Ijazah Dan Pelaminan

Ijazah Dan Pelaminan
Next Part


__ADS_3

"Din, mulai saat ini aku tidak mau melihat kamu sedih." Ucap Reyhan yang masih duduk disamping Andini.


Andini tersenyum seraya melirik dan menganggukan kepalanya.


Sebelum Reyhan turun dan hendak membukakan pintu untuk Andini. Emak Othor pengen deh pembaca yang mampir disini sempeeetiiin dong tingalkan jejak jempolnya. Kan Emak Othor juga pengen ditemenin biar semangat ngesuport Andini sama Reyhannya. Biar Emak Othor yang baru ini gak merasa kesepian juga 🫠🫠


Andini pun turun dengan senyum yang terus mengembang. Sungguh Andini tidak menyangka akan merasa sesenang ini setelah dirinya dan Reyhan bisa lebih dekat lagi. Seakan Andini melupakan semua rasa risau tentang kedua orangtua dan teman-temannya.


Mereka pun kembali bergabung bersama Rima dan Anto. Ibu Hasanah tersenyum lega melihat kedatangan mereka semua.


Begitupun dengan Reyhan. Hatinya diselimuti rasa bahagia yang tidak dapat dia ukir dengan kata-kata. Kebahgaiaan terpancar dari wajahnya yang nampak ceria dan senyum manis terus tersungging di kedua bibirnya.


Tak kalah Anto dan Rima pun selalu tertawa disela-sela obrolan mereka memperlihatkan kekompakan keduanya.


Setelah puas ngerumpi berempat, Reyhan dan Anto berpamitan. Rima dan Andini mengantar mereka berdua sampai ke halaman rumah. Setelah mobil melaju dan meninggalkan rumah Rima. Kedua sahabat itu masuk ke dalam rumah dan membantu Ibu Hasanah di dapur menyiapkan makan malam untuk seluruh keluarganya.


Selesai makan malam. Keduanya kembali kedalam kamar yang seolah menjadi tempat terfavorit mereka berdua jika sedang bersama.


Andini merebahkan tubuhnya disaming Rima dengan tangan yang dijadikan bantalan. Keduanya saling lirik dan saling menebar senyum.


"Din. Akhirnya aku lega melihat kamu udah jadian sama Reyhan." Ucap Rima sembari menatap langit-langit kamarnya.


"Masa sih." Sahut Andini seraya melirik sahabatnya itu.


"Iya Din aku lega dan bahagia." Tandas Rima masih dengan senyuman yang mengembang dikedua sudut bibirnya.


"Tentu saja bahagia kan kamu sekarang ga jomblo lagi." Goda Andini.


Keduanya pun terkekeh sembari saling melirik satu sama lain. "Tapi aku enggak menyangka sama sekali kalau Anto bakalan nembak aku." Ucap Rima.


"Kamu terima dia berarti sudah sejak kama dong kamu suka sama Anto." Selidik Andini sembari menatap Rima.


HEK


Seakan mendapat benturan di dada mendengar ucapan sahabatnya itu. Rima beusaha menahan perasaannya agar wajahnya tidak meredup. "Bagaimanapun Andini tidak boleh tahu jika yang aku sukai sejak lama itu Reyhan. Aku tidak mau kehilangan dua sahabat sekaligus." Ucap Rima dalam hatinya sendiri seraya menoleh ka arah Rima.

__ADS_1


"Jangan bilang-bilang ya Din. Malu nanti kalau Anto sama Reyhan tau." Rengek Rima


Andini tertawa kecil melihat mimik muka sahabatnya itu yang terlihat seperti bocah ingusan. "Tenang aja aku ngerti kok." Sahut Andini masih dengan tawa kecilnya.


"Kenapa kamu enggak pernah cerita sama aku jika selama ini kamu menyukai Anto." Tanya Andini.


"Ya aku malu lah takut nyampe ke orangnya jadi aku pendam sendiri aja." Jawab Rima dengan nada cueknya.


"Sebel." Sahut Andini sembari melemparkan batal ke arah Rima seraya beranjak duduk dan memasang wajah cemberut.


"Hah... Kamu pengen muntah Din. Jangan disini." Goda Rima.


"Bukan begituuu. Aku sebel sama kamu." Jawab Andini ketus.


"Ga ada angin ga ada hujan ujung-ujungnya kok sebel sam aku." Sahut Rima datar berpura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud sahabatnya itu.


"Kamu bilang dipendem sendiri karena takut nyampe ke Anto. Itu tandanya kamu enggak percaya sama aku. Ya aku jadi sebel." Sahut Andini ketus dan cemberut.


Rima tertawa sembari mengaitkan tanggannya kepundak sahabatnya itu. "Jangan sebel kaya ornag ngidam aja." Ucap Rima masih terus menggoda sahabatnya. Andini membelalakan matanya.


"Aku enggak sempet cerita abisnya aku disibukan si Reyhan tentang kamu." Jelas Rima sembari menganggat-ngangkat sebelah alisnya.


"Din." Ucap Rima sembari duduk menghadap sahabatnya yang sedang tertawa.


"Hem." Sahut Andini


"Aku mau ngomong sesuatu." Ucap Rima dengan memasang wajah serius.


"Serius amat. Soal apa?" Sahut Rima sembari mengusap air matanya yang keluar karena tertawa.


"Soal hari ini." Jawab Rima.


Andini mengangkat kedua alisnya.


"Aku harap kamu tidak marah. Tapi mau marah pun aku ngerti." Lanjut Rima seraya meraih bantal dan meletakkannya diatas pangkuannya.

__ADS_1


"Jadi pertemuan kamu sama Reyhan sudah aku atur. Tepatnya kita atur sewaktu Reyhan kemarin-kemarin kesini." Lanjut Rima seraya menatap wajah sahabatnya untuk memastika reaksi Andini. Andini hanya terdiam tanpa ekspresi dan menatap wajah Rima.


"Jika kita bilang sebelumnya mau ngajak kamu jalan-jalan pasti kamu bakal nolak. Makanya itu kita bikin rencana kaya tadi. Aku minta maaf yaa." Jelas Rima seraya memegang bahu Andini.


Andini pun tersenyum mendengar penjelasan sahabatnya itu. Lalu memeluknya erat.


"Makasih Din. Kamu enggak marah sama aku." Ucap Rima seraya membalas pelukan sahabatnya itu.


"Sebenarnya aku sudah tau Rim. Soalnya waktu itu aku mengintip kalian dari balik pintu." Tutur Andini seraya mengurai pelukannya.


Rima membolakan kedua matanya. "Kenapa kamu enggak nolak waktu aku ajak pergi?" Selidik Rima terheran.


"Aku enggak tega sama kamu kalau aku nolak terus kamu sedih." Jelas Andini tersenyum manis menatap kedua bola mata sahabatnya itu.


Rima semakin melebarkan senyumnya mendengar penuturan Andini. Keduanya pun tertawa bersamaan sembari menutup kedua mulut mereka dengan telapak tangannya sembari melirik ke arah pintu.


"Udah malem jangan keras-keras nanti Ibu kamu keganggu terus datang kesini." Ucap Andini memelankan suaranya sembari masih menahan tawa.


Mereka berdua pun kembali mengobrol santai dengan tubuh terlentang diatas kasur saling berdampingan.


"Rim, besok aku pulang jam 10 pagi ya." Ucap Rima seraya menarik selimut hingga menutupi dadanya.


"Kepagian." Sahut Rima ketus.


"Bukan sebaliknya. Kesiangan." Ucap Andini kembali dengan suara lirih.


"Kepagian lah baru jam 10. Lagian mau ngapain pulang jam 10. Dirumah kamu enggak ada orang. Mau bantuin kerjaan rumah juga jam 10 kan udah segala beres." Jawab Rima panjang lebar.


Andini tersenyum tak menjawab karena memang betul apa yang dikatakan sahabatnya itu.


"Sudah tidur jangan mengingat-ngingat dulu tentang pulang. Rumah Oma enggak jauh dari sini." Ucap Rima mengingatkan Andini.


"Iya ya aku hampir lupa." Sahut Andini.


"Pasti ini nih gara-garanya Reyhan yang sedang kamu ingat terus. Sampe lupa kalau kamu sudah tinggal sama Oma Imas." Ejek Rima sembari membungkus badannya dengan selimut.

__ADS_1


Keduanya akhirnya memejamkan mata dengan tenang. Semua sudah jelas dan terbuka antara kedua sahabat itu. Rima yang awalnya merasa khawatir rencana yang dibuatnya bersama Reyhan untuk Andini akan gagal.


Bahkan Rima mengira jika pada akhirnya Andini akan marah karena dirinyalah yang mengatur pertemuan sahabatnya itu bersama Reyhan.


__ADS_2