Ibu Bukan Pelacur

Ibu Bukan Pelacur
Panggung Kehidupan Baru


__ADS_3

Aku percaya, semua yang terjadi di hidup ini tak lepas dari perencanaan Tuhan yang disertai maksud dan tujuan.


---


Malam ini Dahlan kembali bertamu. Kali ini ia tidak sendiri, kedua temannya turut serta. Katanya mereka baru gajian dan bermaksud mengajakku dan Tiara makan bakso. Tentu saja aku mau. Bukan karena baksonya, tapi bersama mereka, aku bisa melupakan segala kerumitan yang ada. Aku bermaksud mengajak Siska, tapi pintu rumahnya tertutup rapat. Ia pasti pergi manggung. Warung bakso yang kami tuju tidak begitu jauh, cukup berjalan kaki. Tiara bermanja-manjaan sama Abdul dan Maman, minta bergiliran menggendongnya. Kedua makhluk kocak itu tidak keberatan, malah suka. Tiara sepertinya mulai merindukan saat-saat kebersamaannya dengan Daeng Hasan. Tadi sore ia mulai menanyakan keberadaan ambonya itu.


Setibanya, mereka langsung memesan lima porsi bakso. Khusus untuk Tiara tidak perlu pakai mi dan kuah, cukup diberi kecap dan taburan bawang goreng. Ia suka seperti itu. Sebenarnya aku tidak begitu menikmati suasana. Sesuatu mengganjal pikiran. Tadi siang Siska menawariku untuk ikut dengannya jadi biduan.


"Tapi, aku nggak bisa nyanyi."


"Itu bisa dipelajari. Dulu aku juga nggak bisa."


"Duh ... gimana, ya?"


"Malu?"

__ADS_1


Aku geming.


"Kamu butuh pekerjaan, kan? Ingat anak kamu!"


Aku mendalami sorot mata Siska dan menemukan ketulusan di sana. Ia sungguh-sungguh ingin membantu.


Percakapan kami terus terngiang, seolah menagih keputusan, membuat tidak tenang. Aku memang sangat butuh pekerjaan untuk bertahan hidup, tapi aku tidak pernah kepikiran untuk jadi biduan.


"Terus? Kenapa nggak kamu jalani saja dulu? Kalau memang nyatanya nggak cocok, kan, bisa mundur." Itu tanggapan Dahlan. Setelah selesai makan, aku memutuskan untuk meminta pendapatnya sambil berjalan pulang. Abdul dan Maman yang masih bergantian menggendong Tiara berada beberapa langkah di depan kami.


"Kenapa? Itu pekerjaan halal, kok!"


Aku paham. Tapi maksudnya, aku takut Dahlan dan teman-temannya tidak seakrab ini lagi denganku setelah jadi biduan. Seperti kata Siska, biduan masih dipandang sebelah mata dan kerap disandingkan dengan omongan yang tidak-tidak. Aku khawatir mereka takut dianggap salah bergaul.


Malam ini lagi-lagi aku susah tidur. Aku terus menimbang tawaran Siska, terima atau tidak.

__ADS_1


***


Aku percaya, semua yang terjadi di hidup ini tak lepas dari perencanaan Tuhan yang disertai maksud dan tujuan. Memiliki tetangga seorang biduan seperti Siska termasuk salah satunya. Siska adalah petunjuk, bahwa menjadi seorang biduan adalah takdir selanjutnya yang harus kujalani. Aku sudah memutuskan untuk menerima tawarannya. Serta-merta ia mulai mengajariku teknik dasar bernyanyi. Aku juga harus memperbanyak referensi lagu, khususnya lagu dangdut. Itu modal yang tidak kalah penting, jelasnya. Ia juga mengajariku sedikit goyangan. Tidak perlu heboh, minimal tahu cara membawa diri di atas panggung agar tidak terlihat kaku dan membosankan. Kami sering berkaraoke bersama, dan Tiara dengan semangat ikut bergoyang.


Ritual yang ternyata cukup melelahkan itu berlangsung sekitar seminggu. Setelah dirasa cukup, ia membawaku bertemu dengan Pak Musdar, pimpinan Dara Manis—grup elekton—yang diikutinya. Markas mereka berada di Bone Kota. Hari ini menjadi sangat menegangkan, terlebih saat disuruh menyanyikan sebuah lagu. Padahal di ruangan itu hanya ada Siska dan Pak Musdar selain aku. Apa jadinya nanti kalau sudah di atas panggung dan ditonton puluhan bahkan ratusan pasang mata?


Aku yakin, suaraku masih pas-pasan. Terlebih aku bernyanyi sambil gemetaran, grogi. Tapi karena aku direkomendasikan oleh anak emasnya, Pak Musdar memberiku kesempatan untuk bergabung dengan timnya. Aku antara senang dan gugup. Senang karena akan punya penghasilan dan bisa memenuhi kebutuhan Tiara, gugup karena akan menghadapi dunia baru yang sama sekali belum pernah kusentuh. Apa pun itu, aku sangat berterima kasih kepada Siska.


Tidak tanggung-tanggung, dua hari kemudian aku langsung mendapatkan job pertamaku. Untuk sementara ini, aku hanya menerima panggilan manggung jika bersama Siska. Pak Musdar sepertinya memaklumi. Karena lokasi acara lumayan jauh, kami berangkat sebelum magrib. Kami mengendarai motor ke Markas Dara Manis. Dari sana berangkat bersama segenap tim menggunakan mobil. Tiara kutitipkan kepada Bu Hasna, pemilik warung kelontong tempatku sering belanja bumbu-bumbu dapur. Sempat kepikiran untuk menitipkan di tempat Dahlan, tapi pasti sangat merepotkan. Meski sebenarnya mereka sangat menyukai Tiara, pun sebaliknya. Lagipula Bu Hasna punya anak lelaki seumuran Tiara, mereka sudah akrab dan sering main bareng. Bahkan jika Tiara ikut ke warung untuk beli sesuatu, keseringan ia tidak mau pulang, malah tinggal main sama Imran, bocah lelaki yang memang memiliki banyak sekali mainan. Mainan-mainan itu salah satu hal yang membuat Tiara betah.


Maka di sinilah aku, di atas panggung, di hadapan puluhan atau mungkin ratusan pasang mata yang turut memeriahkan sebuah resepsi pernikahan malam ini. Kostum yang dipinjamkan Siska membuatku tidak leluasa bergerak, terlalu terbuka. Kata Siska kostumnya memang harus seperti ini, lama-lama juga akan terbiasa. Segenap tim sangat memaklumi pengalaman pertamaku ini. Sebagai perkenalan, aku tidak langsung tampil sendiri, tapi berduaan dengan Siska atau teman-teman lainnya. Mereka benar-benar membimbingku. Seiring berjalannya waktu, ketegangan yang tadinya menguasaiku perlahan melebur ditelan kerlap-kerlip lampu panggung serta alunan musik yang bertalu-talu. Aku mulai menikmati suasana, aku merasa menemukan pelarian, cara untuk melepas segala beban di dada. Di sini aku benar-benar bisa tertawa lepas.


***


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2