
Ini tentang kewajiban seorang janda untuk menafkahi anaknya.
---
Sejak kejadian itu Dahlan tidak pernah kembali, padahal ia sudah berjanji padaku. Kudengar dari Abdul dan Maman, katanya ia dipaksa berhenti bekerja oleh orangtuanya. Aku sudah menduga hal ini. Aku juga sudah menata hati untuk menerima kehilangan. Kalau pun sebenarnya Dahlan kembali, hubungan kami terasa sulit untuk dilanjutkan. Mungkin ini yang terbaik. Tidak usah bertatap muka lagi dan perlahan-lahan saling melupakan.
Tiga bulan pertama berhasil kulalui meski sesekali masih bertemankan tangis diam-diam. Dan bila rindu sudah menumpuk, aku akan melunasinya dengan membaca kembali cerpen Dahlan dalam majalah yang ia berikan. Juga puisi di kertas lusuh itu. Beruntunglah Tiara mulai sekolah tahun ini. Mengantar dan menjemputnya merupakan kegiatan baru yang bisa sedikit mengalihkan pikiranku dari apa pun yang berkaitan dengan Dahlan. Tidak terasa anak itu kini sudah berseragam putih merah. Ia terlihat cantik. Aku bangga berhasil membesarkannya seorang diri sejauh ini.
***
Watampone, tahun 2007
__ADS_1
Bertahun-tahun kulalui dengan kesendirian. Maksudnya, aku tak pernah kepikiran membuka hati untuk kembali menjalani hubungan dengan seorang lelaki. Meski beberapa kadang menunjukkan keseriusan. Entah yang tak sengaja ketemu saat manggung, atau dikenalkan oleh teman. Aku menyikapi mereka tak lebih sebatas teman. Aku sadar, pekerjaanku sebagai biduan rentang akan tanggapan negatif. Karena itu aku harus pandai membawa diri. Lagipula kekejaman Daeng Hasan masih menyisakan trauma. Aku sering beranggapan semua lelaki akan melakukan hal yang sama terhadapku—menyiksa dengan cara mereka masing-masing. Namun di luar anggapan yang cukup beralasan itu, setelah terhadap Dahlan, aku tak pernah lagi benar-benar merasakan rindu. Lelaki itu masih mendominasi ruang pikirku, meski bertahun-tahun tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Kabar terakhir yang kudengar, ia dikirim oleh orangtuanya ke luar pulau. Pasti niat mereka untuk mengamankannya dariku. Setelah dipikir-pikir, mereka wajar melakukan itu. Aku memang terbilang menyeramkan untuk mendampingi anak mereka.
Waktuku habis untuk bekerja dan mencurahkan perhatian kepada Tiara. Ia semakin tumbuh besar, dan tentu saja mulai bertanya-tanya tentang ambonya. Meski sudah kukatakan ambonya sudah meninggal, ia seolah tidak puas. Ia ingin tahu lebih dalam sosok ayah kandungnya. Aku paham, sepertinya ia mulai iri dengan teman-teman sebayanya yang bisa bermanja-manjaan dengan ayah mereka. Sedang ia hanya punya aku. Tentu saja aku tidak menceritakan tabiat Daeng Hasan yang sesungguhnya. Aku tidak ingin ia tumbuh bersama rasa benci terhadap ambonya.
Beberapa bulan terakhir ada sedikit masalah, Dara Manis sepi orderan. Imbasnya, aku pun jarang kebagian jatah manggung. Puncaknya bulan ini, aku sama sekali belum dapat jatah sekali pun. Jadinya tidak ada pemasukan sementara kebutuhan untuk keperluan sekolah Tiara semakin melonjak. Kudengar dari Siska hal ini dikarenakan kemunculan grup elekton baru yang berani memeragakan tarian erotis. Bahkan beberapa biduan mereka tak segan melepas beha di atas panggung. Mereka menamai aksi itu candoleng-doleng. Aku bergidik mendengarnya. Minggu kemarin Pak Musdar menggelar rapat dengan semua timnya.
"Kita harus cepat bergerak, sebelum mereka benar-benar menenggelamkan Dara Manis dari peredaran," gelegar sang ketua waktu itu.
"Kita harus ikuti permainan mereka. Bahkan, kita akan tampilkan yang lebih panas."
Aku tersentak. Tidak, aku tidak bisa mengikuti kebijakan ini. aku lebih baik mundur daripada harus melakukan aksi erotis di depan umum. Bukan hanya aku, teman-teman biduan yang lain juga tampak keberatan jika harus melakukan aksi candoleng-doleng. Tapi sebagai seseorang yang paham akan kemauan pasar, sepertinya tekad Pak Musdar sudah bulat. Ia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan grup yang ia rintis sedari masih remaja. Mungkin termasuk dengan memecat kami semua lalu merekrut anggota baru. Setelah rapat itu, kami diberi waktu untuk berpikir. Sudah dipastikan kami tidak akan mendapatkan jatah manggung sebelum bersedia melakukan aksi candoleng-doleng jika memang diminta. Dan bila memang bersedia, kapan pun kami bisa kembali bergabung dengan grup ini.
__ADS_1
Aku cukup kaget ketika Siska menemuiku kemarin sore. Ia menyampaikan keinginannya untuk kembali bergabung dengan Dara Manis. Dengan kata lain, ia bersedia disuruh melakukan aksi candoleng-doleng. Aku sama sekali tidak berhak melarangnya. Aku hanya tidak habis pikir. Sampai sekarang sedikit pun aku tidak berpikiran ke sana. Lebih baik berusaha mencari pekerjaan lain daripada mempermalukan diri sendiri di atas panggung.
Pertahananku mulai goyah setelah dua bulan berlalu. Mencari pekerjaan di desa ini tentu tidak mudah. Semua orang butuh, sedang lapangan pekerjaan nihil. Siska memang tidak terang-terangan membujukku, tapi ia kerap bercerita pengalamannya setelah kembali bergabung dengan Dara Manis. Tak selamanya setiap manggung ia diminta melakukan aksi candoleng-doleng, tergantung permintaan yang punya hajatan. Kalau pun terpaksa, ia tidak pernah sampai buka beha seperti yang santer terdengar, hanya sedikit lebih panas dari penampilan biasanya. Itu saja, jelasnya dengan nada membujuk.
Pada akhirnya aku pun memutuskan untuk kembali bergabung. Semua ini kulakukan demi Tiara. Mengingat sebentar lagi ia akan masuk SMP dan tentu butuh uang yang tidak sedikit untuk beli seragam dan buku-buku pelajaran baru. Aku tidak ingin ia putus sekolah, aku akan mengusahakan yang terbaik.
Di malam pertama ketika aku harus tampil dengan aksi candoleng-doleng, berkali-kali aku mengucap maaf dalam hati kepada almarhum Mak dan Ambo, jika setelah ini aku mengecewakan mereka. Juga kepada Tiara. Aku takut suatu hari nanti ia menyesal memiliki ibu sepertiku. Aku menenggak sepertiga gelas minuman keras untuk menghilangkan grogi dan menambah rasa percaya diri. Entah apa namanya, yang jelas baunya sangat menyengat. Cara ini juga dilakukan teman-teman biduan lainnya. Dan terbukti ampuh. Setelah berada di atas pentas, aku seperti tidak sadar melakukan berbagai tarian seronok, membangkitkan syahwat para lelaki yang membanjir di depan panggung. Tentu saja aku merasa nista. Setiap kali selesai tampil dengan aksi memalukan itu, aku mengutuki diri sendiri. Tapi hanya sebatas itu. Rasa bersalah akan hilang setelah panggilan manggung selanjutnya. Dan tarian itu terpaksa kelakukan lagi. Begitu seterusnya. Ini tentang kewajiban seorang janda untuk menafkahi anaknya.
***
[Bersambung]
__ADS_1