
Aku meringis. Entah bagian mana yang sakit. Tubuh serta hati nyeri bersamaan.
---
Letih raga yang dibalut letih hati membuatku terkapar. Tapi, aku memaksakan diri beranjak ke dapur menyiapkan makanan untuk Tiara. Air mata memang tak menetes lagi, tapi sepasang bola mataku masih berkaca-kaca. Entah bagaimana aku harus menghadapi kenyataan pahit ini. Aku harus bertindak, tidak boleh tinggal diam. Meski hingga detik ini aku masih tidak tahu harus berbuat apa. Hal ini membuat kepalaku terasa berat.
Hingga larut malam Daeng Hasan belum pulang. Mungkin memang lebih baik ia jangan pulang dulu. Aku masih belum tahu bagaimana harus bersikap di depannya setelah semua pengkhianatan yang ia lakukan. Aku sama sekali tidak bisa tidur. Perasaanku tak menentu. Aku belum siap melihat Daeng Hasan muncul di depanku, meski di sisi lain aku butuh segera bicara, menyelesaikan masalah yang sangat menyiksa ini.
Selama ini aku sudah berbakti kepada Daeng Hasan, menunaikan semua kewajibanku selaku istri. Aku tidak pernah menyangka ia akan menyakitiku sesadis ini. Pura-pura sakit agar aku menggantikannya kerja, mungkin masih bisa kuterima. Tapi tidak untuk tidur dengan perempuan lain.
Sekitar pukul tiga dini hari, seseorang menggedor pintu. Aku terperanjat. Pasti Daeng Hasan, pikirku. Aku lekas beranjak ke depan. Dua orang lelaki berbadan besar berdiri di depan pintu yang baru saja kubuka. Muka sangar mereka menyeringai aneh. Belum kupersilakan, mereka merangsek masuk kemudian. Salah seorang menyeretku, satunya lagi menutup pintu dan menguncinya. Belum sempat teriak, lelaki yang menyeretku sudah lebih dulu membekap mulutku. Ia terus menyeretku hingga masuk ke kamar.
__ADS_1
"Suamimu kalah judi, dan ia menjadikanmu taruhan. Ia menyerahkan kamu untuk kami nikmati." Lelaki berambut gondrong itu berucap dengan mata melotot. Tangannya semakin kuat mencengkeram lenganku.
Ternyata bukan hanya selingkuh, tapi Daeng Hasan juga berjudi. Bahkan, seolah tak punya perasaan, ia malah menjadikanku barang taruhan. Aku berharap semua ini hanya mimpi. Bagaimana mungkin Tuhan tega melimpahkan semua beban ini di saat bersamaan?
"Kamu memilih melayani kami baik-baik, atau memaksa kami berbuat kasar?" Lelaki berkulit legam itu membebaskanku. Belum sempat berucap sepatah kata pun, lelaki satunya malah mengacungkan pisau di atas tubuh Tiara yang tengah tertidur pulas.
"Sekali kamu teriak, nyawa anakmu melayang," tegasnya bak petir yang menyambar gendang telingaku.
Syahwat lelaki di sampingku telanjur mendidih, ia tidak bisa menunda lagi. Serta-merta ia mencengkeram batang leherku kemudian menjulurkan lidah dan menjamah bibirku. Aku langsung mual. Jijik. Aku menggelinjang dan mendorong wajahnya kuat-kuat menjauh dariku. Lelaki yang mengawasi Tiara malah menurunkan pisaunya hingga sangat dekat dengan dada putri kecilku. Pisau itu berkilat diterpa cahaya lampu. Aku bergidik.
"Jangan!" pekikku.
__ADS_1
Lelaki gondrong yang baru saja melepas pakaiannya dan hanya menyisakan celana dalam mengangkat tubuhku kemudian melemparnya ke atas ranjang. Ia langsung menimpa, menindih tubuhku. Begitu ganas ia mencumbu leher serta dadaku. Detik selanjutnya, aku sudah pasrah. Tenagaku yang tidak seberapa tentu tidak akan unggul melawannya. Terlebih lelaki yang mengawasi Tiara terus menggerak-gerakkan pisaunya. Seorang ibu tengah diperkosa di samping anaknya yang masih balita. Sungguh pemandangan memilukan. Semoga Tiara tidak terbangun. Ia terlalu polos untuk menyaksikan semua ini.
Setelah lelaki gondrong itu mencapai puncak, ia bergantian dengan temannya. Mereka bertukar posisi. Hingga lelaki kedua keenakan menggoyang selangkanganku, aku masih berharap semua ini hanya mimpi. Setelah ini aku akan terbangun untuk menyambut mentari pagi yang selalu ceria sebagaimana biasanya.
Melayani dua setan membuatku lemas tak berdaya. Sekadar menangis pun rasanya sudah tidak sanggup. Setelah mengenakan pakaian masing-masing, mereka meninggalkanku seperti sampah. Mereka melayangkan senyuman penuh kemenangan.
Aku bergerak sedikit, menggapai dasterku yang tersampir di tepi ranjang. Aku menutupi tubuhku yang tampak menyedihkan. Mereka melahapnya tanpa sisa. Aku bergeser sedikit lagi, mendekat kepada Tiara. Setelah memastikan ia tidak terluka sedikit pun, aku mengecup keningnya. Air mata kembali menetes, membasahi kening putriku yang kian lelap dalam tidurnya. Semoga takdirmu tidak semengerikan ini, Nak!
Beberapa saat kemudian, Daeng Hasan pulang. Ia langsung menjatuhkan diri di sampingku, kemudian mendekap dari belakang. Tangannya langsung meremas buah dada serta begitu liar mencumbu leherku. Embusan napasnya bau alkohol. Setelah tak merasa bersalah dengan semua sikapnya, kini ia malah minta dilayani. Aku benar-benar muak. Aku menyikutnya dengan keras kemudian berusaha untuk bangun. Dengan cepat tangannya meraih dan menarikku hingga kembali terjerembab di atas kasur. Ia lekas menindihku. Kedua pahanya mengunci pergerakanku. Perlawananku berakhir setelah tangan kekarnya menampar pipiku dengan keras. Seketika rahangku berdenyut-denyut. Ia memperlakukanku lebih kasar dari dua lelaki tadi. Tak hanya sampai di situ, ia kemudian menyetubuhiku lewat *****. Benar-benar memperlakukanku seperti binatang. Aku meringis. Entah bagian mana yang sakit. Tubuh serta hati nyeri bersamaan.
***
__ADS_1
[Bersambung]