
Aku lebih baik mati daripada hidup tapi terasa mati.
---
Sengkang, tahun 1998
Sudah hampir setahun aku terjebak dalam kegelapan yang diawali dengan cinta. Sebuah harapan membina rumah tangga idaman. Namun sejak sosok Daeng Hasan seolah ditumpangi oleh jiwa orang lain, keindahan enggan mendekati hidupku. Tinggal satu yang masih tersisa, senyuman Tiara. Meski anak itu tumbuh dalam situasi yang rumit, ia semakin cerdas. Badannya tampak montok. Bersamanya, aku bisa melupakan sejenak beban hidup yang nyaris tak kuasa kupikul ini. Ia tentu belum bisa memahami bara api yang tengah kugenggam. Yang ia tahu, ia punya aku, seorang ibu yang selalu menyiapkan makanan untuknya. Ia juga punya Daeng Hasan, seorang ayah yang selalu membawanya jalan-jalan, tak peduli tempat itu cocok untuknya atau tidak. Di mata anak berumur tiga tahun, semua ini jadi menyenangkan. Daeng Hasan berhasil membuatnya suka. Sedang aku? Aku sudah terbiasa ditinggal sendiri. Daeng Hasan selalu membawa Tiara ke mana pun ia pergi. Termasuk ke tempat berjudi, atau bahkan saat bercinta dengan selingkuhannya, wanita biadab yang begitu bangga ditiduri oleh suami orang.
__ADS_1
Aku memang tidak perlu ke mana-mana. Cukup berdiam diri di rumah, menunggu lelaki mana pun yang datang untuk menjamah tubuhku. Entah perkara utang atau lagi-lagi aku dijadikan barang taruhan. Hal ini sudah jadi makanan sehari-hari. Melawan hanya akan membuatku semakin letih. Buang-buang tenaga. Tubuhku seolah dijadikan mesin penghasil uang. Demi tidak mendapatkan anak yang tidak jelas, aku rutin mengonsumsi pil KB. Pil-pil itu perlahan-lahan membuatku kebal, benar-benar sudah seperti robot yang siap disuruh untuk melakukan apa saja. Daeng Hasan tidak pernah lagi menggauliku. Kecuali saat mabuk dan perempuan jalang itu tidak ada di sampingnya. Itu pun sangat kasar dan sama sekali tanpa perasaan kasih sayang.
Sewaktu-waktu, Daeng Hasan juga memaksaku ikut dengannya. Ke suatu tempat, menemui seseorang yang harus kulayani. Sementara tubuhku tengah dinikmati lelaki lain, Daeng Hasan akan menunggu di luar sambil menjaga Tiara. Mereka akan melakukan beberapa permainan ringan agar Tiara betah dan tidak merengek minta pulang. Terkadang, di tengah engahan napas lelaki yang sedang memacu nafsu di atas tubuhku, aku bisa mendengar gelak tawa putri kecilku. Bisa kupastikan, ia sedang berada di punggung ambonya. Mereka sedang main kuda-kudaan. Di saat seperti itu, aku selalu merasa menjadi manusia paling malang di muka bumi ini.
Terkadang Daeng Hasan juga hanya perlu menunggu di rumah. Membiarkan lelaki lain membawaku ke mana pun. Kadang ke tempat hiburan, ke kamar pribadi mereka, dan banyak lainnya. Mereka punya tempat favorit masing-masing untuk menikmati tubuhku. Setelah puas, mereka mengantarku pulang. Saat itulah paling memilukan. Setiap kali melihat mereka menyodorkan lembaran-lembaran rupiah yang disambut dengan mata cerlang oleh Daeng Hasan. Bila bayarannya kurang, artinya pelayananku tidak memuaskan. Kekurangannya menjelma tamparan-tamparan yang mulai terasa biasa di pipiku.
Seiring berjalannya waktu, Daeng Hasan semakin menguasai permainan. Siapa pun yang melihat kami, pasti mengira keluarga kami baik-baik saja. Malah tampak harmonis. Ia menikmati kegilaannya sambil berpura-pura tetap baik terhadapku di depan semua orang. Aku pun turut terlatih menebar senyum palsu jika tidak ingin mendapatkan luka lebam saat pulang ke rumah. Semua kepalsuan yang melekat di wajah Daeng Hasan berhasil menipu banyak orang. Termasuk Mak, Puang Sudi, dan semua keluarga di Watampone saat kami mengunjungi Mak yang waktu itu kondisinya sempat kritis.
__ADS_1
***
Hari ini aku merasa sangat lelah. Kesabaranku tak tersisa sedikit pun. Kami baru saja pulang dari markas setan. Aku menyebutnya seperti itu. Tempat Daeng Hasan melakukan transaksi, tempat aku melayani lelaki tak tentu. Lelaki yang sudah lama menjelma setan di mataku itu langsung tertidur pulas. Tampak sangat lelah setelah leluasa menjual tubuhku. Dengan pikiran yang semakin kacau, aku melangkah ke dapur. Aku mengambil pisau yang biasa kugunakan untuk memotong ikan. Di sinilah hidupku akan berakhir. Aku lebih baik mati daripada hidup tapi terasa mati. Dengan begini, aku tidak perlu takut kehilangan Tiara. Aku tetap bisa menjaganya dari tempat yang berbeda.
Pisau itu sudah terangkat di atas kepala. Ujung runcingnya mengarah ke perut, membidik sasaran. Aku memejamkan mata, seolah benar-benar siap meninggalkan dunia ini, mengakhiri segenap penderitaan yang ada.
"Sedang apaki?" Suara polos itu hadir bersamaan dengan pelukan tangan mungil di paha kananku. Aku membuka mata, menemukan wajah Tiara tengah mendongak memandangku. "Haus, Mak," rengeknya. Aku meletakkan pisau yang nyaris merobek perutku. Kemudian lekas mengambilkan Tiara air minum. Sepertinya aku memang lupa memberi minum sebelum menidurkannya tadi. Ia memang kebiasaan bangun tengah malam dan minta air minum. Terlepas dari hal itu, aku rasa ini cara Tuhan menggagalkan niatku. Tuhan ingin aku berjuang, bukan malah menyerahkan diri pada kematian.
__ADS_1
***
[Bersambung]