
Rima menarik tangan Andini supaya mau beranjak dari tempat tidurnya. "Ayo lah Andiniiii...." Setengah merengek Rima meminta Andini untuk keluar kamar. Andini masih enggan menuruti permintaan sahabatnya itu.
Diruang tamu Reyhan terlihat gelisah. Duduknya tidak tenang, sesekali Reyhan mengalihkan pandangannya ke arah ruang tengah. Andini dan Rima tidak jua kunjung datang. Reyhan menghela nafas panjang.
"Rim, sampaikan saja sama Reyhan kalau aku tidur. Jadi kamu saja yang menemaninya, yaaa..." Pinta Andini seraya memegang pergelangan tangan Rima yang masih menggenggam lengan Andini.
Rima terdiam menyerah. "Lain kali jangan begini ya Din setidaknya temui hanya sekedar untuk menyapanya." Ucap Rima sembari memutar malas kedua bola matanya.
Rima melepaskan tangan Andini yang tersenyum menatapnya. "Makasih ya Rim." Ucap Andini seraya berdiri dan memeluk Rima. "Maafin aku bukannya tidak sopan, hanya saja aku belum siap untuk ini." lanjut Andini seraya mengurai pelukannya.
"Tapi janji lain kali..."
"Iya, aku pasti menemuinya." Sahut Andini dengan cepat agar sahabat yang ada dihadapannya itu tidak terus cemberut.
Rima tersenyum malas mendengar ucapan Andini. Diruang tamu Rima mendapati Reyhan yang masih duduk menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sembari memainkan kedua kakinya. Rima tidak tega melihat kegelisahan Reyhan. Akan tetapi Rima tidak bisa lagi membujuk Andini jika sahabatnya itu sudah membuat sebuah keputusan akan sangat sulit untuk menggoyahkannya.
"Maaf Rey..."
Suara Rima mengagetkan Reyhan hingga terperanjat dari tempat duduknya. Reyhan yang semenjak tadi melamun tidak mengetahui kedatangan Rima.
"Bagaimana?" Ucap Reyhan sambil merapikan t-shirt berkerah warna merah yang dikenakan senada dengan celana jeans warna navi. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
Rima menghela nafas panjang seraya menjatuhkan badannya ke kursi. "Tidak mau keluar. Katanya belum siap Rey. Malah minta aku untuk bilang jika dia tidur." Tutur Rima datar.
Reyhan tersenyum mendengar hal itu. "Justru hal ini yang membuat Andini berbeda dari yang lain." Ucap Reyhan dalam hatinya.
"Kamu tidak kecewa Rey?" Tanya Rima
"Kok kamu tahu." Sahut Reyhan
"Ya tahu lah dari senyuman kamu. Bukannya gimanaaa gitu... Ini malah tersenyum." Ucap Rima
"Aku mengerti jika Andini tidak mau menemui aku Rim. Apalagi kamu sudah memberitahunya tentang perasaanku. Jangan memaksanya lagi, biarkan saja. Mungkin lain waktu bisa." Tutur Reyhan dengan senyuman yang masih mengembang di kedua bibirnya.
"Ya sudah." Sahut Rima seraya menegakkan duduknya.
"Mungkin bukan disini tempatnya untuk mengajaknya bicara Rim." Ucap Reyhan serius.
__ADS_1
"Maksudnya?" Sahut Rima nampak dengan wajah heran.
"Besok aku kesini pagi-pagi bawa mobil, aku ajak kalian ke sebuah tempat. Mungkin disana Andini mau aku ajak bicara." Jelas Reyhan
"Disana dimana?" Tanya Rima penasaran.
"Rahasia." Jawab Reyhan sambil tersenyum.
"Kamu ngajak aku juga?" Tanya Rima untuk meyakinkan. Reyhan pun mengangguk tegas.
"Enak saja kamu mau jadikan aku kambing conge. Duduk sendirin menyaksikan kamu yang bermanis-manisan sama Andini." Ucap Rima ketus.
"Ha ha ha." Reyhan tertawa. "Manis-manisan memangnya buah dibikin manisan." Ucap Reyhan masih terkekeh atas kelucuan ucapan Rima.
Rima cemberut kesal keseriusannya malah ditertawakan oleh Reyhan.
"Tenang saja Rim. Aku ajak teman aku juga. Jadi nanti kita berempat. Jadi kamu ada teman mengobrol. Masa aku tega menjadikan kamu kambing conge." Jelas Reyhan kembali serius.
"Teman kamu siapa?" Tanya Rima.
"Tidak bisa menunggu besok napa." Sahut Reyhan
"Kalau tidak?" Suara Reyhan penasaran.
"Aku enggak akan ikut." Jawab Rima tegas.
"Jangan begitu. Jika kamu tidak ikut maka Andini pasti tidak akan mau." Ucap Reyhan dengan nada khawatir.
Rima tidak tega melihat laki-laki yang di cintainya terlihat gelisah dan khawatir. "Iya oke aku ikut tapi tetep harus bilang siapa yang mau kamu ajak?"
"Anto." Jawab Reyhan datar.
"Oooo..." Rima mengangguk sembari membulatkan kedua bibirnya.
"Kenapa sih kamu Rima malah mendukung rencana Reyhan." Ucap Andini lirih. Merasa kesal karena kelakuan Rima sangat bertentangan dengan keinginannya.
Andini merasa bingung entah apa yang harus diperbuatnya. Disisi lain Andini sangat tahu betul jika Rima berbuat seperti itu semata hanya untuk dirinya.
__ADS_1
Perlahan Andini membalikkan badannya kembali ke dalam kamar. Andini tidak ingin Rima dan Reyhan melihatnya sedang menguping dibalik pintu ruang tengah.
Rima dan Reyhan kembali asik mengobrol diruang tamu hingga akhirnya obrolan mereka terhenti karena kedatangan Hasanah, Ibunya Rima.
"Nak Reyhan rupanya." Ucap Ibu Hasanah sambil mendekati Reyhan.
Reyhan tersenyum manis melihat kedatangan Ibu Hasanah. "Iya bu." Ucap Reyhan seraya meraih tangan Ibu Hasanah dan mencium punggung tangan wanita itu.
"Sudah lama Nak?" Tanya Ibu Hasanah seraya duduk disamping anaknya.
"Sudah sejak tadi Bu." Jawab Reyhan tidak sungkan karena telah mengenal Ibunya Rima itu semenjak mereka masih duduk dibangku Sekolah Dasar.
Setelah lumayan cukup lama mereka berbincang. "Bu, besok pagi Reyhan mau mengajak Rima dan Andini jalan-jalan, apa boleh?" Reyhan meminta ijin kepada Ibu Hasanah.
"Memangnya mau jalan-jalan kemana?" Tanya Ibu Hasanah.
"Ke lembang Bu." Jawab Reyhan harap-harap cemas.
"Tapi...." Ibu Hasanah menatap Rima dan Reyhan bergantian.
Rima dan Reyhan saling melirik merasa cemas bagaimana jika Ibu Hasanah tidak mengijinkan mereka.
"Tapi kalian harus jaga diri masing-masing." Lanjut Ibu Hasanah memberi kelegaan terhadap Rima dan Reyhan. "Dan..." Kembali Ibu Hasanah menatap lekat wajah Reyhan. Reyhan pun sedikit tertunduk.
"Nak Reyhan harus ijin kepada kedua orang tuamu. Jika mereka mengijinkan, maka Ibu juga mengijinkan." Turur Ibu Hasanah sembari tersenyum.
Reyhan pun mengangguk dalam. "Baik Bu, Reyhan pasti ijin sama mamih dan Papih. Reyhan juga pasti akan menjaga Rima dan Andini."
Penuturan Reyhan itu membuat Ibu Hasanah tersenyum lebar seraya berdiri. "Baiklah Ibu ke dalam dulu. Besok jangan pulang malam ya." Ucap Ibu Hasanah seraya berlalu meninggalkan Rima dan Reyhan yang saling melebarkan senyumnya.
Sementara itu Andini masih anteng dengan lamunanya yang penuh arti dan hanya Andinilah yang mengerti. Dengan menelentangkan badannya diatas kasur dan kedua tangannya dilipat di belakang kepalanya, Andini menatap langit-langit kamar.
"Jika boleh aku memilih, maka aku akan memilih. Tapi jika pilihannku salah maka akibatnya akan buruk." Gumam Andini seraya memiringkan badannya.
Kegelisahan begitu menguasai hati Andini yang masih bingung, apakah harus mengikuti kata hatinya, apakah harus mengikuti perkataan sahabatnya atau mengikuti keinginan kedua orangtuanya.
Reyhan pun pamit, Rima mengantarkannya hingga kehalaman Rumah sambil terus berbincang. "Aku pulang ya Rim. Sampai ketemu besok dan sampaikan salamku sama Andini ya." Ucap Reyhan seraya meninggalkan Rima setelah melihat Rima menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Rima menatap kepergian Reyhan hingga bayangan tubuh laki-laki yang dicintainya itu menghilang.