
"Kamu yakin aku yang pesenin." Sahut Reyhan sembari memperhatikan daftar menu makanan yang dipegangnya. Andini hanya menganggukan kepalanya.
Setelah mencatat semua pesanan Reyhan, Pelayan cafe pun meninggalkan Reyhan dan Andini. Tak lama kemudian semua makanan yang dipesan telah tertata rapi di depan meja.
"Kenapa diam saja Din. Makan dong." Ucap Reyhan sembari menyuapkan steak ayam kedalam mulutnya.
"Banyak banget makanannya. Jadi bingung mesti makan yang mana dulu." Jawab Andini sambil meraih juice alpukat lalu meminumnya.
Reyhan pun tertawa. "Katanya samain." Ucapnya lembut. Andini hanya mengatupkan kedua bibirnya. Lalu Andini menyuapkan steak ayam kedalam mulutnya. Sesekali melirik Rima yang seolah tak memperdulikan kehadiran Andini dan Reyhan.
Setelah selesai makan, Reyhan memanggil pelayan untuk membersihkan mejanya. Yang tersisa hanya ice cream coklat yang dihiasi buah stowberi. Mereka bedua pun menikmati ice cream sebagai makanan penutup.
"Rey."
"Ya." Sahut Reyhan seraya menatap lembut wajah Andini.
"Makasih ya sudah ngajak aku sama Rima jalan-jalan bahkan mentraktir kami semua." Tutur Andini semnari balas menatap wajah Reyhan.
Reyhan merapatkan kedua bibirnya lalu tersenyum.
"Din.. aku minta maaf ya." Ucap Reyhan sembari terus menatap wajah Andini.
"Kamu punya salah apa sama aku." Sahut Andini datar.
Reyhan tersenyum mendengar ucapan Andini. "Salah aku hari ini telah mengajak kamu jalan tanpa bilang dulu sebelumnya." Tutur Reyhan.
"Maksudnya?" Andini heran atas apa yang dikatakan oleh Reyhan.
__ADS_1
"Sebenarnya acara hari ini ide aku. Aku meminta Rima agar mengajakmu keluar tapi aku melarang Rima untuk tidak memberitahu kamu. Soalnya kamu pasti bakalan menolak jika yang ngajak itu aku." Jelas Reyhan.
"Sudah aku duga." Sahut Andini sedikit ketus.
"Jadi kamu sudah tahu. Pantas saja sepanjang perjalanan kamu terlihat kesal. Kamu marah sama aku?" Ucap Reyhan menatap dalam kedua bola mata Andini.
"Kesal saja Enggak marah kok." Sahut Andini masih dengan sikap juteknya.
"Maafin aku ya, please." Reyhan memegang tangan Andini. Tetapi Andini menjauhkan tangannya. Reyhan menghela nafas panjang.
"Din, kamu sudah tahu kan kalau selama ini aku suka sama kamu." Ucap Reyhan tanpa basa basi lagi.
Andini membuang pandangannya ke arah Rima yang masih terlihat asik berdua dengan Anto.
"Aku serius Din aku betul-betul suka sama kamu. Kamu mau kan jadi pacar aku." Akhirnya keluar juga rasa yang Reyhan pendam selama ini.
"Din..." Suara Reyhan lirih. Perlahan tangannya memegang tangan Andini. Kini Andini hanya diam menatap tangan Reyhan yang sudah berada diatas punggunh tangannya.
"Aku tahu semua permasalahan kamu tentang perjodohan itu. Aku juga tahu kalau kamu tidak pernah menyukai Rangga." Tutur Reyhan tak lepas menatap wajah Andini. Perlahan Andini mengangkat wajahnya balas menatap Reyhan dengan mata mulai sayu. Terlihat cairan bening disudut mata Andini. Reyhan mengeratkan genggaman tangannya seolah ingin menguatkan hati Andini.
"Kamu bisa melewati semua ini, aku yakin. Ijinkan aku menemani kamu. Aku berharap bisa menguatkan hari-hari yang kamu lalui. Tapi jika kamu merasa adanya aku malah menambah beban. Aku bisa mengerti." Ucap Reyhan panjang lebar tak lepas sembari terus menggenggam tangan Andini.
Cairan bening disudut matanya mulai berjatuhan. Tak kuasa lagi Andini menahan perasaannya. Hatinya bimbang, teringat kedua orangtuanya, perjodohannya, kini tentang perasaannya terhadap Reyhan. Reyhan meraih saputangan dari saku celananya dan menempelkannya perlahan ke pipi Andini yang basah. Tetesan air mata Andini semakin deras betul-betul tidak bisa dibendung lagi.
Reyhan menghela nafas panjang sembari menangkup kedua pipi Andini. "Hey, kamu harus kuat. Semua akan berlalu. Pasti." Ucap Reyhan lirih seraya beranjak dan duduk disamping Andini lalu meraih kepala Andini di dekapnya erat sembari mengelus rambutnya dengan lembut.
Andini tidak kuasa untuk mengucapkan isi hatinya. Hanya air matanya yang luruh seakan menumpahkan semua beban hati Andini. Reyhan terdiam membiarkan Andini menangis sesegukan sembari terus mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
T-Shirt merah yang dikenakan Reyhan mulai terasa basah oleh Andini. Reyhan seakan bisa merasakan beban hati wanita yang di cintainya. Perjodohan yang tak henti dari kedua orangtua Andini hanya karena rasa takut jika putrinya akan terjebak sebuah pergaulan yang memalukan. Bagi mereka itu adalah alasan yang sangat konyol.
"Maaf Rey." Ucap Andini dengan menjauhkan kepalanya dan mengurai pelukan Rey sembari menatap baju Reyhan yang telah basah.
"Baju kamu jadi basah." lanjutnya dengan tersipu malu.
"Tidak apa-apa Din. Aku bisa mengerti dengan semua beban hati kamu." Sahut Reyhan sambil menyodorkan tisue kepada Andini.
Tanpa disadari Rima dan Anto memperhatikan mereka berdua. Rima hendak mendekati Andini tapi Anto menahannya. "Biarkan mereka bedua butuh waktu untuk bicara." Seraya menatap wajah Rima. Rima pu kembali duduk di depan anto. Mereka pun menikmati suasana makan siang dengan penuh keakraban.
Andini terlihat sudah tenang dan bisa mengontrol emosinya setelah dia menumpahkan isi hatinya dengan menceritakan semua beban yang ada di dalam hatinya kepada Reyhan. Reyhan betul-betul menjadi pendengar setianya Andini saat ini.
"Terimaksih Din kamu telah berbagi bebanmu. Aku harap setelah ini kamu bisa lebih plong dan bisa lebih ceria lagi dalam menjalani hari-hari kamu." Tutur Reyhan dengan senyum yang mengembang melihat Andini kini bisa tersenyum dan tidak kaku lagi terhadapnya.
"Aku yang terimakasih sama kamu Rey karena kamu telah dengan setia mendengarkan keluh kesahku." Sahut Andini membalas senyuman Reyhan.
"Aku juga minta maaf selama ini aku tidak pernah ramah sama kamu." lanjut Andini seraya menundukan kepalanya mengingat kejutekan yang dia tunjukan pada Reyhan selama ini.
Reyhan tersenyum manis mendengar penuturan Andini. Justru bagi Reyhan sikap jutek Andini selama ini yang telah membuatnya menyukai Andini karena Andini begitu berbeda dengan gadis-gadis lain yang mudah tertarik terhadapnya walau hanya baru bertemu sekalipun.
"Justru karena kamu jutek sama aku. Aku malah menyukaimu Din." Akhirnya Reyhan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
Andini memandang tajam kedua bola mata Reyhan tidak percaya atas apa yang di ucapkannya.
"Aku tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat Din. Aku tidak mau menunggu lagi. Selama ini aku selalu berusaha untuk mendapatkan kesempatan agar bisa bicara sama kamu. Tapi kamu begitu sulit untuk aku ajak bicara." Ucap Reyhan dengan wajah serius dan masih menatap Andini yang sudah terlihat mulai salah tingkah.
"Din... Entah sejak kapan aku mulai menyukaimu yang jelas sejak pertama kali bertemu dengan sikap kamu yang tak perduli padaku maka sejak saat itu kamu selalu ada di benakku. Dimanapun aku berada bayanganmu selalu bersamaku Din." Jelas Reyhan dengan terus memandangi wajah Andini seakan menyelami apa yang Andini pikirkan.
__ADS_1