
"Kalau gitu nanti aku ajak kamu ke tempat yang berbeda yang belum kamu kunjungi." Sela Reyhan seraya menatap dalam wajah Andini.
Andini melirik seraya tersenyum. "Makasih Rey, hanya saja aku tidak enak sama Ibunya Rima. Aku tidak mau disangka karena ada aku Rima jadi main setiap hari." Jelas Rima seraya memalingkan pandangannya ke arah ruang tengah.
"Kita tunggu Rima aja. Kalau di ijinkan. Mau kan Din?" Tanya Reyhan mengharap.
"Kalau enggak diijinkan?" Andinj balik bertanya.
"Kalau Rima enggak di ijinkan ya gak apa-apa. Kita ngobrol disini saja sampai bosan." Jawab Reyhan dengan tersenyum kecil.
"Kalau Rima gak di ijinkan. Kalian berdua saja jalan. Aku nunggu disini sama Rima." Sela Anton.
"Alasan saja kamu An bilang aja kamu pengen berduaan sama Rima." Sahut Reyhan dengan gaya meledek. Andini pun tersenyum sembari memandang wajah Anto.
"Nah itu kamu tahu. Pengertian lah dikit napa..." Jawab Anto sembari mengedipkan sebelah matanya.
Andini tertawa melihat tingkah Anto. "Eh An jangan sambil ngedip-ngedipin mata kaya gitu." Ucap Andini.
"Kenapa niiihhh... takut jatuh cinta sama aku yaaa." Jawab Anto sembari menggerak-gerakan kedua alisnya.
DUG...
"Aw... Pelan lah Rey. Sakit tau!" Anto mengusap-usap betisnya kena tendangan kaki Reyhan.
Reyhan membolakan kedua matanya sambil menganggkat telunjuk didepan hidungnya sendiri. Andini terkekeh melihat adegan kedua laki-laki yang ada dihadapannya itu.
"Makanya jangan sekali-kali." Jawab Reyhan tegas.
Anto mengangkat telapak tangannya keatas kening dengan posisi hormat "Siap" Ucapnya sembari tertawa di ikuti tawa renyah Reyhan dan Andini.
"Udah ah jangan bercanda terus. Sakit nih perut ketawa mulu." Titah Andini dengan suara tawanya.
Reyhan meletakkaan tangannya di pucuk kepala Andini lalu mengusap-ngusapnya. "Tapi aku tuh senang melihat kamu ceria dan tertawa lepas seperti ini." Ucap Reyhan seraya mengusap air mata di pipi Andini.
"Cie..cieee... So sweet." Tiba-tiba suara Rima terdengar dari ruang tengah.
Ketinganya menoleh kearah Rima yang sedang berjalan malas menuju ruang tamu.
"Tanda-tanda kurang baik nih." Ucap Anto lirih sembari menatap wajah malas Rima.
Rima menjatuhkan badannya disamping Andini seraya membuang nafas panjang.
__ADS_1
"Gak di ijinin." Ucap Rima sembari cemberut.
Semua terdiam mendengar penjelasan Rima ketika menemui Ibunya.
***
"Assalamuallaikum Mah... Nek." Ucap Rima seraya membuka pintu depan rumah neneknya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam..." Jawab Ibu Hasanah berbarengan dengan Nenek Hindun.
"Kok sendiri... Mana Andini?" Tanya Ibu Hasanah heran.
"Dini nunggu dirumah. Ada Anto sama Reyhan." Jawab Rima seraya meraih tangan neneknya dan mencium punggung tangan Nenek Hindun.
Rima pun duduk disamping Ibu Hasanah sambil menggelayutkan tangannya ke leher ibunya itu.
"Mah.. Rima pengen main lagi yaa.. Mumpung ada Reyhan bawa mobil. Boleh ya Maah.. Kan masih libur nih, Kalau nanti sudah sibuk sekolah mana bisa jalan bareng lagi." Rengek Rima.
Ibu Hasanah menghela nafas panjang seraya menurunkan kaki ibunya yang sedang dipijitnya.
"Rim. Kan baru kemarin kamu jalan-jalan sampe sore bareng mereka. Masa sekarang sudah mau pergi lagi." Jawab Ibu Hasanah seraya menatap wajah putrinya.
"Kalau kamu sendiri mau jalan-jalan Mamah ijinkan. Tapi Andini..."
"Kenapa memangnya dengan Andini. Kan Rima yang ngajak Mah." Sela Rima.
"Omanya Andini hanya mengijinkannya nginep dirumah kita sampai tadi malam saja. Jadi sore ini Andini harus sudah pulang. Supaya Omanya tidak khawatir Rim."
"Kalau Andini tidak pulang hari ini. Kedepannya tidak baik buat Andini. Omanya tidak akan percaya lagi jika Andini pergi sama kamu. Bisa-bisa Andini dikekang juga sama Omanya. Masa kamu tidak kasihan." Tutur Ibu Hasanah panjang lebar.
Rima pun terdiam dengan wajah cemberutnya mendengar penjelasan Ibu yang telah melahirkannya itu. "Bener juga sih apa yang Mamah bilang." Sahut Rima tapi hanya dalam hatinya saja.
"Sebaiknya antar dulu Andini pulang mumpung ada Reyhan bawa mobil. Ibu tidak mau Oma Imas khawatir menunggu Andini." Titah Ibu Hasanah seraya membelai punggung anaknya yang terlihat kecewa.
Tanpa bantahan Rima pun beranjak pamit dan kembali kerumahnya.
***
"Begitu yang di bilang Mamah." Pungkas Rima seraya menatap wajah Andini yang tersenyum menatapnya.
"Kamu malah senyum-senyum aja sih. Aku kecewa ini." Ucap Rima sembari merapatkan kedua bibirnya.
__ADS_1
"Tapi yang dibilang Mamah kamu itu benar. Bahkan tadi aku sudah berkemas." Sahut Andini datar.
"Berkemas?" Ucap Rima.
"Iya Rima. Semua baju aku sudah aku masukin ke dalam tas. Aku kan harus pulang sesuai ijin Oma kalau hari ini aku harus kembali kerumah." Jelas Andini.
Rima memutar bola matanya malas sembari membuang nafas panjang.
Reyhan hanya tersenyum dengan tatapan penuh arti terhadap Andini.
"Rima sayang. Kalau kamu mau jalan-jalan dengan senang hati aku akan antar kamu kemanapun kamu mau. Kan Mamah sudah membolehkan?" Anto membujuk Rima agar tidak terus cemberut.
"Tapi lebih seru jika kita pergi bareng-bareng." Ucap Rima dengan nada kesal.
"Mau gimana lagi kan Mamah kamu tidak mengijinkan." Sahut Reyhan.
"Gini aja!" Ucap Rima bersemangat membuatnya mendapat tataoan instens dari ketiga orang yang sedang duduk dibersamanya.
"Kita antar Andini pulang. Terus kita minta ijin dulu Oma Imas untuk mengajak Andini jalan-jalan. Gimana?" Turur Rima mengharap dukungan dari Anto juga Reyhan.
Reyhan dan Anto saling menatap. "Boleh." Ucapnya bersamaan.
Reyhan menatap wajah Andini yang diselimuti keraguan. Reyhan tersenyum manis pada wanita yang kini telah menjadi kekasihnya itu.
"Itupun kalau Andiniku mau..." Ucap Reyhan.
Andini membalas tatapan Reyhan seraya menebar senyum manisnya. "Kita lihat saja nanti. Kalau Oma mengijinkan aku ikut kalian. Kalau enggak. Aku gak mau maksa Oma untuk ngijinin aku pergi." Jelas Andini sembari memalingkan pandangannya menatap ke arah Rima.
Rima pun mengangguk seraya berlari menuju kamarnya untuk merapikan diri dan meraih tas selendangnya dari atas nakas.
"Aku bilang Mamah dulu." Teriak Rima dari ruang tengah kemudian berlari keluar melalui pintu samping ruang tengah menuju rumah neneknya.
"Bersemangat sekali dia." Ucap Reyhan sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
Andini hanya tersenyum menatap bayangan Rima di balik kaca jendela. Anto pun ikut terkekeh. "Rima.. Rima." Ucapnya.
"Rencana mau kemana nih Rey?" Tanya Anto setengah berbisik setelah melihat Andini beranjak pergi menuju kamar untuk mengambil tas yang berisi pakaiannya.
"Ke tempat yang adem aja buat ngobrol tapi romantis." Sahut Reyhan.
"Iya tapi kemana." Jawab Anto seraya mrngerutkan keningnya. Mereka pun sejenak terdiam memikirkan tempat yang akan mereka kunjungi bersama Andini dan Rima.
__ADS_1