Ijazah Dan Pelaminan

Ijazah Dan Pelaminan
Part ^26^


__ADS_3

"Kalian kenapa?" Tiba-tiba Ibu Hasanah telah berdiri di depan pintu kamar Rima.


"Mamah... Eh Ibu..." Sahut Rima dan Andini bersamaan sembari menoleh ke arah Ibu Hasanah.


"Ini Mah... K-ita lagi... Ngobrolin daftar SMA." Ucap Rima. "Ya kan Din." lanjutnya seraya melirik ke arah Andini. Andini pun mengangguk sembari tersenyum.


"Mamah perhatikan tadi kalian sedih-sedihaan gitu. Mamah kira ada apa." Tutur Ibu Hasanah sembari menatap Rima dan Andini bergantian.


"Iya Bu.. Kita sedih soalnya nanti kita tidak akan bisa bareng-bareng lagi." Sahut Andini seraya memeluk Rima.


Ibu Hasanah tersenyum seraya mendekati keduanya. Kemudian duduk diantar Rima dan Andini.


"Ibu mengerti. Kalian jangan bersedih itu kan masih lama. Masih banyak waktu buat kalian bisa menghabiskan masa libur sebelum masuk SMA." Tutur Ibu Hasanah sambil mengelus rambut Rima dan Andini bersamaan.


Rima dan Andini saling menatap sembari menebar senyum bahagia mendengar penuturan Ibu Hasanah.


"Lagipula seminggu sekali kalian bisa ketemu. Andini yang main kesini atau Rima yang main ke rumah Omanya Andini." Lanjut Ibu Hasanah.


"Bener nih Mah. Boleh jika sesekali aku main ke rumah Andini?" Ucap Rima


Ibu Hasanah menganggukan kepalanya meyakinkan anaknya itu agar mereka tidak lagi terlihat sedih. Rima memeluk erat tubuh Ibunya karena merasa senang telah diperbolehkan mengunjungi Andini diwaktu senggangnya nanti.


"Ya sudah, kalian tidak boleh ada yang bersedih lagi. Anak-anak Mamah kalau sedih jadi keliahatan jelek." Tutur Ibu Hasanah sembari mengacak-acak rambut Rima dan Andini. Seraya beranjak dan meninggalkan keduanya yang cemberut karena rambutnya jadi kusut.


"Nanti Mamah tengok lagi kesini. Jika ada yang sedih lagi. Seminggu kamu tidak boleh keluar rumah." Ucap Ibu Hasanah sembari menutup pintu kamar Rima.


Rima tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya itu. Andini pun ikut tersenyum. "Ibu kamu baik dan pengertian banget ya Rim." Ucap Andini.

__ADS_1


Rima hanya tersenyum lalu beranjak meraih sisir yang berada diatas nakas.


"Din... Rapikan rambut kamu. Sebentar lagi Reyhan kesini." Ucap Rima. Andini hanya menghela nafas panjang lalu meraih sisir yang di sodorkan oleh Rima.


"Pikirkan semua yang aku bilang tadi ya. Aku tahu kok Reyhan tidak akan malu-maluin kamu." Lagi-lagi Rima membujuk sahabatnya itu.


"Kamu harus mulai mencoba tantangan baru jika yang kamu khawatir cewek-cewek bakal jauhin kamu gegara kamu deket sama Reyhan." Lanjut Rima seraya membuka pintu kamarnya dan berlalu meninggalkan Andini yang mematung dan terdiam.


Andini menjatuhkan badannya ke atas kasur. Tidak lagi dia menyanggah sahabatnya itu. Andini tahu jika Rima sangat mengkhawatirkan dirinya. "Bener juga sih." Gumamnya lirih.


Dalam hatinya bimbang antara membenarkan semua perkataan Rima, disisi lain Andini takut jika diketahui kedua orangtuanya malah nanti makin memaksanya untuk menikah dengan Rangga.


"Ah!" Andini menumpahkan kekesalannya dengan memukul bantal berkali-kali.


TOK TOK TOK


Suara ketukan di pintu depan terdengar jelas oleh Rima yang sedang duduk di ruang tamu sengaja menunggu Reyhan.


"Makasih Rim." Sahut Reyhan seraya masuk lalu duduk diatas kursi ruang tamu.


Rima mengangguk. Kemudian duduk berhadapan dengan Reyhan. Lalu Rima berbisik mengatakan pada Reyhan jika dia telah menyampaikan semuanya pada Andini. "Tapi Rey... Hati Andini masih tertutup karena takut sama kedua orangtuanya." lanjut Rima sambil menatap dalam kedua bola mata Reyhan yang semenjak tadi mendengarkan dengan seksama semua yang di katakan Rima.


"Aku mengerti kalau alasan Andini itu adalah kedua orantuanya." Ucap Reyhan tersenyum. "Tapi terkait cewek-cewek temen kalian itu.." Reyhan tertawa.


"Kenapa kamu ketawa?" Ucap Rima terheran.


"Alasan temen-temen kalian yang bakal musuhin Andini, itu konyol." Ucap Reyhan serius menatap wajah Rima. "Jika alasannya hanya kedua orantuanya aku tidak akan memaksa." Lanjut Reyhan seraya menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Tapi Rey... Andini sudah dewasa seharusnya kan orangtuanya ngerti hal ini." Ucap Rima lirih seraya menoleh ke ruang tengah. Rima khawatir Andini mendengar obrolan mereka berdua.


"Ingat Rey!" Rima menatap Rey penuh keseriusan. Rey balaa menatap Rima tak mengerti.


"Jika Andini menerima kamu. Kamu harus menjaganya. Jika kamu menyakiti Andini. Kamu akan berhadaoan denganku." Tutur Rima dengan nada mengancam sembari melebarkan kedua bola matanya.


Reyhan tersenyum mendengar ancaman wanita yang ada dihadapannya itu sembari mengangkat jari tangannya dengan posisi hormat. "Siap!" Ucap Reyhan.


"Serius!" Rima membentak


"Aku serius Rim. Aku akan menjaga Andini baik-baik. Aku tidak akan menyakitinya. Dan kamu harus tahu jika Andini menerimaku. Aku akan langsung memperkenalkannya kepada kedua orangtuaku." Tutur Reyhan panjang lebar.


Kedua bola mata Rima makin membulat mendengar penuturan Reyhan. Tidak percaya Rima mendengarnya. Tapi Reyhan serius membuat Rima terdiam. "Jika itu aku, aku wanita yang beruntung." Bisiknya dalam hati. Rima pun tertunduk.


"Jika kamu ragu. Saatnya tiba aku akan ajak kamu serta Rim. Biar kamu mendengarnya sendiri ketika aku memperkenalkan Andini kepada kedua orangtuaku." Lanjut Reyhan yang mengira Rima masih meragukan perkataannya.


Rima tersenyum seraya mengangkat wajahnya. Sedih dalam hatinya, tetapi disisi lain dia juga bahagia untuk sahabatnya.


"Tunggu ya aku panggil." Ucap Rima seraya beranjak meninggalkan Reyhan.


Didalam kamar Rima terus membujuk Andini agar mau menemui Reyhan. Andini masih tetap bersikeras dengan alasannya. "Din, kamu sudah dewasa. Bukan maksud aku nyuruh kamu untuk melawan Mimih sama Pipih kamu. Tapi kamu berhak menentukan apa yang kamu mau... Selama itu hal baik!" Ucap Rima degan tegas.


Andini terdiam, kembali dalam hatinya dia membenarkan ucapan sahabatnya itu. Hanya helaan nafas yang keluar dari mulut Andini.


"Kamu tuh belum apa-apa sudah takut dimusuhin teman-teman yang suka sama Reyhan! Lanjut Rima tidak menyia-nyiakan diamnya Andini. "Masa kamu takut sama mereka-mereka. Justru pembuktian buat kamu Din." Ucap Rima tandas.


"Pembuktian.... Buat apa pembuktian sama teman-teman. Ga perlu Rim." Ucap Andini tidak kalah tandas oleh Rima.

__ADS_1


"Tentu saja pembuktian. Mereka genit, tebar pesona. Bahkan itu yang sombong dan ganjen masih ngejar-ngejar Reyhan sampe kejer kepedean bakal bisa dapetin sampe bilang siapapun tidak bisa ngalahin dia buat dapetin Si Rey. Termasuk kita. Sombong kan tuh. Sementara Si Rey kan sukanya malah sama kamu." Tutur Rima nyerocos sembari menipiskan sudut bibirnya.


Rima tertawa terbahak mendengar perkataan sahabatnya itu. "Hah... Malah ketawa." Ucap Rima kesal sembari membulatkan kedua bibirnya. "Coba kamu pikir Din. Kamu yang acuh ke Reyhan malah bikin Si Rey jatuh cinta sama kamu." Lanjut Rima sembari menatap kedua bola mata Andini yang mulai basah dan masih terkekeh sembari memegang perutnya yang terasa sakit.


__ADS_2