
Tidak selamanya kenangan harus disimpan. Jika memang untuk kebaikan, tidak apa-apa melepasnya.
---
Ketika aku mulai tertidur, tiba-tiba dikagetkan oleh suara tangis Tiara yang tak seperti biasanya. Aku tersentak setelah memeriksa kondisinya. Badannya panas banget. Aku jadi panik. Ini pasti efek didera angin malam dan hujan waktu itu. Aku berlari keluar untuk mencari obat. Tapi tengah malam begini tidak ada warung yang buka di sekitar sini. Bila harus mencari lebih jauh lagi, aku khawatir meninggalkan Tiara sendirian. Aku juga tidak mungkin menggendongnya, ikut keluyuran mencari obat tengah malam begini. Hal ini membuatku bingung.
"Kenapaki, Bu?" tanya seseorang dari rumah sebelah, setelah melihatku mondar-mandir di teras.
Aku menoleh ke arah perempuan yang sedang berjalan mendekat. Aku heran melihatnya mengenakan helm. Mau ke mana ia tengah malam begini? Atau baru pulang dari suatu tempat?
"Anakku sakit, badannya panas. Aku harus cepat-cepat memberinya obat penurun panas. Tapi warung-warung sudah pada tutup." Aku memperdengarkan kecemasan.
"Kalau gitu tunggu di sini, biar aku yang keluar mencari obat. Di jalan menuju kota ada warung yang buka 24 jam." Perempuan itu lekas beranjak ke rumahnya, tampak tergesa-gesa menyalakan motornya dan langsung melesat. Aku bahkan tidak sempat memberinya uang pembeli obat.
Sambil menunggu kepulangan perempuan tadi, aku mencoba menenangkan Tiara. kugendong sambil mengelus-elus punggungnya. Tangisnya tak kunjung usai, membuatku semakin panik.
Sekitar 15 menit kemudian perempuan tadi pulang dengan membawa sebotol obat sirup penurun panas. Juga permen kapas untuk memudahkan membujuk Tiara agar mau minum obat. Tapi dari mana ia tahu bahwa anak ini memang susah disuruh minum obat? Aku duduk sambil memangku Tiara. Perempuan berambut pirang tadi mulai menyiapkan obat, menuangnya beberapa tetes ke sendok. Setelah dibujuk dengan kata-kata manis dan sebuah permen kapas, Tiara meredam tangis dan mau membuka mulut untuk menelan obatnya. Perempuan bertubuh ramping ini tampak berpengalaman menghadapi anak kecil. Mungkin ia juga punya anak seumuran Tiara. Beberapa saat kemudian Tiara tidur sambil memeluk permen kapasnya. Aku memeriksa keningnya, panasnya mulai turun. Aku benar-benar lega dan sangat berterima kasih kepada Siska. Ya, perempuan yang membantuku malam ini bernama Siska, kami sudah berkenalan. Ia juga mengontrak di rumah sebelah. Sewaktu melihatku tengah panik tadi, ia baru pulang kerja. Ia seorang biduan organ tunggal yang kebanyakan mendapat panggilan manggung di malam hari. Biasanya untuk acara resepsi pernikahan atau hajatan khusus. Bayarannya tidak seberapa, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terangnya.
"Ah, tidak usah!" Ia menolak saat aku hendak mengganti uang untuk beli obat tadi. Aku jadi tidak enak. Aku bersyukur, di balik semua masalah yang ada, Tuhan masih mendekatkanku dengan orang-orang baik.
"Jadi hari pertamaki tinggal di sini?" tanyanya lagi sambil kami melangkah keluar. Ia pamit setelah memastikan Tiara sudah tidak apa-apa.
Aku hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Syukurlah! Akhirnya aku punya teman ngobrol. Aku boleh sering-sering main ke sini, kan?"
"Tentu saja."
"Ya udah. Besok kita sambung lagi. Sudah larut."
__ADS_1
Aku tersenyum, mengiyakan.
***
Masih pagi-pagi sekali Siska sudah teriak di ambang pintu. Meski baru kenal tadi malam, aku yakin suara melengking tadi miliknya. Tiara lebih dulu berlari keluar, dengan setangkai permen kapas di tangan kanan yang sudah dimakan setengahnya.
"Eh, Sayang. Mak mana?" Suaranya terdengar akrab menyapa Tiara. Bahkan setelah aku muncul dari dapur, Tiara sudah berada dalam gendongannya.
"Ke sebelah, yuk! Sarapan bareng."
Aku belum mengiyakan, ia malah sudah berbalik, berlalu bersama Tiara. Anak itu, cepat sekali akrab dengan orang yang baru ditemuinya.
Rumah Siska sama besarnya dengan rumah yang kukontrak. Hanya saja catnya terlihat bagus, serta perabotannya sudah lengkap. Bahkan ada tivi yang membuat Tiara semakin betah. Ia terenyak di depan benda berbentuk kotak itu, menonton film kartun. Kebetulan ini hari Minggu, hampir semua channel menayangkan acara hiburan untuk anak-anak.
Siska berlalu ke dalam dan kembali dengan nampan berisi sepiring bolu kukus serta tiga cangkir teh hangat.
"Kenapaki repot-repot segala?"
Ada hal yang sedikit ganjal di pikiranku. "Memangnya, kamu tinggal sendiri?" tanyaku hati-hati.
"Ya, begitulah!"
"Keluargamu?"
Teh yang hendak diseruput tadi ia letakkan kembali setelah mendengar petanyaanku. Aku jadi tidak enak dianggap terlalu banyak ingin tahu. Meski ia berusaha untuk tersenyum, raut wajahnya sangat timpang dengan beberapa saat sebelumnya.
"Orangtuaku bercerai saat aku masih kelas satu SD. Kemudian aku dititipkan sama Nenek. Mereka lantas memencar demi mengejar kesenangan masing-masing. Dan sampai sekarang, mereka tidak pernah datang menemuiku. Aku juga tidak tahu keberadaan mereka. Mungkin telanjur sudah bahagia dengan keluarga baru masing-masing hingga lupa sama aku." Siska jeda. Kali ini benar-benar menyeruput teh tadi demi melegakan tenggorokannya. "Aku mendapatkan kasih sayang orangtua hanya dari Nenek. Beliau membesarkanku penuh kasih sayang. Meski terpaksa banting tulang secara tidak wajar untuk ukuran usianya demi memenuhi kebutuhanku. Ia seolah tak mengenal lelah, hingga Tuhan memintanya untuk berhenti. Beliau meninggal saat aku berumur 16 tahun." Sampai detik ini suara Siska tetap nyaring, tapi matanya sudah berembun.
"Setelah Nenek tiada, aku harus berjuang sendiri. Menguatkan tapak kaki demi melawan kerasnya kehidupan. Tanpa bekal apa-apa, aku coba-coba mengajukan diri jadi biduan. Sejak itulah aku mulai menyanyi dari panggung ke panggung hingga sekarang. Sebuah pekerjaan yang dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Dikatai cindopang* sudah biasa, tidak perlu dimasukkan ke hati. Ini hidupku, mereka tidak tahu apa-apa. Ini ji yang bisa kulakukan untuk menyambung hidup. Selama aku tidak berbuat hal yang bisa merugikan mereka, aku tidak perlu gentar." Suara Siska tegas dan berisi. Semangat dan kekuatan hidupnya seolah menular padaku perlahan-lahan.
__ADS_1
"Dan di atas panggung pun, aku bertemu jodoh. Lelaki berkumis tipis yang diam-diam menabur rindu di hati. Ia keyboardis pengganti di grup elekton yang kuikuti. Perkenalan singkat yang dibumbui api asmara berlanjut jadi hubungan serius, hingga kami memutuskan untuk menikah." Siska jeda, menghela napas panjang. "Tapi nahas, pernikahan yang baru berumur dua tahun itu kandas karena kehadiran orang ketiga. Aku diceraikan, dicampakkan. Ia lebih memilih perempuan perampas itu dan pergi meninggalkan kami, aku dan anakku."
"Kamu punya anak?"
Siska mengangguk. Setetes bening tergelincir dari sudut matanya. "Gadis mungil yang cantik. Ia seumuran Tiara waktu itu, ketika Tuhan memintanya kembali setelah terserang demam selama dua hari."
Sekarang aku paham, kenapa ia begitu khawatir saat mengetahui badan Tiara panas tadi malam.
"Semua orang yang kusayangi pergi meninggalkanku. Aku ditakdirkan untuk ditinggalkan. Makin ke sini aku jadi kebal. Aku sudah terbiasa hidup sendiri."
Lagi-lagi aku menemukan kisah hidup yang kejam. Apakah hidup memang seperti ini? Adakah hidup yang lurus-lurus saja tanpa sesuatu yang bisa mengundang rasa putus asa? Aku yakin tidak ada. Bersama Siska, aku merasa tidak sendiri. Kekuatan baru telah tumbuh dalam diriku. Semua kehidupan di muka bumi ini telah disandingkan dengan permasalahan masing-masing. Aku hanya perlu percaya diri, mengatur langkah, dan yakin bisa melewati bagian menyesakkan ini.
"Oh ya, tunggu sebentar." Suara Siska mengangkatku dari lamuanan. Kulihat wajah cerahnya sudah kembali sebelum ia beranjak ke kamar. Sesaat kemudian, ia muncul kembali sambil menyeret koper beroda yang tampak penuh muatan. Ia duduk melantai di samping Tiara yang asyik menonton tivi. Melalui gerakan tangan, ia memanggilku mendekat. Ia membongkar muatan koper tadi yang ternyata berisi seabrek pakaian almarhumah anaknya.
"Baju-baju ini hanya akan jadi sarang semut bila tidak ada yang pakai. Buat Tiara saja, ya!" tawar Siska sambil memilih yang menurutnya paling bagus dan sepertinya langsung akan dipakaikan ke Tiara.
"Kamu serius? Baju-baju ini, kan, pasti punya kenangan buat kamu."
"Sudahlah! Tidak selamanya kenangan harus disimpan. Jika memang untuk kebaikan, tidak apa-apa melepasnya. Lagipula anakku tetap ada di dalam sini," Siska menunjuk dadanya, "meski tanpa baju-baju ini."
Aku tidak bisa menolak lagi. Untunglah. Tiara memang hanya punya dua pasang pakaian, yang dipakainya dalam pelarian waktu itu dan pemberian Puang Nani sewaktu bermalam di rumahnya—baju bekas anaknya.
Tiara tampak bersemangat ketika Siska memintanya mencoba beberapa pakaian yang telah dipilihkan. Semuanya terlihat pas. Siska benar-benar memberikan semua beserta kopernya. Ia bahkan memberiku juga beberapa pakaiannya yang masih tampak baru, katanya baru beberapa kali dipakai. Awalnya aku menolak, sekoper untuk Tiara saja sudah cukup. Tapi katanya benar-benar ikhlas, dan ia akan kecewa jika aku tidak menerimanya. Alhamdulillah! Entah bagaimana aku harus berterima kasih.
Siska melakukan semua ini seolah paham dengan kondisiku, meski belum pernah kuceritakan. Ia seolah peka dengan segala bentuk derita, dan ingin menyelamatkan siapa pun dari sana. Termasuk aku. Untungnya ia tidak menuntut ingin tahu balik kisah hidupku setelah ia memaparkan kisahnya, karena kisah kelamnya tidak ada apa-apanya dibanding yang kualami.
***
Catatan kaki:
__ADS_1
*Julukan untuk *******.
[Bersambung]