
Justru Andini merasa takut jika dirinya memiliki seorang kekasih lalu di ketahui oleh kedua orangtuanya. Jangankan untuk melanjutkan sekolah, hanya sekedar keluar rumah pun bersama teman-temannya. Kedua orangtua Andini tidak akan pernah sedikitpun memberinya ijin.
"Kalau kamu jadian sama Reyhan. Kamu bakalan jadi buah bibir Din."
"Tapi Rima aku tidak mau. Aku akan fokus sekolah." Sahut Andini tidak menanggapi sahabatnya yang terus berusaha membujuknya agar membuka hati untuk Reyhan.
Rima terdiam putus asa entah harus bagaimana lagi membujuk Andini. Rima hanya memandang punggung Andini yang keluar dari kamar setelah meraih handuk lalu menuju kamar mandi.
Dalam diamnya Rima terus berpikir keras agar Andini mau mencoba dekat dengan Reyhan. Selesai mandi dan berganti pakaian Andini menghampiri Rima yang masih terduduk membisu di pinggir tempat tidur. Andini meletakan handuk di pangkuan Rima. "Mandi lah cepet jangan melamun terus tar kesambet lagi." Ucap Andini sembari menepuk bahu Rima. Rima hanya menoleh kemudian berlalu meninggalkan Andini.
"Jam tiga Reyhan datang sementara Andini...." Ucap Rima sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rima menghela nafas panjang seraya membuka pintu kamar mandi. Dengan cepat Rima menyelesaikan mandinya setelah berganti pakaian Rima menemui Andini yang sedang duduk di kursi di halaman belakang rumahnya.
"Rupanya kamu disini Din." Ucap Rima seraya menjatuhkan badannya disamping Andini. Andini hanya menoleh sembari tersenyum.
"Din... " Rima terdiam dan sejenak menoleh ke wajah Andini yang sedang asik dengan dawai ditangannya. "Jujur sama aku... Memangnya tidak ada rasa suka sedikitpun ya sama Reyhan?" Lanjut Rima penuh kehati-hatian.
Raut wajah Andini spontan terlihat kesal. "Aku kan sudah bilang aku tidak mau Rim. Aku mau fokus sekolah. Kenapa kamu bersemangat sekali malah bikin aku kesel tau!" Jawab Andini sedikit ketus.
"Percaya sama aku ini demi kebaikan kamu Andini." Ucap Rima tidak menghiraukan Andini yang sudah mulai kesal.
"Kebaikan apa!" sahut Andini ketus. "Yang ada malah masalah buat aku Rim." lanjut Andini sambil menatap tajam wajah sahabatnya itu.
"Masalah..." sahut Rima kaget. Dibalas anggukan yang dalam oleh Andini.
"Masalah bagaimana maksud kamu?" Tanya Rima menatap serius kedua bola mata Andini.
"Pertama kalau orangtua aku tahu, bisa kena omel tiap hari...." Ucap Andini
__ADS_1
"Tapi bisa jadi kedua orang tua kamu malah akan mengurungkan niatnya untuk jodohin kamu jika kamu sudah mempunyai pacar" Sahut Rima sembari terus menatap serius kedua bola mata Andini.
Andini menggeleng seraya melirik kearah Rima. "Justru itu yang ditakutkan sama mereka. Itu syarat mutlak dari mereka jika aku harus menjaga pergaulan Rim.... " Ucap Andini seraya menghela nafas panjang. Panjang lebar Andini pun menceritakan semuanya bahkan ketika kedua orangtuanya mewanti-wantinya agar jangan terbawa pergaulan diluaran sana.
Rima manggut-manggut mendengar semua penjelasan sahabatnya itu. "Din aku ngerti sekarang, tadinya aku pikir jika kamu dekat dengan seseorang kedua orang tua kamu akan berhenti menjodohkan kamu." ucap Rima seraya memegang bahu Andini.
Rima tetap saja merasa iba terhadap Andini yang tidak pernah diberi kebebasan sekalipun hanya dalam pertemanan.
"Memang sih wajar jika orangtua kamu khawatir tapi menurut aku terkesannya terlalu mengekang." Ucap Rima. Andini mengangguk mengiyakan perkataan sahabatnya itu.
Mereka berdua terdiam dan tenggelam dalam suasana hati masing-masing.
"Din, memangnya jika kita punya teman dekat itu kita tidak menjaga pergaulan ya?" Ucap Rima setelah sekian lama mereka saling diam.
"Hemm..." Andini melongo sembari menggelengkan kepalanya.
Mendengar penuturan sahabatnya itu, Andini melebarkan kedua bola matanya sembari mengerutkan keningnya.
"Kalau kita punya temen dekat terus bikin kita semangat sekolah. Semangat belajar. Malu dong sama pacar kalau nilai jelek. Bukankah itu positif..." Lanjut Rima sembari menatap wajah sahabatnya yang kelihatan sudah mulai terpengaruh dengan jurus yang Rima keluarkan.
Andini pun masih tetap terdiam. Dalam hatinya membenarkan semua yang dikatakan sahabatnya. Rima tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk terus mengeluarkan jurus-jurusnya supaya Andini mau membuka hatinya terhadap Reyhan.
"Nanti kamu juga bakalan gitu Din. Sekolah semangat ada yang nganterin jadi tidak usah pakai angkot. Belajar juga Semangat soalnya pasti malu dong nilai kamu jelek." Ucap Rima.
"Hemm.. Maksud kamu?" sahut Andini
"Reyhan setiap pagi bakalan ngejemput kamu ke rumah Oma. Arah sekolah kalian kan sama." Ucap Rima sambil menyenggol bahu Andini.
__ADS_1
Andini tertawa terkekeh melihat tingkah sahabatnya yang selalu berusaha keras untuk mendekatkannya dengan Reyhan.
"Aku jelasin lagi ya Din. Pertama aku tidak mau kedua orangtua aku marah. Kedua aku tidak mau dimusuhi sama cewek-cewek yang naksir Reyhan. Ketiga aku malas kalau jalan sama Reyhan banyak cewek yang caper-caper." Tutur Andini panjang lebar.
"Pertama jangan kasih tahu orangtua kamu. Aku pengen nanti kamu ada temen berangkat sekolah ke kota. Kedua abaikan saja cewek-cewek yang musuhin kamu. Emangnya kamu rugi kalau mereka jauhin kamu? Ketiga anggao aja kalian jadi selebritis." Sahut Rima dengan tersenyum lebar di kedua sudut bibirnya.
Keduanya pun tertawa terkekeh sembari saling melempar dawai yang ada di tangan mereka.
"Tapi bener Din. Aku pengen nanti berangkat dan pulang sekolah kamu ada temen." Ucap Rima seraya menghela nafas panjang.
Andini terdiam sesaat kemudian memeluk sahabatnya itu. Andini tahu betul jika Rima sangat memperdulikannya. Andinipun sebaliknya. Bahkan rasa sayang diantara mereka nampak tulus.
"Makasih Rim. Aku tahu kamu begitu mengkhawatirkan aku." Ucap Andini lirih sembari mengeratkan peulaknnya.
"Din.. Nanti kita tidak bisa bareng-bareng lagi. Tapi aku banyak teman dari sini. Desi, Novi, Sinta, Ida sama Ayu. Sementara kamu...." Tutur Rima dengan mata yang berkaca-kaca. "Sekolah kamu sudah jauh tidak ada teman pula dari sini. Hanya Reyhan satu-satunya yang bisa menemani juga menjaga kamu." Lanjut Rima seraya mengurai pelukannya kemudian menatap wajah sahabatnya.
Bulir bening mulai memenuhi sudut mata kedua sahabat yang saling mengkhawatirkan satu sama lain. Andini terdiam sembari mengusapkan punggung tangannya dikedua sudut matanya.
"Aku akan baik-baik saja Rim. Percaya sama aku." Ucap Andini.
Rima menggeleng sembari memegang kedua bahu Andini. "Din diluaran sana tidak seperti yang kita bayangkan. Aku hanya tidak mau jika kamu sendirian. Kamu...." Rima tertunduk.
Sejauh-jauhnya Andini pergi hanya rumahnya rumah omanya dan sekolah. Diluar itu Andini belum pernah sekalipun menginjakan kakinya walau hanya ke mall.
"Bagaimana kalau ada yang jahilin kamu Din" Gumam Rima dalam hati.
Andini tersenyum mendengar penuturan sahabatnya itu.
__ADS_1