
Entah apa maksud Tuhan mempertemukanku dengan lelaki seberengsek itu.
---
Sengkang-Watampone, tahun 1999
Tahun berganti tanpa membawa perbaikan di hidupku. Aku semakin terbiasa melayani lelaki mana pun yang didatangkan Daeng Hasan, seiring semakin tebal pula topeng kepalsuan di wajahnya. Aku pernah kepikiran untuk menuang racun ke makanannya, menanamkan pisau ke jantungnya saat tengah lelap, atau apa pun yang bisa melenyapkannya dari hidupku. Tapi urung. Anakku lebih baik punya seorang ibu yang terpaksa jual diri daripada seorang pembunuh. Aku bukan pasrah, hanya belum menemukan cara untuk terlepas dari belenggu ini. Entah sampai kapan aku harus menjalani semua ini.
__ADS_1
Hari ini Tuhan kembali menjatuhkan cobaan-Nya, mungkin setelah melihatku cukup tangguh sejauh ini. Di pagi buta aku dikagetkan dengan kedatangan Puang Sudi. Firasatku langsung tidak enak. Tidak biasanya ia datang sepagi ini, terlebih tanpa Mak bersamanya. Air mataku membuncah seketika setelah ia menyampaikan bahwa Mak mengembuskan napas teakhir tadi malam. Katanya, kesehatan beliau memang terus memburuk beberapa hari terakhir. Aku langsung membangunkan Daeng Hasan dan Tiara, kemudian mengepak beberapa lembar pakaian. Sepertinya kami akan berada di Watampone selama beberapa hari. Diam-diam aku sangat berharap agar tidak perlu kembali lagi ke kota ini.
Suasana rumah sudah ramai saat kami tiba. Banyak warga setempat yang datang melayat. Para kerabat juga sudah berkumpul. Jasad Mak ditempatkan di ruang tengah. Sudah dikafani dan ditutup dengan selembar kain batik. Aku bersimpuh di sampingnya. Karena tak tahan, aku langsung mendekap tubuh tak bernyawa itu. Tangisku meraung-raung. Beberapa saudara Mak yang datang dari kampung sebelah berusaha menenangkan.
Banyak hal yang tak sempat kusampaikan pada Mak. Perihal penderitaan ini, pada akhirnya ia tidak berkesempatan untuk mengetahuinya. Hingga ajal menjemput, di mata beliau Daeng Hasan tetap lelaki sempurna yang dipercayakan bisa membahagiakan putri bungsunya. Lelaki santun yang mendatanginya lima tahun silam untuk memohon restu, membawa pergi anak gadisnya. Kini, aku hanya bisa bermunajat lirih, semoga amal ibadah beliau diterima dan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Serta sekuntum maaf, karena aku tidak sempat menjaga beliau di saat-saat terakhirnya.
***
__ADS_1
Dua hari setelah Mak dimakamkan, Daeng Ida beserta suami dan anak-anaknya baru tiba. Mereka menempuh perjalanan lintas pulau menggunakan kapal laut. Ia menerima kabar duka ini dari Puang Sudi yang memang menyempatkan diri ke wartel setelah menemuiku di Sengkang. Daeng Ida menumpang terima telepon pada tetangga yang sudah punya pesawat telepon di rumahnya. Melalui suratnya waktu itu, ia menyertakan nomor telepon yang bisa dihubungi bila ada hal mendesak. Sedang Daeng Firman, kami hanya bisa mengiriminya surat. Entah kapan surat itu tiba di tangannya. Dan entah ia akan pulang atau tidak.
Selama berada di sini, Daeng Hasan benar-benar kembali menjadi lelaki santun, pemilik senyum simpul yang pandai menarik perhatian banyak orang. Ia berbaur dengan kerabat jauh yang baru sempat datang berbelasungkawa. Menampakkan diri sebagai lelaki beruntung yang bisa memiliki anak secerdas Tiara. Ketika ditanya soal kesibukan, serta-merta ia menceritakan keterlibatannya dalam sederet proyek besar. Tak satu pun di antara mereka yang menyadari kebohongan Daeng Hasan. Sekali lagi kukatakan, Daeng Hasan memang pandai mengambil hati orang. Aku, Mak, Puang Sudi, dan semua orang yang mengenalnya berhasil dikelabui. Entah apa maksud Tuhan mempertemukanku dengan lelaki seberengsek itu.
Aku yakin, Daeng Hasan pasti tidak betah di sini. Otaknya mungkin sibuk mengalkulasi berapa banyak rupiah yang melayang selama istirahat memperdagangkan tubuhku. Tapi ia tidak akan macam-macam selama Daeng Ida dan keluarga lainnya masih di sini. Setiap kali bertatapan, bola mataku seolah melayangkan ancaman: aku akan mengakhiri sandiwara ini jika kamu berani macam-macam. Meski nyatanya aku tak punya keberanian untuk melakukannya. Tapi setidaknya aku tak perlu melayani para lelaki anjing itu selama beberapa hari ke depan. Aku baru akan pulang setelah Daeng Ida kembali ke Riau. Kami sedang menikmati kebersamaan ini, berusaha merelakan kepergian Mak, juga nasib kami sebagai yatim piatu. Diam-diam aku berdoa, semoga kematian Mak membuka sedikit celah di hati Daeng Hasan. Membiarkan secercah hidayah masuk. Aku rela benar-benar menggantikan pekerjaan Daeng Hasan sebagai kuli bangunan. Apa pun. Asal jangan jual diri.
***
__ADS_1
[Bersambung]