
Desir darah, helaan napas, detak jantung, semua sepakat agar aku menamai degup tak wajar yang menyesaki rongga dada. Sepertinya benar, aku telah jatuh cinta.
---
Di tengah kesibukanku bernyanyi dari panggung ke panggung, serta upaya untuk membunuh segala bentuk rasa tak wajar yang tertuju kepada Dahlan, suatu hari aku mendapatkan kabar yang membuat dunia di sekelilingku seakan berhenti. Puang Sudi datang untuk mengabarkan kematian Daeng Hasan. Kabar itu ia dapatkan dari temannya yang juga cukup dekat dengan Daeng Hasan. Katanya ia dibunuh oleh istri barunya. Aku cukup terpukul setelah mengetahui Daeng Hasan punya istri baru. Bisa kupastikan perempuan ****** itu yang dinikahinya. Dan soal kabar ia dibunuh, menurutku ia pantas mendapatkannya. Mungkin saja ia bermaksud memperlakukan perempuan itu sama sepertiku. Hanya saja perempuan itu tidak punya anak yang bisa ia jadikan sandera, serta cukup berani untuk melawan, bahkan tidak segan menghabisi nyawanya kemudian. Aku memang sedih atas kabar ini, bagaimana pun Daeng Hasan adalah ayah kandung anakku. Tapi tak bisa dipungkiri aku pun lega. Masa-masa kelam itu benar-benar telah berakhir. Aku tidak perlu lagi dihantui rasa takut setiap hari akan kemungkinan munculnya Daeng Hasan sewaktu-waktu dan merebut Tiara dariku. Kupastikan hidupku akan lebih tenang setelah ini.
Setelah mendengar kabar kematian Daeng Hasan, lebih tepatnya menyadari statusku sebagai janda, aku merasa ada yang aneh. Wajah Dahlan lebih sering hadir di mimpiku. Suaranya mengikuti ke mana pun aku pergi. Hal ini seiring dengan munculnya keinginan untuk bercerita kepada Dahlan tentang statusku yang bukan lagi istri orang. Sampai detik ini aku masih belum mengerti kenapa merasa perlu Dahlan mengetahuinya. Aku hanya ingin hubungan kami lebih baik. Aku menepis harapan yang tumbuh tidak wajar di dada.
Malam ini kebetulan tidak ada panggilan manggung. Jadilah rasa aneh yang susah payah kualihkan kian semena-mena mempermainkanku. Menghadirkan gelisah serta harapan-harapan yang merumpun dengan sendirinya. Bila sedang manggung, banyak hal yang bisa kujadikan pelarian. Bercanda dengan rekan-rekan kerja, menumpahkan lewat lagu, atau mengaburkannya dengan memandang wajah-wajah baru para penonton di depan panggung. Tapi saat ini, aku berada di dalam kamar yang terbilang sempit, hanya bertemankan Tiara yang sudah terlelap serta bayangan wajah Dahlan yang membatik memenuhi dinding-dinding ruangan.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan. Detak jantung mendadak tak keruan, membayangkan sosok yang tengah berdiri di depan pintu. Aku lekas bangun, merapikan rambut kemudian menyatukannya dalam lingkaran karet gelang. Langkah tergesa-gesa mengantarkanku tiba di depan pintu. Begitu pintu kubuka, gambaran senyum miring itu langsung terpampang, menyertakan sejuk yang tak biasa. Dahlan sudah sering bertamu ke rumah ini, entah sendiri atau bersama kedua temannya. Tapi kenapa kali ini kulihat raut berbeda di wajahnya? Terkesan malu-malu dan agak canggung. Ia pasti baru pulang kerja, terbukti dengan penampilannya yang masih kucel. Kepentingan apa yang membawanya ke sini?
"Tahu dari mana aku ada di rumah?"
"Sebenarnya tidak yakin, hanya saja kedua kaki ini tetap melangkah ke sini. Dan kali ini firasatku tidak salah."
Gemuruh di dada kian hebat. Kalimat barusan memang biasa-biasa saja, tapi tidak untuk seseorang yang sedang bimbang. Bahkan telingaku menafsirkannya teramat puitis.
"Tadi di toko lagi suntuk, aku iseng nulis ini." Dahlan menyodorkan selembar kertas lusuh.
__ADS_1
"Apa ini?" Tanganku terangkat untuk meraihnya.
"Hanya deretan kata yang mungkin belum pantas disebut puisi. Entah kamu akan suka atau tidak. Aku hanya ingin kamu membacanya."
"Untukku?"
Dahlan hanya mengangguk sembari mengulum senyum.
"Ya udah. Aku pamit dulu. Selamat malam," ucapnya kemudian dan berbalik melangkah pergi. Sepertinya aku baru saja kehilangan kemampuan bicara. Kenapa tak sepatah kata pun kuucapkan sebelum ia pergi? Aku hanya terpaku memandang punggung itu menjauh, hingga ditelan gelap malam.
Dengan hati riang aku melangkah ke kamar, serupa sedang meniti anak tangga yang akan mengantarkanku ke peraduan terindah. Aku langsung merebahkan diri di kasur, mulai melarung dalam setiap kata yang ditorehkan Dahlan dalam kertas tadi—kertas lusuh yang kini jadi sangat berharga.
DI BALIK RINTIK
Meski bernada sendu, ia memukau
Raut ketakutan memicu rasa ingin melindungi
Khayalku melambung
Bersamanya jelajahi malam
__ADS_1
Memetik sisa rerintik hujan di daun talas
Puisikan segala desau angin
Perempuan dengan kekalutan yang menggantung di matanya
Pesona terselip memasung sukma
Segala gerak sesatkan nalar
Mendekatlah
Aku punya lengan yang siap merangkul kegundahanmu
Meski malam semakin pekat
Takkan kubiarkan ia menelanmu
Maka apa lagi maksud semua ini? Setelah berusaha menghindar dan merasa sanggup berpura-pura, setelah enggan menafsirkan dan ingin melupakan, kini aku tak bisa lagi melakukannya. Desir darah, helaan napas, detak jantung, semua sepakat agar aku menamai degup tak wajar yang menyesaki rongga dada. Sepertinya benar, aku telah jatuh cinta kepada Dahlan, si pemilik senyum miring.
***
__ADS_1
[Bersambung]