Ijazah Dan Pelaminan

Ijazah Dan Pelaminan
Next Part


__ADS_3

Sarapan pagi selalu diselingi dengan curhatan Rima beserta adik-adiknya. Ketiga adik perempuan Rima pun bergantian bercerita dan ditanggapi oleh kedua orangtuanya dengan penuh pengertian.


Andini hanya tersenyum lebar menyaksikan keakraban keluarga Rima.


Setelah selesai sarapan pagi, adik-adik Andini menyalamai kedua orangtuanya kemudian berangkat sekolah. Pak Ramdan pun pamit kepada istrinya hendak pergi ke perkebunan. Ibu Hasanah membekali suaminya rantang makanan untuk makan siang. Pak Ramdan menghabiskan harinya di perkebunan. Dan kembali ke rumah menjelang maghrib.


Waktu menunjukan pukul 9.30 Rima beranjak dari depan Televisi menuju kamarnya dan segera merapikan diri. Andini hanya duduk-duduk santai sembari menonton Televisi.


"Din!" Teriak Rima memanggil Andini dari dalam kamar.


Andini berdiri kemudin melangkaah menuju kamar Rima. "Ada apa kamu itu jangan teriak-teriak ih kaya anak kecil aja." Ucap Andini seraya duduk di pinggir tempat tidur.


"Rumah aku jauh dari tetangga jadi teriakan aku gak akan mengganggu siapapun." Sahut Rima menjelaskan.


"Tanpa kamu jelaskan pun aku tau itu. Disini kan ada Mamah." Jawab Andini.


"Mamah ke rumah nenek. Kalau lagi malas batuin Bapak, Mamah pasti nemenin nenek." Jelas Rima.


"Oooh.. Terus manggil mau apa tadi?" Tanya Andini.


"Rapiin diri dong. Masa pacar mau datang kamu berantakan." Jelas Rima seraya melempar sisir ke arah Andini.


Andini menangkap sisir yang di lemparkan Rima. Lalu berdiri disamping Rima di depan cermin sembari merapikan rambutnya.


Andini dan Rima kembali ke ruang tengah. Anggota keluarga Rima yang lain telah kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Rima terlihat duduk tidak tenang, sesekali mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang telah menunjukan Pukul 10.30.


Andini yang sedang menonton Televisi sesekali melirik sahabatnya itu dengan sudut matanya sembari menahan senyumnya melihat Rima yang duduk gelisah. Entah apa yang menjadi alasan Rima terlihat gelisah hanya Rimalah yang tau. Dalam batin Andini mengira Rima gelisah karena Anto telat datang kerumahnya.


Mata Andini kembali fokus menonton Televisi. Volume suara yang tidak terlalu besarpun tidak menghalangi suara mobil yang terdengar masuk ke halaman rumah Rima. Rima pun beranjak ke ruang tamu dan mengintip dari balik gordeng.


"Din.. Diniiii... " Panggil Rima dengan memelankan suaranya.


Sepertinya Andini tidak mendengar panggilan sahabatnya itu. Rima pun berlari kembali ke ruang tengah seraya mencolek bahu Andini yang masih duduk di depan Televisi.


"Apaan." Ucap Andini sembari menoleh dan mengangkat dagunya.

__ADS_1


"Mereka datang. Anto sama Reyhan. Tuh mobil Reyhan sudah di parkir di depan." Jelas Rima tergesa-gesa.


Andini beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Rima menuju ruang tamu setelah mendengar ketukan di depan pintu. Disana Reyhan dan Anto telah berdiri dengan menebar senyum manis mereka.


"Assalamuallaikum.. Hey Din.. Hey Rim." Suara Reyhan dan Anto menyapa Andini dan Rima bersamaan.


"Waalaikumsalam... Hey juga." Sahut Rima dan Andini kompak sembari membalas senyum kedua laki-laki yang berdiri di depan mereka.


"Ga disuruh masuk nih." Ucap Reyhan dengan mengukir senyum indahnya.


"Eh iya masuk yuk." Sahut Rima sambil tertawa kecil di ikuti oleh tawa renyahnya Anto dan Reyhan.


Andini pun ikut tersenyum melihat keakraban mereka semua.


Andini berlalu menuju dapur di iringi tatapan Reyhan. Rima dan Anto ikut duduk di ruang tamu bersama Reyhan. Tidak lama kemudian Andini kembali dengan membawa sirup mangga beserta cemilan yang sudah dipersiapkan.


"Silahkan diminum dong." Titah Andini sebari menatap Reyhan dan Anto bergantian. Setelah meletakan nampan diatas nakas Andini pun duduk disamping Rima.


"Makasih Din.." Jawab Anto dan Reyhan kembali kompak.


"Iya dong dalam segala hal kita pasti kompak." Sahut Reyhan.


"Termasuk urusan kekasih." Tak kalah Anto menimpali ucapan Reyhan seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Reyhan.


Reyhan pun terkekeh. "Iya lah. Kita sahabatan sejak kecil dapet pacar pun yang sahabatan juga." Tutur Reyhan sembari melirik ke arah Andini dan Rima.


Semua yang ada diruang tamu itu pun tertawa terkekeh.


***


"Jadi Andini sekarang tinggal bersama Omanya." Ucap Rangga dengan wajah sedikit sendu.


"Iya Nak Rangga. Ibu minta maaf tidak bisa membertahukan Nak Rangga sebelumnya. Biasanya Nak Rangga rutin setiap jumat berkunjung kemari. Ini sudah dua minggu baru kesini lagi." Jelas Ibu Salamah sambil menatap wajah Rangga.


"Padahal waktu itu kami sengaja mengantar Andini kerumah Omanya dihari Jumat sore. Tapi Nak Rangga tak kunjung datang. Jika saja ada Nak Rangga bisa sekalian mengantar kami dan bisa berkenalan dengan Omanya Andini." Tutur Ibu Salamah menjelaskan panjang lebar.


Rangga mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penjelasan Ibunya Andini itu.

__ADS_1


"Iya Bu saya sibuk dalam dua minggu terakhir ini. Pembukaan cabang konveksi perlu pengawasan saya sebelum saya percayakan sama orang lain."


"Mungkin lain kali boleh saya menjumpai Andini di rumah Omanya?" Ucap Rangga meminta ijin.


"Tentu saja boleh. Kapan Nak Rangga mau kesana biar kami juga nanti berangkat ke rumah Omanya Dini..." Sahut Ibu Salamah dengan senyum bahagia terpancar di sudut bibirnya.


"Belum tau pasti Bu..." Jawab Rangga terdiam. "Begini saja Bu, Nanti saya langsung kesini saja. Kita berangkat bersama-sama ke rumah Oma dari sini." Jelas Rangga.


Ibu Salamah menyetujui rencana laki-laki yang dipilihnya itu untuk dijodohkan dengan Andini. Setelah menitip salam untuk Pak Husein yang semenjak pagi sebelum Rangga datang Pak Husein sudah berangkat ke perkebunan. Rangga pun pamit kepada Ibu Salamah.


***


Kembali Kerumah Rima


"Gimana nih Rey mau jalan kita atau dirumah saja?" Tanya Anto


"Aku sih terserah dua wanita ini saja." Jawab Reyhan tersenyum melirik ke arah Andini dan Rima.


"Mau yuk Din." Pinta Rima.


Andini terdiam sejenak terlihat berfikir. "Sebaiknya dirumah saja kita. Enggak enak dong sama Mamah kamu Rim. Masa kita tiap hari keluar." Jawab Andini.


"Ah itu gampang. Aku ijin Mamah pasti boleh kok. Tenang aja." Jelas Rima dengan riangnya.


"Tetep aja aku yang enggak Rima!" Bantah Andini dengan suara tegas.


"Nanti aku jelasin juga ke Mamah aku. Aku yang ngajak kok bukan kamu Din. Jadi kalem aja jangan merasa gak enak gitu. Lagian mumpung kita masih libur. Bentar lagi sibuk sekolah mana bisa kita main." Jelas Rima dengan suara merengek.


"Terserah kamu deh." Sahut Andini sembari menghela nafas panjang.


"Emang kamu jarang keluar main gitu Din?" Tanya Anto setelah Rima berlari keluar untuk menemui Ibunya yang sedang berada dirumah Neneknya yang tidak jauh dari rumah kedua orangtua Rima.


"Jarang An. Aku lebih sering dirumah." Jawab Andini datar.


"Kalau gitu nanti aku ajak kamu ke tempat yang berbeda yang belum kamu kunjungi." Sela Reyhan seraya menatap dalam wajah Andini.


Andini melirik seraya tersenyum. "Makasih Rey, hanya saja aku tidak enak sama Ibunya Rima. Aku tidak mau disangka karena ada aku Rima jadi main setiap hari." Jelas Rima seraya memalingkan pandangannya ke arah ruang tengah.

__ADS_1


__ADS_2