Ijazah Dan Pelaminan

Ijazah Dan Pelaminan
Part ^31^


__ADS_3

Andini memalingkan pandangannya dari Reyhan. "Entah aku harus percaya atau tidak dengan apa yang kamu ucapkan Rey. Bagiku ini terlalu cepat. Perkenalan kita belum lama Rey." Gumam Andini pada dirinya sendiri.


"Aku tahu ini terlalu cepat. Aku juga tidak mengerti. Yang jelas aku suka sama kamu Din. Maukah kamu jadi pacar aku?"


Deg...


Jantung Andini berdegup. Ucapan Reyhan seketika membuat matanya menatap dalam kedua bola mata Reyhan. Reyhan tersenyum manis seraya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah saputangan merah jambu dengan gambar hati berwarna merah gelap ditengah-tengah saputangan itu. Terlihat kontras dan Indah seakan melambangkan rasa cinta Reyhan terhadap Andini.


Lalu Reyhan menyodorkan saputangan itu dengan telapak tangannya. Andini tertegun dan menatap saputangan yang ada di atas telapak tangan Reyhan.


"Jika kamu menerimaku maka ambilah saputangan ini." Ucap Reyhan dengan harap-harap cemas.


Andini menghela nafas panjang. Entah apa yang dirasakannya. Tatapannya tak lepas dari sapu tangan yang Reyhan sodorkan. Kedua pipinya mulai merona, Andini terlihat salah tingkah lalu memalingkan tatapannya tanpa disengaja beradu dengan tatapan Rima. Seketika Rima tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Kedua bola mata Andini melebar melihat sahabatnya itu sedang memperhatikannya.


"Din." Andini kembali menatap Reyhan yang memanggilnya. "Aku bisa mengerti jika kamu menolak aku. Aku akan tetap menjadi teman kamu." Ucap Reyhan sambil mengepalkan tanggannya menggenggam erat saputangan hendak dimasukan kembali kedalam saku celananya.


Sebelum Reyhan menarik tangannya terlbih dahulu Andini telah meletakkan telapak tangannya diatas kepalan tangan Reyhan. Reyhan pun tersenyum seraya membuka jemarinya perlahan. Tangan Andini yang kini tertelungkup diatas telapak tangan Reyhan menggenggam saputangan itu dan mengambilnya perlahan.


Debaran hati Reyhan yang semula berdegup kencang kini kembali tenang. Hatinya sangat lega karena Andini telah mengambil saputangan yang dia berikan. Kebahagiaan menyelimuti semua relung hati Reyhan karena kini Andini telah menerimanya sebagai kekasih.


Andini menunduk dengan kedua tangan diatas meja sembari terus menatap saputangan yang kini telah berada dalam genggamannya. Antara bahagia dan rasa khawatir dalam dirinya bercampur menjadi satu.


Reyhan mengenggam kedua tangan Andini. "Aku tahu yang kamu pikirkan. Jangan terlalu khawatir. Aku akan bersamamu untuk melewati hari-harimu." Ucapan Reyhan berhasil membuat Andini tersenyum lebar. Tanpa ragu Andini menganggukan kepalanya dengan tegas.


Yang semenjak tadi Rima memperhatikan sahabatnya itu pun turut mengembangkan senyumnya melihat Reyhan yang sedang menggenggam tangan Andini. Senyuman Andini cukup menjadi bukti untuk Rima. Jika mereka kini sudah menjadi sepasang kekasih.


"Kamu sedih?" Tanya Anto dengan tatapan lembutnya. Ketika Rima menundukan kelalanya.


"Enggak." Jawab Rima datar seraya mendongakkan kepalanya menatap Anto. "Kenapa kamu bertanya begitu?" Tanya Rima dengan nada kesal.


"Rim. Aku tahu perasaan kamu sama Reyhan." Sahut Anto.

__ADS_1


"Emang perasaan aku gimana sama Reyhan?" Tanya Rima tetap datar.


"Rima." Anto menatap kedua bola mata Rima. "Aku tau kamu menyukai Reyhan." Lanjut Anto sembari meyedot juice strowbery yang ada dihadapannya.


"Eh jangan sembarangan ya. Memangnya siapa yang bilang itu ke kamu An!" Bisik Rima dengan penuh penegasan. Matanya melirik kearah Andini dan Reyhan khawatir apa yang di ucapkan Anto terdengar oleh kedua sahabatnya itu.


"Ga ada." Jawab Anto cuek.


"Terus... Kalau ga ada yang bilang ya kamu jangan ngarang." Ucap Rima dengan memonyongkan kedua bibirnya.


"Rimaaa... Aku bisa melihatnya. Sudah sejak lama kan?" Sahut Anto menatap wajah Rima yang mulai terlihat salah tingkah karena perasaan yang disembunyikannya selama ini ternyata diketahui oleh Anto.


"Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu duga." Ucap Rima mengelak.


"Ya sudah terserah kamu. Yang jelas aku salut sama kamu Rim. Kamu bisa tersenyum karena kedua sahabat kamu bahagia." Puji Anto seraya tersenyum manis sambil terus menatap wajah Rima.


Rima membelalakan kedua bola matanya kesal sembari meraih juice jeruk dan menenggak habis dalam sekali tegukan. Anto tertawa melihat tingkah gadis yang duduk di depannya itu.


Sontak Reyhan dan Andini menolah ke arah Anto. "Kenapa An?!" Suara mereka berbarengan.


"Cie... Kompak banget sekarang." Goda Rima sembari tertawa kecil.


"Apaan sih kamu Rim." Sahut Andini mengerlingkan matanya malas dengan bibir yang maju kedepan kesal dengan godaan sahabatnya itu.


Anto yang masih mengusap-ngusap pipinya karena dicubit oleh Rima menujukan telunjuknya ke arah Rima. "Temen kamu barbar Din. Masa pipi aku dicubit katanya gemes dengan ketampananku." Ucap Anto menggoda Rima.


"Kalian jadian." Suara Andini meninggi kaget.


"Eh... Apa.." Rima hendak beranjak dari tempat duduknya. Tapi Anto dengan sigap meraih pergelangan tangan Rima dan menggenggamnya. "Iya Din kita udah jadian. Emangnya kalian aja yang bisa jadian." Anto tersenyum sembari menatap wajah Rima yang telihat merona.


Rima kembali duduk di depan Anto sembari membunang nafas kesal. Andini dan Reyhan tersenyum lebar melihat tingkah kedua temannya itu.


"Tuh Din sahabat kamu cemberut karena kita ketauan jadian. Padahal kan ga apa-apa ya Din, Rey." Ucap Anto serius dengan masih menggenggam tangan Rima.

__ADS_1


"Tentu saja malah kita seneng ya Din." Sahut Reyhan seraya mengalihkan pandangannya kewajah Andini. Andini tersenyum mengangguk.


"Kamu apaan sih An. Dikiranya beneran loh." Bisik Rima setelah memastikan kedua sahabatnya tidak lagi memperhatikannya.


Anto yang masih menggenggam tangan Rima dan seolah tidak mau melepaskannya menatap dalam kedua bola mata Rima.


"Rima. Aku tahu kamu tidak pernah ada rasa suka sama aku melebihi teman. Tapi sungguh aku memiliki perasaan lebih sama kamu. Dan aku tahu mungkin ini terkesan memanfaatkan situasi. Tapi bukan begitu maksud aku. Aku tidak mau menunggu untuk mengatakannya padamu karena aku tidak mau malah nanti kamu diambil yang lain." Tutur Anto menatap serius kedua bola mata Rima.


Kedua mulut Rima mengangga. Tak percaya atas apa yang di dengarnya. "An. Sadar kamu." Ucap Rima lirih.


"Aku sadar sejak lama Rim. Hanya kamu saja yang tidak menyadarinya karena hati kamu fokus pada Reyhan."


Rima membelalak sembari membuang muka. Tangan yang hendak ditariknya tergenggam kuat oleh Anto. Hingga membuatnya pasrah dengan genggaman tangan laki-laki yang sudah lama dikenalnya sebagai teman itu.


"Tapi Anto...."


"Aku tidak memintamu menjawab sekarang. Untuk saat ini hingga suatu hari kamu bisa menjawabnya ijinkan aku hadir lebih dihati kamu Rim." Tutur Anto serius.


"Engga bisa begitu." Sahut Andini datar.


"Kenapa tidak." Jawab Anto dengan senyum manis yang tetap mengembang dibibirnya.


"An. Jika sampai hari yang kamu tunggu atas jawaban aku dan aku mengecewakan kamu?" Tanya Rima balas menatap Anto.


"Tidak masalah." Jawab Anto.


"Yakin?" Tegas Rima.


Anto mengangguk. "Aku yakin. Tidak masalah bagiku jika nanti jawaban kamu itu ^Tidak^ kita masih bisa tetap berteman. Kita berempat." Tegas Anto.


"Tapi aku tetap berharap jawaban kamu nanti Iya bukan Tidak." Lanjut Anto dengan dengan senyum lembut seraya perlahan melepaskan genggaman tangannya.


Dan mereka pun melirik kearah Andini yang sedang tertawa kecil mendengar celotehan Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2