
TOK TOK....
"Assalamuallaikum"
""Waalaikumsalam" Rima dan teman-temannya menyahut bersamaan ketika Ibu Imas mengetuk pintu dan mengucap salam.
Rima yang sedang berkumpul diruang tamu bersama teman-temannya segera beranjak membuka pintu.
"Dini!" Pekik Rima tak percaya melihat sahabatnya telah berdiri di depan pintu bersama Ibu Imas. Saking girangnya Rima menghampiri Andini sembari melompat memeluk sahabatnya itu.
Andini pun tersenyum senang menyambut hangat pelukan Rima. "Aku kangen..." Ucap Rima dan Andini bersamaan. Mereka megurai pelukannya sembari tertawa lebar lalu kembali saling memeluk.
Ibu Imas tersenyum melihat ke akraban mereka berdua seraya tangannya mengelus punggung Rima yang masih berpelukan erat dengan cucunya.
Merasa ada sentuhan tangan Ibu Imas, Rima mengurai pelukannya seraya membalikan badannya. "Oma... Maaf." Rima tersipu malu karena telah mengabaikan Ibu Imas seraya meraih tangan Ibu Imas lalu mencium punggung tangannya.
Ibu Imas hanya membalasnya dengan senyuman sembari mengelus rambut Rima.
"Masuk Oma... Din yuk... Nanti aku kenalin sama temen-temen, lagi pada ngumpul tuh" Ucap Rima sembari menganggukan kepalanya.
Rima mempersilahkan Ibu Imas duduk di sofa sementara teman-temannya yang duduk di lantai di samping sofa menghampiri Ibu Imas, satu persatu menyalaminya dan mencium punggung tangannya. Rima pun memperkenalkan Andini kepada semua teman-temannya.
Kemudian Rima meninggalkan mereka untuk menemui kedua orangtuanya yang sedang berada di halaman belakang.
"Apa kabar Din...?" Ucap Reyhan ketika menyalami Andini.
"Aku baik..." Sahut Andini
Tak lama kemudian Rima kembali. "Ngumpulnya kita pindah di belakang yuu gengs." Ucap Rima seraya menunjuk ke arah pintu belakang.
Semua teman-teman Rima pun bergegas meninggalkan ruang tamu termasuk Andini pun mengikuti langkah Rima menuju halaman belakang.
Sementara itu kedua orangtua Andini menyalami Ibu Imas dan beramah tamah di ruang tamu. Mereka terlihat akrab dan saling senyum gembira karena pertemuan kali ini bukan pertemuan yang pertama bagi mereka.
Dihalaman belakang Andini bergabung bersama Rima dan teman-temannya ikut bercanda dan main tebak-tebakan. Tak perlu memerlukan waktu lama untuk Andini agar bisa akrab dengan mereka semua karena Andini yang supel dan ramah kepada semua orang.
"Din.. Jadi daftar ke SMEA?" Ucap Reyhan tiba-tiba.
__ADS_1
"Insya Alloh jadi." Jawab Andini sembari terus memainkan congklak bersama Meri.
"Ke SMEA mana Din? Aku juga mau daftar ke SMEA." Ucap Meri antusias mendengar Andini mau melanjutkan ke SMEA.
"Ke SMEA Satu Mer. Mudah-mudahan bisa lulus." Jawab Andini sembari tersenyum melirik ke wajah Meri.
"Kalau gitu, kapan daftarnya bareng aku yah..." Lanjut Meri sambil tersenyum senang. Andini pun menangguk kemudian mereka pun melanjutkan bermain congklak.
Reyhan yang merasa tak di hiraukan oleh Andini mendekati Rima dan mereka bicara berdua sedikit menjauh dari teman-temannya. Terlihat keduanya bicara dengan serius, sesekali mereka melirik ke arah teman-temannya.
"Rim nanti aku.... " Suara Andini tertahan ketika dia menoleh ke arah teman-temannya tak mendapati Rima disana.
Mata Andini memutar mencari keberadaan Rima. Andini mendapati Rima yang sedang bicara serius beduaan dengan Reyhan terlihat kaget. "Jangan-jangan betul..." Gumam Andini dalam hatinya.
"Din giliran kamu." Ucap Rima mencolek bahu Andini.
"Eh iya" Sahut Andini sembari mengalihkan pandangannya ke arah congklak.
Hatinya Andini terus menerka-nerka tentang kedekatan Rima dan Reyhan. Andini sekarang merasa yakin jika Rima dan Reyhan ada hubungan special bukan hanya sekedar teman biasa. "Kenapa Rima belum mau cerita sama aku.. Katanya sahabat tapi masih aja rahasia-rahasiaan." Andini meracau kesal dalam hatinya sembari terus fokus memainkan congklak.
"Teman-teman aku pamit duluan ya." Tetiba terdengar suara Reyhan.
Reyhan pun berpamitan kepada kedua orangtua Rima dan Ibu Imas yang masih asik berbincang di ruang tamu.
Reyhan menuju halaman depan diantar oleh Rima.
"Rim, kalau temen-temen sudah pada pulang nanti aku balik lagi kesini ya." Ucap Reyhan
Rima menggukan kepalanya seraya tersenyum lebar. Reyhan pun berlalu meninggalkan Rima yang masih berdiri dihalaman depan menatap punggung Reyhan yang semakin menjauh meningglkan rumahnya.
Tak lama kemudian teman-teman Rima pun berpamitan.
"Din kamu nginep yaa... malam ini aja." Ucap Rima sembari menoleh ke arah Andini yang sedang berbaring disampingnya dan menatap langit-langit kamarnya.
Andini memang tidak menghiraukan ucapan sahabatnya itu. Kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kedekatan Reyhan dan Rima. Hati Andini kesal karena Rima tidak mengakui jika dirinya ada hubungan special dengan Reyhan bukan hanya sekedar teman biasa yang selalu dikatakan Rima selama ini. Tetapi sering sekali sikap keduanya meunjukan keakraban.
"Andini Husein!"
__ADS_1
Andini kaget mendengar Rima meninggikan suaranya tepat disamping telinganya.
"Apaan sih kamu Rima Melati! Bikin aku kaget aja. Sebel ah." Jawab Rima cemberut seraya beranjak dan duduk dipinggir tempat tidur.
"Ya habisnya kamu diajak ngomong malah jatuh cinta sama langit-langit kamar aku." ucap Rima seraya duduk disamping Andini.
"Kamu mikirin apa lagi coba?" tanya Rima dengan wajah penuh penasaran.
Andini menoleh kearah Rima dan menatapnya dalam. "Kamu." Jawab Andini sembari terus menatap wajah Rima.
Mulut Rima menganga dan kedua bola matanya melebar. "Apa!" Ucap Rima sembari menutup mulutnya yang masih terbuka lebar dengan kedua tangannya.
"Sadar Din. Aku ini cewek. Sahabat kamu!" Lanjut Rima sembari memegang kedua bahu Andini.
Mendengar ucapan sahabatnya itu Andini beranjak dari duduknya lalu berdiri menghadap ke arah Rima.
"Aku sadar kalau kamu itu sahabat aku. Makanya aku mikirin kamu." Jawab Andini datar sembari berdiri mematung dan menatap Rima.
"Kalau kamu sadar aku ini sahabat kamu. Kenapa kamu mikirin aku?" Ucap Rima sembari mengangkat wajahnya menatap Andini yang masih berdiri tegak di hadapannya.
Andini mendorong bahu Rima hingga jatuh terlentang diatas kasurnya. "Kamu tuh jangan aneh-aneh. Aku mikirin kamu bukan kaya gitu tauuu...." Ucap Andini seraya menjatuhkan badannya disamping Rima.
Rima tersenyum kecil karena senang telah berhasil menggoda sahabatnya itu. "Nah terus kamu mikirin aku soal apa kalau bukan..." Sahut Rima sembari menyenggolakn bahunya ke bahu Rima.
"Hemm... Jangan mulai." Jutek Andini menjawab sabahatnya itu tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rima. Jujur Andini ingin menanyakan perihal Reyhan pada Rima tapi Andini bingung bagaimana harus memulainya.
"Ya sudah kalau gitu kamu yang mulai." Jawab Rima sambil tertawa kecil.
"Yakin?" Ucap Andini sambil seraya menelungkupkan badannya lalu menatap tajam wajah sahabatnya yang masih tidur terlentang.
"Seratus persen." Jawab Rima sembari memiringkan badannya ke arah Andini.
"Ga akan marah?" Tanya Andini meyakinkan.
"Mana pernah aku marah sama kamu." Jawab Rima dengan ringan.
"Oke." Andini beranjak mengubah posisinya duduk diatas kasur dan menepuk kasur dihadapannya.
__ADS_1
Rima mengerti kali ini sahabatnya serius. Rima pun bangun dan duduk di hadapan Andini tepat di tempat yang Andini tunjukan.
"Rim. Aku ini kan sahabat kamu sejak lama." Andini menatap Rima yang menganggukan kepalanya. "Tapi kenapa kamu merahasiakan sesuatu sama aku jika memang aku ini sahabat kamu." Ucap Andini tak lepas terus memandang wajah sahabatnya itu.