
Entah mengapa ujian ini semakin bertubi-tubi. Aku lelah!
---
Beberapa meter sebelum tiba di tempat Dahlan, hujan kembali menerpa. Kami menerobos. Terlalu tanggung untuk singgah lagi. Alhasil, kami tiba dalam kondisi setengah basah. Tiara terbangun gara-gara percikan air yang jatuh ke wajahnya, meski sudah kupayungi dengan telapak tangan. Tempat Dahlan berupa rumah kecil yang disediakan khusus oleh Pak Bahar untuk karyawannya yang berasal dari luar kota. Dahlan menempati rumah itu bersama kedua temannya yang masing-masing berasal dari Soppeng dan Sinjai. Seorang lelaki berbadan tinggi kurus hadir membuka pintu setelah Dahlan mengetuk berkali-kali. Garis-garis bantal terlihat jelas di wajah lusuhnya. Mata yang awalnya terbuka setengah, mendadak membola saat melihatku. Dahlan hanya tersenyum datar melihat ekspresi temannya, seolah berkata: nanti kujelaskan.
Dahlan mengajakku masuk. Tidak ada kursi di ruang tamu rumah ini, kami duduk melantai. Tiara melingkarkan kedua tangannya di leherku, kemudian berbisik minta air minum. Dahlan lekas beranjak ke dalam setelah mendengar rengekan putri kecilku. Ia kembali dengan segelas air putih. Ia sendiri yang langsung menyodorkannya kepada Tiara seraya tersenyum. Anak itu menatapku seolah minta persetujuan sebelum menerima gelas yang disodorkan. Setelah kuberi isyarat, tangan mungilnya tergerak meraih gelas plastik itu kemudian meneguk isinya hingga tandas. Anakku benar-benar haus.
Dahlan mengizinkanku untuk tidur di tempatnya, besok pagi ia akan mengantarku ke Rompe. Tapi ia juga bersedia mengantarku setelah hujan reda. Terserah aku. Karena sudah pukul tiga dini hari, sebaiknya aku istirahat dulu di sini. Kondisiku tidak begitu baik setelah berjalan cukup jauh. Aku juga mengkhawatirkan Tiara masuk angin. Lagipula, aku tidak ingin membuat kehebohan di kampung dengan muncul tiba-tiba di pagi buta.
"Benar, tidak apa-apa aku tidur di sini?" tanyaku kikuk.
"Tentu saja," jawabnya kemudian beranjak ke dalam kamar. Ternyata ia membangunkan kedua temannya dan menyuruhnya keluar. Setelah merapikan isi kamar yang ditinggal terpaksa oleh penghuni sebelumnya, ia mempersilakanku tidur di sana. Sedang ia dan kedua temannya—yang pasti merasa terganggu—tidur di ruang tamu. Melihat mereka hanya beralaskan tikar, aku jadi tidak enak. Aku sempat menawarkan diri untuk tidur di luar, tapi Dahlan bersikeras memintaku tidur di dalam.
Detik-detik penuh ketegangan baru saja kulalui. Entah kehidupan seperti apa lagi yang harus kujalani setelah ini. Sedikit pun aku tidak bisa tidur. Pandanganku tertanam begitu dalam di langit-langit kamar yang berhiaskan bekas rembesan air hujan. Isi kepalaku semakin rumit. Waktu yang terangkai kulewati teramat gelisah. Aku teringat Ambo dan Mak. Adakah mereka melihat penderitaan ini?
Di tengah kesibukan menenangkan diri, lamat-lamat kudengar seseorang tengah membaca surah Al-Fatihah. Fasih, indah, dan menenangkan. Demi menuntaskan rasa penasaran, aku melongok ke luar. Kutemukan Dahlan tengah melaksanakan shalat Subuh, di samping kedua temannya yang terlelap. Hatiku bergetar. Setelah tertatih-tatih menjalani kekacauan bersama Daeng Hasan, aku tidak pernah bersujud. Lebih tepatnya selalu merasa tidak pantas untuk mendirikan shalat. Tuhan ... aku rindu!
***
Pukul enam pagi kami sarapan bersama. Entah siapa yang tadinya keluar untuk membeli nasi kuning ini. Kedua teman Dahlan ternyata aslinya kocak banget. Tiara mendadak menyukai mereka. Kepalaku sedikit berdentang, efek tersambar angin malam serta rintik hujan dan tanpa tidur semalaman penuh.
__ADS_1
Selesai sarapan, Dahlan mengantarku ke Rompe, ke rumah Mak yang berjarak dua kilometer dari tempatnya. Menggunakan sepeda motor yang sama dengan suasana yang lebih cerah, pagi yang hangat. Tiara berdiri dan berpegangan di pundak Dahlan. Aku memegang pinggangnya. Hal itu membuatnya leluasa melihat semua hal yang kami temui di sepanjang jalan. Itu membuatnya senang.
Perjalanan diwarnai dengan obrolan yang lebih ringan, suaranya pun terdengar jelas. Setelah menanyakan namaku dan Tiara, ia bercerita lagi sedikit tentang dirinya. Ia gemar membaca. Olehnya, ia punya banyak koleksi buku. Ia juga suka menulis cerpen dan puisi. Katanya, beberapa media cetak sudah memuat karyanya. Ia bekerja keras mengumpulkan uang untuk biaya masuk perguruan tinggi. Ia bercita-cita bisa memiliki usaha penerbitan buku suatu hari nanti. Mendengar semua itu, dalam hati aku bergumam, hebat juga lelaki ini!
Kini rumah Mak tampak lebih rapi dan terawat. Wajar, setelah Mak tiada, rumah panggung itu ditempati oleh Puang Sudi. Ia tentu lebih bisa merawatnya dengan baik. Tapi pagi ini, bersama seorang perempuan yang tidak kukenal, ia menyambutku dengan ekspresi yang aneh. Ia memang menyapaku seperti biasa, kemudian menggendong Tiara. Tapi ... entah! Sebagai seseorang yang dekat dengannya, perbedaan itu terlihat jelas. Apa karena aku datang bersama Dahlan? Terlebih setelah ia mengenalkan perempuan tadi sebagai istrinya, aku terkejut. Kapan mereka menikah? Dan anehnya, Puang Sudi sama sekali tidak mengabariku. Ada apa sebenarnya?
Setelah Dahlan pamit pulang, aku mulai menceritakan semua perbuatan Daeng Hasan selama ini, hingga pelarian tadi malam. Air mata pilu menemani setiap kata yang terucap dari bibirku. Puang Sudi tersentak. Ia tampak geram. Jika saja saat ini ada Daeng Hasan di depannya, pasti sudah dipukuli tanpa ampun. Matanya sampai memerah mendengar semua ceritaku. Melihat kondisiku yang kacau, Puang Sudi memintaku untuk istirahat. Sedang Tiara memilih bermain dengan istri puang Sudi. Karena sering dibawa ke tempat-tempat baru oleh Daeng Hasan, anak itu jadi terbiasa menemui orang-orang baru dan membuatnya memiliki sifat cepat akrab.
Setelah mandi dan dipinjami pakaian oleh istri Puang Sudi, aku rebahan di atas ranjang yang sama, di dalam bekas kamarku. Ruangan berdinding tripleks yang menyimpan sejuta mimpi-mimpiku. Sebelum Daeng Hasan mendadak muncul dan membawaku pergi. Menenggelamkanku pada derita berkepanjangan, membuat semuanya berubah. Kerinduan akan Mak dan Ambo kembali merengkuh. Aku ingin Mak ada di sampingku, menemaniku melewati kerikil-kerikil ini.
Setelah tidur sekitar dua jam, aku bangun untuk membantu istri Puang Sudi menyiapkan makan siang. Di saat itulah kami benar-benar saling berkenalan. Namanya Kasma. Ia berasal dari kampung sebelah dan memang sudah lama menjalin cinta dengan Puang Sudi. Ia pun menceritakan secara singkat proses pertemuan mereka hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Ia juga menyampaikan rasa turut prihatin atas masalah yang tengah menerpaku. Ia cukup ramah ternyata. Hanya satu hal yang masih mengganjal di benakku, kenapa Puang Sudi tidak mengabari hari pernikahannya?
"Makmu mewariskan tanah dan rumah ini kepadaku. Firman dan Ida sudah menjalani kehidupan di sana bersama keluarga masing-masing, tidak mungkin lagi kembali ke sini untuk mengurus rumah ini. Sedang kamu, kami kira baik-baik saja bersama Hasan. Dan akulah yang merawat makmu selama sakit," jelasnya sambil sesekali mengamati lembaran-lembaran kertas tadi.
Deg!
Aku melongo. Wajahku mendadak kaku. Apa-apaan ini? Bagaimana mungkin seperti itu? Ternyata hal inilah yang membuat sikap Puang Sudi terasa berbeda, meski telah ia upayakan agar tetap sama seperti biasanya. Inilah hal sebenarnya yang ia sembunyikan. Aku tidak menyangka Puang Sudi tega melakukan ini padaku. Apakah di dunia ini tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya? Ataukah takdirku yang telanjur kelam? Selamanya? Jika Puang Sudi sudah menguasai tanah dan rumah ini, aku harus ke mana?
Tak satu kata pun mampu kuucapkan untuk membalas omongan Puang Sudi. Tenggorokanku teramat kering dibuatnya. Rumah ini harapan satu-satunya. Sekarang sudah jadi milik Puang Sudi berbekal lembaran-lembaran kertas tadi. Aku kalut memikirkan kejadian di balik semua ini. Ada aroma licik yang terselubung dalam topeng kebaikan, serta banyak hal yang membuatku tak habis pikir.
Puang Sudi menerimaku jika memang ingin tinggal bersama mereka, selama yang kumau. Tapi, aku tidak betah lagi di rumah ini. Ketulusan yang dulu selalu membuatku kagum, kini tak lagi kudapati di wajah Puang Sudi. Aku memintanya mengantarku ke rumah Puang Nani saja, adik Mak yang tinggal di kampung sebelah. Mak punya empat saudara, tapi semuanya merantau. Kecuali Puang Nani yang kini menempati rumah peninggalan nenek bersama suami dan kedua anaknya.
__ADS_1
***
Puang Nani heran dengan kemunculanku yang tiba-tiba. Wajar. Terlebih setelah kuceritakan semuanya. Termasuk perihal rumah Mak. Ia menitikkan air mata kemudian memelukku sangat erat. Aku hanya mampu sesenggukan dalam dekapannya.
Rumah ini bisa kujadikan tempat perlindungan sementara kalau saja suami Puang Nani pun bisa menerimaku. Tapi sepertinya tidak. Sepulangnya sehabis menarik ojek menjelang magrib tadi, ia langsung memasang tampang tidak suka dengan kehadiranku di tengah keluarganya. Dan malam ini, lamat-lamat kudengar percakapan mereka tentangku, bernada pertengkaran.
"Sampai kapan ia mau menumpang di sini?"
"Sampai situasinya membaik."
"Kamu gila? Begini saja kita sudah kesusahan. Apalagi ditambah dua orang yang harus ditanggung makannya."
"Ia itu keponakanku. Tidak seharusnya Daeng bicara begitu. Lagipula kalau bukan di sini, ia mau tinggal di mana lagi?"
"Siapa suruh lari meninggalkan suami? Kualat, tuh!"
Hatiku remuk demi mendengar semua itu. Kupaksakan tidur secepatnya, agar malam lekas berganti pagi. Besok, aku akan meninggalkan rumah ini. mungkin lebih baik aku minta bantuan Dahlan. Membantu mencarikanku rumah kontrakan, juga pekerjaan. Entah mengapa ujian ini semakin bertubi-tubi. Aku lelah!
***
[Bersambung]
__ADS_1