Ijazah Dan Pelaminan

Ijazah Dan Pelaminan
Senangnya Andini


__ADS_3

"Lagi-lagi sesuatu bikin aku kesel." Andini mengeraskan rahangnya ketika melihat mobil warna merah telah terparkir di halaman rumahnya.


"Anggap aja temen baru yang lagi bertamu." Tetiba terngiang ucapan Rima ketika mereka sedang membicarakan perjodohan Andini.


Andini berusaha tersenyum kecil dan menguasai emosinya dari rasa kesal, kecewa dan rasa marah yang berkecamuk dalam hatinya.


"Aku harus bisa melewati semua ini!" Andini berbisik pada dirinya sendiri seolah sedang memberi kekuatan agar tetap bisa tegar.


"Assalamuallaikum.."


"Waalaikumsalam.." Sahut Rangga dan kedua orangtua Andini hampit bersamaan.


"Din sudah pulang Nak. Masuk cepet sini ada Rangga sudah nunggu sejak pagi."


Bu Salamah berdiri mendekati Andini yang berdiri mematung di depan pintu. Bu Salamah meraih tangan Andini mengajaknya masuk.


Andini terlihat enggan untuk bertemu Rangga. Sekuat apapun Andini mengendalikan kekesalannya masih tetap terlihat rasa tidak senang atas kehadiran Rangga.


Rangga tersenyum memandang ke arah Andini. "Din, apa kabar."


"Baik." sahut Andini datar. "Aku masuk dulu ya mau ganti baju." ucap Andini meninggalkan Rangga bersama kedua orangtuanya.


"Andini... Jangan Bu..." Ucap Bu Salamah dan Rangga berbarengan. Langkah Bu Salamah tertahan mendengar ucapan Rangga lalu Bu Salamah menjatuhkan badannya ke kursi di samping suaminya sembari membuang nafas panjang.


"Maaf ya Nak Rangga atas sikap Andini." Pak Husein menggelengkan kepala sembari menatap wajah Rangga.


"Biarkan saja Pak tidak apa-apa. Andini juga baru saja pulang perlu istirahat dan membersihkan badannya. Kasihan pasti cape." Tutur Rangga sembari menatap punggung Andini yang menghilang di balik tirai pintu menuju ruang tengah.


Andini melempar tas punggungnya ke atas meja belajar sembari menjerembabkan badannya ke atas kasur. Andini membenamkan wajahnya ke atas bantal. Tangannya meremas sprei menahan rasa marahnya.


"Kenapa sih Mimih sama Pipih ga pernah mau ngerti perasaanku." Pekik Andini sembari memukul-mukul kasur. "Harus gimana sekarang, sebel!" Andini membalikan badannya menatap langit-langit kamarnya.


"Apa aku harus kabur lagi." Andini meracau sendiri sembari berfikir keras. "Anggap temen baru." Andini tersenyum setelah kembali teringat semua ucapan sahabatnya. "Ya Rima benar, anggap aja temen baru biar aku ga kesel ga sedih." Rima tersenyum bangkit dari ranjangnya lalu meraih handuk yang tergantung di balik pintu kamarnya.


"Nak Rangga Ibu ke dapur dulu. Biar Bapak yang temenin sambil nunggu Andini." Bu Salamah beranjak dari tempat duduknya menuju ke dapur.

__ADS_1


Diruang tengah Bu Salamah menghentikan langkahnya lalu menoleh ke kamar Andini yang terbuka. "Hem" Bu Salamah tersenyum ketika membuka pintu kamar anaknya itu dalam keadaan kosong.


Bu Salamah keluar dari kamar Andini menuju ke dapur hendak menyiapkan makan siang untuk keluarganya. Mendengar percikan air di kamar mandi kembali Bu Salamah tersenyum. Biasanya Andini duduk termenung sambil menangis dalam kamar jika ada Rangga datang ke rumah. Hal ini yang membuat Bu Salamah terlihat senang.


Rangga dan Pak Husein kembali mengobrol akrab di ruang tamu sambil menunggu Andini dan Bu Salamah.


"Maaf nunggu lama ya." Andini telah berdiri di belakang Pak Husein seraya tersenyum melirik ke arah Rangga.


Rangga melebarkan bibirnya melihat Andini dengan penampilan casual. Balutan celana jeans biru dongker dipadukan dengan kaos oblong merah semakin menonjolkan kecantikan Andini.


"Sini duduk Din temenin Rangga ya, sejak tadi Pipih nahan mau ke kamar mandi." Ucap Pak Husein seraya berdiri lalu meninggalkan Andini dan Rangga.


Andini menjatuhkan badannya ke atas kursi yang tadi di duduki Pak Husein. Andini melirik kearah Rangga seraya menghembuskan nafas panjang seolah membuang beban berat dalam dadanya.


"Aku mengerti kamu tidak suka jika aku bertamu kesini." Rangga menatap wajah dingin Andini.


"Jangan di ambil hati ya Din tentang perjodohan kita... Aku minta maaf jika kedatanganku malah jadi beban fikiranmu." lanjut Rangga sembari memajukan duduknya.


Rangga menatap kearah pintu ruang tengah memastikan kalau apa yang diucapakannya tidak terdengar oleh kedua orangtua Andini.


Andini mengerutkan kedua alisnya melihat tingkah Rangga yang aneh. Lalu Andini menengok ke arah pintu tengah. "Ada apa?" Andini melirik ke arah Rangga yang sedang menatapnya sembari tersenyum.


"Begini Din, aku harap perjodohan ini jangan kamu jadikan beban. Apalagi sebentar lagi kamu mau masuk SMEA seperti apa yang kamu cita-citakan." tutur Rangga menatap serius wajah Andini.


Andini menganggukan kepalanya sambil menunggu apa yang sebenarnya yang akan disampaikan oleh Rangga.


"Seperti yang kamu bilang minggu kemarin, kamu mau daftar ke SMEA Negeri kan." Andini kembali menganggukan kepalanya sembari terus menatap Rangga yang memang terlihat sangat serius.


"Masuk kesana itu harus melalui tes jadi konsentrasilah untuk itu Din."


"Iya itu benar. Terus kenapa kamu kesini terus kalau kedatangan kamu mengganggu konsentrasi aku." Jawab Andini ketus dan menyalahkan Rangga.


Rangga masih tetap tersenyum dan tak melepaskan sedikitpun pandangannya dari wajah Andini.


"Aku kesini karena aku suka dengan suasana di kampung ini." Jawab Rangga enteng sembari mengalihkan pandangannya keluar jendela.

__ADS_1


"ck." Andini berdecak mendengar jawaban Rangga yang ngasal.


Rangga tertawa kecil mendengar decakan Andini yang menggemaskqn baginya.


"Aku kesini juga cuma seminggu sekali." Lanjut Rangga semabari menatap kedua kakinya yang sejak tadi digerak-gerakan karena mulai terasa dingin.


"Ya aku tahu." Sahut Andini seraya berdiri meninggalkan Rangga duduk sendiri.


Tidak lama kemudian Andini kembali dengan membawa sepasang sandal rumah lalu diletakannya di dekat kaki Rangga. "Pakailah, aku tahu kamu kedinginan" Ucap Andini lalu kembali duduk di kursi di depan Rangga.


Rangga tersenyum seraya meraih sandal dan memakainya. "Ternyata perhatian juga ya." ucapnya sembari tersenyum.


"Ck" Andini berdecak memalingkan wajahnya kearah pintu teras.


"Din.. Lain kali jangan ketus-ketus gitu. Anggap aja aku ini temen bukan laki-laki yang di jodohkan orangtua kamu." Ucap Rangga kembali serius menatap wajah ketus Andini.


"Kamu lupakan saja tentang perjodohan kita, jika itu membuatmu kesal. Anggap aku temen. Bisa kan?" Lanjut Rangga sembari terus menatap wajah Andini yang kini mulai terlihat lembut.


"Kamu yakin?" Sahut Andini.


Rangga mengangguk dalam menyakinkan Andini kalau apa yang disampaikannya bukan main-main.


"Terus waktu kemarin kenapa kamu bilang mau menunggu aku?" Ucap Andini seraya balik menatap kedua bola mata Rangga yang hitam.


"Karena memang aku mau menunggu kamu." Jawab Rangga tegas.


"Iya tapi kenapa? Katanya suruh lupain. Kamu tuh bikin bingung." Jawab Andini kembali ketus.


Rangga tertawa kecil melihat kepolosan Andini.


"Kalau aku datang jangan anggap aku musuh yang bikin kamu kesel, anggap aku temen baru biar kamu bisa konsentrasi dengan studi kamu. Aku akan nunggu kamu karena aku suka sama kamu. Jika kita tidak berjodoh ga masalah buat aku. Kita masih bisa berteman, Ya kan."


Tutur Rangga panjang lebar sembari terus menatap kedua bola mata Andini. Rangga pun akhirnya tersenyum melihat Andini mengangguk sembari tersunging senyum kecil di bibirnya.


"Hem" Rangga mengatupkan kedua bibirnya. "Ngerti kan maksud aku?" lanjut Rangga sambil sedikit menganggkat dagunya.

__ADS_1


Andini melebarkan senyum di bibirnya sembari mengangguk. Wajahnya terlihat lebih cantik dengan keramahaan yang terlihat jelas diwajahnya.


Tentu saja hal ini membuat Rangga semakin terpesona dengan wanita polos yang duduk di depannya itu.


__ADS_2