Ijazah Dan Pelaminan

Ijazah Dan Pelaminan
Terbuka untuk Rangga


__ADS_3

Rima sesekali menoleh ke belakang memastikan jika teman-temannya sudah meninggalkan sekolah.


"Din.. lama-lama kesel juga ya." Ucap Rima sembari melirik kearah sahabatnya. Andini hanya menganggukan kepala.


"Eh Din, kapan Si Rangga main lagi kerumah?" Tanya Rima seraya membalikkan badannya menghadap ke arah Andini sembari menyilangkan kedua kakinya.


"Biasanya hari sabtu." jawab Andini datar.


Sungguh topik yang membosankan bagi Andini jika menyangkut tentang Rangga yang selalu mengingatkan kata perjodohan. Sebuah kata yang seakan menjadi bayangan yang selalu mengikutinya kemanapun Andini melangkahkan kakinya.


"Berarti lusa dong Din." Lanjut Rima sembari mengangkat wajahnya semakin jelas masih menatap wajah Andini yang mulai terlihat bosan.


"Ih... Kenapa jadi ngebahas Rangga!" Ucap Andini dengan suara ketus.


"Kan kamu udah temenan sama Rangga bukan lagi soal perjodohan. Ya kan.... Kata Rangga sendiri kan gitu ke kamu." Rima tersenyum kecil menggoda Andini supaya tidak terus marah.


"Iya sih... Tapi tetep aja suka bikin aku kesel kalau denger nama Rangga." Jawab Andini seraya melirik wajah Rima.


"Kalau Rangga baik berati bisa jadi temen yang baik juga kan Din." Lanjut Rima seolah tidak memperdulikan isi hati sahabatnya yang selalu kesal jika sedang membicarakan Rangga.


Andini hanya menoleh mendengar penuturan sahabatnya itu tentang laki-laki yang di jodohkan orangtuanya.


"Kalau aku pikir-pikir kasihan juga Si Rangga."


Haa....


Kedua mata Andini membola mendengar apa yang di ucapkan sahabatnya itu. "Ga salah Rim..." jawab Andini setengah memekik.


Rima menggelengkan kepalanya. "Aku bener." Jawab Rima sembari memandang wajah Andini.


"Coba kamu juga pikir Din. Rangga salah apa coba... Judes engga.. Sombong engga.. Maksa engga... Jelek juga engga... Ya kan Din..!" lanjut Rima tegas.


Semakin membuat mata Andini makin membola mendengar penuturan Rima yang panjang lebar tentang laki-laki yang dijodohkan orangtuanya. Dan itu pun dibenarkan oleh hati Andini. Perlahan Andini menundukan kepalanya. "Apa yang dibilang Rima benar." Gumam Andini dalam hatinya.

__ADS_1


"Terus.... dia masih aja senyum walaupun selalu di judesin sama kamu. Ga pernah marah kan dia atau kesel gitu..." kembali ucap Rima tegas.


Andini menatap dalam wajah sahabatnya itu dengan rasa heran. Kenapa tiba-tiba Rima panjang lebar membahas Reyhan. Rima mengerti dengan reaksi sahabatnya itu. Tentu saja Andini bertanya-tanya kenapa Rima seolah mendukung Rangga, Rima yang selama ini hanya menjadi pendengar dan hanya manggut-manggut saja mendengar apa yang di ceritakan Andini tentang Rangga dan perjodohannya itu.


Rima tersenyum seraya memegang pundak Andini.


"Din, selama ini aku dengerin semua yang kamu ceritakan. Ga ada sisi jeleknya sedikitpun tuh tentang Rangga" Rima menghela nafas panjang lalu mengalihkan pandangannya ke depan.


"Kok aku ngerasa kenapa ya sahabat aku bisa berubah jahat sama orang."


"Hah!" Andini memekik sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Matanya membola tak percaya dengan apa yang di ucapkan sahabat baiknya itu.


"Iya coba kamu pikir lagi, salah Rangga dimana sehingga segitunya kamu sama dia setiap kali berkunjung kerumah. Padahal kan Rangga udah bilang anggap dia teman." lanjut Rima tanpa memperdulikan lagi apa yang di pikirkan Andini tentangnya.


Andini menunduk tidak bisa menjawab karena bagaimanapun apa yang dikatakan Rima semuanya benar. Hati Andini pun mengakui itu.


"Aku cuma ga mau kamu di bilang jahat. Kamu kan ga seperti itu Din. Apalagi Rangga orangnya baik. Disini dia ga ada salah apa-apa kan..."


Rima menatap sahabatnya yang sesekali mengangkat wajahnya. Tak sedikitpun Rima memberi celah pada Andini untuk menjawab.


Mata Andini membelalak mendengar penuturan Rima yang seolah menamparnya sampai tidak bisa berkata apapun. "Kenapa selama ini aku tidak bisa berpikir sampai kesitu." Andini hanya bisa begumam dalam hatinya.


"Bedanya itu Rangga tidak berontak, menurutku dia hanya mengikuti aja maunya orangtua. Jadi apa tidak tentang perjodohan itu urusan nanti. Makanya Rangga bilang ga masalah kalaupun tidak berjodoh.." Ucap Rima sembari melirik Andini yang masih tertunduk.


"Segitu aja udah ngebuktiin itu cowok orangnya baik. Setuju engga..." Rima menyenggolkan bahunya ke bahu Andini.


Andini menengadahkan wajahnya menatap kedua bola mata sahabatnya itu. Rima membalas dengan mengangkat dagunya spontan hal itu di ikuti anggukan Andini. Rimapun tersenyum lebar melihat anggukan kecil Andini.


"Jadi...." Rima menghentikan ucapannya seraya berdiri lalu meraih tangan Andini mengajaknya berdiri.


"Mulai sekarang kamu ga boleh kesel apalagi marah kalau Rangga main kerumah kamu. Dia itu teman baru yang baik dan pengertian. Terbukalah berteman baik dengannya Din" lanjut Rima sembari mengangkat kedua alisnya.


"Semua yang kamu omongin itu bener Rim. Kok aku selama ini jahat banget ya sama Rangga." Andini menatap wajah Rima penuh sesal.

__ADS_1


"Nah itu dia yang aku ga mau." jawab Rima sembari merapatkan kedua bibirnya kemudian melebarkannya. Andini pun ikut tersenyum "Makasih Rim" Andini memeluk erat sahabatnnya. "Makasih udah nasehatin aku, kamu emang sahabatku yang paling baik." lanjut Andini semakin mengeratkan pelukannya.


Setelah mengurai pelukannya kedua sahabat itu tersenyum bahagia. Rima senang ternyata Andini mengerti maksud dari semua yang disampaikannya.


"Din.. Pulang yuk udah aman." Ucap Rima sembari menengok kanan kiri. Dirasa semua sudah aman mereka pun beranjak meninggalkan halaman belakang sekolah menuju gerbang depan.


Mereka berdua berjalan melalui lorong kelas-kelas yang sudah tidak ada satu siswa pun disana. Semua sudah meninggalkan Sekolah Menengah Pertama Negeri yang akan menjadi kenangan bagi semua siswa-siswi seangkatan Andini dan Rima.


"Selamat tinggal kelas tercintaku.....!" Teriak Rima begitu melewati kelas mereka berdua.


Andini tersenyum lebar sebelum meninggalkan gerbang sekolah sembari menyebarkan pandangannya ke semua sudut sekolah. Tiba-tiba pandangannya terhenti ketika melihat seorang siswi yang duduk termenung di warung samping sekolah yang biasa di pakai nongkrong anak-anak cowok ketika jam istirahat.


"Dewi!" Gumam Andini sembari menarik tangan Rima agar tidak dulu menyebrang.


"Kenapa Din..." Rima menoleh ke arah Andini dan membalikan badannya ke tempat yang mencuri perhatian sahabatnya itu.


"Dewi... Ngapain masih disana..." Ucap Rima sembari memandang ke arah Dewi.


"Kita samperin yuuk..." Andini menarik tangan Rima mengajaknya berjalan kearah warung dimana Dewi sedang duduk sendirian.


"Dew.... Dewi... " Sapa Rima dan Andini bersamaan


Dewi menoleh kearah mereka berdua. "Kalian!" Dewi melompat dari atas bangku lalu mendekati Rima dan Andini.


"Kamu ngapain disini.... Iya kenapa belum pulang?" Tanya Rima dan Andini sembari menatap wajah Dewi.


"Aku tuh males pulang. Ga tau juga ini mau pulang ke rumah Mamah atau ke rumah Bibi aku." Jawab Dewi sembari menujukan wajah tak bersemangat.


"Kok bisa." Sahut Rima datar.


"Pulang ke Mamah aja biar bareng kita yuuk." Ajak Andini sembari tersenyum memandang wajah kakak sepupunya itu.


Dewi terdiam terlihat malas dan bingung.

__ADS_1


"Udah yuuk, lagian ini udah sore." Ucap Andini seraya meraih tangan Dewi dan mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2