Ibu Bukan Pelacur

Ibu Bukan Pelacur
Bumi Mendadak Gelap


__ADS_3

Pada akhirnya masing-masing orang harus berbesar hati menghadapi takdir yang sudah digariskan untuknya.


---


SELAMAT DATANG DI KOTA WATAMPONE


KOTA BERADAT BUMI ARUNG PALAKKA


Tiara melongok ke luar demi membaca kalimat itu pada gapura yang dibangun di perbatasan Kota Watampone. Senyumnya merekah. Dulu, sempat bercokol niatan di benaknya untuk tidak kembali lagi ke kota ini selamanya. Tidak akan melihat lagi gapura bermodel songkok recca* itu.


Tiara menarik napas dalam-dalam ketika mobil yang ditumpanginya mulai memasuki kawasan Desa Bajoe, membiarkan aroma khas kampung halaman memenuhi rongga dadanya. Ia mulai memikirkan kalimat pertama yang akan ia ucapkan kepada Ibu nanti. Haruskah ia menangis dan langsung berlari mendekap perempuan itu? Atau bersikap biasa-biasa saja? Ia mendadak gelisah.


Tiara penumpang terakhir yang diantar ke tempat tujuan. Penumpang lain sudah turun satu per satu sebelumnya. Mobil yang kini hanya berisikan ia dan sang sopir berhenti di depan Masjid Nurul Huda. Di samping masjid itu ada jalan setapak. Di ujung jalan itulah rumah kontrakan yang pernah ia tempati bersama Ibu berada. Tiara melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Ia memang merencanakan akan tiba jam segini, ketika kebanyakan orang di kampung itu masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing atau sedang lelap dalam tidur siangnya. Jadi tidak terlalu banyak orang yang akan menyoroti kedatangannya. Benar saja, sepanjang jalan sepi. Hanya terlihat beberapa bocah di pinggir jalan yang tengah sibuk dengan permainannya, dunia yang hanya dimengerti oleh mereka.


Langkah Tiara berhenti di halaman sebuah rumah petak yang tampak tak terurus dan terkesan kumuh. Dindingnya masih telanjang, memperlihatkan susunan batu bata tanpa lapisan semen dan cat atau apa pun. Daun-daun kering serta sampah plastik berserakan. Ada apa dengan Ibu? Kenapa jadi tak sempat mengurus rumah seperti ini?


Tiara melanjutkan langkah, membawanya tiba di teras dan tengah bersiap untuk mengetuk pintu. Mendadak sesuatu menyesaki dadanya setelah ketukan pertama dan kalimat salam terucap. Berselang lama, tidak ada jawaban. Diulanginya lagi setelah bola matanya berputar sejenak mengamati langit-langit teras yang dipenuhi sarang laba-laba. Masih tak terdengar jawaban. Tiara mengintip lewat jendela yang setengahnya tertutup gorden dengan warna yang mulai pudar. Tidak ada tanda-tanda Ibu sedang di dalam. Kemudian ia teringat dengan Tante Siska, rekan kerja Ibu sesama biduan. Perempuan yang gemar mewarnai rambutnya itu juga mengontrak sepetak rumah tepat di samping rumah mereka. Ia pasti bisa memberitahukan keberadaan Ibu. Tiara bergegas beranjak ke rumah sebelah. Setibanya, ia mendapati hal serupa. Rumah Tante Siska juga kosong. Atau mereka sedang ada job siang?


"Tiara ...?" Seseorang menyapa dengan ekspresi setengah tercengang ketika Tiara hendak mengulang mengetuk pintu rumah itu sekali ekspresi.


Tiara menoleh dan mendapati wajah yang sangat ia kenal. Perempuan paruh baya yang gemar berdaster itu adalah Bu Hasna, pemilik warung kelontong yang hanya berjarak tujuh rumah dari rumahnya. Dulu, Tiara sering belanja kebutuhan sehari-hari di sana.


"Kamu benar Tiara, kan?" Tatapan perempuan bertubuh gempal itu masih menyemburkan tanda tanya.


Tiara mengangguk seraya tersenyum. Kemudian ia mendekat untuk menjabat tangan Bu Hasna, menepis riak-riak heran di wajahnya yang mulai mengeriput itu.


"Kamu dari mana saja? Kenapa lama sekali baru pulang?"


"Kuliahka di Makassar, Bu."


Bu Hasna hanya ber-o panjang, meski ia yakin jawaban itu bukan alasan yang sebenarnya. Bagaimanapun, ia sangat mengenal Ibu. Ia paham benang merah yang melintang di tengah hubungan pasangan ibu-anak itu. Sering kali ia menyaksikan langsung hari-hari sulit yang terpaksa dilalui Ibu pasca ditinggal kabur sang anak.


"Kita* lihat makku?"

__ADS_1


Mendadak raut wajah Bu Hasna berubah.


"Sudah beberapa minggu ini makmu sakit parah. Ia dirawat di rumah sakit."


"Ha? Sakit?" Penuturan itu membuat gemuruh di dada Tiara lebih kacau dari sebelumnya. Matanya berkaca-kaca kemudian. Ia benar-benar bingung harus bagaimana sekarang. "Rumah sakit mana, Bu?"


"Rumah Sakit Umum Tenriawaru. Sebaiknya kamu lekas ke sana!"


"Iye*. Langsungma* ke sana, Bu!"


"Tasnya simpan aja dulu di rumah. Nanti biar diantar sama Imran."


Sepintas, Tiara teringat masa lalunya dengan Imran. Putra bungsu Bu Hasna itu pernah terang-terangan menyatakan perasaannya. Tapi Tiara menolak dengan sopan. Alasannya waktu itu, ia enggan berpacaran dengan tetangga yang sudah teramat baik terhadapnya, bahkan terasa sudah seperti saudara. Meski begitu, mereka tetap berteman baik setelahnya. Imran pemuda baik-baik, taat beribadah dan sangat patuh terhadap orangtua. Ia alumni SMA Negeri 1 Watampone, sekolah menengah atas terbaik di kota itu.


Tiara menunggu Imran yang tengah siap-siap. Ia duduk di depan warung, kolong rumah panggung yang telah disulap jadi tempat mencari nafkah. Bu Hasna baru saja mengambil alih dan membawa barang-barangnya ke dalam. Ia sedang menikmati sebotol minuman dingin ketika Imran sudah siap dan sedang menuruni tangga. Pemuda itu, mungkin masih menyimpan sekeping rasa yang dulu pernah teramat sangat menyesaki dadanya. Seharusnya ia tidak perlu secanggung itu. Tiara sampai harus berdiri dan menyapa duluan. Tiara tidak heran, tetangganya itu memang agak pemalu.


"Apa kabar?" Tiara mengulurkan tangan.


Tiara hanya mengangguk. Imran beranjak menyiapkan kendaraan, sebuah motor matic warna merah yang telah menemani kesehariannya sejak SMA.


***


Di koridor rumah sakit, Tiara dan Imran berpapasan dengan Tante Siska. Ia bersama beberapa orang perawat yang tengah membawa pasien di atas ranjang beroda. Mereka panik dan tampak tergesa-gesa.


"Tante Siska, mauki ke mana?" hadang Tiara.


"Tiara?" Langkah tergesa-gesa Tante Siska mendadak terkunci demi memastikan seseorang yang baru saja menggaet tangannya.


"Tante, mana makku?"


Bibir Tante Siska malah bergetar hebat, tak mampu bersuara. Ia hanya menunjuk ke arah rombongan perawat tadi yang telah menjauh. Tiara paham, kondisi Ibu pasti sedang mengkhawatirkan. Mereka lekas menyusul para perawat tadi. Tiara berlari demi bisa lekas melihat Ibu yang terbaring lemah di atas ranjang beroda itu. Maka air matanya tumpah ruah setelah melihat tubuh yang dulunya tegap berisi, kini begitu lemah dan ringkih.


"Mak ...!" panggil Tiara di sela tangis yang kian hebat. Ia sangat berharap mata Ibu bisa terbuka walau hanya sedetik demi melihat kepulangannya. Namun mata itu malah seolah semakin rapat mengatup. Tiara baru berhenti memanggil-manggil setelah seorang perawat menahan dan memintanya menunggu di luar. Ibu akan ditangani di ruang ICU. Tubuhnya merosot di kursi tunggu. Ia menopang kepala dengan kedua tangannya. Air matanya terus berjatuhan, membasahi lantai rumah sakit yang dipasangi ubin putih bersih.

__ADS_1


Tangan Tante Siska mendarat di punggung Tiara. Mengelus, menenangkan. Tiara beralih bersandar, berbagi kekalutan dengan teman seperjuangan ibunya itu. Sebenarnya Imran cukup bingung melihat pemandangan itu, tapi ia memilih diam.


"Kenapa kamu tega ninggalin makmu?"


Tiara kian terenyuh mendengar pertanyaan itu.


"Apa pun yang ia lakukan, semua demi melihatmu bahagia. Sampai-sampai ia lupa memilah cara yang benar dan salah."


Entah apa yang harus diucapkan Tiara. Ia hanya terus sesenggukan.


Seorang dokter perempuan keluar dari ruang ICU. Langsung disambut oleh Tiara dan Tante Siska. Keduanya sigap berdiri.


"Dokter, bagaimana keadaan Mak saya?" suara terbata Tiara nyaris tak terdengar.


"Saya harap, kamu bisa tabah. Kami sudah mengupayakan yang terbaik, tapi Tuhan lebih dulu menetapkan kehendak."


Deg!


Jantung Tiara seakan terhenti. Kepalanya mendadak terasa berat. Ribuan bintik cahaya yang menyerupai kunang-kunang serta-merta mengacaukan penglihatannya, sebelum semuanya berubah gelap dan tubuhnya ambruk. Pingsan.


***


Catatan kaki:


*Peci khas Bugis.


*Makna kata 'kita' dalam bahasa pergaulan orang Makassar melebur menjadi 'Anda' (sopan).


*Iya.


*Akhiran 'ma' berfungsi menggantikan kata "aku".


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2