Ibu Bukan Pelacur

Ibu Bukan Pelacur
Percakapan Sepasang Hati


__ADS_3

Ia hanya seseorang yang kebetulan hadir ketika aku memang butuh teman berbagi. Tidak lebih!


---


Pagi-pagi sekali, sebelum suami Puang Nani keluar menarik ojek, aku minta izin untuk menumpang sampai di Bajoe—ke toko tempat Dahlan bekerja. Sekaligus pamit. Aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi bersama mereka. Aku tidak ingin merusak ketenangan di rumah ini. Puang Nani memasang tampang bersalah dan tidak enak hati. Ia tahu, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka tadi malam. Ia berusaha menahanku.


"Aku ke sini memang hanya berkunjung, bukan untuk tinggal. Aku punya kenalan di Bajoe, ia janji akan bantu cari pekerjaan," jelasku pura-pura.


Puang Nani mendekapku dengan cucuran air mata. Kemudian ia memberikan sejumlah uang, tentu saja tanpa sepengetahuan sang suami yang tengah sibuk memanaskan mesin motornya di luar, seolah tak sabar ingin membawaku pergi dari rumahnya.


"Kapan pun, kamu boleh kembali ke sini jika butuh bantuan," katanya dengan suara bergetar sebelum benar-benar melepasku.


Aku mengangguk lemah.


***


Aku tiba di tempat kerja Dahlan—Toko Harapan—ketika ia tengah sibuk melayani pembeli. Entah alasan apa yang membawaku sampai di sini. Kami hanya tak sengaja diperkenalkan oleh hujan, tak seharusnya aku melibatkan lelaki berkulit putih itu ke dalam masalahku. Tidak, aku memang tidak ada niat sedikit pun untuk melibatkan. Aku hanya ingin minta tolong. Aku tidak tahu lagi harus ke mana.


Ia tampak heran ketika tidak sengaja melihatku bersama Tiara tengah berdiri di pelataran toko. Ia buru-buru keluar menemuiku.


"Eh, kamu! Mau ke mana?" tanyanya dengan sebaris senyum.


Aku bingung harus jawab apa. Lebih tepatnya, aku tidak tahu harus minta tolong apa padanya.


"Kok, diam?" Ia mengernyit heran.


"Aku butuh tempat tinggal. Maksudnya, kamu tahu rumah kontrakan yang tidak begitu mahal di sekitar sini?"


"Ada, sih! Tapi, aku lagi kerja." Ia tampak berpikir. Aku jadi tidak enak sudah mengganggunya. "Tunggu sebentar, ya," imbuhnya. Ia lalu berlari-lari kecil kembali ke dalam toko dan tampak bicara dengan Pak Bahar yang duduk di belakang meja kasir. Tidak begitu lama ia kembali menemuiku dengan senyum mengembang. Katanya, setelah mengakui aku sebagai tantenya di depan Pak Bahar, ia mendapatkan izin untuk mengantarku mencari rumah kontrakan. Aku terkekeh sambil menoyor lengannya. Ini pertama kalinya aku tertawa benar-benar lepas, sejak sosok Daeng Hasan menjelma setan.


Berkat Dahlan, aku berhasil menemukan rumah kontrakan yang harganya cukup murah. Uang dari Puang Nani cukup untuk membayar sewa selama sebulan. Bahkan masih ada sisa untuk makan beberapa hari. Tempatnya memang seadanya. Isinya kosong melompong. Kecuali ada kasur butut di kamar, beberapa buah piring di dapur, serta ember besar untuk menampung air di kamar mandi. Dengan kondisi yang ada, aku memang tidak boleh berharap lebih. Yang penting aman dan bisa dijadikan tempat berlindung ketika panas maupun hujan. Ini jauh lebih baik dibanding aku dan Tiara terlantar di jalanan. Meski hanya ada satu kamar tidur dengan ruang tamu dan dapur yang saling bersinggungan, kuyakin di sini jauh lebih nyaman dibanding tetap tinggal bersama Daeng Hasan. Sesaat, aku teringat dengan lelaki yang hidupnya dikelilingi kepura-puraan itu. Sedang apa ia sekarang? Apakah mencariku? Atau malah sudah mengajak perempuan ****** itu untuk tinggal bersamanya? Jika benar, semoga ia tidak dijadikan mesin penghasil uang untuk menggantikanku. Cukup aku saja yang merasakan penderitaan ini. Aku berharap tidak akan bertemu lagi dengannya. Selamanya!


***

__ADS_1


Menempati rumah baru dengan segenap masalah yang ada di baliknya membuatku tidak tenang. Ada-ada saja hal yang mengganggu pikiran. Ketakutan akan kemunculan Daeng Hasan sewaktu-waktu dan menarikku kembali ke dunia hitam itu. Bayangan Puang Sudi yang kini mengklaim rumah peninggalan Mak sebagai miliknya. Aku yang kini jadi orangtua tunggal untuk Tiara namun tanpa penghasilan sepeser pun. Aku berusaha untuk tenang. Tuhan tidak mungkin melimpahkan semua cobaan ini jika aku tidak sanggup menghadapinya. Setelah menidurkan Tiara, kualihkan semua kekalutan dengan beres-beres. Setelah mengeluarkan keringat, kuharap kegaduhan di kepala bisa sedikit reda. Di tengah kesibukan itu tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, disusul salam dengan suara yang mulai tidak asing di telingaku. Aku menyimpan sapu di pojok ruangan kemudian beranjak membuka pintu. Dugaanku benar. Lelaki yang kini berdiri di depan pintu adalah Dahlan. Ia menenteng sesuatu berukuran besar di tangan kanan, serta kantong plastik berisi sesuatu di tangan lainnya.


"Boleh, kan, bertamu jam segini?" tanyanya basa-basi dengan sebaris senyum. Senyum miring yang kupatenkan sebagai salah satu ciri khasnya. Ini memang sudah cukup larut untuk ukuran bertamu. Jam di dinding menunjukkan pukul 9 lebih 30 menit.


"Ah, kamu ini. Silakan masuk!" Bagiku Dahlan bukanlah tamu. Ia boleh ke rumah ini kapan pun. Meski baru kenal selama dua hari, seakan-akan ia telah berbuat banyak hal dalam hidupku. Aku merasa berutang budi padanya.


"Kamu habis ngapain sampai keringatan begitu?" tanyanya setelah kami duduk melantai, berhadapan.


"Oh. Habis beres-beres!"


"Kebetulan. Aku bawa gorengan, nih! Setelah beres-beres, kamu lapar, kan?" tawa kecil meluncur dari bibirnya.


"Tahu aja," sambutku sedikit meladeni maksudnya. Kemudian beranjak ke belakang untuk mengambil piring serta air minum. Sekembaliku, ia mulai tampak sibuk dengan benda berukuran cukup besar tadi.


"Apa itu?" tanyaku setelah memindahkan gorengan ke piring.


"Mesin tik."


Sebenarnya aku tahu itu mesin tik. Tapi, untuk apa dibawa ke sini?


Aku memakan sepotong tahu goreng sambil memperhatikan kesibukannya.


"Aku tidak tenang mengetik di rumah. Abdul dan Maman suka protes. Katanya suara mesin tik ini mengganggu istirahat mereka." Dua nama tadi adalah milik kedua teman kocaknya. Dan aku baru tahu, suara mesin tik seperti yang kudengar ini. Cukup bising di jam segini, ketika kebanyakan orang sudah beranjak ke peraduan untuk mengistirahatkan raga yang lelah setelah bekerja seharian. Wajar jika Abdul dan Maman merasa terusik.


"Tidak apa-apa, kan, khusus malam ini aku menyelesaikan tulisanku di sini?" tanyanya tiba-tiba. Memastikan.


"Untuk malam-malam selanjutnya juga boleh, kok," jawabku, membuatnya tersenyum lebar, kemudian kembali sibuk.


"Kamu suka banget, ya, menulis?"


Ia hanya mengangguk tanpa menoleh.


"Kenapa?"

__ADS_1


Mendadak jemari tangannya berhenti dari segenap aktivitasnya. Sepertinya aku telah membuat konsentrasinya buyar. Ia menghela napas berat.


"Bagiku, menulis adalah pelarian dari semua hal yang tak ingin kupikirkan berlarut-larut. Ketika banyak masalah, kutumpahkan jadi tulisan. Pun ketika sedih dan tak tahu kepada siapa mesti berbagi, maka mesin tik inilah jawabannya. Dan lagi, dengan menulis aku bisa menyampaikan sesuatu yang seringkali sulit diungkapkan secara lisan. Menulis membuatku merasa lebih hidup."


Aku terperangah. Sedemikian dalamkah makna menulis baginya? Lalu kenapa seolah ada duka yang tersirat di kalimat barusan?


"Maaf jika aku salah. Sepertinya kamu memendam sesuatu, yang mungkin akan terasa lebih ringan setelah membaginya dengan orang lain. Mulai sekarang, kita bisa jadi teman berbagi. Bicaralah! Aku memang bukan pakar, tapi setidaknya bisa jadi pendengar yang baik." Entah atas dasar apa aku mengucapkan kalimat barusan, seolah aku ini orang yang tak memiliki beban.


Ia menjauh dari mesin tik. Menyamankan posisi, menempelkan punggung di tembok yang catnya mulai terkelupas. Beberapa kali ia masih terlihat menghela napas berat, seolah menenangkan sesuatu di dada.


"Ambo ingin aku mengikuti jejaknya jadi tentara, mengabdi pada negara. Tapi sejak kecil aku tidak suka dunia militer yang menurutku dekat dengan kekerasan. Jika disuruh memilih, aku lebih suka jadi pengusaha, melakukan sebuah pekerjaan yang memungkinkanku tetap menulis. Karena merasa ditentang, Ambo mulai tidak suka padaku. Sangat jelas ia membedakanku dengan kakak yang mau menuruti semua keinginannya. Termasuk jadi tentara." Dahlan jeda, mengambil napas. "Namun yang paling tidak kumengerti, Ambo menjodohkan kakak dengan perempuan yang kucintai sejak dulu. Atas dasar persahabatan orangtua, pernikahan mereka benar-benar terjadi. Aku tidak habis pikir kakak dan Ambo setega itu padaku. Padahal mereka tahu, sebesar apa aku mencintai perempuan itu. Perempuan itu pun sepertinya tidak keberatan. Mungkin akhirnya ia sadar, tidak ada jaminan masa depan jika memilih hidup bersama pembangkang sepertiku." Dahlan menunduk, memperhatikan gerakan jemari yang ia sibukkan sendiri. Aku bingung bagaimana harus menanggapi. Ternyata setiap orang memiliki beban hidup yang berbeda-beda.


"Mak ji alasanku selalu pulang setiap libur. Ia akan sakit bila terlalu lama menanggung rindu. Sedang Ambo benar-benar tidak peduli lagi padaku. Bahkan tidak sudi membiayai hidupku. Karena itu, aku terpaksa kerja di tempatnya Pak Bahar dan menunda kuliah selama beberapa waktu. Aku Harus mengumpulkan uang terlebih dahulu. Suatu hari nanti aku akan buktikan kepada Ambo, bahwa aku bisa hidup dengan caraku sendiri, tanpa harus jadi tentara."


"Aku suka semangatmu. Tapi jangan sampai hal itu malah menimbulkan dendam. Bagaimana pun juga, ia tetap ambomu."


Dahlan hanya menatapku sendu. Lalu hening.


"Kamu sendiri?"


Darahku mendadak berdesir secara tidak wajar ketika ia malah balik bertanya. Aku jadi salah tingkah.


"Alasan apa seorang ibu bersama gadis kecilnya terjebak di tengah hujan? Dan kini malah kelihatan tidak punya tempat tinggal di kampung sendiri." Ucapan Dahlan sungguh menohok. Tepat sasaran. Kemudian ia menggeser sedikit posisi, seolah menyamankan diri, menunggu kalimat yang akan keluar dari mulutku.


Dahlan sudah memercayakan kisah hidupnya padaku, maka aku tidak punya alasan untuk mengelak. Pada akhirnya kuceritakan kisah pilu di balik pelarian itu. Semuanya, tanpa sepenggal pun kusembunyikan. Keningnya mengerut mendengarku bertutur. Sesekali matanya tampak berkaca-kaca, serta memancarkan geram. Sedang aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.


Malam ini telah terjadi percakapan sepasang hati oleh dua insan yang belum lama saling kenal. Entah atas dasar apa.


Dahlan pamit pulang tanpa menyelesaikan tulisannya. Katanya akan ia lanjutkan nanti setelah shalat Subuh, sebelum masuk kerja. Fokusnya pecah setelah menerawang setiap kekelaman yang kupunya.


Aku merebahkan diri di samping Tiara, mencoba membunuh sisa malam dengan tidur. Tapi susah. Suara Dahlan masih terngiang. Tingkah lakunya membayang. Senyum miringnya tercetak jelas di kepala. Ah, kenapa aku jadi kepikiran lelaki itu? Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Ia hanya seseorang yang kebetulan hadir ketika aku memang butuh teman berbagi. Tidak lebih!


***

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2