
Perasaan yang kupunya tumbuh secara alami, kemudian merumpun dan menjadi indah dengan sendirinya. Meski tak pernah mendapatkan siraman cahaya yang cukup.
---
Watampone-Sengkang, tahun 2001
Entah berapa kali purnama berlaga di langit sejak Dahlan tiba-tiba muncul di depan pintu hanya untuk mengantarkan sebuah puisi. Kertas itu masih kusimpan rapi, serapi perasaan yang tumbuh subur di hati dan untuk kunikmati sendiri. Menikmati dengan cara yang tak biasa, sesekali membuatku merasa bodoh. Sepertinya akan ada sesuatu yang sia-sia. Kami memang semakin dekat. Di setiap jatah liburnya ia selalu mengajak aku dan Tiara jalan-jalan mengelilingi Kota Bone. Menikmati aneka kuliner, atau sekadar mengunjungi tempat-tempat menarik. Tapi, sepertinya bagi Dahlan semua itu tak lebih dari kebersamaan antar teman. Aku yang terlalu berharap sejak awal. Tak sekali pun ia benar-benar menunjukkan memiliki rasa serupa yang kupendam, meski setiap gerakannya kuartikan sebagai perhatian. Aku harus membunuh perasaan ini pelan-pelan, kembali menghadapkan diri ke cermin. Aku hanya janda beranak satu, mana mungkin lelaki yang memiliki pandangan jauh ke depan seperti Dahlan menyukaiku?
Dengan sendirinya aku hafal hari libur Dahlan setiap bulan. Bila tidak salah seharusnya hari ini ia libur. Jika benar dan ia datang untuk mengajak jalan-jalan, aku harus menolak. Tentu saja alasannya harus kusiapkan dari sekarang. Sepertinya rencana Tuhan mempertemukan kami hanya sebatas ini, bukan untuk menyatukan. Maka aku harus bisa jaga jarak dari sekarang bila tak ingin menikmati rasa sakit yang luar biasa di kemudian hari.
Pukul sembilan pagi Dahlan benar-benar datang dengan pakaian yang sudah rapi. Seperti biasa, aku mempersilakannya masuk dan kami mengobrol di ruang tamu.
"Pagi-pagi sudah serapi ini. Mauki ke mana?"
"Aku mau pulang ke Atapange, sedang ada acara keluarga." Lagi-lagi aku yang terlalu berharap.
Aku hanya ber-o panjang dengan ekspresi yang pasti terlihat aneh.
"Aku ingin kamu dan Tiara ikut, untuk kukenalkan kepada Ambo dan Mak."
Aku tersentak. Ia ingin mengenalkan kami ke orangtuanya sebagai apa?
"Maksudnya?" Aku mengernyit tajam.
Dahlan menghela napas panjang. "Aku memang pandai merangkai kata-kata, menuangkan segala bentuk rasa ke dalam tulisan, tapi ternyata tak semudah itu jika harus diucapkan secara langsung. Bahkan butuh waktu lama untuk menyadari perasaanku sendiri. Setelah menyadarinya pun, aku malah tak punya cara untuk mengutarakannya. Tapi hari ini sudah kuputuskan. 30 menit lagi aku akan berangkat ke Atapange. Jika kamu berkenan menjalani hari-hari setelah ini bersamaku, datanglah bersama Tiara ke rumah, kita berangkat ke Atapange untuk menemui orangtuaku. Tapi jika keinginan ini hanya sepihak, maka tetaplah di sini, aku akan berangkat sendirian. 30 menit setelah aku melangkahkan kaki melewati garis pintu rumah ini, aku menunggu jawabanmu."
Deg!
Jantungku nyaris copot. Apa yang kudengar barusan? Pernyataan cinta? Atau hanya lelucon? Tapi kesungguhan mengental di sorot mata Dahlan. Aku bisa merasakan tatapan itu berbeda dari biasanya.
__ADS_1
"Permisi!" Dahlan beranjak sebelum aku sempat berkata apa-apa. Detik pertama dari 30 menit baru saja dimulai. Langkah berikutnya membawa tubuh tegap itu semakin jauh, menyita sisa waktu yang ada. Aku masih diam di tempat. Beku. Kenapa malah bingung? Bukankah ini yang selama ini aku tunggu-tunggu?
Mendadak banyak hal yang berkecamuk di kepala, mengalahkan semua perasaan cinta yang kupendam selama ini. Benarkah aku sudah siap memulai kembali kehidupan baru bersama seorang lelaki?
***
Perasaan yang kupunya tumbuh secara alami, kemudian merumpun dan menjadi indah dengan sendirinya. Meski tak pernah mendapatkan siraman cahaya yang cukup. Dan ketika cahaya itu mulai menyelinap, aku tidak mungkin menghalanginya. Sepetak hati di balik tulang rusuk menjelma kebun bunga. Jutaan kuntum beraneka warna bermekaran di sana. Di bawah terpaan sinar matahari pagi, aku kembali duduk di boncengan Dahlan. Namun bukan cerita pelarian yang kami ukir kali ini. Kami sedang menjemput kebahagiaan.
Aku tak menyangka diam-diam Dahlan memupuk perasaan serupa. Ajaibnya, perasaan itu tak layu sedikit pun setelah kuceritakan kembali kehidupan rumah tanggaku bersama Daeng Hasan serta bagaimana aku diperlakukan seperti binatang. Ia malah menggendong Tiara dan mengecup kedua pipinya sebagai jawaban. Air mata bahagia serta-merta mengaburkan pandanganku.
Setelah dua jam menikmati suasana setiap ruas jalan, kami mulai memasuki kawasan Kota Sengkang. Perasaan bahagia yang menemaniku sepanjang jalan tadi raib, tergantikan dengan perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Melintasi kota ini membuatku terkenang kembali semua masa-masa suram itu. Terasa dekat, membuatku bergidik. Meski jelas-jelas Daeng Hasan sudah meninggal, rasa takut akan kemunculannya yang tiba-tiba tetap ada. Beruntunglah Tiara sedang tidur. Kalau tidak, barangkali ia akan mengenali rumah yang kami tempati dulu saat lewat di depannya. Ia pasti akan merengek untuk singgah, berlarian di halamannya, mengejar capung seperti dulu.
Rumah Dahlan terbilang mewah, tampak mencolok di antara rumah-rumah panggung di sekitarnya. Suasana sedang ramai saat kami tiba.
"Kok ramai sekali? Ada acara apa?" tanyaku setelah turun dari motor. Aku menggendong Tiara yang masih setengah sadar setelah kubangunkan.
"Biasa, pertemuan dua keluarga. Mereka sedang membicarakan rencana pertunangan."
Dahlan menggeleng. "Aku."
Aku tersentak. "Lalu?"
"Kamu tahu, kan, aku ini pembangkang. Aku tidak ingin ditunangkan dengan perempuan yang tidak kukenal. Mentang-mentang aku anaknya, Ambo merasa berhak mengatur semua hidupku. Aku tidak suka!"
"Dan aku hanya kamu jadikan alat?" Mataku berkaca-kaca, merasa dipermainkan.
"Tidak! Sama sekali tidak seperti itu. Aku tulus mencintaimu. Karena itu kamu kubawa ke sini tepat di hari pertemuan mereka, agar semua langsung tahu bahwa aku sudah menentukan pilihan." Dahlan berucap seraya memegang kedua pundakku, berusaha meyakinkan.
Sedikit pun aku tidak meragukan kesungguhan yang mengalun di mata Dahlan. Hanya saja aku tidak yakin hal ini akan berjalan lancar. Perasaanku mulai tidak enak. Haruskah aku tetap masuk, mengacaukan perbincangan hangat dua keluarga? Aku tak sempat berpikir untuk menolak. Dahlan menggenggam erat tanganku, seolah menegaskan aku akan aman di sampingnya.
__ADS_1
Setibanya di ambang pintu, seluruh pasang mata tertuju pada kami. Obrolan mendadak berhenti. Dahlan melangkah masuk dan langsung mencium tangan perempuan dan lelaki yang duduk berdampingan di sofa panjang. Mereka pasti orangtuanya. Melalui isyarat mata, Dahlan menyuruhku masuk, abai terhadap pandangan penuh tanya orang-orang yang ada di ruangan itu. Aku sangat canggung. Aku berjalan sambil menunduk, kepala terasa berat untuk ditegakkan. Sebelum tiba di depan mereka, ambo Dahlan sudah berdiri dan menunjukkan tampang tidak suka. Seketika tubuhku terasa dialiri listrik bertegangan tinggi saat bertatapan dengan lelaki yang tengah berkacak pinggang itu. Aku masih ingat, bagaimana mungkin lupa. Ia salah satu dari sekian lelaki yang pernah bertransaksi dengan Daeng Hasan, menyerahkan lembaran-lembaran rupiah untuk menikmati selangkanganku. Aku yakin ia pun masih mengingatku. Terbukti dengan wajahnya yang mendadak memerah. Ada malu bercampur amarah di sana. Apa jadinya jika kubeberkan di sini, di depan keluarga beserta keluarga calon besannya? Martabat lelaki angkuh ini akan jatuh seketika. Tapi aku tidak mungkin melukai perasaan Dahlan. Aku tidak akan melakukan hal itu.
"Apa-apaan ini?" Suara berat itu meluncur di antara rahang yang mengencang.
"Mak, Ambo, kenalkan, ini perempuan yang saya cintai."
"Sandiwara macam apa ini?" Lelaki berkemeja batik bersuara keras sambil berdiri, mulai tidak terima dengan situasi ini. Sepertinya ia adalah ayah dari perempuan yang akan ditunangkan dengan Dahlan.
"Tenang, Pak, ini hanya masalah kecil. Saya bisa mengatasinya," bujuk ambo Dahlan disertai gerakan tangan yang mempertegas ucapannya. "Ikut saya ke dalam!" katanya lagi sambil menarik tangan Dahlan.
"Tidak usah ke dalam, Ambo. Kita bicara di sini saja supaya lebih jelas. Biar semua tahu bahwa saya tidak ingin ditunangkan dengan siapa pun, karena saya sudah menemukan perempuan yang saya cintai!" Setelah menepis tangan ambonya, Dahlan lalu merangkulku.
"Kamu sudah gila mencintai pe—" Ambonya Dahlan tercekat, menelan kembali ucapannya. Aku tahu, apa yang hendak diucapkannya barusan. "Apa yang membuat kamu tertarik dengan perempuan yang sudah memiliki anak seperti dia?" Telunjuknya mengacung di depan wajahku.
"Ambo tidak akan mengerti, karena Ambo memang tidak pernah paham dengan semua hal yang kuingini."
Plaakk ...!
Tamparan keras mendarat di pipi Dahlan.
"Daeng, hentikan!" Terdengar suara panik maknya Dahlan yang tengah memegang tangan suaminya yang sudah terangkat hendak meluncurkan tamparan kedua.
Mata ambonya Dahlan melotot sempurna. Namun tiba-tiba tubuhnya ambruk menimpa meja yang berisi minuman dan aneka kue. Sesaat ia tampak kejang dan kesulitan untuk bernapas, lalu tak sadarkan diri. Semua panik, suasana makin tak keruan. Mereka lekas membopongnya ke mobil dan dilarikan ke rumah sakit.
Dengan situasi seperti ini, aku tidak mungkin tetap tinggal. Dahlan juga tidak mungkin meninggalkan ambonya dengan kondisi seperti itu demi mengantarku pulang. Aku terpaksa naik mobil angkutan umum.
"Maaf telah melibatkanmu. Aku tidak menyangka situasinya jadi serumit ini. Maaf juga karena membiarkanmu pulang sendiri. Aku akan ke Bajoe secepatnya, setelah kondisi Ambo membaik," kata Dahlan tadi saat mengantarku ke terminal.
Bulir-bulir bening menemani perjalananku. Sepertinya kota ini memang tidak menginginkanku. Kenapa pula aku harus datang menjemput luka untuk kedua kalinya? Gambaran hidup bahagia yang sempat memenuhi kepalaku tadi pagi sirna. Seharusnya dari awal aku sadar, situasi seperti ini pasti akan terjadi. Sudah lumrah setiap orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Termasuk orangtua Dahlan. Mereka pasti menganggap aku tidak pantas mendampingi putra mereka. Terlebih ambonya, lelaki yang pernah meniduriku.
__ADS_1
***
[Bersambung]