Ijazah Dan Pelaminan

Ijazah Dan Pelaminan
Part ^29^


__ADS_3

"Ingat janjinya." Bisik Rima sangat pelan tepat disamping telinga Andini.


Andini mengatupkan kedua bibirnya dan hanya bisa menelan slavinanya tanpa bisa menjawab. Kedua bola matanya mengerling malas.


"Rim, kamu jadi lanjut ke SMA satu?" Tanya Anto


"Jadi dong." Jawab Rima sembari tersenyum.


"Kalau kamu Din mau melanjutkan kemana?" Anto bertanya pada Andini sambil membalikkan punggungnya setengah menghadap ke jok mobil belakang lalu menatap wajah Andini yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan Anto dan Rima.


"Aku mau ke SMEA satu An. Doakan lulus ya.." Sahut Andini sambil menatap wajah Anto yang tersenyum manis pada keduanya.


"Pasti dong. Aku doakan kalian berdua lulus masuk kesekolah yang kalian inginkan." Sahut Anto seraya kembali merapikan duduknya dan menatap kearah jalanan.


Suasana kembali hening. Masing-masing fokus memperhatikan jalanan melalui samping jendela kaca. Mobil melaju dengan kecepatan sedang memberikan rasa nyaman untuk semua penumpang yang ada di dalamnya.


"Bagaimana kalau kita ke Maribaya nih?" Tanya Reyhan tiba-tiba memecah keheningan. Tatapannya fokus kedepan kearah jalanan.


"Boleh saja." Sahut Anto sembari menengok ke arah Andini dan Rima. Kedua wanita itu hanya diam dan saling menatap. Andini mengangkat bahunya melihat Rima memandangnya.


"Aku pengen ke ciater sih sebenernya." Ucap Rima masih menatap Andini. Andini tidak bergeming. Dalam hatinya masih heran dengan situaainya saat ini.


"Boleh... Boleh." Sahut Reyhan dan Anto bersamaan.


"Gimana Din?" Tanya Reyhan tanpa menoleh sedikitpun. Dirinya terus fokus mengendarai mobil.


"A-Aku... Ngikut aja." Sahut Andini seraya menatap wajah Rima dengan tatapan menyelidik.


Rima membalas tatapan sahabatnya itu dengan senyuman manis. Kemudian mengkomat kamitkan mulutnya tanpa suara. "Jan-ji-ka-mu. Ingat"

__ADS_1


Andini kembali hanya bisa menelan slavinanya sembari mengatupkan kedua bibirnya. Reyhan melihat tingkah kedua wanita itu dari kaca spion dalam dan menahan senyumnya melihat ekspresi wajah Andini yang kesal terhadap Rima.


"Din, kamu enggak kenapa-napa kan?" Tanya Reyhan.


Andini menggeleng malas sambil menatap kaca mobil samping kirinya sembari memperhatikan pemandangan yang dilewatinya.


"Kok enggak jawab Din." Ucap Reyhan.


Andini kaget dibilang tidak menjawab padahal dia tadi menggelengkan kepalanya. Hampir saja kesal tapi keburu sadar setelah melihat ke arah Reyhan jika semenjak tadi tatapan Reyhan hanya fokus kedepan mobil memperhatikan jalanan yang dilaluinya.


"Aku-aku enggak kenapa-napa kok." Jawab Andini datar.


"Syukurlah." Sahut Reyhan sembari tersenyum manis.


"Kenapa bertanya seperti itu?" Andini balik bertanya pada Reyhan dan menatap bahunya dari belakang.


"Hem." Jawban malas Andini.


Reyhan membelokan mobilnya ke area POM Bensin. Tak lama mengantri mobil TAF merah itu kembali meluncur dengan kecepatan sedang. Semua penumpang yang ada didalamnya kembali mengobrol penuh keakraban. Terkecuali Andini yang masih lebih banyak diam.


Berkali-kali Rima mendekatkan bibirnya ketelinga Andini hanya untuk membisikan "Ingat janjinya."


"Mau aku cemberut lagi sepanjang jalan." Bisikan Rima dengan nada mengancam ini berhasil membuat Andini membuka mulutnya untuk ikut berbincang disepanjang perjalanan.


Rima tersenyum lebar karena merasa telah berhasil mencairkan suasana hati sahabatnya itu, begitupun dengan Reyhan dan Anto terlihat lebih ceria melihat Andini perlahan ceria.


Mobil yang mereka tumpangi memasuki area parkir wisata Pemandian Air Panas Ciater yang berada di perbatasan Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung yang sekarang telah berganti nama menjadi Kabupaten Bandung Barat.


Setelah membayar tiket masuk dan memarkirkan mobilnya dengan rapi. Reyhan bergegas turun dari mobil lalu mengitari bagian depan mobilnya menuju pintu belakang kemudian membukakan pintu untuk Andini. Di ikuti oleh Anto yang membukakan pintu untuk Rima. Rima pun tersenyum lalu turun dari mobil. Kemudian mereka berlalu meninggalkan mobil menuju pintu masuk area wisata Pemandian Air Panas Ciater.

__ADS_1


Sementara Andini masih duduk di dalam mobil dengan pintu yang sudah terbuka lebar dan menatap Reyhan yang masih berdiri menunggunya untuk keluar. Reyhan tersenyum manis sembari menganggukan kepalanya mengajak Andini untuk turun.


Andini pun turun. Reyhan menutup pintu kemudian menguncinya. "Terimakasih" Terdengar suara Andini lirih membuat Reyhan terus mengembangkan senyumannya seraya menganggukan kepala.


Reyhan berjalan disamping Andini menuju pintu masuk Area menyusul Anto dan Rima yang sudah hampir hilang ditengah keramaian.


Andini tidak mau diajak untuk menyemplungkan tubuhnya ke dalam air dengan alasan tidak membawa ganti. Mereka pun akhirnya hanya berkeliling menyusuri setiap tempat yang ada di dalam Arena Pemandian Air Panas Ciater.


Menjelang jam makan siang mereka keluar dari Wisata Air Panas Ciater. Sesampainya di parkiran, Anto dengan sigap membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Rima lalu Anto bergegas naik dan duduk disamping Rima yang menebar senyum manisnya pada Anto.


Andini yang di dahului Anto tertegun bingung dengan sikap Anto. Ketika melihat senyum ceria sahabatnya sembari menatap wajah Anto, Andini pun mengerti terhadap sikap mereka berdua yang menunjukan saling suka.


Ketika Reyhan membukakan pintu mobil depan untuknya Andini pun tidak menolaknya. Setelah menutup pintu mobil lalu Reyhan mengitari bagian depan mobil kemudian duduk dibelakang setir.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang setelah semua terlihat duduk dengan nyaman. Sepanjang perjalanan Anto dan Rima asik mengobrol berdua. Sedangkan Andini lebih memilih memandangi sisi jendela kaca mobil memperhatikan setiap pemandangan yang di lewatinya. Sesekali Reyhan melirik ke arah Andini yang diam membisu.


Reyhan menghentikan mobilnya ketika telah memasuki parkiran sebuah cafe terkenal di Lembang. Reyhan turun hendak membukakan pintu untuk Andini, akan tetapi dengan terburu-buru Andini membuka pintu mobil lalu turun ketika hendak menutup pintu tangannya bersentuhan dengan tangan Reyhan. Mereka pun saling menatap, seketika Andini pun menarik tangannya.


Lain dengan Rima yang telah duduk santai di dalam cafe berdua dengan Anto sembari terus asik mengobrol dengan akrabnya.


Reyhan mengikuti langkah Andini yang berjalan menuju meja yang ditempati Rima dan Anto. Tetiba Reyhan meraih pergelangan tangan Andini. "Din tunggu." Ucap Reyhan menahan langkah Andini. "Sebaiknya kita pisah meja. Sepertinya Rima dan Anto perlu berdua." Lanjut Reyhan sembari menatap wajah Andini yang terlihat kesal.


Andini mengalihkan pandangannya kearah Rima yang masih terlihat asik mengobrol dengan Anto. Sesekali Rima tertawa lebar mendengar ocehan Anto. Andini menghela nafas panjang terpaksa mengikuti Reyhan yang menujuk sebuah meja kosong bersebrangan dengan meja Rima.


Reyhan menarik kursi untuk Andini lalu mempersilahkannya untuk duduk. Andini terlihat canggung atas perlakuan Reyhan tanpa bisa memprotesnya.


Seorang pelayan cafe mendekat ketika melihat Reyhan melambaikan tangannya. "Din, silahkan kamu pesan yang kamu suka." Ucap Reyhan sembari menyodorkan menu makanan.


"Kamu saja yang pesan. Samain." Ucap Andini datar .

__ADS_1


__ADS_2