalu beliau tuliskan di setiap bukunya. Biasanya dicantumkan setelah segmen ucapan terima kasih.


Tanpa Ibu ... aku bagai sebatang lilin yang ditinggalkan cahaya.


Tanpa Ibu ... aku hanya pelangi tak berwarna.


Tanpa Ibu ... aku serupa kupu-kupu tak bersayap.


Sungguh ... karena Ibu, aku bisa terus berkarya dan menebar ilmu yang insya Allah bermanfaat!


Siapa pun yang membaca kalimat itu, pasti membayangkan keharmonisan yang terjalin antara ibu dan anak. Anak yang menjadikan ibunya panutan, serta ibu yang selalu mendukung dalam segala hal. Tapi nyatanya ...? Lalu, bagaimana Ustazah Qhumairah menuliskan kalimat itu? Bukankah pada kenyataannya ia hidup tanpa Ibu?


"Ibu telah menukar nyawanya demi melahirkan saya. Apakah itu bukan cinta? Jadi, selama masih bernapas, Ibu selalu ada bersama saya!" terang Ustazah Qhumairah setelah Tiara mengajukan pertanyaan yang cukup mengundang rasa penasarannya.


Jawaban itu sepertinya mampu membongkar peti kebencian untuk Ibu yang tersimpan rapi di hati Tiara selama ini. Karier Tiara di dunia literasi memang belum secemerlang ustazah berparas keibuan itu. Tapi di sisi lain, ia jauh lebih beruntung. Masa kecilnya diwarnai cinta nyata seorang ibu, bukan sekadar cinta dalam doa seperti yang diyakini Ustazah Qhumairah.


***


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2