Ibu Bukan Pelacur

Ibu Bukan Pelacur
Pulang


__ADS_3

Ia paham permasalahan ekonomi yang tak pernah beranjak dari kehidupan mereka, tapi tak menyangka Ibu sampai rela jual diri.


---


Kebencian itu tak sepenuhnya sirna, hanya sedikit melunak setelah disirami wejangan dari Ustazah Qhumairah. Hari ini, setelah empat tahun kukuh dalam pendirian, Tiara memutuskan untuk pulang. Ia akan menemui Ibu, melihat kembali wajah yang pernah sangat ia kagumi. Meski setelahnya, ia tetap akan kembali menjalani kehidupannya yang sekarang. Ia hanya ingin membuat Ibu lebih tenang setelah melihat keadaan dirinya baik-baik saja. Ia belum siap kembali hidup berdampingan dengan kenyataan yang membuatnya memacu langkah sejauh mungkin empat tahun silam.


Kemarin, secara khusus Tiara minta izin kepada Rama untuk tidak masuk kerja selama tiga hari. Tentu saja pemuda hitam manis itu langsung memasang tampang tidak mengenakkan, seolah tidak akan mengizinkan. Pada akhirnya ia hanya berlalu tanpa kata iya atau tidak. Tiara mengartikannya "iya". Padahal, jauh di lubuk hati pemuda berambut cepak itu, ia sangat ingin mengantarkan Tiara pulang kampung dengan mobil pribadinya. Mengingat kinerjanya yang tidak pernah mengecewakan, tentu saja Pak Hadi akan mengizinkan andai ia benar-benar ingin. Tapi ujung-ujungnya masih sama seperti dulu. Posisinya selaku supervisor menampakkan sikap dingin lebih dominan ketimbang ketulusan hati seseorang yang mencinta untuk menolong. Pemuda itu terlalu payah untuk sekadar menemukan kata pembuka yang mungkin bisa mengawali babak baru di hidupnya. Cinta yang telah lama ia pendam.


Setelah menunggu sekitar sejam, menunggu penumpangnya penuh, mobil panther yang ditumpangi Tiara mulai melaju perlahan meninggalkan Jalan Perintis Kemerdekaan—kawasan pangkalan mobil angkutan umum lintas kabupaten. Tiara sengaja memilih tempat di pinggir, agar leluasa menikmati embusan angin. Jika tidak seperti itu, ia gampang mabuk. Terutama jika penumpangnya benar-benar penuh seperti sekarang. Dari balik kaca jendela mobil, gadis berwajah bulat itu menerawang ke luar. Bangunan-bangunan kios semi permanen yang berderet di sepanjang jalan semakin cepat bergerak ke arah berlawanan, seiring ingatan masa lalu yang terputar kembali.


***


Puncak dari masa-masa suram Tiara di sekolah bertepatan dengan perayaan hari kelulusan. Mereka diminta datang bersama orangtua masing-masing untuk menghadiri acara pelepasan siswa-siswi SMA Negeri 5 Watampone angkatan 2013 yang dirangkaikan dengan pengumuman siswa-siswi lulusan terbaik dan beragam acara pendamping lainnya. Lapangan yang biasanya digunakan untuk upacara bendera setiap hari Senin dipasangi tenda dan didekor sedemikian rupa. Pagi-pagi sekali, tenda itu sudah disesaki wajah-wajah bahagia. Lega. Setelah tiga tahun berjuang dan berhasil melalui tantangan di sekolah itu. Tiara tiba sekitar 30 menit sebelum acara dimulai. Ia mengenakan kebaya berwarna hijau yang sengaja disenadakan dengan pakaian Ibu. Hari ini, Tiara bermaksud menegaskan, bahwa ia baik-baik saja. Seruncing apa pun kabar miring itu melesat akhir-akhir ini. Terbukti, ia tampak tenang ketika seluruh pasang mata menyoroti kedatangannya mulai saat turun dari angkot. Tiara berjalan sambil menggandeng tangan Ibu. Ini salah satu bentuk perlawanan.


Nahas. Di antara semua itu, Cika telah menyiapkan senjata pamungkas. Serta-merta ia menyebarkan video Ibu sedang beraksi di atas pentas dengan tarian erotis candoleng-doleng*, di sebuah acara resepsi pernikahan. Entah dari mana lagi Cika mendapatkannya. Tidak heran, ia punya uang dan dengan mudah membayar siapa saja untuk merekam adegan itu. Tiara tetap duduk tenang, meski tawa orang-orang di sekitarnya jauh lebih mengusik dari awal ia datang. Dalam hati Tiara bertanya-tanya, video apa sebenarnya yang tengah mereka tonton di ponsel masing-masing? Kenapa seheboh itu? Rasa penasaran itu terjawab setelah Linda—salah satu sahabat yang kini memilih menjauhinya—menghampiri dan menunjukkan video itu dari ponselnya. Sesaat Tiara hanya mengernyit, masih belum paham maksud video seronok itu. Sepasang matanya melotot kemudian, dada mendadak sesak. Sekujur tubuhnya lemas, bahkan tak punya cukup kekuatan untuk sekadar memegang ponsel Linda lebih lama. Ia mengembalikan sebelum menjatuhkan benda yang terbilang sangat mewah untuk ukuran dirinya itu. Tiara berusaha mengelak, serupa yang berhasil ia lakukan selama ini. Tapi kali ini berbeda. Perempuan yang sedang mengumbar aurat dalam video itu benar-benar Ibu. Tiara gagal dalam upayanya untuk tetap tenang. Video tadi sukses mengacaukan hati dan pikirannya. Tawa-tawa di sekeliling kian menusuk gendang telinganya. Ia menghambur, berlari sekencangnya meninggalkan tenda itu. Air matanya tumpah ruah tak terkendali. Ia menyetop angkot setibanya di pinggir jalan, sebelum Ibu berhasil menyusulnya. Ia meninggalkan Ibu dan acara perayaan kelulusan yang belum dimulai.


***


Tiara mulai pusing ketika sang sopir memutuskan singgah di Rumah Makan Cijantung agar ia dan penumpangnya bisa istirahat sejenak sambil menikmati menu makan siang. Untunglah. Tiara bisa sekalian cuci muka untuk menyegarkan diri. Rumah makan yang masih berada di kawasan Kabupaten Maros ini memang paling ramai disinggahi oleh mereka yang tengah melakukan perjalanan Makassar-Bone.


Tiara teringat kembali. Di hari pelarian itu, ia juga singgah untuk makan siang di tempat ini. Empat tahun tidak membawa perubahan apa-apa untuk rumah makan yang disebut-sebut sebagai titik tengah Makassar-Bone ini.


Entah pikiran apa yang menghuni ruang kepala Tiara hingga memutuskan untuk lari dari kenyataan pada hari itu. Semuanya terlalu kacau dan sulit diuraikan dengan kata-kata. Pada akhirnya, setelah berhari-hari menghindari Ibu karena kemunculan video itu, Tiara memutuskan untuk bicara baik-baik. Malam itu, ia sama sekali tidak bisa tidur sebelum mendapatkan penjelasan yang diinginkan. Tiara terdiam di ruang depan, menunggu Ibu yang lewat tengah malam belum pulang juga. Setelah menunggu hampir dua jam, Ibu muncul dari balik pintu. Wajah letihnya masih dibalut sisa-sisa make up menor yang mulai bercampur dengan keringat. Jadi sedikit aneh.

__ADS_1


"Kenapaki belum tidur, Nak?" Ibu tampak kaget menemukan Tiara tengah menunggunya.


"Mauka bicara sebentar, Mak!" Tiara berucap pelan setelah menghela napas panjang.


Sambil bertanya-tanya dalam hati, Ibu lekas duduk berhadapan. Mereka diantarai meja panjang yang terbuat dari rotan. Ibu menunggu Tiara bersuara duluan, sambil meletakkan tas jinjing di kursi sebelahnya kemudian melepas jaket yang dikenakannya untuk menghalau angin malam.


"Jadi selama ini Mak ma*candoleng-doleng?" Suara Tiara bergetar.


Ibu terkesiap. Apa pun yang tengah dilakukannya terhenti total. Mematung. Keheningan menyelinap di antara mereka.


"Iya," lirih Ibu setelah menarik napas panjang demi menormalkan degup di dada yang mendadak berpacu tak wajar.


Hati Tiara bak tergelincir ke palung terdalam demi mendengar jawaban itu. Air matanya berhambur tanpa mampu dicegah.


Ibu tak mampu mengeluarkan sepenggal kata pun sebagai sanggahan demi menjaga keutuhan hati putrinya. Hanya nada sesenggukan yang ia perdengarkan yang semakin jelas memecah hening malam. Jemari tangannya saling meremas. Banyak hal berkecamuk di dada, namun tak satu pun yang mampu ia utarakan. Tak ada niat untuk bela diri. Ia hanya takut sikap anaknya akan berubah setelah ini.


Kenyataan ini serupa obat bius yang menjalar dengan cepat ke seluruh syaraf Tiara. Membuatnya kehilangan kemampuan gerak selama beberapa saat. Bahkan, sekadar mengeluarkan air mata saja rasanya sudah tidak sanggup. Tatapannya menerawang hampa. Dan tanpa diundang, sesuatu mulai bertunas di hatinya. Rasa kecewa yang akut, bahkan menyerupai benci.


Tiara memilih angkat kaki lebih dulu dari suasana mencekam itu. Suara derap kakinya berakhir dengan bantingan pintu kamar yang membuat Ibu tersentak. Hati Ibu semakin tak keruan setelahnya. Kini, ia sendiri, membiarkan dirinya larut dalam situasi yang ia sendiri sulit untuk memahami.


Tiara tidak tidur malam itu. Ia berpikir keras bagaimana mesti menghadapi kenyataan yang ada. Ia paham permasalahan ekonomi yang tak pernah beranjak dari kehidupan mereka, tapi tak menyangka Ibu sampai rela jual diri. Ia berbesar hati menerima pekerjaan Ibu sebagai biduan organ tunggal yang kerap tampil dengan busana mini, tapi tak habis pikir perempuan yang telah melahirkannya itu sampai berani memeragakan aksi candoleng-doleng. Hal ini tak lantas membuat Tiara serta-merta menyalahkan Ibu. Ia hanya ingin menjauh dari keadaan itu.


Cahaya matahari pagi baru saja jatuh dan menghantarkan kehangatan ke permukaan bumi. Tiara selesai mengemas barang-barang yang akan ia bawa pada rencana besarnya kali ini, ketika Ibu mengetuk pintu kamar sambil memanggil-manggil.

__ADS_1


"Tiara ... buka pintuta*, Nak!"


Tiara geming. Sama sekali tidak berniat untuk menjawab, terlebih membuka pintu.


"Mauka ke pasar, Nak. Sudahmi* kumasakkanki nasi goreng. Ada di bawah pattongko*."


Mendengar Ibu tengah pamit untuk ke pasar, tekad yang membuat Tiara merenung sepanjang malam semakin bulat. Ia memilih pergi dari rumah itu daripada menjalani hari-hari yang tentu tak akan semudah sebelumnya. Ia tidak punya rencana dan tujuan yang jelas. Ia hanya ingin menghilang secepatnya.


***


Catatan kaki:


*Bergelayut. Sebutan untuk aksi erotis yang dipertontonkan para biduan organ tunggal di acara resepsi pernikahan dan semacamnya. Terkadang mereka tidak segan memperlihatkan buah dada mereka menjelang tengah malam, setelah pesta dibubarkan. Tarian ini diiringi musik dugem tanpa nyanyian, melainkan desahan yang seolah-olah sengaja dibuat untuk mengundang hasrat birahi kaum lelaki. Untuk di daerah Makassar dan sekitarnya, pertunjukan semacam ini marak di tahun 2000-an.


*Imbuhan dalam logat Bugis yang berarti melakukan.


*Partikel ta pada aksen khas orang Bugis mengindikasikan kepunyaan atau milik. Patikel ini digunakan untuk menghargai lawan bicara. Bertutur dengan sopan.


*Partikel khas dalam dialek Makassar yang sering diikut-ikutkan saat berbahasa Indonesia. Umumnya partikel ini berfungsi untuk menegaskan kata yang ditempelinya, dan sama sekali tidak memiliki arti jika berdiri sendiri.


*Tudung saji.


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2