
Yang jelas, ia bukan anak haram seperti yang mereka katakan. Ia punya ayah.
---
Beberapa hari telah berlalu sejak Tiara mendapatkan kesempatan untuk mengobrol langsung dengan Ustazah Qhumairah. Tapi pesan terakhir pemilik bulu mata lentik itu masih membuntutinya hingga saat ini.
"Pulanglah! Temui ibumu! Barangkali di sana ada sesuatu yang menghalangi kesuksesanmu."
Entah apa yang membuat Tiara masih ragu. Ia merasa belum siap untuk bertemu dengan Ibu. Padahal, setelah mengobrol panjang lebar dengan Ustazah Qhumairah tentang kemuliaan seorang ibu, riak-riak rindu mulai mengisi dadanya. Senyum itu, wajah tak kenal lelah itu, perlahan-lahan memetakan sejumput kenangan yang terputar manis di ruang khayal. Hanya saja ... masa-masa suram yang ia lalui ketika masih SMA dulu mendadak menghantui di saat bersamaan. Ketika semua orang saling bisik perihal masa lalu Ibu yang katanya seorang pelacur. Juga soal profesi sebagai biduan organ tunggal yang tengah dijalaninya. Tiara enggan mengulang semua itu.
Alfian, Kakak kelas yang ditaksirnya waktu itu serta-merta menjauh ketika kabar seputar masa lalu Ibu merebak. Sebelumnya, pemuda berambut ikal itu dengan senang hati selalu memberinya tumpangan sepulang sekolah. Membonceng di motor sport milik Alfian menjadi sepenggal momen indah yang patut ditunggu-tunggu oleh Tiara setiap hari. Arah pulang mereka memang sejalan. Alfian tinggal di Desa Barebbo, sekitar empat kilometer dari desa Tiara. Ia anak bungsu orang terkaya di kampungnya. Karena itu, Tiara tak pernah berharap apa pun atas kedekatannya dengan pemilik gigi gingsul itu, selain hanya selalu membonceng ketika pulang sekolah. Untuk Alfian sendiri, entah alasan apa ia memilih memberi tumpangan kepada Tiara setiap hari. Padahal masih banyak teman lain yang searah dengannya. Tak jarang ia mengajak singgah nge-bakso, atau sekadar menikmati es tong-tong yang dijajakan pedagang keliling. Saat seperti itulah tawa mereka akan berhambur. Usik-usikan. Hal-hal sederhana yang kemudian menganak rindu di hati Tiara. Secara tidak langsung memekarkan sejumput harapan, membiarkan sesuatu bertunas, dan membuatnya semakin susah mengelak.
__ADS_1
Tapi sejak kabar masa lalu Ibu merebak, masa-masa seperti itu tak ada lagi. Sirna tak tersisa. Ia kembali naik angkot, sama seperti sebelum mengenal Alfian, pemuda pertama yang berhasil membuatnya merindu. Ia pernah berusaha memastikan penyebab perubahan sikap Alfian terhadapnya. Waktu itu, mereka tidak sengaja berpapasan di koridor, ketika Tiara hendak ke perpustakaan. Tiara langsung memberikan senyum terbaiknya. Dan dibalas oleh Alfian seadanya saja.
"Mauki* ke mana?"
"Kantin!" jawab Alfian seraya sibuk mengecek ponsel.
"Kenapaki kayak berubah? Atau perasaanku ji*?"
Tidak hanya sampai di situ. Keempat sahabatnya pun perlahan-lahan mulai menciptakan jarak. Ia tak pernah lagi diajak bergabung jika ada tugas kelompok. Rutinitas belajar bareng pun ditiadakan. Mereka seolah membiasakan diri melakukan apa pun tanpa perlu mengajak Tiara. Mereka memang tidak pernah terang-terangan mengungkapkannya seperti Alfian, tapi semua perubahan yang ada cukup mewakili.
Hari-hari yang tercipta kemudian menjadi sangat menyiksa bagi Tiara. Tidak ada lagi keceriaan di sekolah itu. Ia terkucilkan. Semua orang seolah akan kena imbas jika bergaul dengannya. Kabar masa lalu Ibu yang katanya seorang pelacur semakin santer terdengar. Bahkan, ada yang terang-terangan menyebutnya sebagai anak haram. Katanya, ia hanya hasil kebiadaban yang tak diharapkan. Hati mana yang tak hancur bila diperlakukan seperti itu? Tentu saja Tiara mengelak. Ia berjuang keras untuk menepis semua anggapan itu. Ia yang kenal Ibu lebih dari siap pun. Tertuama mereka yang senang koar-koar tanpa bukti yang jelas. Yang ia tahu, Ibu sosok pekerja keras yang tidak pernah menunjukkan tampang lelah demi melihatnya tersenyum. Bahagia. Perempuan tangguh yang mampu bangkit dan bertahan hidup setelah ditinggal mati suami. Perihal ayahnya, Tiara tidak begitu ingat. Ia masih terlalu kecil untuk tahu banyak hal waktu itu. Yang jelas, ia bukan anak haram seperti yang mereka katakan. Ia punya ayah.
__ADS_1
Kabar yang serta-merta merenggut kecerahan hari-hari Tiara pertama kali meluncur dari bibir Cika, teman sekelas yang memang selalu cari gara-gara dengannya. Tepatnya sejak Tiara mulai dekat dengan Alfian. Pasalnya, sebagai seorang mantan yang sebenarnya masih mengharapkan cinta Alfian, Cika terbakar api cemburu. Hari-harinya jadi disibukkan dengan pikiran-pikiran apa pun demi membuat hidup Tiara tidak tenang. Tiara terbilang tangguh menghadapi Cika. Ada-ada saja hal yang bisa membuatnya merasa menang. Tapi tidak untuk sekarang ini, setelah semua orang beranggapan bahwa ia anak mantan pelacur.
Cika sendiri tak punya bukti kuat soal kebenaran kabar yang ia siarkan dengan antusias itu, kecuali kesaksian dari mulut berbusa milik pembantu di rumahnya. Konon, pembantu itu teman dekat mantan suami Ibu. Ia paham semua permasalahan yang terjadi di rumah tangga mereka. Hingga Ibu memilih jual diri demi terlepas dari permasalahan ekonomi. Sekencang apa pun kabar itu meluas di sekolah, Tiara tidak pernah percaya. Hanya saja, ia masih belum menemukan cara yang tepat untuk melakukan perlawanan. Terhadap Ibu, Tiara tidak pernah kepikiran untuk menanyakan kebenaran kabar itu. Ia tidak ingin beliau tersinggung. Ibu memang biduan organ tunggal yang kebanyakan mengambil job malam, tapi bukan mantan pelacur! Tiara menanamkan keyakinan itu dalam hati.
***
Catatan kaki:
* Partikel ki dalam bahasa keseharian orang Makassar, bermakna sapaan yang sopan terhadap lawan bicara. Pengganti kata kamu.
* Saja. Aksen khas orang Makassar.
__ADS_1
[Bersambung]