Ijazah Dan Pelaminan

Ijazah Dan Pelaminan
Next Part


__ADS_3

Kokokan ayam membangunkan kedua gadis yang sedang terlelap dalam satu ranjang itu. Keduanya mengerjap-ngerjapkan matanya sembari menggeliat seraya menyingkirkan selimut yang membungkus tubuh mereka.


Rima melompat dari atas tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Andini pun beranjak turun lalu merapikan tempat tidur mereka. Rima kembali dengan mendapati kamarnya telah rapi.


Andini meraih handuk yang tergantung dibalik pintu kamar seraya berlalu meninggalkan Rima yang sedang menyisir rambutnya. Tidak perlu menunggu lama Andinipun telah kembali ke kamar setelah membersihkan tubuhnya dengan air dingin pegunungan yang menusuk kulit.


Setelah sholat berjamaah. Mereka merapikan diri di depan cermin, lalu meminggalkan kamar menuju dapur untuk membantu pekerjaan Ibu Hasanah. Andini membantu menyapu seluruh ruangan rumah itu yang di ikuti oleh Rima dengan mengepel. Dalam sekejap mata seluruh ruangan telah bersih dan Ibu Hasanah pun beres menata meja makan dengan hidangan lengkap sudah siap untuk dinikmati seluruh keluarganya.


"Din, nanti jam 10 Anto mau kesini." Ucap Rima sembari menyalakan remote televisi.


Andini yang ikut duduk diruang tengah disamping Rima hanya menoleh dan tersenyum.


"Mungkin Reyhan juga bakalan diajak." Jelas Rima.


"Sebaknya jangan Rim. Enggak enak sama mamah kamu." Jawab Rima risau.


"Mamah aku enggak keberatan kok." Ucap Rima kembali dengan nada datar.


"Gimana kamu tau Mamah ga keberatan." Tanya Andini masih risau.


"Tadi di dapur aku udah bilang kalau Anto sama Reyhan mau main lagi kesini. Aku juga tadi bilang kalau aku sama Anto temen dekat. Kamu sama Reyhan." Jelas Rima seraya memandang wajah Andini.


"Kamu..." Andini kaget mendengar penuturan Rima.


"Yee... Kamu tenang saja Din. Mamah aku mengerti dan tadi bilang begini. Tidak apa-apa asal Mamah bisa memegang janji kalian. Aku tanya janji apa Mah. Kalian janji pada diri kalian sendiri untuk menjaga diri kalian sendiri. Aku bilang siaaaap Mamah. Begitu Din." Jelas Rima seraya tersenyum lebar.


Andini pun terdiam seraya menunduk.


"Kamu enggak percaya. Kita temui Mamah yuk." Ucap Rima seraya berdiri.


Dengan sigap Andini meraih pergelangan tangan shabatnya itu hingga kembali terduduk disampingnya.


"Jangan" Larang Andini seraya melebarkan kedua bola matanya.


"Abisnya kamu kaya yang ga percaya." Jawab Rima ketus sembari meraih remote control dan memindahkan saluran Televisi ke acara musik.

__ADS_1


"Bukan begitu. Aku malu diketahui sama Mamah kamu kalau aku sekarang pacarnya Reyhan." Jelas Andini.


"Kenapa harus malu. Aku aja enggak." Jawab Rima.


Andini menoleh mendengar jawaban sahabatnya itu


"Aku bakal malu kalau aku enggak jujur sama Mamah." Jelas Rima kembali.


"Hem.. itu betul Rim. Andai saja Mimih bisa seperti Mamah kamu. Menerima kejujuran dengan pemikiran yanh baik. Tapi jika aku jujur soal ini jawabannya bakal lain Rim." Ucap Andini dengan wajah sedih.


"Memang kamu pernah jujur soal cowok?" Tanya Rima menyelidik.


"Sempet." Jawab Andini pendek.


"Kapan? Siapa?" Tanya Rima penasaran.


"Kapannya aku lupa. Itu sewaktu Ikbal bilang suka sama aku terus nanya mau gak Din jadi pacar aku. Waktu aku bilang ke Mimih ada yang deketin aku. Aku malah di serbu pertanyaan-perranyaan sama Mimih." Jelas Andini sembari mengenang.


"Pertanyaan-pertanyaan apa memangnya Din." Tanya Rima penasaran.


"Orang mana? Usianya berapa tahun? Udah kerja apa belum? Anaknya siapa? Begitukah Rim." Jawab Andini sembari menghela nafas panjang.


"Ya iya aku jawab." Sahut Andini.


"Terus..." Tanya Rima semakin penasaran.


"Ikbal kan masih kelas 2 SMA. Sekarang aja masih kelas 3. Di SMA yang kamu mau masuk sekarang Rim." Jelas Andini sembari menoleh ke arah Rima yang masih memandangnya serius.


"Waktu aku bilang masih sekolah. Ya aku malah dinasehatin. Memangnya nanti kamu mau menikah dengan laki-laki yang belum punya kerjaan. Kalau masih pada sekolah lebih baik fokus saja sekolah. Kalau kamu pacaran saat sekolah lebih baik berhenti sekolah biar Mimih carikan laki-laki yang sudah siap menikah. Pokoknya banyak-banyak lah Rim. Kembali lagi soal menjodohkan." Jelas Andini dengan nada sedikit kesal.


Rima memandang sendu wajah sahabatnya seolah bisa merasakan apa yang dirasakan Andini.


"Jadi Mimih kamu mengiranya kita pacaran seolah kita mau menikah besok ya mungkin gitu." Ucap Rima.


"Mungkin. Padahal kan masih jauh untuk mikirin nikah." Sahut Andini seraya menunduk.

__ADS_1


"Andai saja pemikiran Mimih bisa sama seperti Mamah kamu Rim. Aku pasti akan terbebas dari perjodohan." Lanjut Andini menunduk.


"Udah lah sekarang tidak usah mengingat-mengingat perjodohan. Jalani saja." Ucap Rima tandas.


"Tapi tunggu dulu. Tentang si Ikbal ini. Kenapa kamu enggak pernah cerita sama aku?" Tanya Rima sembari menyekidik.


Andini hanya menoleh sembari merapatkan kedua bibirnya.


"Jadi kamu ke Reyhan bukan cinta pertama dong seperti aku ke Anto." Rima semakin penasaran dengan cerita sahabtnya itu tentang Ikbal.


"Kalau aku pernah jadian sama Ikbal yang kamu bilang itu bener. Tapi kan aku enggak jadian." Sahut Andini seraya mengangkat kedua alisnya.


"Jadian ataupun enggak. Tetep aja ke Reyhan bukan cinta pertama." Jelas Rima.


"Kenapa bisa begitu..." Tanya Andini heran.


"Ya iya kan kamu pernah jatuh cinta sebelum Reyhan. Jadi Reyhan ini yang kedua. Begitu Diiinn." Jelas Rima.


"Aku enggak bilang aku suka apa lagi jatuh cinta sama Ikbal. Aku kan cuma bilang ada yang deketin aku, bilang suka sama aku." Jelas Andini dengan nada kesal.


"Jadi kamu bilang ke Mimih sebelum kamu jadian sama Ikbal gitu." Ucap Rima memperjelas. Andinipun mengangguk.


"Ya kamu juga kenapa bikang kalau sendiri belum nerima si Ikbal?" Tanya Rima kembali heran.


"Rim, kan kebiasaan aku sebelum aku ambil sesuatu aku pasti bilang dulu ke Mimih. Kalau Mimih mengijinkan terus akunya suka ya aku ambil." Jawab Andini.


"Terus seandainya waktu itu kata Mimih boleh. Kamu menerima Ikbal?" Tanya Rima masih penasaran.


"Engga." Jawab Andini tegas.


"Emmhhh..." Rima merapatkan kedua bibirnya seraya mengangkat dagunya.


"Aku cuma pengen tau aja jawaban Mimih gimana. Ya masih tetap aja begitu. Jauh beda dengan Mamah kamu." Ucap Andini seraya memandang kesamping jendela.


"Sudah curhatnya. Kita sarapan dulu. Semua sudah siap makan tuh di meja makan." Tiba-tiba Ibu Hasanah sudah berdiri dibelakang Rima dan Andini.

__ADS_1


Kedua sahabat itu menoleh kearah datangnya suara seraya tersenyum kemudian beranjak mengikuti langkah Ibu Hasanah menuju ruang makan dimana seluruh keluarga Ibu Hasanah telah siap di kursinya masing-masing.


Suasna hangat di tengah-tengah keluarga Rima selalu Andini rasakan setiap kali Andini berada dirumah Rima. Hal itulah yang membuat Andini betah berada di tengah-tengah mereka.


__ADS_2