
Sepulangnya dari mall, aku tidak kemana mana. Aku takut, pria berstatus suami sah ku akan muncul lagi dan melakukan hal hal jahat padaku.
Gelisah, ya aku sedikit gelisah . Takut untuk menceritakan apa yang aku alami pada orang lain. Aku bukan wanita yang bisa terbuka untuk hal hal yang aku alami, apalagi tindak pelecehan seperti tadi.
Aku hanya diam,menyimpan semuanya sendiri. Aku juga tidak berencana untuk mengatakan pada mas Pras.
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya kediaman nyonya Amalia.
Retno berhasil membujuk sang ibu mertua hingga berhasil kembali tinggal bersama. Saat ini keduanya tengah berada di ruang keluarga.
Nyonya Amalia dan Retno tengah menyaksikan video yoga untuk ibu hamil. Berbagai aturan diterapkan oleh nyonya Amalia untuk calon cucu di rahim sang menantu.
Nyonya Amalia yang begitu menginginkan seorang cucu sangat antusias .
" Untuk seterusnya kamu akan tinggal disini, kita akan sama sama membujuk Adam agar mau kembali menerima kamu." ucap nyonya Amalia ramah keibuan.
"Retno takut bu, mas Adam begitu jijik terhadap Retno. Seharusnya tempo hari Retno tidak muncul dengan membawa kabar kehamilan ini. Mas Adam terlihat sangat tidak suka, Retno jadi sedih bu.." suara Retno terdengar sedih, hal itu membuat nyonya Amalia merasa empati dan berusaha membesarkan hati sang menantu.
"Sudah jangan dipikirkan, sekarang kamu harus selalu bahagia supaya calon cucuku juga tumbuh dengan sehat . Jangan stress , apa yang kamu inginkan bilang saja. Ibu gak mau bayimu nanti ngeces kalo gak dituruti keinginan nya." nyonya Amalia begitu memanjakan sang menantu.
Kebaikan hati nyonya Amalia tentu saja di manfaatkan sepenuhnya oleh Retno yang memang sengaja ingin menguasai sebagian dari harta keluarga suaminya.
"Retno ingin makan di restoran bintang lima bu, sudah sejak semalam Retno ingin. Sampai sampai tidur pun gak nyenyak.." rengek Retno dengan ekspresi mengiba.
"Kenapa tidak langsung bilang sayang ? Astaga, kalau begitu ayo sekarang kita ke restoran itu. Ibu akan membelikan apa yang cucu ibu inginkan. Ayo~"
Nyonya Amalia beranjak dari ruang tivi bersama Retno , mereka bersiap siap untuk pergi ke restoran yang dimaksud.
Saat sedang bekerja di perusahaan,
Adam Prasetyo sangat fokus bekerja,kali ini ada beberapa laporan pengajuan dana untuk beberapa proyek kerja sama yang harus dia koreksi.
Larut dalam pekerjaan sampai membuat Adam Prasetyo lupa jika telah melewatkan jam makan siang . Sekarang sudah pukul satu siang dan dirinya masih memilih berkutat dengan berkas berkas laporan setiap divisi yang membutuhkan tanda tangan nya.
__ADS_1
Saat waktu telah menunjuk pada pukul dua siang hari, Sekretaris tampak mengetuk pintu ruangan Adam Prasetyo dan menyampaikan sebuah pesan jika nyonya Amalia tengah berkunjung dan saat ini sedang menunggu di loby.
"Antarkan ibuku kemari, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan saat ini." ucap Adam Prasetyo tanpa mengalihkan pandangan dari meja kerja nya.
"Baik pak, segera saya antarkan nyonya Amalia keruangan bapak. Permisi.."
Sekretaris itu tampak kembali keruang kerjanya lalu menekan nomor telpon yang langsung terhubung pada resepsionis.
Selang beberapa menit,
Tok~ tok~ tok~
Suara pintu diketuk dari luar, sekretaris tampak mempersilahkan nyonya Amalia masuk ke dalam ruangan.
Ternyata nyonya Amalia tidak sendirian, melainkan membawa serta menantu kesayangannya yang tengah berbadan dua.
"Kamu terlalu keras bekerja Adam, sampai melupakan makan siang. Beruntung tadi ibu membelikan beberapa makanan kesukaan kamu, ayo makan dulu nak." ucap ibu Amalia santai.
Retno pun menciut nyalinya dan memilih bersanding dekat sang ibu mertua .
"tuh bener kan bu, mas Adam gak suka Retno disini. Gimana ini bu~" Retno berbisik .
"Ada ibu, tenang saja sayang~" ucap nyonya Amalia berbisik juga .
"Ibu yang bawa Retno kemari nak, dia sedang mengandung dan ibu ingin merawat calon cucu pertama ibu. Ayo makan dulu Dam,ibu beli banyak sekali loh ini." suara nyonya Amalia terdengar membujuk memaksa lewat tatapan mata.
Adam Prasetyo pun akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang sebelum menuruti keinginan sang ibu.
Dalam kesempatan kali ini, Retno berusaha menampilkan perhatian yang lebih baik untuk sang suami.
Meski Adam Prasetyo tidak merespon tapi setidaknya sang ibu mertua menjadi lebih simpatik pada dirinya.
"Ini mas, silakan. Aku langsung inget mas Adam waktu lihat menu ini tadi." ucap Retno sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
"..." Adam Prasetyo hanya diam, tidak menolak juga tidak menerima piring yang disajikan Retno sang mantan istri.
"Makan nak, jangan mubazir makanan. Ayo~" ajak nyonya Amalia yang menengah i kecanggungan keduanya.
Adam Prasetyo bukannya semudah itu Luluh , tapi semata hanya menghargai sang ibu.
Adam Prasetyo memilih untuk mengambil sendiri menu makanan di piring yang lain.
Melihat hal itu sontak Retno kesal, tapi di dalam hati terkekeh menang, " Aku tahu mas, kartu matimu adalah ibu hahaha~" batin Retno.
Adam Prasetyo makan dengan tenang, memang benar yang dia santap adalah menu makanan favoritnya. Perut yang lapar semakin terisi hingga merasa kenyang.
Nyonya Amalia sendiri juga tampak senyum sumringah kala melihat sang menantu lagi lagi menikmati makanan, padahal di restoran tadi Retno sudah makan banyak .
"Benar seperti itu nak, habiskan ya biar cucu ibu tumbuh dengan sehat." kata nyonya Amalia
"Melihat ayah si jabang bayi makan dengan nikmat, dia jadi ingin makan lagi bu , maaf kalau Retno rakus sekali hari ini. Gak tahu kenapa mungkin karena dedeknya kali ya bu."Retno tersenyum sipu dibuat buat.
Drama makan bersama tidak serta merta berakhir begitu saja, Retno terus memainkan drama merengek merajuk seolah olah keinginan nya adalah keinginan sang jabang bayi.
"Sekali saja mas, aku ingin sekali menikmati waktu berdua. Ini bukan keinginan ku melainkan keinginan janin di dalam rahimku, hiks~" Retno terus merajuk saat Adam prasetyo memilih mengabaikan dirinya.
Nyonya Amalia pun berusaha menenangkan sang menantu, "Adam kasihan loh nak, ini Retno cuma ngidam pingin keliling mall sama kamu. Apa susah nya sih dituruti. Ibu gak mau cucu ibu nanti ngileran pas lahir gara gara keinginannya gak dituruti."
"Berapa kali Adam katakan bu, yang di kandung Retno bukan milik Adam. Ibu jangan termakan omongan rubah betina itu deh." Adam mulai merasa jengkel lantaran jam kerjanya terganggu oleh sikap merajuk Retno.
"Tuh kan bu, huhuhu~ mas Adam masih tidak mau menerima janin ini. Retno rasa percuma saja Retno kembali ke rumah jika mas Adam sendiri tidak mau menerima Retno bu, hiks~" Mode merajuk kini Retno lontarkan kepada sang ibu mertua.
Sontak saja Nyonya Amalia menjadi iba, dan lagi lagi mengintimidasi Adam Prasetyo agar mau menuruti keinginan Retno.
"Kalau kamu masih anggap aku ini ibu kamu, maka turuti keinginan ibu Adam !!" tatapan nyonya Amalia tampak tajam ke arah Adam Prasetyo.
Netra keduanya saling beradu hingga sepersekian menit kemudian..
__ADS_1