
Pagi itu Andini menyusuri jalanan kecil sembari tersenyum bahagia meninggalkan kampunya. Perjalanan tiga kilometer menuju rumah Ibu Imas terasa begitu dekat tidak seperti biasanaya.
"Kamu boleh melanjutkan sekolah seperti yang kamu inginkan. Pipih dukung kamu Din asal kamu ingat dengan janji kamu sama Mimih kemarin." Kalimat yang di ucapkan Pipihnya tadi malam membuat Andini begitu bahagia dan bersemangat menyambut pagi dan membuatnya tidak sabar menunggu hari esok.
...♡♡♡••••••♡♡♡...
Di dalam kelas Rima dan Andini sedang serius mencatat semua tugas yang diberikan oleh guru mereka. Mereka mengikuti dengan seksama semua mata pelajaran hari itu.
Senyum bahagia pun selalu nampak di sudut bibir Rima. Ya... Bagaimana tidak, setelah mendengar cerita Andini yang sudah mendapat dukungan kedua orangtuanya yang memoerbolehkan sahabatnya itu untuk melanjutkan sekolah dan melupakan tentang perjodohan yang tidak di inginkan oleh Andini.
Setelah bel tanda pelajaran usai mereka membereskan semua buku dan alat tulis yang ada si atas meja masing-masing.
"Din.... aku ga bisa balik bareng kamu... Maaf yaa..." Rima berdiri mematung menghadap papan tulis yang ada di depan meja sekolahnya tidak berani menatap Rima, karena sesungguhnya Rima merasa berat mengucapkan hal itu.
"Tumben Rim, ada apa..."
Andini menghentikan tangannya yang sibuk memasukan semua buku ke dalam tasnya dan meletakan kembali di atas meja buku paket yang masih dia pegang.
Andini berdiri memegang bahu sahabatnya.
"Memangnya kamu mau kemana Rim sampe ga bisa balik bareng aku."
"Aku mau balik bareng Ida, tadi dia minta anter ke toko buku dulu. Ga tega aku nolaknya Din."
Rima menoleh wajah sahabatnya yang terlihat kecewa. Baru kali ini mereka tidak bareng sepulang sekolah. Sekalipun bersama teman-temannya Rima sama Andini selalu ada di tengah-tengah mereka.
"Iya Rim gapapa aku bareng sama yang lain aja."
Andini kembali duduk dan segera membereskan bukunya.
"Rima... Jadi nganter kan..." Suara Ida teman mereka yang beda kelas sudah berdiri menunggu di depan pintu kelas mereka.
Rima mengangguk. Andini melempar senyum melihat Ida yang juga menatapnya. Lalu mereka berjalan disepanjang lorong sekolah melewati kelas-kelas lain menuju gerbang.
"Din... Padahal kamu ikut kita aja dulu keatas." Rima menghentikan langkahnya sebelum keluar gerbang sekolah sembari menengok kesebelah kiri jalanan yang sedikit menanjak.
Ida dan Andini menengok bersamaan kearah jalanan yang di tunjuk Rima. Andini menggeleng lesu sembari menatap kedua temannya.
"Aku harus cepet balik.. Kalau telat nanti Mimih ngomel." Muka cemberut Andini terlihat lucu dimata Rima.
"Gapapa kalian keatas, aku nyebrang ya." Andini tersenyum ke arah Rima dan Ida. Mereka berdua hanya tersenyum melihat pungung Andini yang sedang menyebrang jalan.
Setelah mereka saling melambaikan tangan. Andini berjalan sendiri kearah rumah Omanya. Sedangkan Rima bejalan menemani Ida berlawanan arah dengan Rima.
__ADS_1
"Andini... Tunggu!"
"Dewi..." Suara Andini lirih setelah mengok ke arah suara yang memanggil namanya.
Dewi, anak kelas dua adik kelasnya yang juga tak lain kakak sepupu Andini dari Ibu Salamah. Mimihnya Andini. Demi berlari mendekat ke arah andini.
"Pulang bareng ya." Suara dewi terengah-engah lalu menggandeng tangan adik sepupunya itu tanpa menunggu jawaban dari Andini.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalanan aspal. Dewi tidak melepaskan gandengan tangannya terhadap Rima.
"Tumben pulang bareng Wie.. Biasanya kamu naik angkutan umum."
Dewi hanya tersenyum menoleh wajah Andini sembari mengatur nafasnya. Gadis berwajah oval dengan rambut lurus panjang sedikit lebih pendek dari ramhut panjangnya Andini. Kulit putih bersih tak kalah cantik oleh Andini.
"Kamu mau bareng sampe mana Wie. Arah kita kan beda." Andini masih terheran dengan kakak sepupunya itu.
"Aku mau balik ke rumah Ibu, ga balik ke rumah paman." sahut Dewi terus berjalan seiring langkah Andini.
"Oooh.. Ya udah kalau gitu, aku sih seneng bisa ada temen ngobrol sampai kerumah, biasanya hanya sampe rumah Oma bareng Rima." Andini tersenyum sembari mengingat sahabatnya yang siang itu tidak bersamanya.
Dipertigaan jalan pemisah jalanan aspal dengan jalan yang menunu rumah Omanya. Tiba-tiba Dewi menghentikan langkahnya. Dia meminta Rima untuk berenti dulu di pertigaan itu.
"Tapi mau Wie kita diem disini, panas nih. Kalau istirahat dulu cari yang teduh yuuk.." Rima menarik tangan Dewi yang masih berdiri mematung memperhatikan angkutan umum yang selalu berhenti di pertigaan itu untuk menurunkan penumpang.
Andini menggerutu dalam hati.
Dewi tersenyum melihat sebuah angkutan umum berhenti. Terlihat binar bahagia dari kedua bola matanya. Rima makin terheran melihat sikap tidak jelas dari kakak sepupunya itu.
Dewi membalikan badannya ke arah Andini sambil tersenyum dan menggandengnya mengajak kembali berjalan perlahan. Andini pun mengikuti langkah Dewi tanpa berkata atau pun bertanya apapun walaupun Andini masih bingung dengan tingkah kaka sepupunya itu.
Mereka berdua terua berjalan tapi langkah Dewi sangat pelan dan sesekali nengok ke arah belakang.
Andini tidak memperdulikan kenapa Dewi sering nengok ke arah belakang. Andini terus berjalan sambil menatap jalan yang akan di pijaknya.
"Hai." Dewi melepas tangannya yang semenjak tadi menggandengan adik sepupunya.
"Hai.." Andini kaget mendengar suara cowo yang membalas sapaan kakak sepupunya.
"Rey... Ga nyangka bisa ketemu lagi disini." Dewi tersenyum dan menghentikan langkahnya sembari menahan tangan Andini agar tidak terus melangkah.
"Iya... Apa kabar." Reyhan sesekali melirik Andini yang acuh dan hanya berdiri mematung di samping kakak sepupunya.
"Jadi ini yang bikin Dewi bertingkah aneh." Andini berkata pada dirinya sendiri. Andini teringat cerita Rima sahabatnya tentang gosip yang nyata. "Jangan-jangan Dewi yang dimaksud Rima itu Dewi sepupuku bukan Dewi Nurmala dan ini cowo Reyhan... Dewi mau nembak Reyhan depan aku." Andini meracau dalam hati.
__ADS_1
"Din!" Dewi menggoyangkan tangan Dewi yang sedang mematung memandangi kendaraan yang lewat di depan mereka.
"Ya Wie.." Dewi mengalihkan pandangannya ke arah kakak sepupunya yang kini berdiri disamping Reyhan.
"Eeehh... Dini malah melamun. Ini kenalin Reyhan. Rey ini Andini adik sepupuku juga kakak kelasku."
Dewi tersenyum ke arah cowok tampan berperawakan tinggi yang berdiri tegap disampingnya. Kulit putih bersih dengan wajah simetris dan alisnya yang tebal terlihat cowok ini begitu tampan. Rambutnya yang cepak ikal hidung yang mancung menojolkan kalau dia keturunan blasteran.
Terlihat binar bahagia di kedua bola mata Dewi yang sedang di tatap oleh Andini. Andini masih belum percaya kalau kakak sepupunya yang usianya setahun lebih mudan dan masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama sudah berani mau menembak seorang cowok.
"Reyhan.. Panggil saja Rey." Reyhan mengulurkan tangannya sambil tersenyum kearah Andini.
"Andini.. Boleh panggil Dini saja." Andini tersenyum ke arah Reyhan.
"Kalau gitu aku balik duluan ya Wie." Andini berbalik menatap Dewi dan ternyum.
Dewi yang sejak tadi terus mengarahkan kedua bola matanya ke wajah Reyhan seolah tak mau kehilanagan pandangannya dari cowok tampan yang ada di sampingnya itu. Sampai-sampai Dewi tidak mendengar apa yang di ucapkan Andini.
"Dew, aku pulang duluan ya." Andini menyentuh bahu dewi dan mendekatkan bibirnya ke telinga kakak sepupunya itu.
"Hah iya Rey... Eh Din oke." Dewi kaget dan mengalihkan pandangannya ke arah Andini yang berdiri di samping kananya.
"Hem.." Andini dan Reyhan tersenyum saling melirik.
"Kenapa ga bereng aja bertiga, kan arah kita sama sampai pertigaan disana."
Reyhan menatap Andini setelah menujuk jalan yang ada didepan meraka. Pertigaan yang dimaksud Reyhan masih dua puluh menit dengan berjalan kaki.
Andini tidak menjawab, dia hanya menatap Dewi seolah menunggu persetujuan dari kakak sepupunya itu. Dewi mengangguk membalas tatapan Andini. Tetapi Andini bisa melihat raut kecewa di wajah Andini.
Tetapi Dewi pun tidak bisa menolak karena memang jalan yang dituju mereka bertiga selama dua puluh menit masih searah.
"Oh jadi si Reyhan itu kalau pulang selalu ambil arah ke jalan yang sama menuju rumah Rima." Gumam Andini dalam hati sambil terus berjalan menemani Dewi yang selalu mengajak Reyhan bicara.
"Aku duluan ya Din." Tiba-tiba suara Reyhan menghentikan langkah Andini.
Tanpa di sadari Andini, mereka sudah sampai dipertigaan dimana Reyhan mengambil arah kiri untuk menuju rumahnya sedangkan Dewi dan Andini mengambil arah kanan menuju rumah Oma mereka berdua.
Andini mengangguk acuh tak acuh kearah Reyhan. Sedangkan Dewi terlihat enggan berpisah dari Reyhan, terlihat Dewi melambatkan langkahnya.
"Rey... Kapan-kapan kita bisa pulang bareng lagi ya...." Suara dewi lirih sambil menatap Reyhan.
Reyhan hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1