Ibu Bukan Pelacur

Ibu Bukan Pelacur
Pelarian dan Lelaki di Tengah Hujan


__ADS_3

Lelaki ini pasti perpanjangan tangan Tuhan untuk menolongku. Semoga!


---


Sengkang-Watampone, tahun 2000


Aku merasa cukup untuk larut dalam penderitaan ini. Aku nyaris berhenti berdoa, berhenti memercayai Tuhan kalau saja hari ini tidak datang.


Setelah melayani dua lelaki malam ini, tidak biasanya Daeng Hasan memberikan Tiara padaku, melepaskan kami berdua dari pengawasannya. Ia bahkan mengizinkan saat aku ingin ke warung untuk membeli air mineral. Kemudian ia kembali sibuk dengan kartu di tangan, perjudiannya. Gelak tawanya masih terdengar setelah aku berjarak beberapa meter dari markas setan itu. Sepertinya ia sedang menang banyak, tak heran jika tawanya begitu renyah. Ia bahkan lupa mengawasiku, menganggap aku tidak akan ke mana-mana. Salah besar. Ini adalah momen yang kunantikan sekian lama. Saat bisa terlepas dari pengawasan Daeng Hasan dan Tiara dalam dekapanku.


Aku mengeratkan dekapan pada tubuh Tiara yang tengah tertidur, seraya mempercepat langkah. Tujuanku bukan lagi warung. Ke mana pun. Aku hanya ingin pergi sejauh-jauhnya, meninggalkan tempat terkutuk yang berada di daerah Pammana—salah satu kecamatan pinggiran Kabupaten Wajo.


Langkah setengah berlari membawaku tiba di kawasan yang biasa digunakan para sopir mobil untuk menunggu penumpang. Tetapi di malam selarut ini mereka tidak lagi di sana. Tidak ada pilihan lain selain terus melangkah. Mundur selangkah pun aku tidak ingin. Aku akan terus berjalan, kebebasanku sudah di depan mata. Semoga secepatnya ada mobil penumpang yang lewat sebelum Daeng Hasan menyadari pelarian ini dan mengerahkan pasukannya untuk mencariku.


Entah sudah sejauh mana aku berjalan. Aku mulai lelah dan napasku tersengal. Aku meredam takut, menembus malam pekat. Sunyi. Sesekali hanya lolongan anjing penjaga yang merobek wajah malam. Seolah hendak menerkamku. Olehnya suasana terasa kian mencekam. Tak satu pun kendaraan yang melintas. Aku merasakan setitik dua titik air langit jatuh di wajah. Disusul beberapa lagi. Hingga hujan benar-benar turun. Seolah tak ingin ketinggalan melengkapi penderitaanku. Beruntunglah, beberapa meter di depan ada masjid. Aku berlari mencari perlindungan di bawah atap terasnya. Tiara sempat terbangun, namun berhasil kutidurkan kembali setelah melepas sweter untuk menutupi tubuhnya. Anak ini kedinginan.

__ADS_1


Mungkin lebih baik aku tidur di sini. Angin malam dan sedang hujan seperti ini tidak baik untuk kesehatan Tiara. Aku tidak ingin ia sakit. Besok pagi pasti banyak mobil penumpang tujuan Watampone yang akan melintas di depan masjid ini. Mungkin aku juga bisa minta bantuan kepada warga setempat. Tapi ... Daeng Hasan beserta rombongan pasti akan mencapai tempat ini sebelum pagi. Tidak. Aku harus tetap bergerak setelah hujan reda.


Seorang lelaki berjaket kulit hitam merangsek ke teras masjid, setelah tampak buru-buru mematikan dan memarkir sepeda motornya. Kami sama-sama butuh atap ini agar tak basah kuyup. Aku tersentak. Jangan-jangan orang ini suruhan Daeng Hasan. Lelaki itu membuka helm kemudian tersenyum saat melihatku. Ia mengambil jarak, menepi di pojok kanan. Diam-diam aku mengamati wajahnya saat ia tengah sibuk menyeka jeans-nya yang setengah basah dengan handuk kecil yang baru saja dikeluarkannya dari ransel. Aku belum pernah melihat lelaki ini sebelumnya. Hal ini membuatku lega. Ia bukan orang suruhan Daeng Hasan. Setelah melihat Tiara tertidur di pangkuanku, ia mendekat dan menawarkan selembar sarung. Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Meski pikiran kemungkinan ia adalah suruhan Daeng Hasan masih bercokol di kepala. Aku membalut tubuh mungil Tiara dengan sarung tadi, seraya berdoa; semoga lelaki ini orang baik-baik. Setelah aku menerima sarungnya, ia kembali mengambil jarak.


Berkat cahaya kekuningan lampu pijar yang terpasang di langit-langit teras masjid, air hujan yang mengucur dari atap seng terlihat jelas. Tampak semakin deras. Aku harus berdiam lebih lama di sini. Aku mulai was-was. Pasti Daeng Hasan sudah menyadari pelarian ini, dan meminta bantuan beberapa orang untuk mencariku. Mereka pasti sedang menyusuri jalan. Dan bila tetap di sini, hanya dalam hitungan menit mereka akan muncul di depanku.


Hujan reda lebih cepat dari yang kukira. Sebuah kelegaan.


"Mauki ke mana?" tanya lelaki itu tiba-tiba. Setelah selesai mengenakan kembali helmnya serta ransel melekat di punggung. Sepanjang menunggu hujan reda tadi, tidak ada percakapan di antara kami. Kecuali saat memberikan sarung. Sesekali ia hanya melirik ke arahku dengan sorot penuh tanya.


"Watampone bagian mana?"


"Rompe."


"Jam segini?" herannya.

__ADS_1


Aku mengangguk pelan.


"Kebetulan. Aku mau ke Bajoe. Bajoe-Rompe berdekatan, kan? Biasanya jam segini tidak adami mobil lewat. Ikut sama aku aja," tawarnya seraya tersenyum sopan.


Aku berpikir keras. Bagaimana jika ternyata ia benar-benar orang suruhan Daeng Hasan? Ketika duduk di boncengan motornya, ia akan putar haluan dan membawaku kepada Daeng Hasan.


"Bagaimana? Mauki ikut?" tanyanya lagi, memaksaku mengakhiri prasangka buruk terhadapnya. Lelaki ini pasti perpanjangan tangan Tuhan untuk menolongku. Semoga!


Agar memiliki tempat yang cukup untuk aku dan Tiara di belakang, ia menyimpan ranselnya di depan. Sebelum berangkat, ia membantuku memperbaiki balutan sarung di tubuh Tiara, memastikan anak itu aman dari gangguan angin malam sepanjang perjalanan nanti. Ia juga meminjamiku sweter yang tentu saja kebesaran untukku. Tapi cukup ampuh untuk menghalau udara dingin yang masih bercampur bintik-bintik air selepas hujan.


Maka sisa malam di pelarian ini kulalui di atas motor yang kini melaju dengan kecepatan sedang, bersama lelaki yang Tuhan hadirkan di tengah hujan. Melalui kalimat yang tidak terlalu jelas karena terbawa angin, ia memperkenalkan diri secara singkat, seolah paham dengan kekhawatiran yang masih bercokol di benakku. Namanya Dahlan. Ia berasal dari Desa Atapange, sekitar 28 kilometer dari pusat Kota Sengkang. Ia kerja di Bajoe, di sebuah toko kelontong milik Pak Bahar. Toko itu memang paling besar dan terlengkap di Bajoe. Pengunjungnya selalu ramai. Setiap bulan ia punya jatah libur selama tiga hari. Dan malam ini ia kembali setelah menikmati jatah libur itu. Katanya, ambonya masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Pak Bahar. Setelah mengetahui nama, asal dan tujuannya, aku merasa lebih tenang.


Aku yakin, Tuhan tidak pernah tidur. Mungkin memang sudah saatnya Ia membuatku benar-benar yakin akan kehadiran-Nya. Atas pertolongan-Nya. Meski ini belum kemerdekaan yang sesungguhnya. Aku paham, setelah berhasil kabur, bukan berarti semuanya selesai. Hari-hari sulit menanti. Sewaktu-waktu Daeng Hasan bisa saja mendatangiku. Memaksaku ikut dengannya atau merebut Tiara. Dan lagi, aku harus menyiapkan dada yang cukup tangguh untuk menampung cibiran orang-orang akan nasib rumah tanggaku. Juga harus segera punya penghasilan untuk menghidupi Tiara. Mengingat semua itu, malam menjadi lebih pekat. Lebih dingin.


***

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2