Ijazah Dan Pelaminan

Ijazah Dan Pelaminan
Part ^24^


__ADS_3

Waktu menujukan Pukul 14.00. Rima dan Andini masih berada di dalam kamar. Sementara kedua orangtua Rima sedang menjenguk tetangga mereka yang baru pulang dari rumah sakit.


"Rim." Ucap Andini sambil menggeserkan kursi yang di dudukinya agar menghadap ke arah Rima yang sedang duduk di atas kasur sambil menonton televisi.


"Hem." Sahut Rima yang sedang asik mengoyang-goyangkan badannya mengikuti irama musik.


"Soal tadi. Kenapa kamu menjebak aku." Tutur Andini yang masih menatap ke arah Rima. Rupanya Andini tidak bisa melupakan pertanyaan Rima padanya tentang Reyhan.


"Menjebakmu soal apa?" Jawab Rima datar dan acuh.


"Soal Reyhan." Ucap Andini


"Ga ada menjebak kok. Itu kan beneran." Kembali Rima menjawab dengan datar dan acuh. Wajahnya masih fokus kedepan televisi tanpa sedikitpun menengok ke arah Andini.


Andini beranjak dari kursi dan mendekati Rima lalu meraih remote control yang ada di depan Rima kemudian Andini mematikan televisi. "Dini! Biarin beres dulu lagunya." Ucap Rima sembari hendak meraih remote control yang sedang dipegang Andini. Tetapi Andini malah menjauh dan meletakan remote control itu ke atas meja belajar yang ada disamping tempat tidur Rima.


Andini memperlihatkan wajah kesalnya dan hanya menatap Rima. Melihat kekesalan diwajah sahabatnya itu Rima pun mengalah.


"Ya maaf jika kamu merasa dijebak." Ucap Rima Lirih. "Tapi Din beneran aku ga ada niatan buat menjebak kamu kok." Tutur Rima tegas sambil mengangkat kedua telujuk tangannya dan diletakannya disamping telinga sambil menatap Andini.


"Terus tadi maksudnya apa coba nanya gitu sama aku." Tanya Andini sedikit ketus.


"Ya kan aku pengen tahu. Dan sekarang aku sudah tahu jawaban jujur kamu Andini Husein." Jawab Rima sembari melompat turun dari tempat tidur lalu mendekati Andini dan duduk di sebelahnya.


"Serius Din ya." Ucap Rima seraya menatap wajah Andini. "Aku seneng lho denger jawaban kamu tadi." lanjutnya sambil masih menatap wajah Andini yang terlihat kaget atas penuturannya itu.


"Kamu apaan sih..." Jawab Andini.

__ADS_1


"Reyhan bilang kalau dia suka sama kamu Din dan kamu pun sama.... kan tadi sudah mengakuinya." Tutur Rima penuh keseriusan. "Kamu sama Reyhan cocok Din." Lanjut Rima tanpa basa basi lagi.


Andini bengong menatap wajah Rima tak percaya dengan apa yang diucapkan sahabatnya itu. "Aku tidak menyangka Rim kamu mengatakan ini semua." Jawab Andini.


"Begini Din. Aku serius sekarang. Reyhan sudah lama bilang kalau dia tuh suka sama kamu. Semenjak pertemuan kedua kali ketika kita pulang sekolah bareng kamu ingat kan waktu itu aku terus bareng sampai rumahnya. Nah.. Saat itu Reyhan bilang sama aku" Panjang lebar Rima menjelaskan dengan serius.


"Wih, baru dua kali ketemu sudah bilang suka. Bagaimana bisa secepat kilat begitu Rima. Gampang Banget." Sahut Andini sambil tertawa kecil.


"Tapi asal kamu tahu Din. Reyhan tidak mudah suka sama cewek lho. Bahkan banyak cewek yang nembak dia. Tidak ada satupun yang Rayhan respon termasuk Dewi." Tutur Rima sambil menggeser kursinya agar tepat berhadapan dengan sahabatnya itu.


Andini terkekeh mendengar penjelasan Rima. "Dibilangin malah ketawa." Ucap Rima sembari mengerucutkan kedua bibirnya. "Aku serius Dini...." Rima memekik kesal.


"Ya aku tahu kamu serius." Jawab Andini sembari tersenyum dan menatap wajah sahabatnya itu. Rima mengangkat kedua bahunya sembari menangkupkan kedua bibirnya.


"Udah ah ga usah bahas ini." Ucap Andini seraya meraih handuk yang tergantung dibalik pintu kamar.


"Rima aku mau mandi." Pekik Andini


"Ah nanti dulu. Aku lagi serius masa mau kamu tinggal." Ucap Rima cemberut. "Ga sopan tauuu..." Lanjutnya seraya mengaitkan kembali handuk yang di pegangnya itu.


"Tapi Rima.. Au malas ngebahasnya." Ucap Andini dengan nada kesal.


"Tadi Reyhan bilang, nanti dia mau balik lagi kesini jam tiga. Katanya pengen bicara sama kamu." Tutur Rima tidak lagi menghiraukan kekesalan Andini.


"Sama kamu saja. Aku kan sudah bilang aku malas." Jawab Andini ketus.


"Maksudnya....."

__ADS_1


"Ya sama kamu aja Reyhan pacarannya." Ucap Andini penuh penegasan.


Rima tertawa sembari menjatuhkan badannya diatas kasur. "Kamu itu kalau ngomong...." Ucap Rima tertunduk. Dalam hatinya dia senang dan mengharapkan hal itu. Akan tetapi Rima sadar tidak mungkin memaksa Reyhan untuk suka pada dirinya. Jauh sebelum Rima mengungkapkan perasaannya, Reyhan sudah lebih dulu menyampaikan jika dia menyukai Andini.


"Tuh kan... Kamu suka sama diaaa...." Ucap Andini yang telah duduk disamping Rima sembari neyenggol bahu sahabatnya itu.


Rima mendongakan kepalanya dan membelalakan matanya kearah Andini. "Kalau aku suka sama Reyhan sudah sejak lama aku bilang sama kamu Din." Ucap Rima sembari melebarkan kedua sudut bibirnya memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.


"Hemm.. Mungkin saja kamu malu mengakuinya." Sahut Andini sambil meraih bahu Rima dan memeluknya.


"Ga mungkin lah." Rima menyela dengan cepat. "Gini aja Din. Andai aku suka sama Reyhan terus aku jadian sama dia. Kamu ga keberatan?." Tanya Rima seraya mengurai pelukan Andini kemudian mengubah posisi duduknya menghadap Andini.


Tak perlu menunggu lama Andini menjawab dengan tegas "Tentu saja tidak."


Rima tersenyum lalu meraih tangan Andini dan menggenggamnya. "Begitu juga aku. Jika kalian memang cocok lalu kalian jadian. Aku malah seneng Din." Ucap Rima kali ini lebih serius.


Tidak lepas keduanya saling menatap untuk meyakinkan satu sama lain bahwa persahabatan mereka tidak akan berubah hanya karena salah satu diantara mereka telah memiliki seorang kekasih. Jika itu pun tentang Reyhan tidak akan bisa menjauhkan persahabatan mereka.


"Rim, jujur aku memang suka sama Reyhan dia baik, sopan, pinter. Tapi untuk jatuh cinta aku tidak tahu." Tutur Andini


"Ga tahu gimana Din. Reyhan itu rebutan cewek lho. Masa kamu yang di kejar ga seneng." Ucap Rima menyemangati sahabatnya itu.


Seorang Andini yang sebentar lagi akan berada di bangku Sekolah Menengah Atas memang di kenal acuh terhadap laki-laki yang berusaha mendekatinya. Berbeda dengan gadis lainnya semenjak di bangku kelas dua Sekolah Menengah Pertama pun sudah pada punya pacar termasuk Rima pernah sekali menjalin hubungan special dengan teman sekelasnya walau hanya seumur jagung.


Sedangkan bagi Andini yang tidak pernah mencoba dekat dengan seorang laki-laki pun sudah merasa bosan semenjak begitu hendak lulus Sekolah Dasar sudah sering dipertemukan dengan laki-laki yang akan dijodohkan oleh kedua orangtuanya.


Ya... Untuk Andini perjodohan selalu menghantui kehidupannya semenjak Andini lulus Sekolah Dasar hingga sekarang. Kedua orangtuanya selalu mengharapkan Andini segera menikah karena takut terbawa pergaulan bebas di luaran sana.

__ADS_1


Hal ini sangat diketahui oleh Rima. Sehingga Rima begitu berusaha mendukung Reyhan supaya bisa dekat dengan Andini agar kedua orangtua Andini tidak terus menerus menjodohkan sahabatnya itu dengan laki-laki yang tidak disukai oleh Andini.


__ADS_2