
Aku sadar ini tidak semestinya, tapi aku berharap tulisannya benar-benar mewakili isi hatinya.
---
Sudah hampir dua bulan aku menjalani pekerjaan baru ini. Aku masih selalu berangkat bareng Siska, meski sesekali terpaksa berangkat sendiri naik ojek jika job kami berseberangan. Siska masih terus mengajariku. Selain teknik bernyanyi, juga sikap-sikap yang harus dijaga. Ia selalu mengingatkan bahwa dunia malam yang kami geluti ini kurang sehat. Aku merasa beruntung bisa mengenal Siska. Di balik penampilannya yang rada nakal, hatinya sangat mulia.
Aku nyaman menjalani semua ini. Meski harus kerja malam dan terpaksa sering-sering meninggalkan Tiara, jauh lebih baik daripada harus menyerahkan tubuh untuk dinikmati oleh lelaki tak tentu. Aku belum bisa melupakan masa-masa itu. Wajah Daeng Hasan masih sering muncul, bahkan sesekali menjelma mimpi buruk. Sejauh ini tidak ada kabar apa-apa dari Daeng Hasan. Sepertinya topeng kepalsuan yang ia pelihara tidak membuatnya cukup berani untuk datang menjemput dan menyeretku kembali ke dalam dunianya. Semoga ia benar-benar tidak akan muncul lagi di hadapanku.
Aku prihatin terhadap Tiara. Masih kecil ia telah kehilangan figur seorang ayah. Sesekali ia menanyakan keberadaan ambonya, dan aku sering kehabisan kata untuk menjawab. Meski terkadang aku mengambil job di luar kota yang mengharuskanku tidak pulang selama dua hari, aku tidak ingin Tiara juga kekurangan kasih sayang dariku.
Setelah menerima honor pertama, tempat pertama yang kutuju adalah wartel. Aku harus menelepon Daeng Ida dan menceritakan semuanya. Termasuk status rumah Mak yang diambil alih oleh orang tak semestinya. Mendengar rentetan derita yang kualami, Daeng Ida tidak bisa banyak bicara, ia hanya sesenggukan di seberang sana. Sedang perihal rumah Mak, sama sepertiku, Daeng Ida tidak menyangka Puang Sudi akan setega itu. Bila ada waktu, ia dan suaminya akan datang untuk memastikan keaslian surat wasiat itu.
***
Aku heran dengan kemunculan Dahlan pagi-pagi begini. Tidak biasanya.
__ADS_1
"Selamat pagi," sapanya ketika aku sedang sibuk menjemur cucian di halaman rumah.
"Eh, kamu. Kok, tumben? Nggak kerjaki?" Aku menghentikan segenap aktivitas, merapikan ujung kaus serta rambut yang menjuntai tak beraturan. Namanya juga orang habis mencuci, pasti berantakan. Namun, entah sejak kapan aku selalu ingin tampil rapi di depan Dahlan. Jangan tanya kenapa.
"Aku sengaja minta jatah libur lebih awal. Maksudnya pengin ngajakin kamu dan Tiara jalan-jalan bila berkenan."
"Wah. Dalam rangka apa, nih?"
"Masih ingat aku pernah cerita soal lomba menulis cerpen waktu itu?"
"Cerpenku juara satu," timpalnya loncat-loncat kegirangan.
"Serius? Wah, hebat. Selamat, ya!" Tanpa sadar, aku juga ikut loncat-loncat. Kami berdua seperti anak kecil yang baru saja dikasih balon.
Setelah menyadari tingkah konyol tadi, kami saling menertawakan. Kemudian ia memberiku majalah yang telah memuat cerpennya itu. Dengan bangga ia memaparkan bahwa cerpennya otomatis terpilih sebagai cerpen utama dan judulnya tampil di kover majalah. Matanya berbinar, wajahnya berseri-seri saat menunjukkannya padaku. Di sini aku benar-benar melihat kecintaan Dahlan pada dunia menulis. Menulis membuatnya menemukan kebahagiaan. Tak heran jika ia sangat tertekan ketika ambonya berusaha menghalang-halangi.
__ADS_1
"Majalah ini khusus membahas seputar dunia perempuan, jadi buat kamu aja. Banyak info menarik di dalamnya, yang mungkin bermanfaat buat kamu. Kalau ada waktu, cerpenku juga dibaca, ya," pinta Dahlan dengan sebaris senyum miring yang akhir-akhir ini sering melintas di benakku.
"Pasti. Aku akan menyimpan majalah ini dengan baik."
***
Meski sebenarnya aku cukup lelah setelah manggung tadi malam, aku tidak mungkin menolak ajakan Dahlan. Lagipula, bersama lelaki berhidung mancung itu selalu ada hal yang sulit kujelaskan. Sudah sekitar sejam kami mengitari Pasar Sentral Watampone. Dahlan membeli beberapa keperluan, juga oleh-oleh untuk maknya. Nanti sore ia akan pulang ke Atapange. Ia juga berniat membelikanku sesuatu, katanya tidak usah sungkan. Tapi sebuah boneka beruang berukuran besar untuk Tiara rasanya sudah cukup. Tiara sangat senang, meski tampak kewalahan membawa boneka yang lebih besar dari tubuhnya itu. Awalnya ia bersikeras menggendong sendiri boneka itu, tapi setelah capek akhirnya menyerah juga. Aku gantian membawa bonekanya, sedang ia menyamankan diri di punggung Dahlan. Orang-orang yang melihat pasti mengira kami ini sebuah keluarga yang tengah menikmati waktu bersama. Aku sendiri secara tidak wajar sempat berandai-andai Dahlan menjadi ambonya Tiara. Ah, pasti hidup ini terasa sempurna.
Selesai berbelanja, kami tidak langsung pulang, malah singgah di Taman Bunga Arung Palakka. Aku lega ketika Dahlan mengajak singgah di sini, karena memang tidak ingin kebersamaan ini cepat-cepat berakhir. Lagi-lagi aku tidak mengerti alasannya. Kami duduk di sebuah bangku, dipayungi bayangan pohon rimbun. Ia bertanya seputar pekerjaanku. Aku pun bercerita tanpa ada yang ditutup-tutupi. Obrolan itu berlanjut dengan membahas seputar impiannya untuk menjadi penulis terkenal suatu hari nanti. Bahkan ia bercita-cita ingin mendirikan usaha penerbitan buku. Dahlan tak pernah bosan mengutarakan mimpinya itu, meski sudah berkali-kali. Diam-diam aku kagum dengan tekadnya. Sesekali aku mendadak salah tingkah ketika degup tak wajar berlaga di dada. Maka segera kuredakan dengan pura-pura mengamati Tiara yang tengah berlari ke sana-kemari sambil mendekap boneka barunya.
Bersama Dahlan, waktu terasa cepat berlalu. Sore telah tiba dan akan segera berganti senja. Aku tiba di rumah, sedang Dahlan mungkin tengah bersiap pulang ke Atapange. Tiara langsung ke rumah Bu Hasna untuk memamerkan boneka barunya kepada Imran. Aku masuk ke kamar, merebahkan diri serta hati yang masih dipenuhi sisa-sisa sensasi kebersamaan dengan Dahlan. Tiba-tiba aku teringat dengan majalah yang ia berikan tadi pagi. Aku beranjak sebentar untuk mengambilnya di lemari. Aku kembali tiduran setelah menemukan posisi halaman tulisan Dahlan berada. Sebuah cerpen berjudul Perempuan Utusan Hujan. Aku membacanya dengan seksama. Degup di dada kian berkecamuk ketika kudapati cerpen itu malah menceritakan pertemuan pertama kami waktu itu, pertemuan yang dilatarbelakangi oleh hujan. Tulisan Dahlan membuatku hanyut, seolah masuk ke cerita. Pada akhirnya lelaki dalam cerita itu menyukai perempuan yang ia temui di tengah hujan. Dengan bodohnya aku senyum-senyum sendiri, berharap yang dituliskan Dahlan dalam cerpen itu benar-benar kisah kami, pun dengan perasaan tokoh lelaki yang sama dengan perasaannya. Buru-buru kutepis rasa yang merangsek begitu saja. Ini tidak wajar. Aku harus sadar, aku masih berstatus istri orang. Lagipula Dahlan tidak mungkin menyukai perempuan sepertiku, sebagaimana lelaki yang ia kisahkan dalam cerpennya. Ia hanya sebatas terinspirasi dari pertemuan kami itu. Tidak lebih!
***
[Bersambung]
__ADS_1