
Apakah cinta memang seperti ini, terkikis perlahan-lahan seiring berjalannya waktu?
---
Sengkang, tahun 1997
Alangkah cepat waktu berlalu. Tidak terasa, Tiara sudah berumur dua tahun. Ia tumbuh jadi gadis kecil yang periang dan serba ingin tahu. Ia tidak betah tinggal di rumah, selalu ingin keluar. Ia senang melihat kendaraan lalu-lalang. Ia akan menyebutkan kendaraan apa pun yang dilihatnya melintas di depan rumah. Terkadang aku cukup kewalahan menjaganya.
Meski tak pernah ada masalah, tapi kurasakan kasih sayang serta perhatian Daeng Hasan berubah setelah dua tahun hidup seatap denganku. Nada bicara, tatapan, sentuhan, semuanya berbeda. Apakah cinta memang seperti ini, terkikis perlahan-lahan seiring berjalannya waktu? Semoga ini hanya perasaanku saja, bukan karena Daeng Hasan mulai bosan terhadapku. Atau pun hal lainnya.
Mak sudah jarang ke sini. Tubuhnya yang semakin menua tidak memungkinkan lagi untuk melakukan perjalanan jauh. Ia mudah lelah dan pusing jika harus berkendara menempuh jarak puluhan kilometer dari Kota Watampone. Aku juga sudah tidak bisa sesering dulu menemuinya. Daeng Hasan sedang terlibat dalam proyek pembangunan sebuah hotel yang tidak memungkinkannya untuk sering-sering izin tidak masuk kerja. Bahkan, hari ini aku terpaksa menggantikannya bekerja. Ia sedang tidak enak badan, dan mandornya tidak mau terima alasan. Katanya ia akan dikeluarkan dari proyek itu jika tidak ada yang menggantikannya untuk sementara. Aku cukup tersentak ketika tadi pagi ia memintaku berangkat ke lokasi proyek. Awalnya kupikir ia bercanda. Mana mungkin aku melakukan pekerjaan seberat itu? Tapi kemudian ia memasang tampang memelas. Dan kulihat, ia juga sangat berat menyampaikannya. Bahkan berkali-kali meminta maaf sebelumnya. Katanya hanya untuk sekali ini saja. Aku paham. Akhir-akhir ini job memang agak sepi. Beberapa orang bahkan memburunya hingga ke luar kota. Daeng Hasan pasti tidak ingin dikeluarkan dari proyek itu.
Meski tidak yakin bisa melakukannya, dengan berat hati aku pun berangkat ke lokasi proyek setelah memastikan Daeng Hasan bisa menjaga Tiara dengan baik. Sebelum berangkat, aku menjelaskan jam makan dan tidur putri kecil kami. Setelah kupikir-pikir, tidak ada salahnya aku melakukan ini. Selama ini Daeng Hasan bekerja sangat keras untuk memenuhi kebutuhan kami, dan sekarang sedang sakit. Hanya aku yang bisa membantu agar ia tidak kehilangan pekerjaan.
__ADS_1
Setibanya di lokasi proyek, aku sempat bingung. Entah harus mengerjakan apa. Tapi setelah memperkenalkan diri kepada mandor, aku diajak bergabung dengan pekerja-pekerja perempuan lainnya. Ternyata di proyek sebesar ini juga terdapat tenaga-tenaga perempuan yang tampaknya tak kalah tangguh dengan lelaki. Mereka kemudian banyak menuntunku, mengarahkan apa-apa yang harus dikerjakan. Kehadiran perempuan-perempuan perkasa itu membuatku sedikit lebih nyaman di tempat berdebu ini. Terlebih mereka sangat memaklumi pengalaman pertamaku, hanya memeberikan pekerjaan yang ringan-ringan saja. Meski hanya disuruh memindahkan batu bata atau angkat air, bagiku tetap saja terasa berat. Aku nyaris tidak sanggup.
Kami pulang pukul empat sore. Setibanya di rumah, aku langsung disambut tangis deras Tiara. Begitu melihatku, ia langsung menghambur ke pelukanku. Sepertinya Daeng Hasan gagal menjaganya dengan baik. Aku lekas membuatkannya susu kemudian kuajak ke kamar untuk rebahan. Aku ingin menidurkan Tiara secepatnya, agar aku pun bisa istirahat dengan tenang. Tubuhku terasa remuk, berasa tak bertulang.
"Aku minta maaf." Suara Daeng Hasan bersamaan dengan sentuhan tangannya di betisku. Ia memijatnya kemudian. Pelan dan lembut. Aku paham, ia berusaha menyampaikan ketidakrelaannya melihatku kecapaian begini. Aku tidak merespons. Saat ini aku hanya ingin tidur, memulihkan tenaga. Dan semoga besok Daeng Hasan sudah fit dan bisa kembali bekerja.
***
Di hari kedua ini tentu saja tidak sekaku kemarin. Sedikit banyak aku sudah paham apa yang harus kukerjakan. Hanya saja, aku merasa sedikit pusing. Dan ketika tengah memindahkan batu bata, tiba-tiba saja kepalaku terasa dikerumungi semut. Rasanya sangat tidak enak. Sesaat kemudian aku tidak merasakan apa-apa, hanya ada gelap.
Saat membuka mata, kepalaku berdentang hebat di bagian belakang. Aku berjengit. Kata teman yang disuruh mandor untuk menjagaku, aku pingsan selama beberapa menit. Ternyata aku memang belum cukup tangguh untuk melakukan pekerjaan ini. Untunglah mandor mengizinkan pulang setelah pusing di kepalaku reda.
Setibanya di rumah, aku langsung masuk setelah mengucapkan salam dengan pelan dan lirih. Sesekali kepalaku masih berdentang. Aku ingin langsung masuk ke kamar, tapi langkahku terhenti setelah lamat-lamat mendengar suara tangis Tiara. Suara tangisan putri kecilku itu berasal dari arah kamar mandi. Tidak, aku pasti keliru. Meski tak yakin, tanganku tetap tergerak untuk membuka pintu kamar mandi. Aku tersentak ketika benar-benar menemukan Tiara sedang menangis sejadi-jadinya di dalam ruangan sempit itu. Langsung kuangkat dan mendekapnya. Menenangkan. Seketika perasaan geram memenuhi rongga dada. Entah apa yang tengah dilakukan Daeng Hasan. Mungkin ia sedang enak-enakan tidur dan memilih mengurung Tiara karena tidak ingin diganggu. Aku langsung merangsek ke dalam kamar setelah mendorong pintunya dengan kasar.
__ADS_1
Detik itu, kedua kakiku seolah tak berpijak di bumi, malah berpijak pada sesuatu yang berusaha membuatku tidak percaya dengan apa yang terpampang di depan mata. Sepasang tubuh telanjang tengah berpacu di atas nafsu. Persendianku terasa lumpuh, tak mampu menopang berat badan yang kemudian ambruk dengan kedua lutut membentur lantai. Daeng Hasan dan perempuan berbibir terang itu kocar-kacir memunguti dan tergesa-gesa mengenakan pakaian mereka setelah menyadari kemunculanku. Perempuan itu langsung melesat keluar kamar. Sekadar menghalangi jalannya saja aku tidak sanggup. Padahal aku sangat ingin menamparnya. Aku hanya mengeratkan dekapanku di tubuh Tiara, menenggelamkan wajahnya di dada. Memastikan ia tidak melihat apa-apa. Tangisku pecah. Daeng Hasan dengan pakaian yang terpasang asal tampak bingung. Ia mondar-mandir tanpa bersuara. Sesaat kemudian, ia pun memilih keluar. Entah bermaksud menyusul perempuannya atau sekadar membiarkanku hingga sedikit lebih tenang. Tangis Tiara meraung-raung dalam dekapanku, memaksaku meredam tangis agar ia pun bisa tenang. Setelah susah payah mencoba untuk berdiri, aku beranjak ke tempat tidur untuk menidurkan Tiara. Ia pasti lelah menangis entah berapa lama di dalam kamar mandi tadi. Di atas kasur yang seprainya berantakan ini, aku terpaksa menyesap aroma perselingkuhan Daeng Hasan. Aku seperti tidur di atas serpihan beling, mencoba untuk tenang meski darah bercucuran di sekujur tubuh.
Tuhan ... entah apa yang terjadi dengan rumah tanggaku. Mengapa Daeng Hasan tega melakukan ini setelah bersikap bak malaikat pelindung terhadapku selama ini? Kenapa tiba-tiba tercipta badai tanpa didahului mendung? Dari mana gelap yang merangkul tiba-tiba saat matahari masih terjaga di puncak peredarannya? Semakin dipikir, aku hanya semakin kalut. Aku masih belum bisa percaya Daeng Hasan berbuat sekeji ini.
Aku memang pernah mendengar beberapa tetangga berbisik soal kedekatan Daeng Hasan dengan perempuan lain. Tapi mengingat sikap baik yang selalu ia tunjukkan selama ini, rasanya sulit untuk percaya begitu saja. Aku malah menganggap semua itu bentuk lain dari sikap iri mereka terhadap rumah tanggaku yang selalu tampak harmonis.
Aku yakin, ini bukan pertama kali mereka melakukannya. Bisa jadi saat Daeng Hasan meninggalkan rumah berhari-hari demi mengambil job di luar kota, ia malah bersenang-senang dengan perempuan itu. Atau saat keluyuran di malam hari dengan alasan ingin main domino dengan teman-temannya, mereka malah melakukan perbuatan binatang itu di tempat tertentu. Prasangka-prasangka buruk memenuhi kepalaku. Pasti kemarin pun adegan yang sama terjadi di atas ranjang ini. Ketika aku tengah berkutat dengan debu, pura-pura kuat dan berusaha mengikuti alur pekerjaan hingga akhir. Bahkan sampai pingsan hari ini. Daeng Hasan malah enak-enakan mereguk madu dari bunga lain.
Putri kecilku pun ikut-ikutan jadi korban. Entah setan apa yang merasuki kepala Daeng Hasan sampai tega mengurung Tiara di kamar mandi. Aku tidak habis pikir. Hatiku terasa diremas-remas. Lebih dari sekadar sakit.
***
[Bersambung]
__ADS_1