
Sementara itu,
Sudah berminggu-minggu berlalu.
"Kami berhasil menemukan lokasi tempat nona Kumala Dewi berada saat ini tuan. Apa perintah anda ?" tanya Roy sang asisten dengan penuh hormat.
Saat ini dirinya tengah melaporkan situasi terbaru hasil pelacakan anak buah yang diutus secara khusus untuk mencari lokasi keberadaan Kumala Dewi di Kalimantan.
Adam Prasetyo seketika tertegun saat mendengar penuturan Roy, sejurus kemudian Adam Prasetyo memutuskan untuk segera bertindak.
"Atur penjemputan segera. Pastikan jalur kita aman." titah Adam Prasetyo.
Dalam hati Adam Prasetyo seharusnya merasa senang, namun sayang nya saat ini perasaan nya justru gelisah.
Kegelisahan itu sampai membuat Adam Prasetyo tidak fokus dalam bekerja karena pikiran nya terus membayangkan Kumala Dewi.
'Sebentar lagi sayang, tunggu aku. Aku akan selamatkan kamu dan pertemukan kamu dengan anak anak.' gumam Adam Prasetyo pelan.
"Baik tuan Adam. Saya akan siapkan segala sesuatu nya ." Asisten Roy memberi hormat kemudian pamit meninggalkan ruangan Adam Prasetyo.
Roy tahu betul apa yang harus dia persiapkan agar tujuan sang tuan bisa terlaksana tanpa kendala.
Sedangkan Adam Prasetyo merasa tidak sabar untuk segera pergi menjemput sang kekasih hati. Ada kesalahpahaman kecil yang belum sempat dia jelaskan.
Hingga detik ini Adam Prasetyo sama sekali tidak pulang ke rumah besar. Ada Retno di rumah itu yang tinggal bersama sang ibu.
Meski tak dipungkiri Adam Prasetyo tetap melakukan tanggung jawabnya sesuai kesepakatan dengan sang ibu.
Mulai dari menemani Retno kontrol ke dokter kandungan beberapa minggu sekali, memenuhi keinginan ngidam yang entah apakah itu benar keinginan si jabang bayi , atau sekedar akal akalan Retno agar bisa menghabiskan waktu dengannya.
Huft~ Adam Prasetyo menghela panjang nafasnya.
Tidak tinggal di rumah besar, juga tidak tinggal di apartemen bersama dua putra Kumala Dewi.
Rasya dan Arsya di titipkan secara khusus kepada salah satu pengawal kepercayaan, orang yang sama dengan yang menjaga mereka ketika di Bali.
Adam Prasetyo merasa kedua anak Kumala Dewi lebih aman jika tidak bersamanya, Adam Prasetyo khawatir jika sewaktu waktu ibu Amalia menemukan mereka dan melakukan hal hal buruk .
__ADS_1
Selain itu Adam Prasetyo juga tidak tega jika setiap hari terus memberi alasan kebohongan demi menenangkan Rasya dan Arsya.
Setiap alasan kebohongan terucap , hati Adam prasetyo akan merasa sedih berkali kali lipat dari sebelumnya.
'Bagaimana bisa aku terus berbohong tentang ibu mereka jika kenyataan nya aku sendiri tidak tahu Kumala Dewi ada dimana ~' netra Adam Prasetyo menerawang jauh menatap keluar jendela.
'Sebentar lagi~ tunggu aku~' Adam Prasetyo terus bergumam seakan akan menjanjikan sesuatu yang pasti.
Keesokan harinya, dengan alasan urusan kerja di luar kota Adam Prasetyo berpamitan kepada nyonya Amalia.
Kebetulan hari itu Adam Prasetyo sedang mampir sebentar ke rumah besar untuk memberikan makanan yang diinginkan Retno.
"Aku akan pergi berhari hari bu. Tidak perlu menghubungi jika hanya untuk memenuhi keinginan rubah itu. Jaga kesehatan ibu sendiri ya." ucap Adam Prasetyo tetap sopan meski merasa jengah.
"Ibu akan jaga diri anakku. Langsung kembali jika urusan sudah selesai ya. Biar bagaimanapun istrimu sedang mengandung dan dia butuh sosok suami yang bisa diandalkan." ucap Ibu Amalia begitu keibuan.
"Hhmm~ Adam pergi dulu." Kedua anak dan ibu pun saling berpamitan.
Retno yang melihat hal tersebut tampak tidak rela. Otaknya menduga jika Adam Prasetyo hanya mencari alasan agar tidak perlu bertemu dengannya.
"Mana boleh begini mas ! Kamu pasti hanya ingin menghindari aku kan , jawab mas !" suara Retno seketika membuat ibu dan anak yang tengah berpelukan itu menoleh.
Rencananya adalah bisa tinggal bersama dan menghabiskan waktu bersama sang suami, Retno berencana kembali mengikat sang suami agar luluh seperti sebelumnya.
Bertahun tahun Retno selalu berhasil mengikat Adam Prasetyo layaknya suami yang tunduk pada sang istri.
Hingga sekitar satu setengah tahun yang lalu, tiba tiba sikap Adam Prasetyo berubah. Retno mulai kesulitan menjerat sang suami hingga tiba tiba saja sebuah gugatan cerai dilayangkan padanya.
Retno belum mengetahui alasan pasti kenapa Adam Prasetyo tiba tiba menceraikan dirinya, Ibu mertuanya pun tidak tahu alasan yang sebenarnya.
Adam Prasetyo menyimpan terlalu banyak rahasia dalam dirinya, dan tidak mudah mengetahui hal itu.
"Retno, sudah nak. Adam hanya akan pergi mengurus pekerjaan, sudah ya tenangkan dirimu." Ibu Amalia mengusap lengan Retno berusaha menenangkan.
"Retno hamil dan suami Retno tidak mau menunggui setiap hari bu, hiks~ Retno juga ingin terus bersama mas Adam. Mas Adam tidak boleh pergi, JANGAN PERGI MAS !!" seru Retno dengan tangisnya yang membasahi pipi hingga turun menetes membasahi baju yang dikenakan.
Adam Prasetyo berlalu pergi begitu saja tadi usai mengurai pelukan dengan sang ibu. Mendengar suara Retno membuat telinga Adam Prasetyo terasa sakit.
__ADS_1
Brrumm~
Mobil Adam Prasetyo melaju semakin jauh meninggalkan rumah besar. Sedangkan Retno yang menangis sesenggukan terus meraung hingga membuat sang ibu mertua kewalahan menenangkan.
"Pelayan !! Kemari !!" Ibu Amalia berseru memanggil pelayan yang tengah bekerja.
"Sudah anakku, tenangkan dirimu. Ayo kita ke kamar dan istirahat." ajak Ibu Amalia yang menuntun lengan sang menantu dibantu seorangpun pelayanan wanita.
Kehamilan Retno saat ini sudah memasuki akhir dari trimester kedua, pemeriksaan terakhir menyatakan jika kandungan Retno lemah lantaran sang ibu terlalu stress .
Dokter menyarankan Retno untuk tidak terlalu banyak pikiran apalagi sampai tertekan dan stress karena akan berpengaruh pada perkembangan si jabang bayi dalam kandungan.
"Tapi ibu.. Mas Adam pasti cuma alasan. Dia tidak mungkin pergi ke luar kota untuk mengurus proyek, Retno yakin mas Adam pasti hanya ingin menghindari Retno bu , huhuhu~ Seharusnya Retno tidak pulang ke rumah ini..." lagi lagi Retno membuat Drama istri yang tersakiti.
"Sudah sudah.. Tenang kan dulu dirimu nak, ayo.." suara Ibu Amalia yang terdengar keibuan .
Retno di bawa kembali ke kamar, saat menaiki satu persatu anak tangga tiba tiba Retno meringis kesakitan sambil memegangi perutnya, "Awssh sakit~"
Seketika Ibu Amalia panik lantaran Retno sang menantu semakin meringis kesakitan.
"Astaga, apa yang terjadi nak. Kamu kenapa ??pelayan coba kamu telpon dokter keluarga, suruh datang secepatnya !" Ibu Amalia memerintahkan pelayan yang tengah membantunya.
"Baik nyonya." dengan cepat pelayan itu menelpon dokter keluarga.
Sementara pelayan lain membantu Retno yang terus meringis kesakitan masuk ke dalam kamar nya.
Hingga kurang dari sepuluh menit dokter yang dimaksud pun tiba.
Tarik nafas~ hembuskan~
Tarik nafas~ hembuskan ~
Berkali kali dokter mengarahkan Retno untuk mengikuti instruksi nya agar lebih tenang.
Dokter menganalisa jika Retno mengalami tekanan stress yang begitu besar dalam dirinya.
Resep obat diberikan , sama seperti obat dari pemeriksaan yang lalu namun seperti nya kondisi Retno tidak semakin membaik.
__ADS_1
Ibu Amalia yang tegang bercampur khawatir terus mondar mandir di dekat pintu, dalam hatinya gelisah 'Jangan sampai Retno keguguran. Jangan sampai aku kehilangan calon cucu, hiks~'