Imperfect Wife

Imperfect Wife
BAB 42 SELISIH JALAN


__ADS_3

Mobil berwarna hitam melaju kencang seolah tengah berkejaran dengan waktu, Malam ini begitu tiba di kota S mendadak cuaca buruk.


Adam Prasetyo terpaksa menahan keinginan nya untuk mendekap Kumala Dewi sang kekasih hati saat ini juga.


Hatinya gelisah padahal seharusnya dia bahagia , sejak hari keberangkatan waktu itu sampai sekarang Adam Prasetyo masih terus merasa gelisah tak bisa tenang.


Hujan deras masih melanda, padahal jarak rumah sakit dengan hotel tempat dia menginap saat ini cukup dekat,


Jarak lokasi yang bisa dijangkau menggunakan mobil berkecepatan tinggi hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam. Namun karena cuaca buruk, mobil tidak bisa menjangkau lokasi tersebut.


Penerangan di malam hari tidak seperti di ibu kota, asisten Roy khawatir mereka akan menemui kendala jika memaksakan diri.


"Berapa lama lagi aku harus menunggu,Roy ?" tanya Adam Prasetyo dengan raut muka tegang di dalam kamar tempat nya menginap.


"Hujan deras disertai badai petir membuat akses jalan terputus tuan, kita harus menunggu setidaknya sampai cuaca membaik. " ucap Roy sopan.


"Aku terlalu antusias ingin menemukan kekasihku, sampai jantungku terus berdebar khawatir . Aku takut, Roy."


"Tidak ada yang perlu anda khawatir kan tuan, semua pasti akan baik baik saja. Bukankah sebaiknya saat ini anda beristirahat agar besok stamina anda fit. Bisa saja perjalanan nanti memakan waktu berjam jam jauh lebih lama dari seharusnya."


Adam Prasetyo menghela nafasnya panjang mengangguk setuju akan perkataan Roy. Tidak dipungkiri jika hatinya saat ini semakin gelisah.


Malam berlalu begitu saja, Adam Prasetyo tidak cukup istirahat sehingga kantung mata sedikit terukir di wajahnya. Bagaimana tidak khawatir jika diri nya mendapatkan laporan jika suami Kumala Dewi juga tengah berada di kota yang sama dengannya.


Begitu cuaca membaik, Adam Prasetyo menitahkan anak buahnya untuk segera menyiapkan mobil.


"Kita berangkat sekarang, cari jalan alternatif yang bisa mempersingkat waktu perjalanan kita."


"Baik tuan, tapi bukankah sebaiknya anda sarapan terlebih dahulu ?kondisi anda tampak kurang sehat tuan Adam." ucap Roy khawatir.

__ADS_1


"Aku akan baik baik saja begitu melihat Kumala Dewi."


Ucapan singkat Adam Prasetyo membuat para anak buah segera bergerak menyiapkan segalanya.


Bermodalkan peta serta titik lokasi yang ditampilkan alat gps, rombongan Adam Prasetyo menuju rumah sakit tempat Kumala Dewi berada selama beberapa minggu terakhir ini.


Asisten Roy duduk di depan bersama seorang supir lokal bayaran yang sudah hafal seluk beluk jalanan pelosok kota S. Sementara Adam Prasetyo duduk di belakang, masih dengan raut wajah tegang tak bisa tenang.


Mobil menemui berbagai kendala hingga berjam jam kemudian barulah mereka tiba di Rumah sakit yang dimaksud.


Blamm~


Suara pintu mobil terbuka lalu ditutup kasar saat Adam Prasetyo mengabaikan semuanya dan berlari menuju loby rumah sakit.


Asisten Roy yang berusaha mengimbangi langkah Adam Prasetyo sampai sedikit tertinggal.


Berdasarkan pada berkas laporan yang tunjukkan Asisten Roy, pihak rumah sakit mengijinkan keduanya menemui Tim dokter yang menangani pasien bernama Kumala Dewi.


"Kita dalam masalah besar , Roy. Lacak sekarang juga, kemana pria itu membawa lari Kumala Dewi." seperti nya kegelisahan itu terjawab sudah.


Kumala Dewi berhasil dibawa kabur oleh Heri Susanto. Kini Adam Prasetyo hanya bisa berharap bisa melacak lokasi pelarian mereka.


Tim medis yang menemui Adam Prasetyo tampak bingung, mereka sulit menahan situasi yang dihadapi pasien mereka.


'Siapa sebenarnya Kumala Dewi itu ? Kenapa yang mencarinya semua adalah pria ?'


'Kemarin mengaku suami, lalu yang ini mengadu jika Kumala Dewi sudah lama berpisah dengan suaminya. Apa pria ini adalah kekasih gelap Kumala Dewi ?"


"Apa ini selingkuhan nya ? Haish~ ada ada aja konflik rumah tangga jaman sekarang."

__ADS_1


Karena tidak banyak informasi yang berhasil di dapatkan, Adam Prasetyo dan Asisten Roy segera meninggalkan gedung rumah sakit yang terletak di wilayah pedalaman yang terbilang sangat jauh dari ibu kota.


"Bagaimana Roy !" tanya Adam Prasetyo yang sudah kembali masuk ke dalam mobil.


"Saya sedang meminta bantuan untuk meretas satelit lokal tuan , kita akan dapatkan jejak sebentar lagi."


Asisten Roy tampak mode serius dalam bekerja, baginya pantang mengecewakan sang tuan.


Beberapa menit berlalu seiring deru laju mobil yang kembali ke kota, kali ini Adam Prasetyo jauh lebih merasa gelisah dari sebelum nya.


"Tunggu aku sayang, jangan tinggalkan aku." gumam Adam Prasetyo dengan menatap jauh keluar jendela.


Begitu mobil memasuki kawasan kota , supir segera banting setir menuju ke sebuah bandara.


Laporan yang di dapatkan asisten Roy menyatakan jika Kumala Dewi dan Heri Santoso membeli tiket untuk sebuah penerbangan.


"Kapan jadwal penerbangan mereka , Roy ?" Adam Prasetyo mengetuk ngetuk jemarinya sambil bersedekap tangan.


"Pagi tadi tuan, maaf." Adista Roy menunduk merasa gagal .


"..." Adam Prasetyo mengeraskan rahangnya.


'Sedikit lagi padahal, hampir saja aku menemukan kamu Kumala Dewi. Arrghh !!'


"Bagaimana perintah anda selanjutnya tuan Adam ?" tanya Roy dengan raut muka tak kalah kecewa.


"Tentu saja kita kejar mereka. Pesan tiket seperti yang mereka pesan. Hubungi anak buah kita yang ada di Jawa agar mengawasi bandara setempat. Kumpulkan semua data penumpang. Aku mau kali ini kita bergerak lebih cepat, Roy." suara dingin Adam Prasetyo menambah rasa bersalah asisten Roy.


"Baik tuan." asisten Roy segera melakukan apa yang di titahkan tuannya.

__ADS_1


Sementara itu,


__ADS_2