
Keduanya kini terlihat lebih akrab, Andini sudah bisa tertawa enteng ketika Rangga bercanda di tengah-tengah obrolan mereka. Tanpa mereka sadari keakraban mereka telah membuat Pak Husein dan Bu Salamah ikut tersenyum bahagia yang semenjak tadi telah memperhatikan mereka dari balik tirai pintu.
"Akhirnya Pih.... " Ucap Bu Salamah sembari menatap wajah suaminya.
Pak Husein pun tersenyum bahagia melihat wajah ceria isterinya.
"Diin... ajak Rangga kesini, kita makan dulu."
Bu Salamah berpura-pura memanggil Andini dari dapur sambil menata makanan di atas meja. Pak Husein tersenyum melirik wajah isterinya lalu meninggalkannya untuk menemui Rangga yang masih asik mengobrol bersama Andini.
"Nak Rangga... Ibu sudah menunggu kalian di dapur." Ucap Pak Husein.
"Yuk.. Kasian Mimih udah cape masak." Andini berdiri dari tempat duduknya sembari menatap Rangga.
"Aku ga bantuin Mimih gara-gara harus nemenin kamu." Lanjut Andini menyalahkan.
"Dini..." Sahut Pak Husein lirih sembari menatap Rangga yang sedang tersenyum.
"Lain kali kita yang masak ya Din." Ucap Rangga seraya berdiri mengikuti langkah Pak Husein dan Andini menuju meja makan.
"Hem." Andini melirik Rangga dengan sudut matanya.
Makan siang pun berlalu dengan suasana yang hangat diantara mereka sudah tidak ada lagi kecanggungan. Hal ini membuat Rangga semakin menyukai keluarga Andini.
"Pih.. Mih.. Rangga pamit ya." Ucap Rangga yang mulai merubah panggilannya pada Pak Husein dan Bu Salamah, tentu saja itu atas permintaan Pak Husein.
Rangga beranjak dari kursinya sembari melirik jam di tangannya yang telah menunjukan pukul lima sore.
"Sampaikan salam kami ya semoga Pak Tirta sama Ibu selalu sehat." Ucap Pak Husein seraya berdiri di ikuti Bu Salamah.
"Baik Pih, nanti Rangga sampaikan." Rangga tersenyum sembari meraih tangan Pak Husein dan Bu Salamah bergantian lalu mencium punggung tangan mereka.
Setelah mengucap salam Rangga berjalan menuju teras rumah diikuti oleh Andini.
"Din, makasih ya untuk hari ini." ucap Rangga sembari jongkok meraih sepatunya.
"Makasih buat apa." jawab Andini datar.
Rangga yang masih jongkok mengenakan sepatu tersenyum mendengar jawaban dingin gadis desa itu yang kini telah membuatnya jatuh cinta.
"Makasih karena hari ini kamu tidak sedih lagi dan semoga setiap aku datang bisa terus membuat kamu bisa tertawa." Tutur Rangga sembari merapikan pakaiannya. Lalu meraih jaket yang di gantungkan dikursi teras.
"ck" Andini membelalakan matanya.
Rangga tertawa kecil. Ingin rasanya memuji Andini yang semakin cantik kalau cemberut. Tapi itu hanya Rangga ucapkan dalam hatinya, Rangga tahu Andini malah akan nyerocos memarahinya jika keluar sebuah pujian dari mulutnya walaupun hanya satu kata.
__ADS_1
Ya, Andini memang paling tidak suka di puji terlebih ketika orang memuji kecantikannya. Andini pasti spontan mengibaskan tangannya sembari cemberut.
"Jangan cemberut nanti malah makin..... " Rangga menahan ucapannya seraya menatap Andini yang sedang menatap wajahnya. "*canti*k" Gumam Rangga dalam hati.
"Apa." Andini masih menatap wajah Rangga penuh rasa penasaran.
"Engga... Itu... Kalau kamu terua cemberut malah kamu nanti makin kesel. Terus ga konsen deh tentang study kamu nanti." Sahut Rangga sembari tersenyum kecil.
"Din, kamu baik-baik dirumah ya. Fokus belajar persiapan buat test masuk SMEA nanti. Kalau perlu apapun kamu bilang sama aku... Insya Allah aku berusaha bantu kamu.. Ya!" Tutur Rangga panjang lebar sembari menatap serius wajah Andini.
Andini hanya mengangguk masih dengan wajah dingin dan masih terlihat judes.
Andini menatap mobil berwarna merah yang meninggalkan halaman rumahnya. Mobil yang di kendarai Rangga sudah tidak terlihat tetapi Andini masih berdiri mematung di teras rumahnya.
"Kasihan juga sebenernya sama Rangga." Gumamnya dalam hati. Andini menyadari jika dirinya memang keterlaluan memperlakukan Rangga dengan sangat tidak ramah.
...♡♡♡••••••♡♡♡...
Ke esokan harinya
"Jadi kemarin itu aku ya begitu sikap aku sama si Rangga." Ucap Andini sembari memainkan sepatunya dibawah pijakan meja.
Rima manggut-manggut dengan setia mendengarkan setiap kalimat yang Andini sampaikan tentang kejadian di hari Rangga berkunjung kerumahnya.
"Hem emh sih..." Andini menganggukan kepalanya sambil melirik ke arah Rima. "Sebenarnya Rangga itu orangnya baik Rim." Andini kembali melirik ke arah Rima yang masih setia mendengarkan curhatannya. Rimapun hanya tetap menatap wajah Andini.
"Dia udah aku judesin, aku bentak-bentak kalau ngomong ke dia. Eh... Malah Rangga nanggepinnya senyum-senyum aja. Padahal aku harap dia sebel gitu sama aku Rim. Heran aku..." Turur Andini sembari memajukan kedua bibirnya.
Rima terkekeh melihat sahabatnya yang cemberut. "Ya aku tahu kenapa Si Rangga tersenyum." Ucap Rima sembari masih terus tertawa.
"Kenapa.." sahut Andini heran melihat sahabatnya itu tiba-tiba tertawa.
"Abisnya kalau kamu cemberut... marah-marah... Jutek gitu lah.." Jawab Rima tertahan-tahan karena masih terkekeh dengan tingkah sahabatnya itu. "Itu malah bikin wajah kamu lucu." lanjut Rima sembari menepuk keningnya.
Sontak ucapan Rima itu mendapat cubitan di pahanya yang lumayan membuatnya terpekik. "Andiniiii... Sakit tau...!" Rima mengusap-ngusap pahanya. Andini membelalakan matanya tanpa memperdulikan rengekan sahabatnya.
"Selamat pagi anak-anak."
Semua murid terdiam dan duduk rapi di tempat duduknya masing-masing tidak terkecuali Andini dan Rima pun kini duduk serius menatap wali kelas yang telah berdiri sembari menenteng map yang berisi ijazah murid-muridnya.
"Dini... " Rima terpekik kegirangan memeluk sahabatnya itu ketika wali kelas mengumumkan peringkat kelas kedua di sebut nama Andini Husein.
Lalu mereka pun berpelukan ketika Rima Melati meraih peringkat ketiga.
○○○○○
__ADS_1
Rangkain acara pelulusan pun selesai, semua murid bergembira merayakan kelulusan di hari itu termasuk Andini dan Rima.
"Din.. Kamu mau ikut anak-anak arak-arakan dulu sembari pulang?" Tanya Rima sambil asik membuka setiap lembar ijazahnya.
"Engga ah, kita langsung pulang aja ya. Ga usah ikut coret-coretan seragam segala." Jawab Andini sembari memegang bahu sahabatnya itu
Rima menatap wajah Andini berharap sahabatnya itu mau gabung bersama yang lain untuk arak-arakan dan mencorat-coret seragam sebagai tanda bahagia atas kelulusan mereka.
"Kenapa ga mau ikutan." tanya Rima masih menatap wajah Andini.
"Sayang seragam jadi ga bisa di pake lagi." Jawab Andini enteng.
"Lah emang ga akan dipake lagi kan Din." sahut Rima terheran.
"Semua seragam aku mau aku kasih ke anak yang mau masuk SMP. Di kampung aku ada yang mau nerusin sekolah." Jelas Andini sembari tersenyum bahagia.
Tentu saja hal itu teramat sangat membuat Andini bahagia. Akhirnya harapannya terwujud, sudah ada keluarga yang mulai terbuka untuk pendidikan anaknya tidak hanya semata cukup dengan mempunyai ijazah Sekolah Dasar.
Rima pun tersenyum mendengar hal itu karena memang sejak lama Rima mengetahui jika sahabatnya itu sangat mengharapkan perubahan di kampungnya terutama di bidang pendidikan.
"Oke lah kalau gitu kita ga ikut main coret-coretan. Punyaku juga nanti bisa di kasihkan ya Din." Ucap Rima seraya berdiri dan meraih tangan Andini agar segera meninggalkan kelasnya.
"Ayo cepet." Rima menarik tangan Andini keluar terburu-buru dari kelasnya menuju halaman belakang sekolah.
"Kenapa kesini...." Tanya Andini heran.
"Kita ngumpet disini." jawab Rima setengah berbisik
"Tapi kenapa... Ngumpet dari siapa..." Andini masih terheran dengan sikap sahabatnya itu.
"Iiihhh Dini! kalau kita ga ngumpet. Temen-temen pasti maksa kita untuk gabung ngerayain kelulusan. Katanya kamu ga mau coret-coretan." Jelas Rima kesal.
Andini membulatkan kedua bibirnya sambil mengangguk lalu duduk di sebelah Rima di balik pohon rindang di belakang sekolah.
"Sampai kapan kita ngumpet disini." Andini berbisik dan mendekatkan bibirnya ke telinga Rima.
Rima mengusap-ngusap telinganya karena merasa geli kena hembusan angin dari mulut Andini.
"Sampai semua orang hilang dari sekolah ini." jawab Rima asal ceplos
Andini menyenggolkan bahunya ke lengan Rima. "Kamu tuh." Andini tersenyum kecil sembari tersenyum melirik wajah Rima.
"He... Kenapa..." tanya Rima
"Engga." Jawab Andini sembari mengatupkan kedua bibirnya.
__ADS_1