
Setelah selesai sarapan pagi, Andini mencuci piring. Sementara Pak Husein dan Bu Salamah masih mengobrol diruang tengah bersama Ibu Imas. Bu Salamah yang masih terlihat enggan meninggalkan putrinya karena rasa cemas tidak bisa mengawasi keseharian pergaulan Andini, tak henti-henti menitipkan Andini pada Ibunya.
Tentu saja Ibu Imas sebagai Omanya Andini sangat mengerti atas kekhawatiran anaknya itu. Ibu Imas berkali-kali mengatakan selama Andini bersamanya Insya Alloh Andini akan baik-baik saja.
Selesai mencuci piring dan beres-beres meja makan. Andini menghampiri kedua orangtuanya yang masih mengobrol bersama Omanya.
Melihat kedatangan Andini, Bu Salamah menatap dalam wajah anknya itu yang kini telah duduk disamping Pak Husein.
"Din, janji sama Mimih kalau kamu akan menjaga diri baik-baik dan jangan terbawa pergaulan anak-anak kota yang sering nongkrong tidak jelas, banyak anak perempuan pada merokok bahkan bebas bergaul dengan laki-laki." Ucap Bu Salamah panjang lebar.
"Dini janji Mih. Dini tidak akan menjadi seperti yang Mimih khawatirkan." Jawab Andini menyakinkan kedua orangtuanya.
"Yang Mimih bicarakan itu semua benar tapi tidak semua wanita bergaul seperti itu Mih." Lanjut Andini tapi hanya dalam hatinya. Andini memilih tidak menjelaskan kepada kedua orangtuanya karena Andini tidak mau dikira kalau dirinya tidak mendengarkan nasehat orangtua.
"Iya, kamu harus bisa menjaga nama baik keluarga. Jangan sampai membuat malu keluarga kita." Lanjut Bu Salamah sambil terus menatap wajah putrinya itu.
Andini hanya tersenyum dan mengiyakan semua perkataan Ibunya.
Setelah kembali menitipkan Andini kepada Ibu Imas. Kedua orangtua Andini pun berpamitan pulang.
Andini menatap mobil yang melaju meninggalkan halaman rumah neneknya hingga hilang di belokan jalan. Andini menghela nafas panjang penuh kelegaan karena rasa senangnya apa yang di inginkannya mendapatkan ijin dari kedua orangtuanya. Tapi disisi lain Andini juga merasa bersalah atas paksaannya yang ingin melanjutkan sekolah sampai harus demo kabur berhari-hari.
Andini menundukan kepalanya teringat ketika Ibunya menangis saat dia kembali ke rumah diantar Ibu Imas. "Maafkan Andini Mih.. Pih.." Ucapnya lirih penuh rasa bersalah telah membuat Ibunya menangis.
"Din.. Oma tidak akan melarangmu pergi keluar rumah. Oma yakin Dini bisa memilih mana teman yang baik mana teman yang tidak baik. Mau pergi kemana sama siapa asalkan jujur sama Oma Insya Alloh akan Oma ijinkan." Ucap Bu Imas sembari memegang bahu Andini dari belakang.
__ADS_1
Andini mengangkat kepalanya lalu membalikan badannya sambil tersenyum menatap wajah Ibu Imas. "Terimakasih Oma." Jawab Andini seraya memeluk neneknya itu.
Ibu Imas mengelus-ngelus rambut panjang Andini yang sedang meneluknya. "Kita masuk yuk." Ucap Bu Imas sembari mengurai pelukan cucunya itu.
Seharian Andini menghabiskan waktu di rumah bersama Ibu Imas. Membantu bersih-bersih rumah, mencuci pakaian hingga memasak. Setiap apa yang di kerjakan neneknya itu, Andini pasti selalu berada disamping Bu Imas untuk membantunya.
Menjelang malam setelah selesai makan malam dan sholat isya. Andini merebahkan tubuhnya diatas kasur. Tangannya di lipat dibawah kepala sembari menatap langit-langit. Pikirannya melayang membayangkan seragam putih abu-abu yang akan segera dia kenakan setiap pagi.
Hatinya masih tidak percaya jika dia berhasil mendapat ijin kedua orangtuanya. Raut muka Andini meredup ketika mengingat kedua orangtuanya. Rasa bersalah kembali timbul karena telah membuat Ibunya sedih selama berhari-hari ketika Andini demo kabur dari rumah.
"Tidak ada jalan lain ketika itu aku hanya punya ide untuk kabur dari rumah." Dalam fikirannya terus memikirkan kedua orangtuanya. "Maafin Dini Mih.." Gumamnya lirih seraya memiringkan badannya. "Aku dosa ga ya.. Udah bikin Mimih nangis."Gumamnya dalam hati.
"Dosa ga ya...." Hanya Pertanyaan itu yang terus terlintas dalam benak Andini sehingga membuatnya gelisah sepanjang malam.
Waktu telah menunjukan pukul 11 malam Andini baru bisa memejamkan matanya. "Din..Dini.." Panggilan yang samar-samar berhasil membuat Andini membuka matanya perlahan. Ternyata Bu Imas sudah duduk di samping tempat tidur Andini dan menggoyah-goyahkan bahunya.
"Sudah jam lima Din ayo bangun sholat subuh dulu." Sahut Bu Imas sembari terus menggoyah-goyahkan bahu cucunya itu agar tidak kembali terlelap.
Andini menggeliat meregangkan seluruh tubuhnya lalu menyingkirkan selimut yang membalut tubuhnya.
Melihat cucunya telah duduk dan menggeliat sembari mengangkat kedua tangannya. Bu Imas pun keluar dari dalam kamar Andini menuju dapur lalu menyalakan kompor untuk masak air dan membuat sarapan. Andini turun dari tempat tidurnya lalu meraih handuk yang tergantung di balik pintu kamar. Bergegas Andini ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya mengguyurnya dengan air pegunungan yang dingin menusuk kulit.
Setelah selesai sholat subuh, Andini membereskan tempat tidurnya kemudian bergegas ke dapur untuk membantu Ibu Imas yang sedang memasak.
"Din, setelah selesai sarapan kamu bersiap ya." Ucap Bu Imas sembari membereskan piring bekas sarapan bersama cucunya itu.
__ADS_1
"Bersiap..... " Sahut Andini seraya menatap wajah Bu Imas dan mendapat anggukan dari neneknya itu.
"Oma mau pergi kemana pagi-pagi begini?" Tuturnya sembari masih menatap wajah Omanya itu yang tiba-tiba menyuruhnya untuk bersiap.
"Kita pergi kerumah Rima." Jawab Bu Imas sambil membersihkan meja makan dengan lap basah.
Andini makin kaget ketika Omanya itu mengajaknya untuk bertamu kerumah sahabatnya.
"Mau apa kita ke rumah Rima?" Tanya Andini heran.
"Oma mau mengucapkan terimakasih sama orangtuanya Rima karena telah mengijinkan cucu Oma tinggal disana selama demo berhari-hari." Jawab Bu Imas sembari tersenyum dan melirik kearah Andini.
Andini pun ikut tersenyum tetapi dalam benaknya dia kembali mengatakan "Dosa ga ya aku sama Mimih juga Pipih..."
"Oh soal itu Oma." Kalimat yang terucap dari bibir Andini seraya memandang kearah Ibu Imas. "Dini cuci piring dulu sebentar ya Oma abis itu langsung bersiap." Ucapnya Andini kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Bu Imas hanya mengangguk kecil sembari meraih sapu yang tergantung di pojok ruangan di samping pintu kamar mandi.
"Biar nanti nyapunya sama Dini Oma..." Pinta Andini ketika melihat Omanya mengambil sapu.
"Tidak apa-apa biar sama Oma saja supaya kita bisa lebih cepat berangkat kerumah Rima." Jawab Bu Imas seraya melangkah menuju teras rumah.
Andini selesai mencuci piring kemudian menyapu dapur. Bu Imas pun selesai menyapu teras juga ruang tengah rumahnya. Mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing untuk bersiap-siap.
Tak lama kemudian Bu Imas dan Andini meninggalkan rumah hendak menuju ke rumah Rima dengan menggunakan angkutan umum.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan keduanya hanya duduk santai seolah menikmati laju mobil yamg mereka tumpangi.
Sementara itu di rumah Rima terlihat sedikit ramai karena kehadiran beberapa teman sekolah Rima tak luput Reyhan pun berada di tengah-tengah mereka.