Ibu Bukan Pelacur

Ibu Bukan Pelacur
Catatan Usang


__ADS_3

Semoga dengan buku itu, kamu bisa mengenal sosok makmu yang sesungguhnya. Dan semoga tidak lagi menyesal terlahir dari rahimnya.


---


"Tiara, akhirnya kamu pulang, Nak." Ibu menatap Tiara dengan rasa bahagia yang membuncah. Ayunan bening membuat sepasang bola matanya berkilau.


Tiara tak kuasa menahan tangis, bahunya terguncang hebat.


"Pelukka, Nak!" pinta Ibu dengan suara yang semakin tipis. Maka serta-merta Tiara mendekap tubuh ringkih yang tampak kian lemah itu. Tangan Ibu melingkar di punggung Tiara. Mereka berbagi kehangatan dada.


"Minta maafka, Nak. Mak sudah mengecewakan kamu. Mak gagal jadi Ibu yang bisa dibanggakan." Suara tersendat-sendat Ibu mengutus alunan pilu. Tiara mengeratkan dekapannya, bermaksud mencegah Ibu bicara lebih jauh. Ia pulang bukan untuk mempermasalahkan hal itu lagi.


Lamat-lamat, terdengar suara lain yang memanggil Tiara. Semakin jelas, hingga Tiara bisa mengenali suara itu milik Imran. Tiara membuka mata perlahan-lahan, menemukan wajah panik pemuda berpipi tembam itu.


"Kenapa aku di sini?" Tiara mengedarkan pandangan. Ia berada di kamar rumah sakit.


"Tadi kamu pingsan."

__ADS_1


Serta-merta air mata kembali membanjiri kedua pipi Tiara setelah menyadari pertemuannya dengan Ibu tadi hanya terjadi di alam bawah sadar.


"Mana makku?"


"Sudah dipulangkan pakai ambulans. Tante Siska terpaksa ninggalin kamu. Ia ikut di ambulans untuk mengurus segala sesuatunya. Kita juga harus segera pulang untuk menyiapkan pemakaman makmu."


Sesuatu yang bergemuruh di hati Tiara saat ini sangat sulit diuraikan dengan kata-kata. Bukan sekadar sesal. Lebih dari sekadar sedih. Dan lebih akut dari rasa bersalah. Semuanya terpilin jadi satu dan membuatnya kesulitan untuk berpikir jernih. Ia bahkan tak sempat memeluk Ibu, mencium tangannya, meminta maaf, mendengar suaranya, atau bahkan sekadar menerima tatapannya. Hal itu yang membuat air mata Tiara semakin deras seiring detik-detik pilu yang terangkai di sisinya.


***


Jasad Ibu dikebumikan menjelang magrib. Tiara tidak akan beranjak dari pusara itu jika saja tak dipaksa oleh Tante Siska. Ia berniat menemani Ibu sepanjang malam. Butuh waktu sekitar sejam sebelum Tante Siska dan Imran berhasil membujuknya untuk pulang. Setelah para pelayat pamit pulang, Tiara menyendiri di teras. Imran yang tak tega melihat kondisi Tiara seperti itu bermaksud menemani. Tapi kemudian pamit juga setelah menyadari Tiara butuh ruang untuk sendiri, berdamai dengan takdir seraya meredakan apa pun yang membuat dadanya masih sesak.


"Jangan terlalu lama larut dalam kesedihan. Sekarang makmu sudah menemukan tempat yang jauh lebih tenang. Daripada ia harus tetap di sini melawan penyakit yang memangsa sel-selnya dengan sadis. Di samping itu, hidupnya memang tidak pernah tenang karena memikirkan kamu setiap hari." Meski tak bermaksud, kalimat barusan kian menyudutkan Tiara.


Tiara tak menoleh, tatapannya menerawang hampa. Seolah mencari secercah cahaya yang mampu membuatnya lebih tenang.


"Sebenarnya makmu sudah lama tahu ada benjolan di payudaranya yang sesekali terasa sakit. Tapi dikiranya hanya benjolan biasa. Ia baru cerita setelah benjolan itu semakin sering sakit. Sebagai orang kampung yang minim pengetahuan, kami hanya berobat ke orang pintar. Hanya dikasih ramu-ramuan yang ternyata tidak membantu sama sekali. Saya sering memintanya agar periksa ke dokter. Tapi katanya sayang uangnya, mending ditabung untuk keperluan kamu nantinya. Ia selalu yakin bahwa penyakitnya bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan. Pasti akan sembuh dengan sendirinya. Tapi pada akhirnya kondisinya semakin memburuk dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Barulah kami tahu bahwa ia terkena kanker payudara yang sudah teramat akut. Dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Pengobatan apa pun katanya sudah terlambat. Setiap hari ia hanya diberi obat penghilang rasa sakit. Hanya agar ia tidak merasakan sakit berlebih di saat-saat terakhirnya." Kalimat Tante Siska basah oleh linangan air mata yang ikut terurai di setiap tarikan napasnya. Ia dan Ibu memang tidak ada hubungan keluarga, tapi pejuangan hidup yang dilalui bersama menjadikan mereka seperti saudara. Begitu banyak tawa dan tangis yang mereka ukir bersama.

__ADS_1


Tiara terenyuh. Rasa bersalah mulai menghimpit dari segala arah. Andai ia tidak pergi waktu itu, ibunya tidak perlu menanggung dan menyembunyikan penyakit ganas itu sendirian. Ia tentu bisa bertindak sebagaimana mestinya.


"Setelah kamu pergi, kamu tidak tahu betapa sulit hari-hari yang dilalui makmu. Ia terus mencarimu setiap hari. Saya pernah menemaninya mencari seharian penuh keliling kota, tanpa hasil apa-apa. Pada akhirnya kami menyimpulkan, kamu berada jauh dari kota ini. Mungkin di tempat yang sulit dijangkau oleh orang kampung seperti kami ini." Tante Siska jeda, meredam tangis. "Ia bekerja keras mengumpulkan uang. Katanya untuk kamu yang sangat ingin jadi dokter. Meski ia sendiri tidak paham seberapa banyak uang yang dibutuhkan untuk kuliah di jurusan kedokteran. Bahkan kamu sendiri tidak jelas akan pulang atau tidak. Dan untuk semua itu, pada akhirnya ia mengorbankan kesehatannya. Bahkan nyawanya." Tante Siska tercekat. Sungguh tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


Sedang Tiara masih menerawang hampa dengan bahu yang semakin hebat terguncang. Sedu-sedannya turut mewarnai malam yang belum pernah terasa semencekam ini.


"Ia memutuskan untuk berhenti jadi biduan. Agar saat kamu kembali, kamu tidak akan kecewa untuk kedua kalinya. Ia jadi buruh cuci sebelum kami memulai usaha bersama demi mengumpulkan uang untuk anak yang telah meninggalkannya."


Setiap kalimat yang diucapkan Tante Siska menjelma ribuan anak panah yang kemudian menghujam ke jantung Tiara secara bersamaan. Ia tidak sanggup membayangkan betapa berat perjuangan yang dilalui Ibu. Demi dirinya yang saat itu tengah memupuk benih kebencian. Menyesal sekarang sungguh tidak akan mengubah keadaan. Tuhan ... takdir macam apa ini?


"Satu hal yang selalu ia takutkan, tidak punya kesempatan untuk membuktikan ketulusannya sebagai ibu, membuatmu memaafkan dan menerima semua masa lalunya. Dan ternyata benar. Keras hatimu membuatnya kehilangan kesempatan itu. Kamu pulang hanya untuk menyaksikan pemakamannya. Tapi itu jauh lebih baik dibanding tidak sama sekali."


Ucapan Tante Siska membuat seisi hati Tiara semakin tak keruan. Tangisnya benar-benar pecah sekarang. Bergaung, memenuhi rona malam yang sesekali dihiasi embusan angin.


"Makmu tak punya apa-apa untuk diwariskan." Tante Siska menghela napas panjang seraya menyusut air matanya. "Hanya ini." Kemudian ia menyerahkan sebuah kotak perhiasan dan buku usang. Tangan Tiara gemetar menerimanya. "Kotak perhiasan itu berisi uang yang berhasil ia kumpulkan selama ini. Sebenarnya ia teramat ingin memberikannya secara langsung." Tante Siska jeda, melirik Tiara yang terpaku menatap kedua benda di tangannya. "Sedang di buku itu, diam-diam ia menulis kisah hidupnya yang tidak diduga akan sedramatis ini. Ia ingin kamu membacanya. Semoga dengan buku itu, kamu bisa mengenal sosok makmu yang sesungguhnya. Dan semoga tidak lagi menyesal terlahir dari rahimnya."


Tiara mengabaikan kotak perhiasan yang sudah jelas isinya. Ia lebih tertarik pada buku usang bersampul biru itu. Diusapnya perlahan, seolah merasakan kehangatan di sana. Masih dengan tangan gemetar, ia membuka halaman pertama setelah Tante Siska kembali ke dalam, membiarkannya leluasa bercengkerama dengan sejuta kenangan Ibu. Pada lembaran yang mulai menguning, serta tinta pulpen yang agak luntur, Tiara melihat bayangan senyum Ibu.

__ADS_1


***


[Bersambung]


__ADS_2