
Suasana di cafe mulai menghangat oleh pengunjung mulai berdatangan. Begitupun suasana hati Andini dan Rima ikut menghangat karena perlakuan Reyhan dan Anto yang tak menunggu lama bisa membuat kedua gadis itu selalu menebar senyum manis dan sesekali tertawa kecil.
"Din. Janji ya akan tetap ceria seperti ini." Pinta Reyhan sembari menyelipkan rambut ketelinga Andini.
"Hem." Hanya bergumam yang keluar dari mulut Andini. Karena memang dirinya tidak yakin akan bisa terus tertawa bahagia seperti yang dirasakannya saat ini.
"Bukam hem. Jika nanti ada apa-apa kamu tidak boleh sedih. Cari aku dan berbagilah denganku agar sedih tidak lagi menghampirimu karena aku akan membawanya menjauh sebelum sedih itu mendekati kamu." Tutur Reyhan sembari merapikan rambut Andini yang tertiup angin.
Andini tertawa kecil mendengar ucapan Reyhan yang kini telah menjadi kekasihnya itu.
"Kenapa tertawa? Aku serius." Ucap Reyhan menegakkan duduknya berlaga kesal.
Andini makin melebarkan mulutnya melihat tingkah laki-laki yang ada di depannya itu.
"Kata-kata kamu buata aku seakan gombalan saja Rey." Ucap Rima dengan tatapan teduhnya seakan menembus relung hati Reyhan.
"Ini serius Andiniku." Ucap Reyhan seraya medekapkan kedua tangannya diatas dada.
"Iya aku tahu. Aku akan mengingat setiap kata-kata kamu Rey. Jangan khawatir." Jawab Andini seraya menurunkan tangan Reyhan.
"Nah begitu aku kan jadi lega." Jawab Reyhan seraya memegang tangan Andini. Tetapi Andini segera menariknya menjauh karena merasa malu oleh pengunjung cafe yang sudah mulai penuh.
"Pulang yuk Rey." Rengek Andini.
Melihat Andini yang sudah mulai merasa tidak nyaman, Reyhan pun beranjak menuju kasir. Setelah membayar semuanya mereka pun meninggalkan cafe itu menuju mobil yang terparkir di samping cafe.
Reyhan membuka pintu samping kemudi untuk Andini. Di ikuti Anto yang membukakan pintu belakang kemudi untuk Rima. Setelah semua orang yang berada di dalam mobil TAF merah miliknya duduk dengan nyaman. Reyhan menancap gas meninggalkan cafe yang telah menjadi saksi bisu kedekatannya dengan Andini.
Suasana hening sepanjang Reyhan mengemudi menyusuri suasana sore daerah Lembang yang begitu sejuk. Sesejuk hati semua yang ada di dalam mobil yang Reyhan kendarai termasuk Reyhan yang terus mengembangkan senyum bahagianya. Sesekali Reyhan melirik ke samping memastikan wanita yang kini telah menjadi kekasihnya pun baik-baik saja.
Di jok belakang kemudi, Rima ikut tersenyum kecil melihat Reyhan kerap kali melirik Andini yang lebih memilih memalingkan wajahnya kesisi jendela kaca memperhatikan pemandangan di sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Aku senang akhirnya kalian berdua bahagia. Aku yakin Din hari-hari kamu akan selalu dihiasi senyuman dan tawa. Reyhan akan memberikan itu untukmu." Ucap Rima pada dirinya sendiri.
Deg...
Usapan lembut tangan Anto di belakang rambutnya menyadarkan lamunan Rima. "Aku tidak mau melihat kamu melamun seperti tadi." Bisikan Anto di telinga Rima berhasil membuat Rima tersenyum dan tertunduk.
__ADS_1
"Nah gitu kan lebih baik." Ucap Anto seraya tersenyum.
Andini dan Reyhan saling melirik mendengar ucapan Anto kemudian mereka berdua pun menebar senyum sembari menatap kedepan memperhatikan jalanan yang akan dilalui.
"Mau kemana lagi nih kita?" Tanya Reyhan sambil fokus mengendari mobilnya.
"Terserah pada kedua gadis yang ada di mobil ini saja." Jawab Anto seraya melirik ke arah Rima.
Tetapi Rima tidak menjawab, begitupun Andini hanya membisu dan terus menatap kedepan.
"Gimana kalau kita mampir dulu ke Curug Cimahi?" Saran Reyhan seraya membelokan mobilnya.
"Jangan Rey. Kasihan pulangnya nanjak nanti mereja kecapean." Sahut Anto datar.
"Emmm... Gimana kalau ke Curug Bugbrug?" Ucap Reyhan seraya menoleh ke arah Andini.
"Dimana itu Rey?" Tanya Andini antusias.
"Itu di sebelah kanan jalan sebelum tanjakan. Kita tinggal masuk saja kesana. Jalan lurus nyampe deh." Jelas Reyhan sambil terus fokus menuruni jalanan berkelok yang di laluinya.
"Kenapa jangan? Aku pengen berenang disana." Sahut Reyhan sedikit kesal.
"Memangnya kamu mau sama Andini cepet putus." Sahut Anto serius.
"Enak saja!" Bentak Reyhan seraya melirik Anto.
"Ya makanya jangan sekali-kali ke Curug Bugbrug bersama pasangan. Kalau mau nanti kita aja berdua." Ucap Anto tetap serius.
"Apa hubungannya Curug Bugbrug sama putus dengan pacar?" Tanya Reyhan tak kalah serius.
"Katanya... Jika kita main ke Curug Bugbrug sama pasangan yang belum nikah. Bakalan putus. Ga nunggu lama malah. Kamu mauuu? Aku sih tidaaak!" Jelas Anto sembari menoleh serius ke arah Reyhan.
"Tentu saja Ga mau!" Sahut Reyhan tegas.
"Kalau gitu kita langsung pulang aja Rey." Sahut Rima memerintah.
"Tuh.... Rima aja ga mau putus sama aku." Goda Anto sembari tersenyum lebar dan melirik ke arah Rima.
__ADS_1
"Aw."
Sontak Rima mencubit paha Anto dan berhasil membuat laki-laki itu megaduh kesakitan dan mengusap-ngusap pahanya yang dicubit oleh Rima.
"Rima cantiiik. Tahan lah tangannya masa tega bikin tanda terus dibadanku." Rengek Anto sembari terus mengusap-ngusap pahanya.
Andini san Reyhan tertawa terkekeh mendengar Anto mengaduh kesakitan. Mereka tahu betul kebiasaan sahabatnya itu jika digoda dan merasa kesal pasti tangannya beraksi.
"An... Kamu harus hati-hati kalau dekat Rima." Goda Reyhan.
"Maksudmu Rey?" Sahut Rima tegas sembari cemberut.
"Barbar sih main cubit main pukul." Sahut Reyhan seraya tertawa.
Rima memajukan duduknya dan spontan mencubit lengan Reyhan yang sedang memegang kemudi hingga membuat mobil yang mereka tumpangi sedikit oleng.
"Rima!" Pekik Reyhan sembari membelokan kemudinya.
"Salah sendiri." Jawab Rima ketus.
Mereka pun tertawa terkekeh dengan tingkah mereka sendiri.
Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah Rima. Perbincangan hangat diantara mereka membuat kedua pasangan muda mudi yang ada di dalam mobil itu terus tertawa sepanjang jalan.
"Sampai kapanpun kita tidak akan pernah melupakan satu sama lain... Oke!" Ucap Reyhan setelah memarkir mobilnya di halaman rumah Rima.
Sembari membalikkan posisi duduknya menghadap Andini dengan menatap Rima juga Anto secara bergantian. Kemudian Reyhan mengacungkan jari kelingkingnya disambut oleh Anto, Rima lalu Andini.
Reyhan tersenyum menatap jari kelingkingnya yang sudah tertaut lalu tangan yang satunya menggenggam ke empat kelingking yang saling tertaut itu.
"Jika salah satu diantara kita merasa sakit. Kita semua akan merasakannya."
Ucapan Reyhan itu mendapatkan anggukan dari semua yang ada di dalam mobilnya. Mereka pun tertawa kecil penuh arti.
Setelah menguraikan tautan kelingkingnya. Reyhan kembali duduk menatap kedepan kaca mobilnya seraya meletakkan kedua tangannya diatas kemudi.
Anto turun terlebih dulu lalu mengitari bagian belakang mobil kemudian membukakan pintu samping. Setelah mempersilahkan Rima untuk turun Anto kembali menutup pintu kemudian berjalan mengikuti langkah Rima menuju teras rumahnya.
__ADS_1