Ijazah Dan Pelaminan

Ijazah Dan Pelaminan
Part ^23^


__ADS_3

Rima membalas tatapan Andini dengan senyum lebar di bibirnya.


"Selama kenal sama kamu terus kita sahabatan dengan janji kita kalau kita tidak akan pernah merahasiakan apapun selamanya." Ucap Rima meyakinkan sahabatnya kalau Rima tidak pernah lupa dengan janji persahabatan mereka.


"Sampai detik ini aku tidak pernah merahasiakan apapun seperti halnya kamu selalu cerita apapun sama aku Din." lanjut Rima dengan tegas sembari memegang kedua bahu Andini.


Andini terdiam hanya menatap kedua bola mata Rima seolah mencari jika ada satu kebohongan di balik kedua bola mata sahabatnya itu.


"Apa yang kamu kira aku sembunyikan dari kamu Din...sebaiknya kamu tanyakan sama aku. Aku pasti jawab jujur." lanjut Rima yang masih menatap Andini kembali meyakinkan sahabatnya itu.


"Baik... Tapi kamu jangan marah.." sahut Andini


"Aku janji" Jawab Rima sembari menyodorkan jari kelingkingnya yang disambut dengan jari kelingking Andini.


Mereka pun tertawa kecil sambil duduk berhadapan dengan jari klingking saling tertaut satu sama lain.


"Kamu pacaran sama Reyhan?" Tanya Andini dengan tegas. Rima pun menggeleng.


"Kamu suka sama Reyhan?" Lanjut Andini. Rima masih menggeleng.


Andini terdiam sambil menatap kedua bola mata Rima. "Kamu pernah bilang kalau kamu suka sama Reyhan." lanjut Andini. Kali ini Rima mengangguk.


"Terus kenapa tadi kamu ga ngaku?" Tanya Andini dengan nada kesal.


"Aku pernah bilang suka sama Reyhan karena Reyhan ganteng, baik, ramah bukan berarti jatuh cinta." Jawab Rima tegas.


"Maafkan aku Din kali ini aku terpaksa bohong demi persahabatan kita." Ucap Rima dalam hatinya.


Andini terdiam menatap tak percaya dengan apa yang Rima ucapkan.


"Padahal jika kamu pacaran sama Reyhan aku seneng Rim." Ucap Andini lirih sembari menundukan kepalanya dan mengurai jari kelingkingnya yang tertaut dijari kelingking Rima.


"Kenapa kamu bisa seneng?" Tanya Rima penasaran.


"Aku juga tahu kalau Reyhan itu anaknya baik. Ya aku seneng lah sahabat aku punya cowok yang baik." Jelas Andini sembari menatap wajah Rima.


"Kalau kamu bakal seneng jika aku pacaran sama Reyhan. Kenapa kamu tadi marah?" Tanya Rima sambil membalas tatapan sahabatnya itu.


Kali ini Rima yang sedang mencari kejujuran dari Andini.


"Bukan marah, aku kesel aja kenapa kamu rahasiakan dari aku. Kita kan punya janji ga akan rahasia-rahasiaan apapun itu." Jelas Andini dengan wajah masih terlihat kecewa.

__ADS_1


Rima tersenyum senang dengan penjelasan sahabatnya itu. Rima pun memeluk Andini dengan erat dibalas dengan pelukan hangat Andini. Mereka begitu saling mengerti satu sama lain dan persahabatan mereka memang didasari rasa sayang yang tulus.


♡♡♡°°°°♡♡♡


Pembaca yang budiman. Ijazah dan Pelaminan ini karya Emak yang pertama. Jadi mohon maaf kalau banyak salah dalam penulisan ya 😁🙏


Terkadang suka kebalik ucapan karakter dengan nama yang Emak tulis..😃 Mohon dimaklum yaa.


Salam santun untuk semua yang berkenan mampir dikarya Emak. Jangan lupa sempetin like dan komennya yaa... Supaya Emak semangat bikin ceritanya.


♡♡♡°°°°♡♡♡


Rima mengurai pelukannya lalu kembali menyodorkan kelingkingnya kearah Andini. Andini sesaat menatap kelingking Rima kemudian Andini kembali menautkan kelingkingnya dengan kelingking sahabatnya itu.


Rima tersenyum lebar sembari menatap wajah Andini yang masih duduk dihadapannya kemudian Rima mengalihkan tatapannya ke kelingkingnya yang tertaut dengan kelingking Andini.


"Kamu sudah punya pacar Din." Tanya Rima seraya mengalihkan tatapannya ke wajah Andini. Andini membalasnya dengan gelengan kepala.


"Kamu suka sama Rangga?" Lanjut Rima yang di balas dengan bola mata Andini yang melebar. Rima mendongakan bahunya. Andini membalas dengan kembali menggelengkan kepalanya.


"Jika kamu nanti punya pacar bakalan cerita sama aku?" Tanya Rima tegas. Andini pun menganggukan kepalanya. " Bener...." Tanya Rima kembali dan masih di balas dengan anggukan Andini.


"Kenapa senyum?" Tanya Rima heran.


"Pengen aja." Jawab Andini sembari tertawa kecil.


"Jawab dong." Ucap Rima sembari mengeratkan tautan kelingkingnya. " Aww.. Oke aku jawab."Sahut Andini. "Aku ga suka sama Reyhan." Tegas Andini sembari masih merasa sakit dijari kelingkingnya.


"Banyak cewek suka. Kenapa kamu engga?" Lanjut Rima sambil terus menatap wajah Andini.


"Terlalu ganteng." Jawab Andini sembari terkekeh.


Rima tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu. "Apa masalahnya kalau terlalu ganteng?" Tanya Rima penasaran.


"Nanti kalau jalan bareng banyak cewek yang melirik. aku bakalan sebel." Sontak keduanya tertawa terbahak dengan jawaban Andini.


"Jadi kamu mengakui kalau Reyhan ganteng?" Kembali Rima menyerang Andini dengan harapan akan keluar kata suka dari mulut sahabatnya itu. Andini hanya mengangguk mendengar pertanyaan sahabatnya itu.


"Kamu mengakui juga kalau Reyhan baik." Andini dengan cepat mengangguk menjawab pertanyaan Rima ini.


"Sopan.. Pinter.. Ramah.." Semua pertanyaan Rima mendapat anggukan tegas dari Andini.

__ADS_1


"Kamu ada rasa suka sama Reyhan." Dengan cepat Rima melontarkan pertanyaan andalan pada sahabatnya itu dan dengan cepat Andini mengangguk tanpa menyimak terlebih dahulu.


Rima pun tertawa. "Akhirnya kamu mengakuinya Din." Ucapnya sembari mengeratkan tautan jari kelingkingnya yang hendak dilepaskan oleh Andini.


Andini cemberut kesal sembari menatap wajah Rima yang masih tertawa senang. "Kamu menjebak aku Rim. Ga adil." Ucap Rima dengan nada kesal.


"Aku ga menjebak. Kan dari tadi kita saling menanyakan apa yang pengen kita tahu dan harus jawab jujur." Ucap Rima sembari mendongakan bahunya ke arah kelingking mereka.


Andini cemberut kesal sembari menatap kelingkingnya yang masih tertaut erat.


Rima mengurai tautan kelingkingnya dengan kelingking Andini seraya membuka lebar kedua tangannya ke arah Andini. Masih terlihat sedikit kesal Andini pun memeluk sahabatnya itu yang masih tetap tersenyum.


TOK TOK


Rima dan Andini menoleh ke arah pintu kamar yang diketuk sembari mengurai pelukan mereka.


Ibunya Rima bersama Omanya Andini sudah berdiri di depan pintu kamar.


"Din, kita pulang sekarang Nak." Ucap Ibu Imas


"Iya Oma..." Sahut Andini hendak berdiri tetapi tangannya ditahan oleh Rima. "Dini nginep disini boleh ya Oma." Rima merengek sembari menatap wajah Ibu Imas. "Semalam ini aja Oma. Besok pulangnya dianterin sama Rima. Boleh yaaa.." Kembali Rima merengek sembari menangkupkan kedua tangannya.


"Ya sudah. Oma Ijinkan. Tapi besok pulang ya Din." Sahut Ibu Imas tidak tega melihat keduanya yang terlihat masih kangen satu sama lain.


Rima melompat dari atas kasur. "Makasih Oma..." Ucapnya sembari memeluk Ibu Imas.


"Iya sayang." Sahut Ibu Imas membalas pelukan Rima.


Kemudian Ibu Imas mengurai pelukannya dan berlalu meninggalkan Rima yang terlihat senang sementara Andini masih terduduk tak percaya.


Andini melompat dari atas kasur mengikuti Ibu Imas yang diantar oleh Ibunya Andini yang berjalan menuju halaman. "Oma." Andini memanggil Ibu Imas sambil berlari. Ibu Imas menoleh kearah Andini dan menghentikan langkahnya.


"Kenapa Nak?" Tanya Ibu Imas


"Oma ini beneran ngijinin Andini nginep disini?" Tanya Andini masih belum percaya.


Ibu Imas menganggukan kepalanya sembari tersenyum. Andini memeluk Omanya itu "Makasih Oma" Ucapnya lirih. Ibu Imas mengelus rambut panjang Andini.


"Besok pasti Rima antar pulangnya Oma. Sorean ya Oma." Ucap Rima yang telah berdiri dibelakang mereka.


"Iya Nak. Sore ya jangan malam." Jawab Ibu Imas penuh penegasan. Rima pun mengangguk yakin.

__ADS_1


__ADS_2