Ibu Bukan Pelacur

Ibu Bukan Pelacur
Hilangnya Mutiara Cinta


__ADS_3

Aku ingin Mutiara Cinta-ku paling bersinar di antara yang lain, meski ia hanya anak seorang biduan.


---


Watampone, tahun 2011


Pagi-pagi sekali Tiara sudah siap dengan seragam barunya. Ini hari pertama seragam putih abu-abu itu melekat di tubuhnya. Meski sudah rapi, tak bosan-bosannya ia bercermin. Senyum merekah sempurna di bibirnya. Aku turut bahagia dibuatnya, mataku sampai berkaca-kaca. Bisa menyekolahkannya hingga SMA tentu tidak mudah. Pencapaian luar biasa. Aku berjuang seorang diri, memutar otak bagaimana menyisihkan honor manggung yang tak seberapa untuk masa depannya. Setelah ini mungkin aku harus mencari penghasilan tambahan, karena tanggungan pasti semakin berat. Terlebih Tiara kerap bercerita, tentang keinginannya untuk menjadi dokter. Aku tak paham berapa banyak uang yang diperlukan untuk kuliah jurusan kedokteran. Pasti sangat banyak. Tapi sebagai ibu, lagi-lagi hatiku tergerak untuk mengusahakan agar keinginannya itu terkabul. Aku rela melakukan apa pun demi melihat Tiara jadi orang. Aku tidak ingin ia mewarisi nasib malang dariku.


Putri kecilku yang dulu kerap menyaksikan perbuatan sesat ambonya, bahkan secara tidak langsung ikut mengantar saat seseorang hendak menikmati tubuhku, kini tumbuh jadi gadis remaja yang sangat cantik. Juga tegar. Kebisaannya menerima pekerjaanku sebagai biduan adalah hal yang membuatku paling bangga. Ia tidak pernah keberatan setiap malam terpaksa ditinggal sendirian. Ia kebal dengan semua cibiran yang datang setiap hari. Ia balas semua itu dengan prestasi di sekolah. Ia adalah anugerah terindah yang kumiliki.


Suatu hari Tiara pulang sekolah nebeng sama teman cowoknya. Saat makan malam, dengan antusias ia menceritakan siapa cowok itu. Ternyata kakak kelasnya. Namanya Alfian, putra bungsu H. Arifin, orang terkaya di Barebbo. Mendengar hal itu aku mendadak lesu. Aku takut cowok itu hanya memberikan harapan palsu kepada Tiara. Derajat keluarga kami terpaut jauh, rasanya mustahil bisa disatukan. Sepertinya aku terlalu berlebihan. Mereka masih sekolah dan tentu saja masih jauh untuk berpikiran ke sana. Biarkan saja mereka menikmati warna yang kini memercik dan memang sewajarnya ada di usia remaja. Dari mimiknya saat menyebutkan nama cowok itu, aku yakin Tiara menyukainya. Aku baru sadar putriku mulai dewasa. Aku harus lebih ekstra memperhatikannya. Aku hanya tidak ingin ia salah mengenali lelaki seperti yang pernah kualami.


Di usia yang mulai beranjak dewasa tentu saja pemikiran Tiara semakin matang. Ia mulai peka terhadap semua hal. Termasuk keputusanku untuk tidak menikah lagi. Ia pernah membahas hal ini secara serius. Menurutnya, jika memiliki pendamping hidup aku tidak sendirian menanggung semua beban yang ada.


"Mak tidak butuh pendamping lagi. Buat apa? Kan, udah ada kamu. Lagipula Mak tidak ingin kasih sayang buat kamu harus dibagi ke orang lain." Selalu seperti itu aku berkilah. Aku tidak mungkin bercerita lebih jauh.


Sesekali ia juga menggoda, katanya aku masih cantik, pasti banyak lelaki yang naksir di luar sana. Jika sudah seperti itu aku akan pura-pura sibuk mengerjakan apa saja. setelah merasa dicuekin, ia akan capek dengan sendirinya. Biasanya langsung ditinggal ke rumah Bu Hasna untuk bertemu Imran. Entah belajar bareng atau sekadar main. Sudah sebesar ini mereka masih seakrab dulu, padahal sudah beda sekolah. Imran beruntung punya orangtua yang masih lengkap dan mampu menyekolahkannya di SMA Negeri 1 Watampone, SMA unggulan di kota ini.


Sebagai satu-satunya orangtua yang ia punya, wajar jika Tiara sangat dekat denganku. Ia menceritakan apa pun yang ia alami di sekolah. Termasuk olokan yang sering ia terima karena maknya seorang biduan. Sejauh ini ia baik-baik saja, sama sekali tidak mempermasalahkan. Tapi mungkin lain jadinya bila ia tahu aku kerap menampilkan aksi candoleng-doleng. Hingga detik ini aku memang belum berterus terang kepada Tiara untuk hal ini. Aku belum siap. Aku takut ia tidak bisa menerima. Aku tidak boleh gegabah. Aku harus menunggu hingga waktunya benar-benar pas.


***


Watampone, tahun 2013

__ADS_1


Ini tahun terakhir Tiara di SMA. Itu artinya tidak lama lagi ia akan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Aku jadi lebih sering menghitung uang yang kukumpulkan selama ini dalam kotak perhiasan di dalam lemari. Semakin kuhitung, rasanya uang itu semakin tidak cukup untuk membiayai kuliah jurusan kedokteran yang diinginkan Tiara. Padahal aku sudah sangat berhemat selama ini. Aku rela tidak pernah beli pakaian baru agar uangnya bisa ditabung. Aku rela tidak pernah jajan saat berangkat kerja agar uangnya bisa ditabung. Tapi pada kenyataannya, seorang biduan memang tidak akan sanggup membiayai anaknya untuk kuliah di jurusan kedokteran. Lebih baik aku bicarakan baik-baik sebelum Tiara berharap terlalu jauh dan ujung-ujungnya kecewa.


"Tidak apa-apa, Mak. Saya paham. Tanpa jadi dokter pun, saya pasti bisa membahagiakan Mak suatu hari nanti." Kemudian ia memelukku. Meski berkata demikian, aku bisa menangkap sorot kekecewaan di matanya. Aku merasa payah karena tidak bisa mengabulkan cita-citanya.


Meski sudah pasti ia tidak bisa lagi mengejar cita-citanya untuk menjadi seorang dokter, Tiara tetap tekun belajar seperti biasa. Ia berhasil melewati ujian akhir dengan hasil yang cukup memuaskan. Hari ini adalah hari perayaan kelulusan, pelepasan siswa-siswi SMA Negeri 5 Watampone angkatan 2013. Para orangtua mendapatkan undangan khusus untuk mendampingi putra-putri mereka, pun denganku. Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap. Tiara tampak lebih dewasa dalam balutan kebaya hijau yang senada dengan kulitnya. Seminggu yang lalu, sejak ia mengabarkan acara hari ini, aku langsung membawanya ke tukang jahit, minta dibuatkan kebaya model terkini. Aku menggunakan sebagian uang tabungan persiapan Tiara masuk ke universitas demi mendapatkan kebaya yang kini memang membuat penampilannya sedikit berbeda. Aku ingin Mutiara Cinta-ku paling bersinar di antara yang lain, meski ia hanya anak seorang biduan.


Saat tiba di sekolah Tiara, suasana mulai ramai. Sejak turun dari angkot, semua pandangan seolah tertuju pada kami. Aku yakin, mereka terperangah, tidak menyangka Tiara akan tampil secantik ini. Jujur, aku agak canggung. Aku tidak biasa tampil di depan umum untuk menghadiri acara seperti ini. Tapi semua ini demi Tiara. Aku merasa lebih baik ketika Tiara meraih tanganku dan menggandengnya hingga tiba di dalam tenda yang akan dijadikan tempat berlangsungnya acara. Kemudian kami duduk berdampingan. Sekilas pandanganku menyapu suasana di dalam tenda yang sudah didekor sedemikian rupa. Cantik.


Mula-mula biasa saja. Kemudian mulai terasa aneh ketika teman-teman Tiara di sekeliling kami tertawa secara tidak wajar sambil memperhatikan sesuatu di ponsel masing-masing. Sesekali melihat ke arah kami. Aku melirik ke arah Tiara, ia juga mulai tampak tidak nyaman. Ada apa sebenarnya? Kemudian salah seorang di antara mereka menghampiri kami, memperlihatkan kepada Tiara sesuatu di ponselnya yang sejak tadi jadi bahan tertawaan. Sebenarnya aku penasaran, tapi memilih menunduk daripada ikut mengintip. Sejurus kemudian tangis Tiara pecah, mengacaukan riasan di wajahnya. Aku semakin bingung. Entah apa yang terjadi. Apa yang diperlihatkan temannya itu kepada Tiara? Tiara menghambur meninggalkan tenda, juga aku yang tengah kebingungan. Tentu saja aku sigap menyusulnya, berlari membelah tawa-tawa yang semakin melengking, bernada kemenangan dan rasa puas. Hanya saja ia berhasil menyetop angkot sebelum aku tiba. Ia benar-benar pergi, membawa tangis yang belum kupahami.


***


Berhari-hari aku cukup tersiksa dengan perubahan sikap Tiara. Ia menghindar, tak mau bicara padaku, juga makan bersama. Entah ada apa di hari perayaan kelulusan kemarin, kenapa ia berubah sedrastis itu? Dan malam ini, sepulang manggung aku terperanjat mendapati Tiara di ruang depan. Tidak biasanya ia masih terjaga selarut ini. Rupanya ia sengaja menungguku dan ingin bicara sesuatu. Kemudian aku duduk di depannya, siap mendengarkan setelah meletakkan tas dan melepas jaket.


"Jadi selama ini Mak ma-candoleng-doleng?" Suara Tiara bergetar.


"Iya," jawabku lirih setelah menarik napas panjang demi menormalkan degup di dada yang mendadak berpacu secara tak wajar. Kulihat air mata Tiara serta-merta mengucur kemudian.


"Dan dulu, apakah Mak juga melacur?"


Kini aku tak sanggup menatap mata Tiara. Aku hanya mengangguk perlahan sambil menggigit kedua bibir. Aku sangat ingin menjelaskan bahwa semua itu terjadi tak seperti yang ia pikirkan. Tapi tidak sekarang, nanti setelah situasinya lebih tenang.


Sepertinya kabar yang entah memercik dari mana ini tiba di telinga Tiara sejak beberapa bulan terakhir. Hal inilah yang membuatnya sering murung, yang awalnya kukira hanya efek kekecewaan karena cita-citanya untuk menjadi dokter terpaksa kandas. Aku sangat mengerti perasaan Tiara, pasti sangat hancur saat ini. Sedang aku kalut, entah dengan cara apa untuk merebut hatinya kembali.

__ADS_1


Tiara beranjak. Langkah setengah berlarinya berakhir dengan bantingan pintu kamar yang membuatku semakin pilu. Dan sepertinya aku terpaksa tidur di luar malam ini.


***


Pagi tiba membawa aroma yang berbeda. Aku terbangun dalam keadaan beringsut di lantai, hanya beralaskan jaket yang kukenakan semalam. Ini kali pertama ada sesuatu yang mengantarai aku dan anakku. Aku merasa bersalah karena tak jujur dari awal. Mungkin sekarang di hatinya tengah tumbuh kebencian.


Aku mengetuk pintu kamar sambil memanggil namanya. Berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Akhirnya dari balik pintu, aku pamit untuk ke pasar. Hari ini aku akan memasak makanan kesukaannya. Semoga dengan demikian suasana hangat bisa kami temukan lagi. Dan saat itu aku akan menceritakan hal-hal yang belum ia ketahui. Kami akan membahas kembali hal yang kini seolah membentangkan jarak di antara kami.


Sekembalinya dari pasar, aku langsung ke dapur. Aku sempat menoleh ke arah kamar yang pintunya masih tertutup rapat. Dalam hati hanya bisa berharap lirih, semoga ini tidak berkepanjangan. Aku tidak sanggup hidup berjarak seperti ini dengan anakku.


Sekitar 40 menit kemudian beberapa menu masakan yang pasti akan membuat Tiara senyum-senyum sudah selesai. Asap tipis yang mengepul di permukaan setiap piring menguarkan aroma yang sungguh menggugah selera. Aku beranjak mengetuk pintu kamar lagi. Berkali-kali, masih sambil memanggil-manggil. Nihil. Tidak ada respons. Aku mulai putus asa ketika asal memutar pegangan pintu. Dengan mudahnya pintu terbuka. Ternyata tidak dikunci. Tapi ... Tiara tidak ada di dalam. Pintu lemari terbuka dan menampakkan dua kolong telah kosong. Pakaian Tiara tidak ada di sana. Cemas dan berbagai rasa tak enak lainnya menyesaki dada. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Aku berlari keluar, mengitari sekitar rumah, jalan setapak, Tiara tidak terlihat. Aku bergegas ke rumah Bu Hasna, bertanya pada Imran, mereka juga tidak tahu. Aku panik, tangisku luruh dengan suara isak yang serta-merta berbaur dengan udara pagi yang mulai memanas.


Aku tidak ingin kehilangan Tiara, harta paling berharga yang kupunya, satu-satunya alasan yang membuatku kuat melawan keras kehidupan hingga saat ini. Aku berlari menyusuri jalan. Menanyai siapa saja yang kutemui. Semakin mereka menggeleng, langkahku semakin cepat. Aku masih mencari, terus berlari. Hingga aku pun tak tahu lagi ke mana harus melangkah. Saat itu aku baru sadar, aku sudah sangat jauh dari rumah.


***


[Bersambung]


Halo, pembaca yang budiman.


Sejauh ini, apa tanggapan kalian untuk cerita ini?


Komen, ya.

__ADS_1


Makasih.


Salam santun 😊🙏


__ADS_2